
"Yang menjualmu padaku adalah Rio, calon suamimu sendiri! Dia menjualmu padaku seharga dua milyar demi membantu perusahaannya yang hampir bangkrut!" ucap Arthur.
Arthur terus memindai wajah Shanum yang pias, begitu terkejutnya sampai dia tidak bisa berkata-kata, membisu dengan lidah yang kelu. Sungguh, kenyataan ini tidak pernah dia bayangkan, bahkan tidak pernah dia pikirkan barang sedikit pun.
"R--Rio katamu?" Shanum masih bertanya-tanya. Kenyataan pahit yang baru dia dengar sungguh membuat hatinya berdarah. Meski sudah beberapa tahun yang lalu, meski tidak lagi memiliki perasaan untuk pria itu. Tetapi, mendengar pengakuan Arthur tetap membuat hati Shanum seakan tercabik-cabik.
Bagaimana mungkin seseorang yang begitu dia percayai, begitu tega menjualnya hanya demi segelintir uang? Berarti, keputusan Shanum untuk membenci pria sialan itu tidaklah salah. Rio memang patut dibenci, karena diam-diam telah mengecewakan.
"A--apa buktinya?" Shanum masih memperlihatkan sisi keras kepalanya. Seakan tidak mempercayai apa yang Arthur katakan, padahal hatinya hancur bagaikan puing-puing.
Arthur tersenyum sinis. "Bukti?" tanya Arthur. "Arsenio, itu adalah bukti yang nyata." Singkat, tapi begitu menusuk hati Shanum.
Seharusnya, tidak perlu dia mempertanyakan lagi. Jika dipikirkan beberapa kali lagi, memang tidak mungkin orang seperti Arthur akan sembarangan mengutip wanita di pinggir jalan untuk menyalurkan hasrat semalamnya. Bodohnya dia karena sejak awal pertanda Rio yang menjadi dalang semua ini sudah ada, tapi Shanum malah tidak kunjung menyadari apa pun.
Sekarang, hanya ada tangisan. Bersamaan dengan lelehan air matanya, gumpalan sesak di dadanya pun mulai mencair. Namun, semua itu tetap tidak bisa membayarkan semua kesakitan atas luka yang terus melecut bagaikan kuda kehilangan pejinak.
"Tuan Arthur, kau mengatakan semua ini, bukan berarti aku mau menerima kehadiranmu untuk dekat dengan Putraku. Yang paling aku sesali, kau telah merenggut kesucianku! Untuk perihal siapa yang menjualku padamu, itu merupakan masalah lain antara aku dan Rio. Jadi, pergilah! Aku tidak bersedia berbaikan dengan iblis sepertimu!" Shanum menghapus air matanya. Jika bisa diperlihatkan, Shanum bersedia mengorek hatinya, memperlihatkan betapa sakitnya, perihnya, terlukanya hatinya selama ini.
"Dia juga putraku, Shanum. Sesegera mungkin aku akan mengubah nama belakangnya menjadi namaku. Kau memang Mommy-nya, aku berterima kasih padamu karena sudah membesarkan putraku. Tetapi, kau tidak memiliki hak untuk menghalangiku bertemu dengannya!" kecam Arthur, mati-matian dia mempertahankan posisinya sebagai Daddy Arsenio.
__ADS_1
"Beristirahatlah!" Kata terakhir yang terucap dari bibir Arthur, kemudian dia pergi meninggalkan Shanum yang masih dalam suasana hati menahan kesal.
"Arthur!" desis Shanum. Menatap punggung pria itu, pria yang masih menjadi suami sirinya, dan Daddy biologis putranya. "Bagaimana bisa aku terjebak dalam hubungan rumit ini, Tuhan ...." Shanum menangkup wajahnya, sendiri dia menangis di bawah pohon rindang. Ketika dedaunan berjatuhan, semilir angin yang bertiup membawa rontokan daun itu mengenai tubuh Shanum yang sedang bergetar.
Sunyi, kecewa, ingin melampiaskan dengan bercerita, tetapi tidak tahu harus mengungkapkan semuanya ke mana. Hanya bisa ditelan, dan disimpan sendiri.
"Sha ...." panggilan serta tepukan halus mendarat di pundak Shanum. Wanita itu menoleh, tersenyum sedikit dengan mata sembab dan wajahnya yang memerah habis menangis.
"Sha, kenapa?" suara wanita renta itu bergetar, karena memang sudah tua. Sekali melihat saja, wanita yang biasa Arsenio panggil Nenek kost itu langsung tahu, Shanum sedang berada dalam pusaran masalah.
"Kenapa?" Nenek kost membelai wajah Shanum, rambut-rambut wanita itu menempel sampai menutupi wajah cantik Shanum. Hidung wanita itu memerah, memang habis menangis.
Tapi, melihat betapa tuanya wanita penyayang di depannya, Shanum malah harus kembali berpikir beberapa kali untuk bercerita. Shanum tidak mau, masalah yang menderanya menjadi momok tersendiri bagi Nenek.
"Tidak ada apa-apa, atau memang kamu yang tidak mau bercerita?" tanya Nenek kost, tersenyum lirih, memperlihatkan kerutan di wajahnya.
Shanum tidak tahan lagi, segera dia memeluk Nenek kost dengan tubuh yang kembali bergetar hebat. Tangisnya pecah, meraung tapi tidak terlalu besar.
"Ada apa?" suara lembut Nenek kost, seakan setia menunggu Shanum untuk bercerita.
__ADS_1
Diusapnya punggung Shanum agar wanita itu bisa sedikit tenang.
"Nek, aku ... aku sedih," ucap Shanum, melerai pelukan mereka. Menghapus air matanya.
"Kenapa? Apa karena pria barusan itu, Sha? Seingat Nenek, itu pria malam itu, kan?" tanya Nenek kost, masih ingat saat malam Arthur mencari Arsenio. "Dia yang mencari Arsenio saat itu, kan? Ada apa sebenarnya?" cerca Nenek kost.
"D--dia Ayah kandung putraku, Nek. Ayah kandung Arsenio!" ucap Shanum.
"Benarkah?" Nenek tampak terkejut. Namun, dia juga belum berani menunjukkan rasa senangnya, apalagi melihat Shanum yang masih menumpahkan rasa khawatirnya. Entah khawatir akan apa, Nenek pun masih belum tahu dengan jelas.
'Sudah mengetahui kalau pria itu Ayah kandung Arsenio, kenapa malah khawatir dan sedih? Pria itu mapan, bisa menghidupi mereka berdua. Tetapi, kenapa tidak ada rasa kebahagiaan? Shanum, apalagi yang kamu sembunyikan? Sayangnya, aku tidak bisa memaksa.'
Shanum mengangguk. "Bukankah bagus kalau Arsenio sudah bertemu dengan Ayah kandungnya, Sha? Kenapa kamu terlihat tidak senang seperti itu? Ada apa, Sha?" tanya Nenek begitu ingin tahu.
"Shanum! Kamu kenapa?" suara seorang pria di belakang tubuh Shanum mengagetkan dua wanita itu. Shanum sangat mengenal suara itu. Dia melengok ke belakang, ingin memastikan suara siapa itu.
'Ternyata memang benar dia!'
*****
__ADS_1
Halo, maaf dua hari nggak update... Author pura2 sibuk🙈 Yang mau nitip satu bab lagi, silakan....ðŸ¤