
Shanum juga menatap Clarissa. Dia tersenyum samar sambil menaikkan sebelah alisnya, seolah menantang Clarissa yang tidak menyukainya dan Arsenio.
Clarissa geram melihat tingkah Shanum yang begitu berani dengannya. Dia mengepalkan tangannya erat, ingin sekali meninju wajah Shanum sampai tidak berbentuk. Tetapi, hal itu mana mungkin bisa dia lakukan di depan Kenya dan Arthur.
"Shanum, kamu serius, kan?" Kenya takut Shanum hanya main-main, makanya dia bertanya lagi untuk memastikan.
"Tentu saja serius, Ma. Setelah aku berpikir lagi, apa yang Mama katakan semalam benar. Arsenio membutuhkan figur Daddy-nya," jawab Shanum tegas.
"Mama, Kak Arthur, kalian ini kenapa bisa dibodohi oleh wanita ini, sih? Belum tentu juga anak kecil ini anakmu, kan, Kak? Bagaimana kalau dia sengaja mengubah wajah putranya sendiri demi bisa menikah denganmu?" Clarissa terus berbicara semaunya tanpa memikirkan pendapat dan perasaan orang lain. Baginya, semua isi kepalanya harus diutarakan.
"Cla! Jaga ucapanmu. Shanum ini wanita yang baik, mana mungkin dia melakukan hal-hal aneh. Cla, hormati dia seperti kamu menghormati Kak Arthur. Karena sebentar lagi Shanum akan menjadi Kakak iparmu!" sanggah Kenya, bagi Kenya, apa yang Clarissa katakan barusan sudah sangat keterlaluan.
"Tapi, Ma, bisa saja seperti itu, bukan? Semua orang gila yang, Ma. Aku yakin, dia hanya memanfaatkan keadaan. Bukalah mata dan pikiran kalian, Jangan mau dibodohi oleh wanita modelan seperti ini!" tukas Clarissa, tetap berpegang teguh pada pendapatnya sendiri.
"Jika kau tidak suka, aku akan meminta Leo mengantarmu pulang!" ketus Arthur, dia tidak suka ada yang berbicara aneh tentang Shanum dan Arsenio.
"Kak ...." Clarissa mengerucutkan bibirnya. Dia tidak terima dengan kekerasan Arthur. "Kamu lebih membela wanita ini?" Clarisa berdecak.
"Tampaknya ada yang tidak menyukaiku," ujar Shanum, tersenyum tipis pada Clarissa yang menatapnya sinis.
"Terserah kamu mau bilang apa. Tetapi, aku memiliki sebuah bukti kuat yang tidak terbantahkan mengenai hubungan mereka berdua," sambung Shanum. Shanum merogoh tas jinjingnya, mengambil hasil test DNA Arthur dan Arsenio.
Shanum meletakkan test DNA itu di atas meja. "Bukalah!"
"Apa ini?" Rasa penasaran Clarissa membuat wanita itu langsung mengambil sebuah map putih berlogokan rumah sakit tersebut. Membukanya perlahan dan membaca kata demi kata yang tertulis di atas selembar kertas itu.
"Itu bukti, Adik ipar. Bukankah kamu tidak percaya kalau Arsenio adalah anak Kakakmu?" sahut Shanum, mengulas senyum manis ketika menatap Kenya yang memperlihatkan wajah tidak enak hati.
"Pembohong besar!" sentak Clarissa, membanting hasil test DNA itu di atas meja. "Meski kau memberiku seribu lembar surat seperti ini, aku tetap tidak akan pernah mempercayainya! Hasil tes begini bisa dipalsukan." Clarissa berusaha membuat Kenya goyah dan akhirnya tidak menyetujui hubungan Arthur dan Shanum.
"Tidak apa-apa. Aku hanya memerlukan restu Mama Kenya, sebagai Ibu mertuaku. Bukan kamu," ucap Shanum, dia sudah tidak mau lagi berdebat panjang lebar.
"Ma, lihatlah! Calon menantu seperti ini yang Mama bela? Dia sangat kurang ajar, Ma!" adu Clarissa, dia sangat kesal melihat tingkah Shanum yang sangat berani, bahkan terang-terangan di depan Arthur dan Kenya. Bukannya berusaha mengambil hati Clarissa, dia malah berani melawannya.
"Clarissa, kamu juga tidak sopan berbicara seperti itu pada calon kakak iparmu. Tolong hormati dia," sentak Kenya berang.
Clarisa mengerucutkan bibirnya, tidak tahu lagi harus berbuat apa supaya bisa menyingkirkan Shanum dari hati Kenya dan Arthur. Misinya kali ini benar-benar gagal.
Makanan datang, mereka makan dalam diam. Clarissa menatap Arthur yang diam-diam melirik Shanum. Wanita itu makan dengan tenang, sesekali melempar senyuman manis pada Kenya, sang Mama mertua.
"Jadi, apakah kita bisa membicarakan pernikahan kalian sekarang?" tanya Kenya.
__ADS_1
Shanum mengangguk malu, dia meremas jari-jemarinya yang sudah basah karena keringat gugup.
"Maaf, apa kamu masih punya Ibu?" tanya Kenya, dia belum tahu mengenai persoalan Shanum dengan Ibunya.
"Masih, Ma," jawab Shanum. Bagaimanapun sikap Mia terhadapnya, Mia tetaplah Ibunya. Dan, Shanum juga tidak bisa menganggap Mia tidak ada. Meski hubungan mereka merenggang, restu dari wanita itu tetaplah harus didapatkan.
"Jadi, kapan kami bisa datang menemui Ibumu untuk melamar?" tanya Kenya antusias, sebentar lagi keinginannya akan terwujud dan dia senang akan hal itu.
"Kapan saja boleh, Ma. Nanti, aku akan menghubungi Ibu terlebih dahulu," jawab Shanum, tersenyum lagi. Senyuman yang dia ukirkan bermaksud untuk menutupi kegundahan hatinya.
"Bagaimana kalau besok?" Kenya melempar tatapan pada Arthur, pria itu setuju dengan keterburu-buruan sang Mama.
"Besok?" Shanum terperanjat. "Bukankah terlalu cepat, Ma?" Shanum tersenyum kikuk.
'Memangnya kapan pernikahan kami akan dilangsungkan? Kenapa semuanya terkesan terburu-buru begini?' batin Shanum.
"Kamu belum siap? Mama ingin pernikahan kalian secepatnya dilangsungkan. Jangan menunggu lama-lama lagi, Sha!" ucap Kenya, mengelus punggung tangan Shanum yang sudah berkeringat. Merasai tangan Shanum yang sudah basah, Kenya tahu calon menantunya itu sedang gugup.
"Tapi, Ma--" Clarissa baru bersuara, Kenya sudah melotot, tidak mengizinkan Clarissa untuk bicara. Terpaksa Clarissa kembali bungkam.
"Baiklah, Ma. Besok aku hubungi Ibu dulu supaya Ibuku bisa bersiap-siap untuk menyambut kalian," ucap Shanum. Padahal, bukan itu yang sedang dia pikirkan. Tetapi, Shanum takut Mia tidak mau menerima kedatangan Arthur dan keluarganya.
"Dokter Rexa!" sapa Clarissa, langsung merapikan penampilannya ketika Rexa mendekat ke meja mereka.
"Ah, hay?" Dokter Rexa menyapa sambil tersenyum samar.
"Shanum, kamu sedang apa?" tanya Dokter Rexa, tatapannya jatuh pada Arthur yang sedang menggenggam tangan Shanum. Cepat sekali Arthur menggenggam tangan Shanum, pria itu mau memperlihatkan tanda kepemilikannya.
"Sedang makan keluarga," jawab Arthur. Sontak, semua mata memandang Arthur yang bersuara. Sedari tadi pria itu hanya diam, dan sekarang bersuara karena ada pria yang menyapa Shanum? Bukankah itu tanda-tanda kecemburuan?
"Makan ... keluarga?" Rexa terbata-bata.
"Kak Rexa, ayo gabung bersama kami. Kami sedang membincangkan masalah pernikahan Kak Arthur dengan Mommy-nya Arsenio," ucap Clarissa sengaja. Dia cemburu karena Rexa mengenal Shanum.
"Membincangkan pernikahan Shanum?" Rexa langsung menatap Shanum, seakan meminta penjelasan. Tapi, Shanum tidak peduli. Sebab, memang tidak ada ikatan apa pun yang terjalin di antara mereka.
"Benar," jawab Arthur. Lagi-lagi pria itu yang menjawab, membuat semua orang keheranan.
"Kak Rexa, kamu sedang apa di sini? Kamu tahu, ini restaurant keluarga kam!" seru Clarissa, dengan senang hati berbicara panjang lebar. "Aku juga belum lama kembali ke Indonesia. Rasanya, rindu sekali pada Mama dan Kak Arthur," imbuh Clarissa.
"Aku habis makan malam di sini, seorang diri. Sebenarnya ada janji dengan seseorang, tapi seseorang itu malah makan malam dengan orang lain," ucap Rexa tersenyum getir.
__ADS_1
"Bergabung dengan kami saja, Kak!" seru Clarissa, tiba-tiba dia berubah menjadi pribadi yang menyenangkan.
"Kita sudah selesai!" seru Arthur. "Sudah malam, ayo kita pulang. Biar Leo mengantar Mama," ucap Arthur, tidak menerima kehadiran Rexa bergabung bersama mereka. Lantaran ada dendam pribadi terpendam karena Rexa mendekati Shanum.
Arthur langsung menggendong Arsenio, menarik pelan tangan Shanum supaya wanita itu ikut pergi bersamanya. Melihat hal itu, Rexa sangat tidak senang sekali. Kenyataan malam ini sangat pahit sekali baginya, ternyata Arsenio adalah anak kandung Arthur.
Selama perjalanan, Shanum yang duduk di samping Arthur tidak mengatakan apa pun. Hanya suara Arsenio yang terdengar, pria kecil itu berceloteh sambil bernyanyi untuk menghidupkan suasana yang sunyi.
"Daddy, hujannya deras sekali!" seru Arsenio, matanya memandang ke arah luar. Kilat mulai bersahut-sahutan, langit terang karenanya.
"Apakah Arsenio takut?" tanya Arthur.
Arsenio mengangguk sambil senyam-senyum. "Sedikit," jawabnya kemudian.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ada Daddy dan Mommy di sini, tidak perlu takut."
"Terima kasih, Daddy!" Arsenio memeluk leher Arthur, dia sangat senang karena sebentar lagi Daddy dan Mommy-nya akan menikah.
"Saat hari pernikahan Daddy dan Mommy, Arsenio akan mengundang semua teman-teman. Biar mereka menyaksikan, Arsen juga punya Daddy!" tegas Arsenio.
"Boleh. Anak Daddy harus semangat!"
***
"Terima kasih, Tuan," ucap Shanum sambil tersenyum.
"Tidak perlu berterima kasih. Mulai sekarang, kau sudah bisa mengubah panggilanmu itu. Jika didengar Arsenio, tidak baik untuknya," ucap Arthur.
"Baik." Shanum hanya mengiyakan, dia mau cepat-cepat berpisah dari Arthur.
Namun, saat Shanum sudah turun beberapa langkah sambil menghalangi Arsenio terkena hujan, tiba-tiba Arthur menyusul. Memayungi Arsenio dan Shanum.
"Tidak perlu, Tuan, cuma beberapa langkah dari sini kok," tolak Shanum.
"Tidak apa-apa. Aku juga akan tidur di sini. Ban mobilku bocor, tidak mungkin aku memperbaikinya seorang diri di tengah guyuran hujan lebat seperti ini, kan?"
"A--apa? Menginap di sini? Ba--bagaimana bisa?" Shanum tercekat. Mereka memang sudah menikah secara siri, tetapi hanya mereka lah yang mengetahui mengenai hal itu. Jadi, bagaimana mungkin Arthur mau menginap di kosan kecil itu.
"Ya. Aku akan menginap di sini. Lagipula, Arsenio takut dengan guntur, aku harus menemaninya," bohong Arthur.
*****
__ADS_1