Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Kecemasan Rara


__ADS_3

"Ma, aku sudah bertemu dengan Shanum. Dia sudah sangat cantik, aku mau mengajaknya kembali padaku, Ma. Aku mau menikahinya. Mama pasti setuju, kan?" Rio tak peduli dengan apa yang Mamanya katakan barusan, yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Shanum.


Rara membisu, tubuhnya menegang, bibirnya terkatup. Sudah tiga tahun ini, Rara selalu mencari-cari di mana keberadaan Shanum, menempuh jalan apa saja yang penting dia bisa menemukan Shanum secepat mungkin. Tentu, Rara memiliki alasan tersendiri mengapa dia bersusah payah mencari keberadaan mantan sahabatnya itu.


Bukan karena merasa bersalah dan minta maaf, tetapi karena mau mengantispasi, mengingatkan Shanum untuk tidak lagi mendekati Rio atau pun mencari perhatian Rio. Sebab, semua hubungan mereka sudah berlalu, hanya ada dia di hati Rio, dan selamanya hanya dia! Tidak boleh ada orang lain lagi!


Namun, usahanya untuk mencari Shanum selalu tak membuahkan hasil sama sekali. Tetapi, kenapa hari ini Rio, sang suami malah bisa menemukan keberadaan Shanum dengan begitu mudahnya? Kenapa? Apakah diam-diam Rio juga mencari keberadaan wanita ****** itu? Atau, memang tak sengaja bertemu karena mereka tinggal di kota yang sama. Rara diam mengamati, ingin tahu reaksi seperti apa yang diberikan Shanum saat bertemu lagi dengan mantan kekasihnya itu. Shanum murka, atau justru mengulang kasih bersama-sama sehingga Rio meminta restu untuk menikah lagi?


Kendati demikian, Rara tetap memiliki tekad untuk menemui wanita itu dan memperingatkannya.


'Aku tetap harus waspada. Bisa aja dia hanya pura-pura. Taunya, dia ingin merebut Rio kembali!' batin Rara merasa cemas.


"Rio, di mana kamu bertemu dengan Shanum?" pertanyaan serta raut wajah Peni mengundang kecemburuan untuk Rara. Selama ini, tak sekalipun Mama mertuanya itu mengkhawatirkan atau senang dengan kehadirannya. Makanya, setelah menikah Rara meminta pada Rio untuk langsung pindah ke rumah baru mereka.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya di toko kue, Ma. Habis itu, dia pergi ke sebuah Day Care untuk menjemput ... putranya," terang Rio.


Mendengar Shanum sudah punya anak, Rara pun terkaget. Apa dugaan mereka saat itu memang benar adanya? Rara jadi menduga-duga lagi.


"Jauhi Shanum, Rio!" sergah Peni kemudian, sungguh reaksi yang tidak terduga.


"Kenapa, Ma? Aku mau menikahi Shanum. Aku yakin, dia masih mencintaiku!" kekeuh Rio, dia tidak pernah mau mendengar apa pun pendapat orang lain.


"Sadarlah, Rio! Kamu sudah punya Rara juga Nabil. Dulu, kamu yang membatalkan pernikahan dan memilih untuk menikahi istrimu ini. Sekarang, kamu malah mau menikahi Shanum? Jangan bermimpi dia masih mau sama kamu. Kamu sudah menyakiti hatinya!" sergah Peni, sungguh dia sangat tidak mengerti dengan pola pikir putranya.


"Aku akan meyakinkan Shanum," kekeuh Rio.


"Kamu ...!" Rara angkat bicara, dia tidak tahan dengan perlakuan suaminya, terang-terangan memuji wanita lain di depan wajahnya.


"Kenapa? Setelah Shanum mau menikah denganku, kamu harus siap mengambil pilihan. Mau dimadu, atau aku ceraikan!" Rio masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Istri dan Mamanya yang terpaku.


"Ma, bagaimana ini? Aku tidak mau dimadu apalagi diceraikan. Aku tau, selama beberapa tahun ini Mama tidak pernah menyukaiku sebagai menantumu. Tapi, kumohon... demi Nabil, bujuk Rio untuk mengurungkan niatnya itu, Ma!" mohon Rara, menggenggam tangan Peni sambil menangis. "Demi Nabil, Ma!" imbuh Rara lagi.


Peni menarik perlahan tangannya. "Ya, aku akan berusaha untuk membujuknya." Peni berlalu pergi, dia juga kecewa dengan sikap Rio yang semena-mena begitu.


***


"Mommy, siapa Paman tadi?" tanya Arsen, sekarang dia sedang memakan cake cokelat yang dibeli Shanum tadi.


"Kamu takut, Sayang?" Shanum mengusap puncak kepala putranya, tersenyum manis memperhatikan wajah putranya yang setiap hari semakin tampan.


"Tidak. Arsen malah takut Mommy dicelakai oleh Paman itu. Arsen tidak nyaman melihat Mommy dipaksa begitu." Arsen mengerucutkan bibirnya, dia menyandarkan kepalanya di tubuh Shanum.


"Tidak apa-apa, Nak. Mommy tidak akan kenapa-napa, kok. Dia teman lama, Mommy. Tapi, jika dia mendatangimu, kamu tidak boleh memperdulikannya, ya!" ucap Shanum mewanti-wanti, dia sangat tahu bagaimana sikap Rio yang akan menghalalkan segala cara demi bisa menggenggam apa yang menjadi incarannya.


"Ya, Mommy, Arsen paham?" Arsen melanjutkan makannya.

__ADS_1


"Anak Mommy sangat pintar." Shanum mengacak-acak rambut putra kesayangannya, beberapa kali mencium dahi Arsen walaupun putranya itu menghindar.


"Arsen juga bisa melihat, Paman itu tidak baik. Arsen tidak suka," cetus Arsen.


Shanum tersenyum, dia tahu Arsen memang mengerti segalanya. Kepintaran putranya melebihi anak seusianya. Namun, Shanum tidak mempermasalahkan, justru sangat bersyukur. Mungkin, itu kelebihan serta anugerah pelengkap yang Tuhan berikan untuknya.


"Mommy tidak makan?" tanya Arsen, menyodorkan kotak cake cokelat itu ke hadapan Shanum.


"Suapi!" pinta Shanum, membuka mulutnya.


"Aaaa!" Shanum meminta.


Arsen menyuapi Shanum kue, setelah kue itu masuk ke dalam mulutnya, Shanum mendekap erat Arsenio, putranya. Keputusannya untuk mempertahankan Arsen memang sangat tepat. Setetes air bening mengalir di pipi Shanum, ada kehangatan yang menjalar setiap kali dia mendekap Arsen. Mungkin, inilah naluriahnya sebagai seorang single Mommy.


Tangisan harunya membuat Arsen tersadar jika Mommy-nya sedang menangis.


"Mommy kenapa? Apakah karena Arsen nakal?" Arsen memegangi wajah Shanum, mengusap air mata Mommy-nya dengan jari.


Shanum menggeleng pelan sambil menangis. "Tidak, Sayang. Mommy hanya terharu. Tidak menyangka kamu sudah sebesar ini. Maafkan Mommy, masih banyak kekurangan yang sukar untuk mommy sempurnakan," ucap Arsen.


"No, Mommy! Mommy begitu sempurna untukku. Mommy merawatku dengan penuh kasih sayang, Mommy adalah yah terbaik. Jangan bersedih, Mom. Malaikatku sangat sempurna!" ucap Arsen.


"Huhu... terima kasih, Sayang." Shanum memeluk Arsen erat-erat. Rasa cintanya pada pria kecil dalam dekapannya itu begitu besar.


Suara ketukan di pintu meleraikan pelukan mereka berdua. Shanum bergegas membukakan pintu seseorang yang berada di depan pintunya.


"Rima, kenapa?" tanya Shanum, tersenyum melihat Rima dan Ibu kost yang sudah berdiri di depan pintu dengan baju yang rapi.


"Kami mau mengajak kamu dan Arsen pergi ke pasar malam yang ada di dekat sini. Kamu mau ikut kami pergi tidak?" tanya Rima.


"Tante, Arsen mau ikut!" seru Arsen dari dalam. Entah kapan bocah itu sudah berdiri tepat di samping Mommy-nya.


"Baiklah. Ayo, kita ganti baju dulu, ya."


***


Shanum, Arsen, Rima, dan Ibu kost memesan taksi untuk pergi ke pasar malam yang jaraknya tidak terlalu jauh.


Arsen tersenyum saat melihat kelap-kelip lampu yang bersinar terang di pasar malam tersebut. Suasana sangat ramai, banyak anak-anak yang berlarian ke sana-sini.


"Mom, Arsen ingin naik itu!" Arsen menunjuk ke arah buang Lala. "Itu, itu, Itu, dan itu!" Arsen menunjuk wahana yang lain.


"Banyak sekali," ucap Shanum. "Boleh kok, nanti Mommy temani naik satu persatu, ya, Sayang."


"Cuma ini yang bisa kita lakukan, Rim. Semoga Shanum bisa cepat mendapatkan pinjaman dari orang baik. Ibu tidak memiliki simpanan sebanyak itu. Tapi, nanti Ibu akan memberikan tabungan Ibu. Mungkin, bisa digunakan sebagai tambahan," ucap Ibu kost, duduk di bangku sambil menatap keseruan Shanum dan Arsen.

__ADS_1


Rima sudah menceritakan semuanya pada beliau. Respon Ibu kost dan Rima sama, mereka sangat khawatir, tapi tidak bisa berbuat banyak. Hanya mampu berbuat semampunya saja.


"Mom, habis naik bianglala ini kita pulang, ya. Arsen lelah, ngantuk," ucap Arsen, sudah menguap beberapa kali.


"Iya, Sayang."


Shanum menemani putranya naik bianglala, memandangi pemandangan malam yang begitu indah, menatap bintang yang berkelap-kelip dan bulan yang begitu terang. Angin malam yang begitu dingin, membuat Shanum cepat-cepat mendekap Arsen seerat mungkin.


"Mom, jika diperhatikan, kenapa sih bulan selalu mengikuti kita? Padahal, kata Bu guru, bulan itu cuma satu," tanya Arsen, menatap wajah Shanum, menunggu jawaban.


"Alasan Bulan terlihat mengikuti gerakan kamu, karena Bulan memiliki jarak yang sangat jauh dibanding dengan benda-benda Bumi di sekitar kamu. Kita bisa melewati dan meninggalkan gedung-gedung dan orang-orang, namun kamu tidak akan bisa melewati dan meninggalkan bulan," jelas Shanum, untung saja dia masih memiliki sedikit ilmu pengetahuan. Jika tidak, mungkin dia hanya bisa tersenyum dan mencari jawaban dari ponsel pintarnya.


"Mommy salah, bukan hanya bulan yang tidak bisa Arsen tinggalkan. Tapi, Arsen juga tidak akan pernah bisa meninggalkan Mommy!" seru Arsen. Lagi dan lagi, celetukan Arsen membuat Shanum tersenyum senang.


"Wah! Benarkah? Lalu, bagaimana kalau Mommy yang meninggalkan Arsen?" tanya Shanum bergurau, melepaskan dekapannya dari Arsen.


Arsen menatap wajah Mommy-nya. Sejurus kemudian, dia menarik tangan Shanum, meminta Mommy-nya untuk kembali memeluknya.


"Arsen tidak akan mau ditinggalkan Mommy."


"Mommy juga tidak akan pernah meninggalkan kamu." Saat berada di tempat paling tinggi, diam-diam Shanum membuat permohonan.


'Tuhan, semoga hari-hariku nanti selalu dilimpahkan kebahagiaan. Hanya putraku yang selalu berada di sampingku, bahagiakanlah dia seraya orang-orang terdekatku. Kumohon, mudahkan semua urusanku, Tuhan.' Meski tampak bersenang-senang menikmati suasana pasar malam, tetap saja Shanum resah hati. Hari terlalu cepat berlalu, bagaimana jika setelah tiga hari, dia masih belum bisa mendapatkan uang seratus juta itu?


"Sudah selesai mainnya?" tanya Rima, memeluk Arsen yang lari ke pelukannya.


"Sudah Tante. Nenek, ayo kita pulang sekarang! Angin malam seperti ini tidak baik untuk Nenek," ajak Arsen.


Rima dan Ibu kost saing berpandangan, mereka tersenyum melihat kepintaran Arsenio yang semakin menggemaskan.


"Kamu perhatian sekali, Sayang," goda Rima.


"Mommy yang ajarkan." Arsen terkekeh pelan.


Mereka kembali ke rumah dengan menumpangi taksi. Untung saja, masih ada beberapa taksi yang berlulu lalang disekitaran sana.


"Terima kasih, Pak!" ucap Shanum.


Shanum menggendong Arsen yang sudah tertidur saat berada dalam taksi tadi. Mereka masuk ke area kos-kosan sambil bercengkrama dan sesekali terselip candaan dari Rima dan Shanum. Langkah Shanum mendadak terhenti agak jauh dari jangkauan kamar kosnya. Pandangannya lurus ke depan, menatap seseorang yang duduk di bangku panjang depan kamarnya seraya memainkan gadgetnya.


Kelihatanya, pria yang duduk di depan kamar Shanum tidak menyadari kehadiran tiga wanita itu.


"Rio? Kenapa dia bisa berada di depan kamar kosku?" gumam Shanum bertanya-tanya.


*****

__ADS_1


__ADS_2