
"Tapi, kata Mommy, Arsen sudah tidak bisa seperti anak-anak lain, Arsen tidak lagi punya Daddy. Karena ... kata Mommy, Daddy Arsen sudah lama mati!" ucap Arsenio serius.
Arthur terdiam cukup lama, berusaha mencerna kata-kata putranya dengan baik. Tangannya mengepal erat, ada secercah kemarahan yang mulai menyulutnya. Mati? Jadi, selama ini Shanum menganggap dirinya sudah mati? Bagaimana mungkin?
"Daddy?" panggilan Arsenio terdengar. Arsenio berusaha membuka genggaman tangan Arthur yang erat. Dia menatap wajah Daddy-nya yang tegas dengan urat-urat yang menonjol, memang menyiratkan kemarahan.
"Apa Daddy salah paham pada Mommy?" tanya Arsenio.
Arthur tidak langsung menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya, penuh keraguan.
Dia sendiri tidak tahu mengapa kemarahan kembali tersorot dalam dirinya. Mungkin, dirinya memang hanya salah paham.
'Aku yakin, Shanum memang tidak tahu, pria empat tahun yang lalu adalah aku. Mungkin, dia mengatakan bahwasanya Daddy Arsenio sudah mati karena bocah ini minta dipertemukan denganku dan Shanum tidak tahu mengenai keberadaanku. Untung saja bocah ini pintar, bisa mencari keberadaanku di sini,' batin Arthur, berusaha tenang dan berpikir logis untuk meredam kemarahannya sendiri.
"Tidak, Sayang, Daddy tidak sala paham sama Mommy," jawab Arthur, kini senyumannya bisa sedikit terlihat tulus.
"Jadi, dari mana kamu mengetahui keberadaan dan nama Daddy, Sayang?" tanya Arthur, dia sangat penasaran. "Apa kamu sendiri yang mencarinya di media sosial?" tanya Arthur lagi.
"Mommy yang menunjukkan foto Daddy padaku," jawab Arsenio.
"Mommy?" Arsenio tidak lagi menjawab, dia hanya tersenyum saja. Cuaca di luar cukup terik. Jam pun sudah menunjukkan pukul satu siang, Arthur yang mengerti langsung mengajak putranya untuk bermain di luar.
"Arsen, apa kamu mau bermain di luar? Sepertinya, kita bisa menyejukkan tenggorokan dengan minuman dingin," ucap Arthur, tersenyum tipis karena anggukan Arsenio yang setuju dengan saran sang Daddy.
"Dad, apa di rumah ini ada kolam renang?" tanya Arsenio, matanya berbinar-binar kala Arthur mengangguk mengiyakan.
"Ada," jawab Arthur. Dia menatap Arsenio sambil tersenyum. "Apa kamu mau berenang bersama Daddy?" tanya Arthur, tentu Arthur juga tidak akan melepas kesempatan sebaik ini. Kesempatan untuk melakukan pendekatan pada putranya itu. Meski itu putra kandungnya, dan telah bertumbuh perasaan kasih dan sayang secara naluriah, tetaplah Arthur merasa dia harus membangun kedekatan hingga menumbuhkan kasih sayang yang jauh lebih besar.
Sebelum ada pria lain, yang mencoba mendekati Arsenio, dan statusnya sebagai Daddy Arsenio akan tersingkir dan tergantikan oleh orang lain yang mungkin sukses merebut hati Arsenio dan Shanum
Mendengar ajakan sang Daddy, tiba-tiba wajah Arsenio murung. Arsenio membuang muka ke arah lain, sambil mengerucutkan bibirnya, menggemaskan. Seolah sudah bisa membaca pikiran putranya, Arthur langsung mendekati Arsenio.
"Jangan merajuk. Ayo Daddy ajarkan!" seru Arthur sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya.
"Benarkah?" Mata Arsenio kembali berbinar kala Arthur kembali menganggukkan kepalanya. "Daddy akan mengajariku?" tanyanya seakan memastikan lagi apa yang barusan dia dengar dari sang Daddy.
__ADS_1
"Tentu saja. Daddy akan mengajari kamu!" jawab Arthur, membuat Arsenio langsung bergerak memeluk Daddy-nya erat-erat.
"Terima kasih, Dad!" seru Arsenio saking senangnya.
Arsenio mengangguk lagi. Dia menggendong Arthur dan membawa pria kecil itu ke taman belakang. Meskipun cuaca sangat panas, air kolam sampai menyilaukan buat Arsenio, tetapi tidak menyurutkan semangat pria kecil itu yang tidak sabaran untuk turun merasakan sensasi segar air kolam yang terlihat berwarna biru mengikuti warna dasarnya.
Desiran halus angin menerbangkan dedaunan pepohonan sekitar mereka. Bunga-bunga bergerak-gerak, dan sinar terik matahari mula meredup.
"Mendungkah?" gumam Arsenio, dia tidak mau kecewa. Jika sampai hujan, acara renang mereka pasti akan gagal.
"Sayang, sini!" panggil Arthur, entah sejak kapan Daddy-nya itu sudah siap denga pakaian renang yang begitu melekat di tubuhnya dan masuk ke dalam kolam. Dada biangnya terpampang, rambut basahnya membuat pesona pria itu semakin terpancar saja.
"Daddy!" panggil Arsenio sambil tersenyum. Arsenio yang sudah siap dengan pakaian renangnya langsung masuk ke dalam kolam setelah Arthur memegangi pinggulnya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit. Shanum mengitari area parkiran, hanya tinggal dirinya seorang diri di sana. Shanum tersenyum kecut, dia memijat pelan lengannya yang terasa lelah karena habis mengepel. Shanum mulai menaiki sepeda motornya.
"Semoga saja Rima sudah menjemput Arsenio. Kalau tidak, bocah kecil itu pasti merajuk kesal padaku karena terlalu lama menunggu," gumam Shanum, tersenyum sambil memakai helmnya.
Shanum memasuki area kost-kostan dengan senyum yang mengembang. Dia memarkirkan motornya di depan teras. Kemudian, berjalan ke arah kost Rima.
Shanum mengetuk pintu sahabatnya itu sambil memanggil-manggil nama Rima dan juga Arsenio secara bergantian.
"Rima ... Rim!" panggil Shanum, dia terus mengetuk pintu hingga beberapa kali.
"Arsenio ... Arsen! ini Mommy, Nak! Ayo, kita pulang! Jangan merepotkan Tante Rima lagi, Sayang!" ucap Shanum sambil celingak-celinguk ke jendela. Merasa aneh karena Arsenio maupun Rima tidak kunjung membukakan pintu untuknya.
"Sha, kamu sudah pulang?" sapa Rima yang datang bersama calon suaminya. Sontak, Shanum langsung berbalik ke arah Rima yang berada tepat di belakangnya. "Ada keperluan apa? Maaf, aku baru pulang. Tadi, Mas mengajakku pergi makan dulu," ucap Rima sambil tersenyum.
Shanum hanya tersenyum sedikit. Dia berusaha mencari-cari Arsenio yang mungkin saja berada di belakang Rima. Merasa Shanum celingak-celinguk, Rima terheran-heran. Kemudian bertanya, "Ada apa, Sha? Kamu mencari siapa?" tanyanya.
Belum sempat Shanum menjawa pertanyaan wanita itu, Rima kembali bertanya. Sebuah pertanyaan yang membuat Shanum terpaku sekaligus khawatir bukan kepalang.
"Shanum, di mana Arsenio? Aku ada membawakan makanan kesukaannya. Dia pasti senang," ucap Rima, berjalan menghampiri Shanum hendak memberikan bungkusan makanan itu pada Shanum.
__ADS_1
"A--apa katamu, Rim? Ka--kamu menanyakan keberadaan Arsenio?" tanya Shanum, wajahnya berubah pucat dalam seketika, memandangi Rima yang ikut heran.
"Shanum, ada apa?" tanya Rima setelah merasakan ada yang salah.
"Ka--kamu tidak bersama Arsenio?" tanya Shanum lagi. Gelengan kepala Rima membuat Shanum menangis.
"Jadi, di--di mana Arsenio? Di--dia belum pulang!" pekik Shanum, dia melihat jam di pergelangan tangannya, sudah jam empat.
"A--apa? Bagaimana bisa? Tadi aku juga sudah ke Day Care, katanya Arsenio sudah pulang. Aku kira, dia pulang bersamamu!" ucap Rima. Wanita itu juga mulai panik, rasanya perasaannya tidak karuan. "Makanya aku membelikan makanan kesukaannya, Sha," ucap Rima.
"Tapi, dia belum pulang, Rim!" Shanum hampir menangis. "Tadi aku juga melihat Day Care-nya, sudah sepi. Aku pikir dia sudah pulang bersamamu. Makanya aku langsung pulang tanpa mampir dan bertanya," jelas Shanum, dia gelagapan. Tidak tahu harus berbuat apa.
"Jangan panik, Sha. Coba hubungi dia, bukannya dia sudah punya gadget?" saran Rima.
"Ahhh, iya, benar!" seru Shanum. Dia langsung menghubungi Arsenio seperti yang Rima katakan. Tapi, sudah tiga kali Shanum berusaha menghubungi putranya, tetap tidak ada jawaban.
"A--aku harus menemui Miss Alea!" seru Shanum, dia bergegas berlari kecil menuju kamar kosnya untuk mengambil motornya.
"Sha, coba kamu hubungi dulu Miss Alea. Kalau kamu sudah di sana, tapi Arsenio tidak bersamanya, kita cuma buang-buang waktu. Harusnya kita bisa cari ke tempat lain!" seru Rima.
Shanum yang sudah panik hanya bisa mengangguk saja. Baru saja dia mengeluarkan ponselnya lagi, terdengar deruan suara mobil dari arah depan pagar Kost mereka.
"Sha, bukankah itu mobil Pak Arthur?" Mereka jelas mengenal jelas mobil itu, setiap hari melihatnya di perusahaan.
Shanum hanya diam dan memperhatikan.
"Untuk apa dia datang ke sini? Apakah mau mencari Arsenio?" gumam Shanum.
Shanum dan Rima membulatkan mata mereka ketika Arsenio yang sedang tertidur berada dalam gendongan Arthur. Rima menyenggol lengan Shanum sambil terbata-bata dia berkata, "Sha, bukannya itu Arsenio? Kenapa bisa sama Pak Arthur?"
"Ya. Itu memang Arsenio! Putraku!" ucap Shanum.
*****
Halo, ada yang suka bacaan genre Youth, percintaan anak remaja, ga, nih? Kalau ada, bisa mampir ke novel ini, ya! 👇
__ADS_1