Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Tidurlah Denganku!


__ADS_3

"A--apa yang Anda katakan, Tuan? Tadi pagi saya memang menabrak sebuah mobil, tapi bukan mobil milik Anda," sangkal Shanum, kini dia menatap wajah Arthur dengan berani.


Mendengar jawaban Shanum, Arthur ikut menyunggingkan senyumnya. Senyum sinis yang membuat tubuh Shanum merinding. Dia memang tidak melihat jelas wajah pemilik mobil tersebut. Namun, dia sangat meyakini, pemilik mobil tersebut bukanlah Bosnya sendiri.


"Kau yakin itu?" tanya Arthur, dan langsung mendapat anggukan dari Shanum.


"Tentu saja, Tuan." Keyakinan Shanum perlahan memudar kala melihat senyuman Arthur yang tak main-main.


'Seprtinya dia sedang tidak main-main. Lagipula, tadi Leo yang datang menemuiku. Bukankah Leo asisten Tuan Arthur? Tuhan, mengapa perkaranya semakin rumit seperti ini? Jika mobil yang kutabrak adalah milik Tuan Arthur bagaimana nasibku kelak? Kenapa aku semakin terjerumus? Sebenarnya apa kesalahanku? Apakah aku benar-benar akan masuk penjara? Meninggalkan Arsenio merawat tubuh kecilnya seorang diri?' batin Shanum, dia semakin menunduk sambil *******-***** jari-jemarinya.


"Kenapa diam? Apa kau sudah menyadari sesuatu?" Arthur tersenyum melihat gurat kekhawatiran yang terlukis jelas di wajah Shanum.


"A--aku menyadari, Leo yang menemuiku pagi tadi memang asisten Anda, Tuan. Tapi, aku juga membutuhkan bukti jelas jika mobil itu memang milik Anda," ucap Shanum lirih. "Jujur saja, aku tidak memiliki uang untuk membayar biaya kerusakannya, makanya aku datang ke sini bermaksud untuk meminjam dan mengganti semuanya," lanjut Shanum kembali mengutarakan niatnya.


"Jadi, jika Anda mengaku-ngaku, tapi bukan Anda pemilik sebenarnya, tentu aku akan rugi. Aku--"


"Jika aku meminjamkan uang untukmu, bagaimana caramu membayarnya?" tanya Arthur, dia membuka database karyawan atas nama Shanum dan melihat semua informasi pribadi mau pun bukan.


"A--aku akan mencicil sedikit-sedikit dari uang gajiku, Tuan." Shanum menjawab dengan cepat, berusaha untuk meyakinkan Bosnya. "Aturan perusahaan memang seperti itu, bukan?"


"Kau bisa meminjam seratus juta jika posisimu sebagai sekretaris perusahaan, atau minimal manager. Sekarang, apa posisimu? Cleaning servis tingkat paling rendah, kan?" Arthur menaikkan sebelah alisnya. Senyuman mengejek yang tersemat di wajahnya begitu menyebalkan. Shanum merasa direndahkan, tetapi dia harus bertahan.


Shanum memegangi bajunya erat, dia tidak boleh menjatuhkan gengsinya. Sekarang, Arsenio lah yang sedang dipertaruhkan. Bagaimanapun, putranya tidak boleh merasakan pahit diusia yang masih dini.


"Tuan, saya akan tetap membayarnya walaupun membutuhkan waktu yang lama." Shanum mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Dia memohon dengan sungguh-sungguh, berharap Arthur mau meminjamkannya uang.


"Saya tidak akan melarikan diri. Saya bersungguh-sungguh." Shanum terus memelas. Tidak ada lagi yang bisa Shanum lakukan. Namun, yang paling menjengkelkan, Shanum sudah berusaha keras untuk memohon, Arthur malah tersenyum.

__ADS_1


'Kenapa dia malah tersenyum? Apa dia sedang mengejekku? Atau, permohonanku terdengar tidak cukup tulus? Aku harus bagaimana lagi? Sejak tadi, ucapannya terus berputar-putar dan memiliki maksud untuk tidak meminjamkan. Tuhan, aku harus bagaimana lagi?' batin Shanum, meringis saat melirik sekilas wajah Arthur.


"Aku tidak bisa meminjamkanmu uang itu. Kau menabrak mobilku, meminjam uangku untuk membayar biaya ganti rugi. Apakah itu tidak terkesan lucu?" Arthur membuka dokumen-dokumen lain di atas mejanya. Memilih untuk tidak mempedulikan Shanum lagi.


"Tuan, sebelum itu kamu harus memberikan bukti kalau mobil itu benar-benar milikmu. Tidak bisa hanya dengan bicara langsung mengclaim barang orang lain, bukan?" Shanum tetap saja tidak percaya pada pengakuan Arthur.


Arthur mengotak-atik ponselnya, kemudian dia meminta Shanum mendekat dengan melambaikan sebelah tangannya. Arthur menunjukkan sebuah foto mobil mewah berwarna hitam yang penyok di bagian belakangnya. Setelah melihat foto yang Arthur tunjukkan, Shanum mengangguk cepat.


"Lihat dengan jelas, mobil ini yang kau tabrak tadi pagi, kan?"


"Ya. Memang mobil ini, Tuan." Shanum manggut-manggut.


Arthur menggeser layar ponselnya ke arah samping, memperlihatkan separah apa kerusakan yang Shanum perbuat.


"Lihat! Kerusakannya sangat fatal. Harusnya, Leo tidak meminta seratus juta. Tapi, lebih," ucap Arthur dengan wajah dingin khasnya.


"Bagaimana? Apa kau sudah percaya kalau itu memang mobilku? Keluarlah! Aku tidak bisa memberikanmu pinjaman. Jika kau tidak bisa melunasi hutangmu tepat waktu, tunggu saja pihak berwajib datang menjemputmu!" kecam Arthur lagi, dia sangat suka melihat wajah panik Shanum.


'Aku suka sekali mendengar suaranya. Suaranya seperti tidak asing, tapi aku juga tidak ingat pernah mendengarnya di mana.'


"Tuan, aku benar-benar sangat memohon padamu. Aku tidak bisa dipenjara, bagaimana dengan nasib anakku?" Shanum memohon, mulanya mata Shanum hanya berkaca-kaca. Sekarang, kacanya sudah retak hingga air yang terbendung pun menetes tanpa jeda.


Arthur kaget, mengira Shanum sudah menikah. Wajahnya yang tadinya tergores senyuman samar, mendadak berubah datar.


"Kau bisa menitipkan anakmu pada suamimu, kan? Keluarlah!" Arthur bersikap tegas. Dia merasa bodoh sudah membuang-buang waktu berbicara banyak dengan wanita di depannya itu.


"Su--suamiku pergi melaut, Tuan. Dia ... dikontrak sampai sepuluh tahun. Bagaimana nasib putraku jika dia sendirian?" Shanum terpaksa berbohong. Arthur selaku pemilik mobil, Shanum bisa lebih leluasa untuk meminta keringanan.

__ADS_1


"Tidak." Arthur tak lagi mempedulikan.


"Aku lihat, identitasmu saat melamar bekerja di perusahaan masih single. Sekarang, kau mengatakan sudah memiliki suami dan anak? Kau mencoba berbohong?"


Shanum terdiam, sulit bagi Shanum untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi, sama saja dengan membuka aibnya sendiri.


"Kau tahu, ini namanya pelanggaran. Aku akan meminta kepala cleaning servis untuk memecatmu!" kecam Arthur, kali ini dia tidak main-main dengan ancamannya.


"A--aku tidak punya suami!" ucap Shanum cepat. Setelah mendengar ancaman Arthur, Shanum merasa sangat ketakutan sekali. Dia tidak bisa kehilangan pekerjaan ini. Sangat sulit mencari pekerjaan sekarang. Jadi, Shanum akan berusaha menjaga yang sudah ada.


"Tidak punya suami?" Arthur menaikkan sebelah alisnya.


"Ya, aku memang tidak punya suami. Tapi, aku memiliki seorang balita," terang Shanum.


"Yang kau katakan itu benar?" Arthur kembali memastikan.


"Benar, Tuan."


"Makanya aku sangat tidak bisa kehilangan pekerjaan ini. Apalagi, sampai masuk penjara? Bagaimana dengan nasib putraku?" Shanum kembali tertunduk.


"Aku memiliki cara lain untukmu membayar semua kerusakannya. Kau tidak perlu memakai gajimu yang sedikit itu untuk mencicil hutang," ucap Arthur, mulai terpikirkan sebuah ide di kepalanya.


"Ba--bagaimana, Tuan?" Shanum tersenyum senang. Dia tidak menduga, Bosnya masih mau membantunya, walaupun mobil pria itu sendiri yang mengalami kerusakan.


"Tidurlah denganku!" ucap Arthur tanpa malu atau pun merasa bersalah setelah itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2