Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Tidak Lagi Peduli


__ADS_3

"Ibu yakin tidak mau bicara denganku? Ibu tidak takut menyesal? Aku mau menikah, Bu."


"Menikah sama siapa kamu, Shanum? Calon suami kamu nguli di daerah mana?" tanya Rara sengaja, mengejek.


Shanum hanya melihat sekilas ke arah Rara. Jika dulu dia akan menanggapi ocehan sahabatnya itu dengan senyuman, menganggap semua ucapan Rara hanya guyonan, tidak untuk sekarang. Shanum sudah menjadi seseorang yang berbeda. Pengalaman benar-benar mengajarkannya menjadi wanita tangguh dan lebih baik lagi.


Sekarang, dia sudah mampu memilah-milah orang yang benar-benar menyukainya atau tidak.


"Kamu yang menikah, apa urusannya sama Ibu? Calon suami kamu itu tahu tidak, kamu punya anak haram?" Pertanyaan itu Mia ajukan dengan suara lantang. Sengaja, supaya semua para tetangga mendengar. Entah kenapa, dia senang sekali mempermalukan Shanum. Padahal jelas, Shanum adalah putri kandungnya.


"Bu ...," tegur Shanum, dia tidak nyaman dengan pertanyaan itu.


"Shanum, anak laki-laki yang bersama kamu tempo hari, itu anak haram?" tanya Rara, dia juga turut membesarkan suaranya. Rara tidak membiarkan siapa pun berada di atasnya, apalagi Shanum.


"Dia memang putraku," jawab Shanum mengakui. "Terlepas dari apa pun statusnya, aku tetap akan mengakuinya sebagai putraku. Tidak perlu malu mengakuinya," ucap Shanum sambil tersenyum manis pada Rara.


Namun, kata-kata Shanum barusan begitu menohok dirinya. Dia tahu Shanum sedang menyindirnya karena saat di rumah sakit tanpa sengaja Rara melepaskan tangan Nabil karena malu.


"Be--benar!" seru Rara tergeragap.


"Daripada suami kamu nanti kecewa, lebih baik beritahu dia sesegera mungkin, kamu punya anak haram. Jangan menipu, Shanum. Takutnya nanti keluarga suami kamu malu!" ketus Mia, tersenyum sinis dengan tatapan tajam menatap Shanum yang masih berdiri di depannya.


"Lihat Rara, sudah cantik, dia bisa menjaga diri. Selama menikah dengan Rio, dia sangat bahagia. Apa yang dia mau, selalu diberikan oleh Rio," tukas Mia, memuji Rara. Membuat wanita itu tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya.


'Untung saja aku selalu memperlihatkan kebahagiaan. Tidak akan ada yang mengetahui kesengsaraanku,' batin Rara sambil tersenyum.


"Bu, aku tidak peduli dengan kebahagiaan orang lain. Ibu kenapa malah berbicara ini dan itu? Aku datang ke sini, mau meminta restu padamu," tukas Shanum, menghela nafas panjang karena lelah dengan Mia yang terus menyudutkan dan menjatuhkannya.

__ADS_1


"Restu apa? Empat tahun yang lalu aku sudah mengusirmu, aku tidak menganggapmu sebagai anak lagi. Pergi dari sini! Aku tidak menerima kedatanganmu!" bentak Mia, menolak tubuh Shanum sampai tersudut.


"Di mana dia?" tanya Shanum.


"Siapa?" tanya Mia mengerutkan dahinya.


"Lukman, Suamimu di mokondo," jawab Shanum. "Apa Ibu bahagia setelah menikah dengan pria mokondo itu?"


"Jangan kurang ajar kamu, ya, Shanum." Suara Mia semakin meninggi.


"Banyak sekali bekas memar di wajah Ibu, makanya aku tanya. Entah apa yang membuat Ibu sangat menghormati pria itu." Shanum terkekeh pelan.


"Pergi!" Mia kembali membentak.


Shanum meletakkan barang-barang bawaannya tepat di kaki Mia. Kemudian dia pergi tanpa mengatakan apa pun lagi. Sesak yang terpendam membuatnya sulit untuk bicara. Satu kata yang keluar dari mulutnya, membuat setetes air matanya luruh. Sungguh, hatinya sakit sekali.


"Shanum ...," sapa Rio, menghampiri Shanum dan mencoba menggenggam tangan wanita itu. Tetapi, langsung ditepis Shanum. Melihat semua itu di depan matanya, darah Rara mendidih dengan tangan terkepal erat.


"Rio, kamu sudah pulang?" Rara bergegas menghampiri Rio, suaminya. "Ayo, kita pulang!" ajak Rara, menggamit lengan Rio.


"Kamu ini apa-apaan, sih, Rara? Lepaskan!" Rio menghentak kasar pelukan Rara.


Wajah Rara muram, dia sangat malu karena Rio memperlakukannya sekasar itu di depan banyak orang. Apalagi, selama ini dia menggadang-gadang kalau hubungan mereka dipenuhi dengan kebahagiaan.


Shanum tidak peduli, dia mengendarai sepeda motornya meninggalkan rumah masa kecilnya. Tidak peduli Rio yang terus memanggil-manggil namanya.


Shanum mengusap pelan pipinya yah basah karena air mata. Dia hanya memperlihatkan kekuatan dan keteguhannya. Sebenarnya, hatinya tidaklah setegar itu. Perasaan rindunya untuk sang Ibu cukup besar, tapi dia terlalu malu dan takut untuk mengungkapkan rasa rindunya.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama, Shanum tiba di kostnya. Saking kalutnya pikiran Shanum, dia sampai lupa menjemput Arsenio. Padahal, Shanum sudah janji akan menjemput pria kecil itu lebih cepat dan mereka akan jalan-jalan.


"Sha, bagaimana?" Suara Arthur mengagetkan Shanum. Wanita itu tersentak, mengerutkan dahinya.


"Kenapa kamu bisa di sini? Menungguku?" tanya Shanum, matanya berpendar ke segala penjuru. Mencari keberadaan Arsenio yang tidak dia temui.


"Ya. Aku menunggumu," jujur Arthur. "Apa Ibumu sudah memberi jawaban? Mama terus-menerus menanyakan hal itu padaku, makanya aku datang ke sini." Kali ini pria itu berbohong. Dialah yang tidak sabar menunggu jawaban, ingin sesegera mungkin menghalalkan Shanum menjadi miliknya seutuhnya.


Namun, hati dan logikanya masih saja bertentangan. Jika hatinya mengatakan ingin menikahi Shanum karena alasan lain, logikanya malah kekeuh jika pernikahan yang akan segera mereka langsungkan, demi Arsenio.


Shanum tidak langsung menjawab. Kakinya melangkah mendekat pada Arthur. Dia menarik kursi di sebelah Arthur dan mendudukkan dirinya di kursi tersebut. Wajahnya menadah ke atas, berulang kali Shanum menarik nafas panjang demi menetralkan kesedihan yang menyesakkan dadanya.


Arthur yang menyadari gelagat berbeda dari Shanum, kemudian bertanya, "Ada apa?"


"Aku tidak yakin dia menyetujui pernikahan ini," tutur Shanum kemudian sambil tersenyum getir.


"Ibumu ... tidak menyetujui kita menikah?" tanya Arthur memastikan ucapan Shanum.


Shanum menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu. Ibuku sudah tidak mau tahu apa pun yang aku lakukan. Jadi, kurasa percuma juga," ujar Shanum menjelaskan.


Arthur terdiam. Perlahan-lahan tangannya mulai hinggap di pundak Shanum. Karena tidak ada penolakan, barulah dia berani mengusap lembut pundak istri sirinya itu.


"Aku akan melakukan sesuatu, tenang saja," ujar Arthur menenangkan.


"Sesuatu? Apa yang akan kamu lakukan? Jangan yang aneh-aneh, aku tidak mau jadi anak durhaka," tukas Shanum gelisah. Dia berpikir, cara yang akan Arthur gunakan adalah cara tragis yang mungkin saja bisa melenyapkan nyawa seseorang. Sungguh, pemikiran Shanum sangatlah berlebihan.


"Hubunganmu dengan Ibumu renggang karena kesalahanku yang egois. Tenang saja, aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk," ujar Arthur, usapan-usapan tangannya benar-benar menenangkan Shanum yang sedang diliputi kegundahan.

__ADS_1


*****


__ADS_2