Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Aku Tahu Semuanya


__ADS_3

"Shanum! Kamu kenapa?" suara seorang pria di belakang tubuh Shanum mengagetkan dua wanita itu. Shanum sangat mengenal suara itu. Dia melengok ke belakang, ingin memastikan suara siapa itu.


'Ternyata memang benar dia!'


"Nek, aku harus bicara dengan dia dulu. Nanti, aku akan menemui nenek lagi, ya," ucap Shanum pada wanita tua itu. Dia tidak mau wanita itu mendengar perbincangannya dengan pria bajingan yang dengan tidak tahu malu masih saja datang ke dalam hidupnya.


"Bicaralah dengan kepala dingin, Sha. Apa pun masalahnya, pasti akan ada solusi untuk itu," ucap sang Nenek sambil tersenyum manis.


Shanum mengangguk sambil tersenyum, meski tidak ada niatnya untuk berbicara baik-baik. Tapi, dia juga tidak mau membantah ucapan sang Nenek.


"Kenapa kau masih datang ke sini ... Rio?" tanya Shanum, masih berdiri di bawah pohon rindang, menatap Rio yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum manis. Membawa sebuket bunga mawar merah dan sebuah paper bag yang tidak Shanum ketahui isinya.


"Tentu saja karena mau menemuimu." Senyuman di wajah pria itu masih mengembang. Secercah keceriaan tergambar luas di wajahnya, menatap Shanum yang semakin cantik, ada kebahagiaan tersendiri yang membuatnya tidak henti-hentinya mengembangkan senyum.


"Untuk apa? Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!" ketus Shanum, dia hendak pergi. Tetapi, tangannya dicekal oleh Rio. Pria itu tidak mengizinkan Shanum pergi.


Shanum menggemeratakkan giginya. Dia berbalik, sesaat tatapan mereka saling beradu pandang. Kebencian di hatinya semakin meluap. Apalagi ketika perkataan Arthur kembali terngiang, api amarahnya semakin membuncah tanpa tentu arah.


"Sudah berapa kali aku katakan, jangan pernah menemuiku lagi, bukan?" Shanum mengepalkan tangannya yang dicekal Rio. Membuat pria itu langsung menunduk, melihat kepalan tangan Shanum sampai kuku-kukunya memutih.


"Jangan seperti itu, Sha!" Rio masih tidak terpengaruh. Terus menunjukkan sikap lembutnya, seperti dulu.


Shanum terkekeh, menepis kuat tangan Rio sampai pria itu mengaduh kesakitan. "Dulu, mungkin aku akan tertipu dengan sikap lembut dan ucapan manismu. Sekarang, aku merasa jijik setiap mendengar tutur katamu, penipu ulung!" Shanum berdecih, matanya memerah dengan buliran air mata yang siap menetes. Namun, semua tatapan dengan sorot kebencian itu disalah artikan oleh Rio.


Dengan beraninya Rio maju sampai beberapa langkah. Tangannya terulur mengusap lembut pipi Shanum. "Jangan menangis, Sha. Aku tahu kamu merindukan aku. Kenapa harus repot-repot menahan diri dan hati? Datanglah padaku, aku pasti akan menerimamu," ucap Rio. "Mulai sekarang, jangan lagi menyimpan rindu!" imbuh Rio.


Perkataan Rio barusan terdengar sangat memuakkan. Shanum mundur dua langkah sampai punggungnya terbentur barang pohon besar di belakangnya.


"Kau pikir, mataku memerah menahan tangis ini karena merindukanmu?" Shanum menunjuk dirinya sendiri. "Kau salah besar, Rio. Sebenarnya aku sedang menahan diri untuk tidak memukulimu sampai mati. Enyahlah dari sini! Aku muak melihatmu!" ketus Shanum.


"Sha, kamu pasti ingat saat terakhir kali bertemu. Kamu ingat penyebab perpisahan kita, bukan?" Rio memasang wajah memelasnya. Sedangkan, Shanum tidak menyahut. Menunggu, apalagi yang mau dikatakan pria bajingan itu.


"Kita berpisah karena kamu hamil anak pria lain, itu artinya kamu sudah mengkhianatiku dengan menyerahkan dirimu pada pria lain, Sha. Jujur saja, saat itu aku benar-benar sangat marah. Hatiku yang sedang dikuasai api amarah membuatku salah mengambil keputusan sampai membatalkan pernikahan kita. Tidak mudah bagiku untuk menerima pengkhianatanmu, Shanum!"

__ADS_1


"Bertahun-tahun aku masih memikirkan kamu, bahkan sampai sekarang. Kini, aku kembali datang padamu, ingin kembali merajut kasih seperti dulu, tolong hargai aku. Aku ... menerima anak itu, anggaplah aku sebagai Papanya!"


Jika orang lain yang mendengar ucapan Rio, pasti mereka semua mengira Rio adalah pria yang berarti mulia. Tetapi, bagi Shanum yang sudah mengetahui bagaimana keparatnya pria itu, malah ingin tertawa terbahak-bahak.


"Lalu, bagaimana dengan Rara? Kalian sudah menikah, bukan? Seharusnya, kalian juga sudah memiliki anak. Bagaimana denga dia, Rio!" Suara Shanum semakin meninggi. Pengkhianatan yang Rio dan Rara lakukan, malah pria itu limpahkan padanya.


"Aku--"


"Saat itu, kalian langsung memutuskan untuk menikah, padahal aku masih ada di depan matamu. Tidakkah kau memikirkan sehancur apa perasaanku?!" Shanum tidak mampu mengendalikan dirinya lagi. Setiap api kemarahan itu berkibar, sulit bagi Shanum untuk mengendalikan dir untuk tetap berbicara dengan kepala dingin.


"Aku melakukan itu semua karena terlanjur sakit hati padamu, Sha. Aku juga hancur saat mendapatkan foto-foto pengkhianatanmu dengan pria lain. Makanya aku tidak sengaja terpikirkan ide gila itu, demi membalaskan kehancuranku akibat dari pengkhianatanmu. Aku menyesal, Sha. Kita sama-sama bersalah, mari kita perbaiki semuanya."


Rio tidak melepaskan kesempatan bisa berbicara leluasa dengan Shanum. Biasanya, wanita itu pasti akan menghindar darinya. Maka, inilah kesempatan baginya untuk berbicara dan mengajak Shanum kembali padanya.


"Cih! Sepertinya kau lupa akan kesalahan fatalmu sendiri, Rio! Kau tahu, aku menyesal kita pernah lagu merajut hubungan sampai mau menikah." Shanum berdecih. Wajah memelas Rio sungguh memuakkan untuknya.


"Apa maksudmu? Kesalahan fatal apa? Shanum, tolong jangan membalikkan keadaan."


"Kau yang menjebakku, Rio!" ucapan Shanum mengagetkan Rio. Pria itu gelagapan, takut jika Shanum sudah mengetahui perbuatan kejinya dulu. Dia benar-benar sangat takut sekali.


'Apa dia benar-benar sudah mengetahui semuanya? Tidak mungkin. Darimana dia bisa tahu? Tidak mungkin dia bisa berhubungan dengan Bos perusahaan besar itu, kan? Sangat tidak mungkin. Jangan terkecoh Rio. Mungkin saja sekarang dia sedang mengujiku,' batin Rio menenangkan dirinya sendiri.


"Kau masih mau berpura-pura bodoh? Sampai kapan?"


"Shanum, Kenapa kata-katamu kasar sekali? Kamu wanita yang sangat baik dan lembut, Sha. Tolong sadarlah."


"Kau yang menjualku pada CEO perusaahan Arthur Group seharga dua milyar, Rio. Kemudian, ketika aku hamil, kau sengaja menjebakku untuk membuktikan pada orang-orang bahwasanya akulah yang berkhianat. Membatalkan pernikahan kita, dan menikahi mantan sahabatku itu. Permainanmu sangat bagus, Rio. Kau ... penipu yang handal." Shanum bertepuk tangan kecil, seolah sedang memberikan selamat untuk sandiwara yang Rio lakukan.


Rio benar-benar terperangah ketika Shanum mengungkapkan rencana busuknya dulu. Ya, rencana itu memang hasil buah dari pikirannya dengan Rara saat itu. Karena, pada saat itu Rara sudah positif hamil.


Karena kebingungan dengan kehamilan sang kekasih gelap dan Rio pun membutuhkan uang bernilai besar untuk menyelamatkan perusahaannya, Rio memilih melancarkan rencana itu.


Semua berhasil dengan lancar. Sekali merengkuh dayung, dua pulau terlampaui. Saat itu, dia sangat senang. Bahkan, pernikahannya dengan Rara pun dibuat besar-besaran, lebih mewah dari rencananya saat akan menikah dengan Shanum.

__ADS_1


"Sha, kamu salah paham!" Setelah terdiam cukup lama karena kaget, akhirnya Rio segera mengelak tuduhan itu. "Darimana kamu bisa terpikirkan semua itu, Shanum. Itu sangat licik sekali, aku tidak mungkin melakukannya." Rio terus mengelak.


"Ada apa ribut-ribut?" seorang satpam kost datang menghampiri mereka. Adu mulut antara Rio dan Shanum memang memicu kericuhan.


"Dari tadi aku mendengar keributan ini." Satpam itu melihat Shanum yang seakan sudah tersudutkan, matanya pun membengkak karena habis menangis.


"Pak, pergilah!" Sang satpam berpikir itu semua ulah Rio. Makanya dia mengusir Rio dari sana.


"Apa? Kenapa aku yang harus pergi?" Tentu saja Rio tidak terima dengan pengusiran itu. Dia tidak merasa sudah berbuat kesalahan apa pun. Terlebih, merasa harus menjelaskan mengenai semua kesalahpahaman itu.


"Jadi, siapa yang harus pergi? Apakah Nona Shanum? tidak mungkin, kan, dia tinggal di sini."


Rio kalah telak. Ya. mana mungkin janum yang pergi dari sana, wanita itu tunggal di kost tersebut dan terkenal baik oleh seluruh penghuni kost, termasuk sang satpam.


"Usir saja dia, Pak. Jikalau bisa, tanpa ada kepentingan yang jelas, Jangan biarkan dia masuk ke dalam area kost," ucap Shanum, langsung pergi tanpa melirik ke arah Rio barang sedikit pun.


"Sha, Jangan pergi begitu saja. banyak yang harus aku jelaskan padamu!" Rio berteriak-teriak, memanggil-manggil sayang yang tak pernah mau menoleh lagi.


Dulu, Rio lah yang membuang Shanum. Sekarang, pria itu pula yang mengejar Shanum bagaikan batu berlian langka yang hanya ada satu di dunia ini.


Shanum berjalan cepat menuju kamarnya. Dia yakin, Arsenio pasti sudah bangun. Mengingat, sudah lama dia berada di luar dan berdebat dengan bajingan itu.


"Mom ...." panggilan Arsenio mengejutkan Shanum yang sedang berjalan sambil tertunduk.


"Arsen, kamu sudah bangun Sayang?" Shanum segera mendekap putranya, membawa Arsen masuk ke dalam.


"Mommy, di mana Daddy? Seingat Arsen, tadi Daddy lah yang menemani Arsen tidur di kamarnya karena Arsen kelelahan berenang. Tapi, kenapa sekarang Arsen berada di sini bersama Mommy?" tanya pria kecil itu, mengingat dengan jelas apa saja yang terjadi.


"Mommy, di mana Daddy? Apa Mommy yang mengusir Daddy, makanya Daddy pergi?? Mommy tidak senang Daddy bersama Arsen?" cecar Arsenio, menatap lekat netra sang Mommy.


*****


Halo, Hai! Selamat membaca...

__ADS_1


Ada yang penasaran sama visual Daddy Arthur, Mommy Shanum, sama Arsenio ga nih?🤭 Kalau penasaran, yuk follow ig author @zarinalizaa


😍😍😍


__ADS_2