Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Menikahlah Denganku!


__ADS_3

"Tapi, berlari ke dalam pelukan Shanum sambil memanggil Mommy? Jangan-jangan, Shanum adalah Istri rahasia Pak CEO?" mereka semua bertanya-tanya.


Mereka terhenyak mendengar penuturan rekannya, sama-sama mereka memandangi Shanum dengan tatapan yang tidak biasa.


"Hey! Jangan asal-asalan menebak. Pak CEO kita menikah dengan seorang cleaning service? Mana mungkin! Aku yakin, pasti ada sesuatu, dan kita harus bisa mencari tahu!" tandas yang lain, merasa tidak terima jika Shanum dikira sebagai istri dari Arthur, karena Arthur benar-benar idolanya yang selalu dia impi-impikan menjadi suami idaman.


Lalu, bagaimana mungkin dia bisa merelakan calon suami idamannya sudah memiliki seorang istri yang statusnya berada jauh di bawahnya.


"Arsen, kenapa kamu bisa di sini? Sama siapa?" tanya Shanum pada bocah kecil itu.


Arsenio menoleh pada Leo yang masih berdiri di tempatnya, saat Arsenio menunjuk ke arahnya dan diikuti semua mata yang penasaran, Leo menjura pada Arsenio, sambil tersenyum.


"Li--lihat!" mereka sama-sama menunjuk ke arah Leo yang sepertinya sangat menghormati Arsenio, pria kecil yang memanggil Shanum dengan panggilan Mommy.


"Pak Leo saja sampai membungkuk hormat pada anak kecil itu. Selain mirip degan Pak Arthur, Pak Leo juga sangat menghormati anak kecil itu. Apa kalian masih menyangkali, Shanum itu sebenarnya istri rahasia Pak Presdir?" tukas seorang wanita dari bagian personalia.


"Benar katamu. Sepertinya, Shanum itu Istri rahasia Pak CEO!" celetuk yang lainnya sambil manggut-manggut membenarkan.


"Apa kita harus menghormati Shanum juga? Ihhh... rasanya malas sekali. Memangnya siapa dia?!"


"Istri rahasia Pak CEO!x" jawab yang lainnya serempak, membuat wanita tadi diam sambil mencebikkan bibirnya, kesal.


"Sudahlah, kenapa kalian saling berdebat dan berasumsi sendiri? Lihat saja Apa yang terjadi. Kalau kalian sibuk berdebat, yang ada kalian malah melewati momen penting!"


"Baik, senior." Mereka menunduk takut.


Semuanya mulai memperhatikan Shanum dan Arsenio yang berbincang layaknya seorang Mommy dan putranya, sangat akrab dan penuh kasih sayang. Mereka bukan hanya sekedar memperhatikan, tetapi juga menajamkan pendengaran. ingin tahu apa saja yang dibicarakan Shanum dan Arsenio.


"Bersama Tuan Leo?" tanya Shanum, wajahnya langsung kecut. Dia tahu ini bukanlah pertanda baik. Apalagi, Leo mengantarkan arsenio ke kantin, di mana sangat banyak karyawan lain yang ikut menyaksikan.


Shanum merasa dia sedang diawasi oleh ratusan orang. Shanum menengok ke sekelilingnya, dan dugaannya benar.


"Uncle Leo, terima kasih!" ucap Arsenio, sedikit membesarkan suaranya supaya Leo yang berdiri beberapa meter darinya dapat mendengar ucapan terima kasihnya itu.


Leo tersenyum, dia berjalan menghampiri Arsenio. Melihat Leo yang semakin mendekat padanya, perasaan Shanum semakin risau. Dia takut, orang-orang akan menyalah pahaminya. Leo semakin mendekat, padahal Shanum sudah memberikan kode agar Leo mendekatinya. Tetapi, semuanya terasa percuma. Leo seolah-olah menjadi orang yang buta akan isyarat.


Tiba di depan Arsenio yang duduk dalam pangkuan Shanum, Leo kembali membungkuk sedikit.


"Tidak perlu berterima kasih, Tuan muda. Ini memang tugas yang diberikan oleh Tuan Arthur," ucap Leo, menyunggingkan senyum semanis mungkin pada sang Tuan muda.


Bertepatan ketika Leo mengatakan hal itu, Shanum memejamkan matanya dengan helaan nafas panjang nan berat. Dia sudah bisa menebak, setelah ini hari-harinya tidak akan lagi damai seperti biasa.


"Tu--tuan muda?" semua orang tersentak seperti habis disetrum.


Bagaimana tidak, seorang anak kecil yang memanggil seorang cleaning service dengan sebutan Mommy, malah dipanggil Tuan muda oleh Asisten CEO sebuah perusahaan ternama. Apalagi setelah melihat senyum manis Leo, senyuman yang memang diukirkan dengan keikhlasan. Tidak seperti Leo biasanya, yang selalu memasang wajah batu.


Membuat mereka semakin tidak percaya dengan kenyataan yang ada. Berarti, tidak lain dan tidak bukan, anak kecil itu adalah anaknya Shanum, cleaning servis. Dan, anak dari Arthur Harisson, CEO perusahaan mereka.


"I--ini benar-benar di luar dugaan!" seru yang lainnya.

__ADS_1


"Permisi, Tuan muda, saya harus kembali. Kalau Anda membutuhkan sesuatu, bisa langsung hubungi saya. Atau, minta Mommy untuk mengantarkan ke ruangan Daddy," ujar Leo pada Arsenio yang langsung mengangkat dua jempolnya untuk Leo.


Leo sengaja melakukan itu semua. Padahal, dia tidak perlu mendekati Arsenio dan memanggil pria kecil itu dengan sebutan Tuan muda di depan banyak orang. Memang sengaja dia lakukan, karena mau mengumumkan status Arsenio dan Shanum pada semua karyawan Arthur Group secara tidak langsung. Yang tidak Leo tahu, karena perbuatannya itu, Shanum menjadi serba salah menghadapi rekan-rekannya yang lain.


"Baik, Paman!" Arsenio berseru senang.


Selepas kepergian Leo, Shanum masih menoleh ke kiri dan ke kanan. Bahkan, Bu Reka yang berada tepat di depannya, masih tercengang dengan tatapan yang menjurus pada Shanum dan Arsenio secara bergantian.


Shanum tersenyum kikuk, dia menganggukkan kepalanya pada rekan-rekannya sembari memamerkan senyuman canggungnya.


"Arsen, kamu sudah memakan bekal yang Mommy buatkan?" tanya Shanum pada sang putra.


Arsenio mengangguk. "Tadi, Daddy juga mengajak Arsen makan bersama," jawabnya.


"Sayang, jawab saja apa yang Mommy tanyakan. Tidak perlu mengatakan hal yang lain," bisik Shanum. Karena Arsenio sudah makan, Shanum merasa perlu membawa Arsenio dari sana. Melindungi putranya itu dari tatapan penasaran dan tatapan tajam orang-orang.


"Bu, saya permisi dulu. Sebentar lagi sudah harus kembali bekerja," ucap Shanum pada Bu Reka yang hanya mengangguk pelan sebagai reaksi.


Semua yang berada di kantin itu mengikuti ke mana pun Shanum pergi, seakan ada magnet yang menempel di tubuh wanita itu.


"Bu, apa benar Shanum istri dari Pak Arthur?" tanya seorang sesama cleaning servis, menyenggol lengan Bu Reka.


"Saya tidak tahu. Lagipula, itu merupakan hal pribadinya, lebih baik kita tidak perlu ikut campur atau menanyakan apa pun," jawab Bu Reka tegas, walau dirinya juga dirundung rasa penasaran yang teramat.


"Rim, kamu kan sahabatnya, pasti tahu, kan?" mereka beralih pada Rima yang hanya diam.


"Arsenio, kenapa kamu bisa bersama dengan Leo?" tanya Shanum, mendesak putranya.


"Mom, tadi Daddy yang menjemput Arsen. Daddy mengajak Arsen makan siang, dan mengajak Arsen ke sini. Arsen tahu, Mommy juga bekerja di sini, makanya Arsen minta ketemu sama Mommy!" jawabnya dengan senyuman yang mengambang.


Shanum terdiam, dia tahu putranya tidak akan berbohong.


"Mom, ayo antarkan Arsen, Arsen mau ketemu Daddy, Mom!" rengek Arsenio.


"Baiklah." Rencananya Shanum hanya akan mengantar Arsenio di depan pintu saja, dia malas bertemu dengan pria itu lagi.


"Rima, kalau Bu Reka mencariku, katakan aku mengantar putraku dulu, ya," pesan Shanum pada sahabatnya, Rima.


"Baik." Seraya mengangguk.


Shanun harus menaiki lift, saat dia bertemu dengan orang-orang, para karyawan langsung membungkuk sedikit, seperti memberi hormat padanya dan juga Arsenio. Shanum rekan-rekannya begitu, jadi tidak enak hati.


Dia memilih untuk mengabaikan, dan berjalan menuju tujuannya saja.


"Mau ke mana kamu?" sentak Sena, menghalangi jalan Shanum dan Arsenio.


"Aku mau mengantar dia ke ruangan Tuan Arthur," jawab Shanum, tidak ada lagi senyum ramah di wajahnya karena Shanum sudah tahu bagaimana perangai Sena.


"Siapa dia? Jangan mengada-ada, Pak Arthur tidak punya kerabat anak kecil!" sergah Sena, galak.

__ADS_1


"Mom, siapa Tante ini? Kenapa menghalangi kita menemui Daddy?" tanya Arsenio, bukannya bersembunyi di belakang Shanum. Arsenio malah berdiri berkacak pinggang di depan tubuh sang Mommy, seperti sedang melindungi.


"Kau, tidak takut padaku?" Sena memasang wajah garangnya.


"Takut? kenapa aku harus takut pada nenek sihir? Lagipula, Daddy-ku pemilik perusahaan ini, tinggal mengadu saja, kamu pasti akan dipecat!" balas Arsenio, membuat Sena semakin berang.


"Hey, anak kecil! Beraninya kau bermain-main denganku!" sentak Sena.


"Kak!" tegur Leo.


"Tuan muda, pergilah. Daddy sudah menunggu kalian di dalam,". ucap Leo.


"Ayo, Mom, ada uncle Leo yang mengurus nenek sihir ini." Arsenio menarik tahan Mommy-nya untuk menuntun jalan.


Di depan pintu, Shanum mengetuk sampai beberapa kali, baru ada sahutan dari dalam.


Setelah membukakan pintu untuk Arsenio, Shanum berkata pada putranya itu, "Arsen, Mommy kembali bekerja, ya. Kamu baik-baik di sini, jangan nakal."


"Iya, Mom."


Mendengar penuturan Shanum barusan, Arthur bergegas menemui wanita itu. Dia menarik pelan tangan Shanum masuk ke dalam ksntorya. Kemudian, meminta Arsenio untuk menemui Leo yang masih berada di ruangan Sena.


Arsenio yang cukup mengerti akan situasi, langsung menuruti permintaan sang Daddy.


Arthur menarik tangan Shanum ke dalam, dan mengunci pintunya.


"Ada apa ini?" tanya Shanum. "Maaf, Tuan, aku harus kembali bekerja sekarang. Aku tidak mau dipecat hanya karena alasan telah melakukan kelalaian dalam bekerja," ujar Shanum, memaksa melepaskan cekalan tangan Arthur.


Sementara, Arthur masih belum bereaksi apa pun. Dia masih gamang dengan pilihannya sendiri, apakah jalan yang akan diambilnya ini benar atau tidak.


Shanum semakin kesal rasanya, dia tidak tahu Apa yang sedang traktor pikirkan sampai pria itu termenung.


Sampai akhirnya entahkan tangan jantung mengagetkan Arthur.


"Menikahlah denganku!" ucap Arthur setelah tersadar.


"A--apa?" Shanum terkejut.


"Menikahlah denganku!" Arthur mengulangi lagi.


"Menikah? Bukankah kita sudah menikah walau hanya secara siri? Dan, Anda belum menalakku sampai saat ini! Jadi, tolong jangan main-main dan talak aku sekarang juga!" tegas Shanum.


"Menikahlah denganku, Shanum. Kita harus menikah secara sah, dimata hukum dan agama!"


*****


Halo, mumpung hari Senin. Kalau suka dengan novel ini, Jangan lupa untuk berikan vote, komentar, like, dan ulasan bintang lima sebanyak-banyaknya, ya!


Terima kasih untuk yang sudah membaca sampai bab ini. 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2