
"Tapi, sebelum kalian benar-benar melamar Shanum, apa kalian tahu kalau Shanum memiliki anak haram?" cetus Mia.
"Anak haram?" Kenya mengulangi dengan dada yang bergemuruh.
Kenya mengepalkan tangannya. Dia tidak terima jika ada yang mengatai Arsenio anak haram. Itu sama saja mengoyak harga dirinya, karena Arsenio merupakan cucu kesayangan dalam keluarga mereka. Cucu laki-laki pertama yang berasal dari anak laki-laki pertama pula, membingungkan, ya?
Arthur yang hendak menjawab pertanyaan Mia, langsung disanggah oleh Kenya.
"Biar Mama saja," ucap Kenya lirih, menghalau Arthur dengan tangannya.
"Apa kalian sudah tahu?" tanya Mia sekali lagi. Dia terlihat bangga, seolah sudah memberitahukan berita penting. "Aku cuma memberitahukan saja, takut kalian akan menyesal di akhir nanti karena terlambat mengetahui," sambung Mia sambil tersenyum.
Lukman yang sejak tadi memperhatikan Mia, merasa kurang senang dengan kata-kata istrinya itu. Dia takut, karena anak haram Shanum, Kenya dan Arthur malah membatalkan pernikahan. Jika pernikahan dibatalkan, dia gagal mendapatkan semua mas kawin yang seharusnya menjadi milik Shanum.
'Kenapa harus dikatakan, sih? Kalau mereka berubah pikiran, kan rugi!' batin Lukman kesal.
"Maaf, Bu Mia, apa Ibu ini Ibu kandungannya Shanum?" tanya Kenya, menatap Mia dengan tatapan intens. Kenya yang awalnya memperlihatkan senyum keramahan, kini malah menunjukkan wajah kusutnya. Benar-benar kesal dan tidak disembunyikan sama sekali.
Mendapat tatapan tidak bersahabat seperti diawal, Mia merasa salah tingkah. Dia gugup, berusaha menutupi kegugupan itu sebaik mungkin.
"Be--benar. Tentu saja saya Ibu kandungnya Shanum," jawabnya kemudian.
"Lalu, mengapa sikap Ibu seperti itu? Ibu tahu siapa nama anaknya Shanum yang Ibu anggap sebagai anak haram?" tanya Kenya, matanya menyipit, menilik raut wajah Mia yang semakin tergeragap.
Mia tidak berdaya. Pertanyaan mudah yang Kenya ajukan tidak mungkin didiamkan saja. Calon besannya orang kaya, jika mereka tidak jadi menikahi Shanum, maka Mia yang paling merugi karena kehilangan kehormatan memiliki besan yang super kaya.
"Te--tentu saja saya tahu," jawab Mia, terkekeh pelan sambil memikirkan nama anak Shanum. Berusaha keras dia memikirkan nama anaknya Shanum. Sialnya, saat terakhir kali mereka bertemu, Mia terlalu sibuk menghina putrinya itu, hingga tidak jelas mendengar nama anak Shanum saat wanita itu memanggil putranya.
"Siapa?" Kenya kembali melayangkan pertanyaan. Entah mengapa dia tidak yakin Mia benar-benar mengetahui nama Arsenio seperti pengakuannya itu.
"A ...." Mia yakin nama anak Shanum berawal dari huruf A. Hanya itu yang dapat dia ingat. Tetapi, Mia tidak tahu nama Arsenio sama sekali.
__ADS_1
"A ...?" Kenya menunggu dengan sabar. Membuat Mia kesal tapi hanya berani merutuk dalam hati.
"A ... Anto! Nama anaknya Shanum adalah Anto!" seru Mia, tersenyum sambil menampakkan sederet giginya yang sedikit tongos. Percaya sekali dia jika nama yang disebutkan barusan sudah benar.
'Kenapa raut wajah mereka semakin masam? apa yang salah? Aku sudah menyebutkan nama anak si ****** itu dengan benar, kan? Lagipula kalaupun namanya salah, ya bukan salahku. Untuk apa aku mengingat nama anak haram itu. Tidak penting sama sekali!' batin Mia.
"Anto?" cetus Arthur. Arthur langsung buang muka ke arah lain, menahan tawanya karena nama putranya berubah jauh sekali.
"Bu, nama cucumu saja kamu tidak tahu," cetus Shanum, dia berdiri di depan pintu. Menatap orang yang berada di dalam satu persatu.
"Shanum, sejak kapan kamu di sana? Apanya yang salah? Anak ha--haram itu namanya memang Anto, kan?" tandas Mia sambil memicingkan matanya, menatap Shanum tidak suka.
"Shanum, kenapa cuma berdiri di sana? Ayo masuk ke dalam!" Lukman hendak berdiri, menyambut kedatangan Shanum. Tetapi, tangan Lukman langsung ditarik oleh Mia.
"Ibu tidak takut, mengatai putraku sebagai anak haram di depan Daddy kandungnya? Di depan Omanya pula," celetuk Shanum, memperhatikan wajah Mia yang memerah karena takut.
"A--apa? Daddy kandungnya? Bagaimana bisa?" cecar Mia yang sudah terserang panik.
"Sejak tadi aku sudah menahan amarah, berulang kali kau mengatai cucuku anak haram!" ketus Kenya, menatap tajam Mia yang hanya mampu tersenyum.
"Jangan ribut-ribut. ini hanya kesalahpahaman." Lukman berusaha menengahi dengan pura-pura bijak.
"Kalian tetap akan menikah, kan?" Lukman menatap Arthur, Kenya, dan Shanum secara bergantian.
"Memangnya hal apa yang bisa membatalkan pernikahan kami?" Arthur angkat bicara. Apa pun alasannya, dirinya dan Shanum tetap menikah.
"Arsenio anak kandungku. Kuharap, ini pertama da terakhir kali aku mendengar kalian menyebutnya sebagai anak haram. Meski kalian keluarga istriku, aku tidak akan tinggal diam jika putraku diperlakukan semena-mena!" kecam Arthur, tatapannya menjurus pada Mia dan Lukman yang langsung menunduk.
"Jika kalian tidak percaya, coba lakukan saja. Tetapi, penyesalan selalu datang terakhir!" Arthur mengancam. Dia tidak suka ada yang memanggil Arsenio dengan sebutan anak haram.
"Baik, baik, kami minta maaf. Berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi." Lukman meminta maaf. Tujuannya hanya satu, jangan sampai pernikahan ini batal dan dia tidak jadi mendapatkan uang mahar Shanum.
__ADS_1
"Kalau begitu, kita sudah bisa membicarakan tentang mahar?" Lukman kembali berinisiatif. Tapi, Kenya yang sudah kadung kesal langsung buang muka. Dia sudah tidak mau membicarakan apa pun lagi. Menyerahkan semua kesepakatan pada Arthur.
"Kami menginginkan mahar sebesar--"
"Tuan Lukman, kenapa kamu berani sekali membicarakan mengenai mahar pernikahanku? Bahkan, aku sendiri tidak berpikir untuk meminta mahar pada calon suamiku," sela Shanum, dia tahu sematre apa Lukman, Ayah tirinya itu.
"Shanum, kamu tidak boleh berbicara seperti itu pada Ayahmu," tegur Mia, lagi dan lagi dia membela Lukman, dan Shanum tahu hal ini.
"Kenapa Ibu tidak menegur suami Ibu? Dia tidak berhak atas mahar pernikahanku, Bu." Shanum memberanikan diri untuk bersikap tegas pada Ibunya.
"Memangnya apa yang salah? Setiap anak yang mau menikah, harus membicarakan mahar, bukan?" sewot Mia. Dia tidak sadar, sejak tadi Kenya dan Arthur menilai sikapnya yang jomplang pada Shanum.
"Sebutkan!" ucap Arthur.
"Tidak banyak. Hanya yang sebesar tiga ratus juta, satu unit rumah mewah, satu unit apartemen, mobil, dan perkebunan," sebut Lukman sambil tersenyum.
"Bu, hentikan dia! Aku tidak seberharga itu sampai dia bisa meminta sebanyak itu!" tegur Shanum kesal.
"Shanum, apa yang Ayahmu minta itu sudah benar. Itu semua harga diri kamu, kamu harus tahu itu. Anak Ibu harganya mahal!"
"Sha, kamu lebih berharga dari apa yang Ayah tirimu minta. Jangan berkata seolah kamu tidak berharga, Sayang," tegur Kenya sambil mengusap lembut tangan Shanum.
"Ibunya Shanum capek membesarkan Shanum dari kecil sampai dewasa. Jadi, setelah semua mahar itu selesai, maka semuanya akan menjadi milik Mia, Ibunya Shanum. Tidak ada sepeserpun yang akan Shanum miliki." Lukman berucap seperti itu tanpa memiliki rasa malu sedikit pun. Dia menatap Shanum kemudian tersenyum.
"Kau yakin semua itu untuk Ibuku?" Shanum tersenyum sinis.
"Ayahmu benar, Shanum. Semua itu memang hak Ibu. Ibu kan capek merawat kamu dari kecil." Mia tersenyum pada suaminya.
"Aku mau mengajukan dia pilihan. Ambil semua mahar pernikahanku, tapi jangan datang ke pernikahanku. Atau, mintalah mahar yang sederhana, dan temani aku di hati bahagiaku. Bu, yang mana yang akan menjadi pilihanmu?"
*****
__ADS_1