Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Memperjuangkan Cinta


__ADS_3

"Nanti malam, aku berniat untuk mengajakmu makan malam bersama. Bagaimana? Apakah kamu bisa? Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Dokter Rexa.


Shanum terdiam, dia kembali berpikir, apakah sikapnya selama ini tidak cukup menjelaskan ketidak sukaannya karena didekati oleh Dokter Rexa? Keketusan Shanum terlihat jelas, tapi kenapa pria yang menyandang profesi sebagai Dokter itu masih belum juga menyadari keengganan Shanum.


"Dok, kenapa sampai ke tahap makan malam? Aku tidak menganggapmu lebih, Dok. Hubungan kita hanya terbatas antara pasien dan Dokter, itu saja." Shanum kembali menjelaskan. Shanum berpikir ada kesalahpahaman yang harus segera diluruskan.


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Tetapi, tidak ada salahnya aku mencoba mendekati wanita single, kan? Tidak ada yang melarang seseorang untuk mendekati siapa pun," ucap Dokter Rexa, tetap kekeuh dengan usahanya yang mau mendekati Shanum dan Arsenio.


"Maaf, aku menolak ajakan makan malammu," tolak Shanum berterus terang. Sudah cukup banyak gosip yang harus ditanggungnya padahal dia tak melakukannya sama sekali. Shanum tidak mau kembali menjadi bahan gosip.


"Satu malam ini saja?" Dokter Rexa memohon dengan sangat. "Aku mau memperkenalkan kamu pada kedua orang tuaku," ucap Dokter Rexa. Entah apa yang dipikirkan pria itu. Tetapi, pernyataannya sungguh membuat jantung tercengang sampai mulutnya menganga lebar.


"memperkenalkan aku kepada orang tuamu, Dok? Kamu yang salah bicara atau aku yang salah mendengar?" tanya Shanum, dia butuh penjelasan yang cukup runtut demi menghilangkan kesalahpahamannya akibat dari salah mendengar tadi.


"Aku tidak salah bicara, dan kamu tak salah mendengar. Apa yang kamu dengar barusan memang benar, Shanum. Aku mau mengenalkan kamu pada kedua orang tuaku sebagai calon istri," ucap Dokter Rexa apa adanya. Namun, setelah melihat wajah Shanum yang menunjukkan kemurkaannya atas kelancangan pria itu, Dokter Rexa merasa harus mencari alasan lain supaya Shanum bersedia untuk ikut dengannya.


"Kenapa kamu lancang sekali, sih, Dok? Sejak awal aku sudah menegaskan hubungan kita. Sekarang, kamu malah mau mengenalkanku kepada orang tuamu? Apa itu tidak terlalu lucu?" Shanum tersenyum miring, geleng-geleng kepala karena keberanian Dokter Rexa.


Dari awal mereka bertemu, tidak ada perasaan yang Shanum gadang-gadangkan pada Dokter tampan itu. Bahkan, sikapnya juga sangat jelas, bersikap cuek dan ketus. Susah untuk diajak bicara. Namun, entah mengapa Dokter Rexa masih saja berusaha untuk mendekati Shanum yang notabenenya seorang single Mommy.


"Aku memiliki alasan lain, Shanum. Aku ... selalu diminta menikah oleh kedua orang tuaku. Katanya, di usia senja mereka, mereka ingin melihat cucu dariku. Aku tidak memiliki pilihan lain selain membawamu," ucap Dokter Rexa, mengarang sebuah kebohongan belaka yang bisa mengubah keputusan Shanum.


"Kedua orang tuamu memaksamu untuk menikah, kenapa malah mengajakku? Semuanya tidak ada hubungannya denganku, Dok. Kumohon, carilah wanita lain." Shanum merasa terganggu dengan sikap Dokter Rexa.


"Rekan-rekan sesama Dokter atau pun perawat wanita juga pasti mau diperkenalkan pada keluargamu. Tidak harus aku, Dok!" Shanum masih kekeuh pada penolakannya.


'Ya. Semua wanita yang aku ajak pasti mau ikut bersamaku menemui kedua orang tuaku. Tapi, aku lah yang tidak mau membawa mereka. Aku maunya cuma kamu, Shanum Mahira. Kenapa kau tidak mengerti. Pesonamu membuatku selalu terngiang-ngiang wajahmu. Bahkan, aku rela pindah tugas ke rumah sakit lain supaya dekat denganmu dan bisa lebih sering menemuimu,' batin Rexa, tapi tidak mungkin baginya untuk mengatakan hal itu secara berterus terang, bukan? Yang ada, Shanum tetap akan menolaknya.


"Sebenarnya, aku sudah menunjukkan fotomu pada pada kedua orang tuaku. Aku mengatakan kamu kekasihku. Sudah terlanjur seperti itu, jika aku membawa wanita lain, bukannya aneh? Kedua orang tuaku pasti tidak akan mempercayainya," ujar Dokter Rexa, dia terkekeh pelan dalam hati karena sudah mengatakan banyak sekali kebohongan hanya karena mau mengajak Shanum makan malam. Ya. Cuma makan malam.


"Bagaimana bisa Anda selancang itu?" bukannya mau, Shanum malah bertambah marah. Dia begitu kesal dengan kelancangan Dokter Rexa.


"Maafkan aku. Aku tahu, tidak seharusnya aku melakukan itu. Tetapi, mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terlanjur," ucap Dokter Rexa sambil tersenyum getir. Tatapannya lurus pada Shanum yang masih memperlihatkan kekesalannya.


"Itu kan kecerobohan anda sendiri. Jadi, tanggung saja sendiri akibatnya. Jangan memintaku untuk membantumu," sungut Shanum, dia buang muka. Baru sadar, perjalanannya ke kantor terasa sangat lama karena Dokter Rexa mengendarai mobilnya dengan sangat lambat.

__ADS_1


"Dok, bisa tolong cepat sedikit? Aku bersedia menumbang dengan supaya tidak telat. Tapi, kamu malah melajukan mobilmu sepelan ini," ucap Shanum.


"Maafkan aku."


'Kenapa dengan pria ini? Dari tadi selalu saja meminta maaf,' batin Shanum merasa aneh dengan sikap Dokter Rexa.


"Shanum, kumohon kali ini saja. Sekali saja kamu membantuku. Aku tidak mau membuat kedua orang tuaku kecewa. Setelah ini, aku janji tidak akan mengajak kamu macam-macam lagi." Dokter Rexa menaikkan dua jarinya sebagai pertanda dia sedang membuat janji dengan Shanum. Tingkahnya ini terlalu kekanakan, bahkan lebih kekanakan dari Arsenio.


"Lalu, kalau nanti orang tua Anda meminta bertemu lagi denganku, bagaimana? Sekali kita salah melangkah, maka akan terjerumus selamanya. Aku tidak mau itu. Lebih baik sejak awal aku tidak melakukannya," ujar Shanum, menarik nafas panjang karena sudah memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.


"Kalau untuk itu, nanti aku akan memikirkan alasannya. Yang penting, sekarang kamu bersedia menemui orang tuaku dulu. Jangan sampai mereka kecewa dan menganggapku tidak menyukai wanita cuma karena tidak pernah pacaran," mohon Dokter Rexa lagi.


"Dok, kau ini benar-benar sangat menyebalkan, ya. Memangnya orang tuamu akan suka melihatku, single Mommy ini?" ketus Shanum, dia sengaja mengungkit semua jati dirinya supaya Rexa bisa berpikir dua kali untuk membawanya menemui orang tua pria itu.


Rexa tersenyum, dia cukup tahu Shanum mulai luluh dan hampir menerima tawarannya. Sedikit lagi saja Rexa harus berusaha untuk mendapatkan kesetujuan hati Shanum. Setelah itu, semua masalah pun selesai.


"Jangan pikirkan itu. Kan untuk yang pertama dan terakhir kali. Kamu tidak perlu memikirkan hal itu," ucap Dokter Rexa menenangkan Shanum.


"Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya? Aku tidak mau, setelah sampai di sana, kedua orang tuamu tidak suka melihatku. Kalau cuma tidak suka ya tidak masalah. Takutnya, mereka malah sengaja mempermalukan aku di depan umum," ujar Shanum, apa yang dia utarakan saat ini bukanlah suatu ketakutan yang sebenarnya. Melainkan cuma sebuah alasan supaya Dokter Rexa berpikir ulang. Kalau bisa, membatalkannya.


"Tidak. orang tuaku bukan tipe yang seperti itu. Maka datanglah dan berkenalan. Siapa tahu, kamu benar-benar bisa jadi menantu mereka," seloroh Dokter Rexa.


Dokter Rexa menepikan mobilnya di area depan kantor. Sengaja tidak membuka kunci supaya Shanum tidak bisa keluar dan menjawab pertanyaannya dulu.


"Kenapa tidak dibuka?" sungut Shanum kesal.


"Jadi, apa jawabanmu?" tanya Dokter Rexa, menaikkan sebelah alisnya. Penampakannya seperti itu, membuat Dokter Rexa terlihat semakin tampan. Tapi, tetap tidak membuat Shanum jatuh hati.


Shanum menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya lagi. Dia menatap intens wajah Dokter Rexa. "Haruskah?" satu pertanyaan itu kembali keluar dari mulutnya.


"Hum... kalau kamu tidak bersedia, aku tidak akan membukakan pintu. Biar saja orang lain mengira kita sedang berbuat sesuatu," ucap Dokter Rexa, menyandarkan punggungnya. Dia kira Shanum akan lama dalam memutuskan sebuah jawaban.


"Baiklah." Shanum terlihat malas. Berbeda dengan Dokter Rexa yang langsung kegirangan setelah mendengar jawaban yang paling dinantikan dari wanita itu.


"Aku sudah menduganya. Kamu pasti akan menerima ajakanku," tukas Dokter Rexa dengan tingkat kepercayaan diri yang melambung.

__ADS_1


"Terserah! Buka sekarang!" pinta Shanum.


"Baiklah. Nanti akan ada seseorang yang mengirim dress dan ada Make-up artist yang akan datang. Tunggulah!" ucap Dokter Rexa.


"Aku tidak membutuhkan semua itu." Shanum hendak menolak.


"Kamu membutuhkannya, Shanum!" bantah Dokter Rexa.


"Baiklah, baiklah."


"Selamat bertemu nanti malam," ucap Dokter Rexa sambil tersenyum.


Shanum tersenyum juga, senyuman yang dipaksakan oleh wanita itu. Setelah menutup pintu mobilnya, Shanum mendatarkan wajahnya lagi.


Saat Shanum berbalik, banyak pasang mata yang sedang menyorot ke arahnya dengan tatapan sinis dan tajam.


Banyak juga yang berbisik-bisik, entah apa yang mereka katakan, Shanum tidak tahu dan tidak mau tahu. Sebab, yang mereka katakan itu pasti akan menyakitkan batinnya. Shanum memilih untuk abai, berjalan menyusuri koridor dan berbelok ke kanan, menuju ruangan khusus cleaning servis.


"Seperti yang aku duga. Sekarang, mereka semua pasti sedang membicarakanku yang tidak-tidak. Hufft... beginilah beratnya menjadi single Mommy? Selalu dicela, bahkan disalahpahami. Inilah alasanku menolak untuk dekat-dekat dengan pria. Aku lelah selalu disalahpahami seperti ini." Shanum berdiri di depan cermin, menatap pantulan drinya.


Kebetulan, Rima lewat di belakangnya. Mengingat dia nanti malam kembali membutuhkan bantuan sahabatnya itu, Shanum mencegat jalan Rima.


"Rim, bisakah kamu membantuku lagi? Maaf, Untuk yang kesekian kalinya aku harus kembali merepotkan." Shanum tersenyum kecut, dia benar-benar merasa tidak enakan dengan sang sahabat.


"Tolong apa, Sha? menitipkan Arsen?" tanya Rima, sudah bisa menebak apa yang ingin Shanum mintai tolong.


Shanum mengangguk. "Tuh, kan, saking seringnya aku merepotkanmu, kamu sampai Sudah bisa hafal dengan apa yang aku ingin." Shanum mengerucutkan bibirnya.


"Bukan begitu, Sha. Karena, selain minta tolong untuk menjaga Arsenio, kamu tidak pernah meminta bantuan yang untuk hal yang lainnya. Makanya aku bisa menebak dengan cepat, hehe!" ucap Rima cepat-cepat menjelaskan sebelum Shanum salah paham.


"Nanti malam kamu tidak pergi ke mana-mana, kan?" tanya Shanum lagi.


Rima menggelengkan kepalanya. "Aku di rumah saja. Kenapa?"


"Hum... Do--dokter Rexa mengajakku makan malam," ucap Shanum dengan suara lirih, kepalanya tertunduk, dia malu.

__ADS_1


"Kamu mau? Itu artinya kamu sudah memulai membuka hati untuk seseorang, kan, Sha? Aku senang sekali, akhirnya kamu mendengarkan saranku. Aku berharap, Arsenio cepat memiliki Daddy seperti anak-anak pada umumnya, ya!" tukas Rima, belum mendengar penjelasan Shanum, dia sudah lebih dulu memeluk sahabatnya itu karena terlampau senang.


*****


__ADS_2