Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Dia Putraku??


__ADS_3

Leo tertegun, dia membisu. Dia sengaja berdiri di tempat untuk bersembunyi, menghindari penglihatan Key. Leo paling tahu bagaimana sifat Key. Wanita itu pasti akan memburu Leo, meminta Leo untuk mendekatkannya dengan Arthur. Jadi, daripada meladeni wanita itu, lebih baik bersembunyi saja.


"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Shanum, tapi tidak ada jawaban dari Leo. Pria itu malah meminta Shanum diam, memberikan isyarat dengan jarinya yang diletakkan di bibir.


Refleks, Shanum juga membungkam mulutnya sendiri. Walaupun bingung dengan keadaan, tidak ada niatannya untuk bertanya. Baginya, tidak penting siapa pun wanita itu. Yang dia tahu, wanita berpakaian seksi itu adalah simpanan Arthur.


'Ckck, ternyata bukan cuma aku yang ditidurinya. Tapi, wanita itu juga jadi mangsanya. Aku malah merasa takut tertular virus karena Tuan Arthur sering gonta-ganti pasangan,' batin Shanum.


Shanum memperhatikan Leo yang masih mematung, tidak ada pergerakan kecil yang pria itu buat. sebuah ide yang dianggapnya berlian melintas di kepalanya. Sekali lagi dia memastikan pososi Leo. Seringaian sinis menghiasi wajah cantik Shanum. Baru dua langkah dia melangkah mundur, dia dikagetkan oleh Leo.


"Ayo, Nona Shanum!"


"Ha? A--ayo." Shanum tersenyum kikuk.


Dari kejauhan, Arthur memperhatikan gelagat Shanum yang mau melarikan diri. Arthur tersenyum kecil karena Shanum tidak berhasil kabur. Saat wanita itu semakin dekat dengannya, Arthur memposisikan wajahnya menjadi datar.


Leo membukakan pintu untuk Shanum, wanita itu masuk ke dalam.


"Ada apa, Tuan? Kenapa kau memanggilku lagi?" decak Shanum, mengeluarkan kekesalan yang membuncah dalam dadanya.


"Kau lupa dengan statusmu?" sinis Arthur, dia selalu menggunakan statusnya sebagai suami Shanum untuk menekan wanita itu.


"Aku seorang cleaning service, kenapa? Apa kau mau menaikkan pangkatku?" ledek Shanum, menatap Arthur yang mulai jengkel.


"Jawab aku dengan benar!" Arthur mencengkram lengan Shanum. "Kau istriku! Berdandan secantik ini hanya demi menemui pria lain?" sentak Arthur, genggamannya semakin kuat.

__ADS_1


"Lepaskan!" Shanum menggigit tangan Arthur yang menggenggamnya erat. Tangannya membiru, pria itu menggunakan seluruh tenaganya untuk meluapkan emosi.


"Dasar wanita tidak tau diri! Beraninya kau bertemu dengan pria lain!" Arthur menarik pinggang Shanum agar lebih mendekat padanya. Mencium Shanum dengan beringas. Setiap kali Shanum melawan, meminta dilepaskan, Arthur akan semakin mengeratkan pelukannya. Dia benar-benar tidak suka melihat Shanum bersama dengan pria lain, apalagi sampai tertawa dan berpegangan tangan begitu.


Shanum pasrah, dia menangis. Isakannya terdengar oleh Arthur, barulah pria itu melepaskan Shanum.


"Kenapa kau selalu saja mengacaukan hidupku?" Shanum menghapus bibirnya dengan punggung tangannya. Menggosok kuat bibirnya sampai terasa perih barulah dia berhenti.


"Jangan lukai dirimu!" Arthur mengunci tangan Shanum ke atas. Memojokkan tubuh Shanum ke sudut. "Kau milikku!" ucapnya tegas.


"Aku bukan milik siapa pun! Jangan bermimpi!" Shanum menahan tangisnya. Jika bukan karena takut hubungannya dengan Arthur terbongkar, dia tidak akan mau ikut ke sini menemui pria sialan di depannya saat ini.


"Jangan menguji kesabaranku, wanita!" Mata Arthur memerah. "Tidak ada yang boleh mendekatimu selain aku! Kau masih istriku, aku belum puas bermain denganmu!" kecam Arthur, semua kata-kata menyakitkan itu begitu menusuk telinga Shanum.


"Bermainlah dengan jalangmu! Jangan mempermainkan aku!" Shanum memberontak.


"Leo, ke apartemenku!" titah Arthur.


"Baik, Tuan."


"Turunkan aku di sini, aku harus pulang menemani putraku!" berontak Shanum.


"Baik. Kita akan menjemput putramu, biarkan dia ikut bersama kita!" titah Arthur.


Shanum terdiam. Jangan sampai Arthur menemui Arsenio. Walaupun dia Daddy kandung Arsenio sekali pun, Shanum tidak akan mau mempertemukan Arthur dengan Arsenio, putranya.

__ADS_1


"Tidak. Jangan libatkan putraku dengan masalah kita. Dia masih kecil, jangan libatkan dia, Tuan!" Shanum memohon.


Arthur tersenyum sinis, dia sangat senang mendengar permohonan Shanum sambil menangis. Mendengar permohonan Shanum sambil menangis, dia malah ingin segera menggagahi wanita itu disaat itu juga.


"Kalau begitu menurutlah! Kau cuma mainanku, jadi jangan banyak membuatku marah, tidak akan baik untukmu. Lagipula, kasihan putramu jika tahu Mommy-nya menjadi mainanku, bukan?" ucap Arthur, membuka ikatan dasinya dari tangan Shanum.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Arthur, meninggalkan rasa perih yang langsung menjalar. Arthur menatap Shanum yang tidak menunjukkan rasa takutnya sama sekali. Justru, tangan wanita itu masih mengepal erat seperti masih menahan amarahnya yang memuncak.


"Tolong jaga kata-katamu, Tuan Arthur. Sudah cukup kau mempermainkanku di atas ranjangmu empat tahun yang lalu. Sekarang, aku dan Arsenio sudah hidup dengan baik tanpamu. Tolong lepaskan aku dan jangan usik kami lagi!" pekik Shanum dengan emosinya yang tidak terkendali. Bahkan, dia sendiri tidak tahu apa yang barusan dia katakan. Hanya mengeluarkan sakit di hatinya.


Sementara, Leo dan Arthur yang mendengar ucapan Shanum sama-sama terdiam. Sontak, Leo menghentikan mobilnya, Arthur menatap Shanum tidak percaya.


"Apa maksud perkataanmu barusan? Empat tahun lalu ... kita sudah pernah bertemu? Dan ... itu ... anakku?" tanya Arthur tergagap. Fakta yang barusan terungkap tanpa sengaja benar-benar membuat Arthur tidak percaya.


Shanum terlonjak kaget, dia menutup mulutnya sendiri. Menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Bukan. Aku tidak bermaksud mengatakan itu, Tuan. Barusan aku hanya asal bicara saja. Jangan diambil pusing." Shanum cepat-cepat menjelaskan. Namun, semua penjelasan Shanum percuma.


Setelah mengingat kembali mengenai anak kecil yang pernah datang ke kantornya saat itu, Arthur baru sadar, selama ini dia tidak pernah mencurigai Shanum sedikit pun. Ternyata, orang yang tidak dia curigai malah orang yang selama ini dia cari.


"Ucapan saat emosi adalah ungkapan yang paling jujur," timpal Leo. Dia juga tidak percaya dengan penyangkalan Shanum.


"Leo, putar balik ke tempat tinggal wanita ini! Aku harus menemui putraku!" titah Arthur, tidak peduli dengan penyangkalan Shanum. "Cepat!" Arthur tidak sabaran, ingin sesegera mungkin menemui anak kecil yang diyakini sebagai putranya.

__ADS_1


*****


__ADS_2