Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Memimpikan Daddy


__ADS_3

"Sialan kau! Kenapa wanita itu sangat pembangkang? Wanita lain selalu memohon untuk berada di sampingku? Tapi dia? Lihat saja! Aku akan membuatmu terus berada di bawah kukunganku. Kau harus tahu, siapa dirimu!" ucap Arthur kesal sampai meremas ponselnya.


Berbeda dengan Arthur yang sangat kesal pada Shanum, wanita itu begitu menikmati waktunya bersama putranya. Bermain di pinggir pantai, menunggu ombak-ombak kecil berdatangan dan menggelung tubuh mereka. Ketika ada ombak besar yang terlihat, Shanum membawa Arsenio lari sambil tertawa riang.


"Mommy, Arsen juga mau mandi dalam ombak besar itu, Mom!" rengek Arsen.


"Sayang, tidak boleh. Kalau kita tidak bisa menyeimbangkan diri, nanti tenggelam. Mommy tidak mau kehilangan kamu. Kita cukup main air di pinggir-pinggir sini saja, ya!" larang Shanum, melihat ombak yang sangat besar saja Shanum sudah ketakutan. Bagaimana bisa dia melepaskan Arsen di tengah-tengah ombak besar seperti permintaan bocah kecil itu.


"Mom, Arsen akan hati-hati. Turuti Arsen untuk kali ini saja Mommy. Arsenio kan bukan anak bayi lagi yang harus dilarang ini dan itu!" Arsenio membujuk Mommy-nya, bibirnya mengerucut, membuat Shanum gemas. Tapi, tetap saja dia tidak akan memberikan izin untuk itu.


"Mommy tidak mengizinkan. Kamu mau lanjut main air, atau mau makan dulu, Sayang?" tanya Shanum, berusaha mengalihkan permintaan Arsenio yang benar-benar berbahaya bagi Shanum.


"Mommy, ayolah!" Arsen menggoyang-goyangkan tangan Shanum. "Mommy, sekali ini saja. Mommy tahu, Arsen sangat ingin ke pantai untuk bermain air dan pasir, kan?" Arsen kembali memohon pada Mommy-nya.


"Baiklah. Tapi, Mommy tidak mengizinkan kamu sendiri. Mommy temani, ya!" tawar Shanum.


Arsenio mengangguk mengiyakan. Saat ombak besar datang, Arsen dan Shanum bersiap untuk menahan tubuh mereka dalam gulungan. Kaki mereka harus berpijak sekuat mungkin agar tak terbawa ombak besar dan hanyut di dalamnya.


Namun, sesuatu hal tidak terduga pun terjadi. Saat ombak itu sudah sangat dekat, arsenio melepaskan genggaman Shanum dari tangannya.


"Arsenio! Jangan!" Baru saja berteriak, ombak besar datang dan menghilangkan Arsenio dari padangan Shanum.


"Arsenio!" Shanum berteriak histeris saat melihat putranya sudah pingsan telungkup di air. Shanum juga tidak tahu mengapa Arsenio bisa pingsan. Dia langsung menggendong putranya dan menjauh dari bibir pantai.


"Tolong! Tolong!" Teriakan Shanum menyita perhatian semua orang. Banyak yang mengelilingi Shanum dan membawa wanita itu ke rumah sakit terdekat yang juga berada di kawasan pantai.


Di dalam mobil orang yang menolongnya, Shanum terus menerus berdoa dan menangis sesegukan. Sungguh, Dia sangat menyesal dengan keputusan yang diambilnya.


'Seharusnya, aku bisa tegas untuk menolak permintaannya. Walaupun dia merajuk, memohon, aku tidak tersentuh. Sudah tahu itu bahaya. Kenapa aku masih saja bodoh? Banyak cara menyenangkan anak, kenapa harus menyetujui untuk satu hal yang ku ketahui itu berbahaya?' Shanum terus-menerus merutuki dirinya sendiri.


"Nona, tenanglah. Putra Anda pasti tidak kenapa-napa. Berpikir positif lah, semuanya akan baik-baik saja," ucap seorang wanita yang ikut menemani Shanum. Berusaha menenangkan Shanum dengan berbagai upaya.


"Terima kasih." Shanum menghapus air matanya. Batinnya masih terasa perih, apalagi tidak ada tanda-tanda Arsen akan sadar. Shanum tidak menduga, keputusan itu menjadi sebuah keputusan yang paling dia sesali.

__ADS_1


Lima menit dalam perjalanan, mereka tiba di rumah sakit yang memang tak terlalu besar. Shanum menggendong putranya masuk ke dalam ruangan. Setelah diperiksa, Shanum mendapatkan kabar melegakan bahwasanya putranya itu tidak kenapa-napa.


"Terima kasih, Dok," ucap Shanum pada seorang Dokter yang berwajah cukup tampan dan bertubuh tegap.


"Sama-sama, Nona. Apakah itu anak Anda?" tanya sang Dokter, tampaknya dia cukup tertarik pada Shanum.


"Iya." Shanum mengangguk sambil tersenyum. Menghapus air matanya dengan tangan.


"Jangan menangis, dia baik-baik saja," ucap sang Dokter. Matanya selalu tertuju pada Shanum yang masih memandangi putranya dari balik kaca pintu rumah sakit.


"Dok, dia harus rawat inap atau bisa langsung saya bawa pulang?" Shanum membenarkan posisinya, menatap sang Dokter yang tersenyum manis padanya. Namun, senyuman manis sang Dokter di depannya membuat Shanum merasa canggung luar biasa.


"Kita akan memantau keadaannya nanti, ya. Jika putra Ibu sudah lebih baik, bisa di bawa pulang. Tetapi, jika keadaannya masih belum memungkinkan, dia harus dirawat inap di sini," jawab Dokter tersebut.


"Terima kasih, Dokter Rexa," ucap Shanum membaca name-tag sang Dokter.


"Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Dokter Rexa kemudian berlalu.


"Arsen, maafkan Mommy. Mommy merasa jadi Ibu paling gagal karena tidak bisa melindungi kamu. Maafkan Mommy, Nak!" Shanum berulang kali meminta maaf, untuk kesalahannya itu.


"Mom ...." suara Arsen terdengar parau dan lirih. Tangan kecilnya yang dipeluk Shanum bergerak-gerak, menandai dia sudah sadar dari pingsannya.


"Ya, ini Mommy, Arsen!" Shanum memeluk putranya. "Kamu mau minum?" tanya Shanum.


Arsenio mengangguk lemah. "Minum, Mom!" pintanya.


"Sebentar." Dengan sigap Shanum mengambilkan minum untuk Arsenio. Setelah itu, Shanum meminta Arsenio untuk beristirahat.


"Sayang, kamu istirahat lagi, ya. Mommy di sini sama kamu." Shanum kembali menggenggam tangan putranya.


"Tidak mau, Mommy. Arsen takut...." Arsenio mengeratkan genggamannya pada Shanum.


"Takut? Apa yang kamu takuti, Sayang? Ada Mommy di sini bersamamu."

__ADS_1


"Mommy, tadi Arsen sempat memimpikan Mommy," ucap Arsen, dahinya berkeringat. Nafasnya juga masih tersengal-sengal. Shanum pikir, itu merupakan hal wajar karena Arsen baru saja tenggelam. Nyatanya, Arsenio berkeringat karena mimpinya.


"Bagus, Sayang. Bukankah kamu sudah sering memimpikan Mommy?" Shanum mengelus lembut rambut putranya.


"Tidak, Mommy. Dalam mimpi Arsen tadi, bukan cuma ada Mommy saja," ucap Arsen.


Shanum mengerutkan keningnya. "Bukan cuma Mommy? Lalu, ada siapa lagi?" tanya Shanum. "Apakah kamu mimpi buruk? Memimpikan hantu makanya sampai berkeringat seperti ini?" tanya Shanum, tersenyum lembut untuk menenangkan putranya. Tapi, Arsenio masih menunjukkan wajah tegangnya.


"Bukan cuma ada Mommy. Dalam mimpi Arsen, ada seorang pria yang mengaku sebagai Daddy Arsen, Mom!" ucap Arsenio.


Mendengar penuturan putranya, Shanum mengerutkan dahinya. "Pria yang mengaku sebagai Daddy?" tanya Shanum memastikan lagi.


Arsenio mengangguk. "Benar, Mom. Dalam mimpi Arsen dia berkata, 'Daddy masih hidup, Nak. Maaf selama ini Daddy tidak berada di samping kamu.' begitu katanya, Mom!" adunya, wajahnya sangat tegang.


"Itu hanya bunga tidur, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan. Kamu istirahat, ya. Tidak baik memikirkan hal yanga menakutkan seperti itu, bukan?" Shanum tersenyum lagi, walau sesungguhnya hatinya merasa getir.


"Kata Mommy Daddy sudah berada di surga. Lalu, siapa yang masuk ke dalam mimpi Arsen, Mom?"


"Itu pasti malaikat yang mau menghibur Arsen. Daddy Arsen memang sudah berada di surga." Shanum kembali meyakinkan putranya.


"Tapi, kenapa Mommy tidak pernah membawaku datang ke makan Daddy? Arsen juga ingin tahu, Mom! Bukannya wajar jika Mommy membawa Arsen ke makan Daddy?" pinta pria kecil itu.


"Nanti, setelah kamu keluar dari rumah sakit, kita datang ke makam Papa, ya," bohong Shanum, dia hanya mau menghibur putranya.


"Apa pria itu sangat mirip denganmu?" tanya Shanum.


"Entahlah, Mom, Arsen tidak bisa melihat wajahnya. Wajahnya tertutup kabut. Tapi, Arsen tidak mirip sama Mommy. Arsen pasti sangat mirip dengan Daddy, kan?" Arsenio memegang wajahnya sendiri.


Shanum mengangguk sambil tersenyum.


"Entahlah, Sayang, Mommy juga tidak tahu seperti apa rupa Daddymu itu. Tapi, satu-satunya pria yang sangat mirip denganmu hanyalah Tuan Arthur. Apakah benar-benar dia?'


*****

__ADS_1


__ADS_2