Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
SAH!


__ADS_3

Hari ini, pernikahan Shanum dan Arthur diselenggarakan di sebuah hotel berbintang milik Kenya. Kenya dan Arsenio sangat senang, setelah melewati usaha yang lumayan panjang dan rumit,


akhirnya kedua orang itu bersatu, walaupun mungkin tidak ada perasaan cinta di antara keduanya. Kenya mengetahui itu. Namun, bagi Kenya cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Jadi, dia tidak terlalu memusingkan hal itu.


Arthur memerintahkan Leo untuk memperketat penjagaan, takutnya ada sesuatu hal yang tidak diinginkan. Apalagi jika ada wanita datang dan mengaku-ngaku hamil, membayangkannya saja Arthur kesal. Jangan sampai ada sesuatu hal yang membatalkan pernikahan ini. Apalagi sampai memalukan.


"Leo, perketat penjagaan. Jangan sampai lengah. Aku tidak mau ada sesuatu yang terjadi!" ucap Arthur. Pria yang sudah terbalut tuxedo putih dengan rambut klimis itu tampak sangat gagah dan tampan. Aura dan wibawanya terlihat jelas, Leo mengagumi penampilan Arthur hari ini.


"Baik, Tuan. Saya akan memastikan semuanya berjalan lancar," jawab Leo, tersenyum sambil menjura.


#Dua wanita yang harus aku waspadai. Sena dan Key. Tapi, sepertinya aku juga harus mewanti-wanti Nona Clarissa. Dia tidak menyukai Nyonya Shanum, takutnya dia akan menggunakan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan ini# batin Leo sambil manggut-manggut.


Sementara di ruangan lain, Shanum yang sudah dalam balutan gaun yang senada dengan Arthur sedang termenung di depan kaca rias. Wajahnya sangat cantik setelah dirias, tetapi kemurungannya seolah mengurangi kadar kecantikan Shanum. Wanita yang sejak tadi terdiam di depan cermin seakan tidak peduli pada orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.


"Sha, kenapa, Nak? Kamu memikirkan … Ibumu?" tanya Kenya, berdiri di belakang Shanum sambil memegang pundak calon menantunya itu. Kenya sangat mengerti perasaan Shanum yang sedang memikirkan sikap Mia. Semua itu terpatri jelas di wajah cantik Shanum.


Shanum tertunduk, pertanyaan Kenya tidak dia jawab. Kendati demikian, Kenya sudah tahu jawaban dari pertanyaannya barusan. Meski kemarin Shanum terlihat baik-baik saja jika Ibunya tidak hadir di pernikahannya, tapi wanita itu tidak bisa membohongi hati dan dirinya sendiri. Hatinya kecewa dan sakit sekali. Pastilah dia memiliki keinginan, Ibunya akan datang di pesta pernikahannya ini.


"Aku … malu, Ma." Ungkapan hati Shanum membuat Kenya terdiam sesaat. "Keluargaku …," Shanum tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Malu karena apa? Sikap seseorang itu tidak bisa kita atur, tidak pula bisa kita rubah semau kita. Tidak ada yang selalu baik, dan selalu jahat, Sha. Semuanya akan berpadu padan dan seimbang dalam dunia ini. Jika semua orang baik, maka tidak akan ada ujian untuk kita. Begitu pula sebaliknya. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya kamu pikirkan, Nak. Jika sikap Ibumu seperti itu, semuanya sudah takdir. Jalani garis takdirmu, jangan berkecil hati jika takdir yang kamu jalani tidak sebaik orang lain." Kenya menatap wajah Shanum dari pantulan cermin.


Wajah murung Shanum perlahan berubah.


"Ingatlah, mulai sekarang aku juga Ibumu. Ibu yang akan selalu bersikap baik padamu." Kenya kembali menegaskan. Tidak dia biarkan suasana hati Shanum yang kacau mengurangi semaraknya pernikahan Arthur dan Shanum.


"Mommy sangat cantik sekali!" puji Arsenio, berlari kecil dan memeluk Shanum.

__ADS_1


"Arsen dari mana saja? Wah! Anak Mommy menggemaskan dan imut sekali." Dalam balutan tuxedo yang senada dengan Arthur, Arsenio semakin terlihat menggemaskan, Shanum mencubit pipi putranya itu.


Arsenio memanyunkan bibirnya. Dia memindahkan tangan Shanum yang masih mencubit pipi gembilnya.


"Mommy, bukan imut. Tapi, tampan!" protes Arsenio.


"Kenapa kamu tidak mau dibilang imut? Anak seusia kamu memang sangat imut, Arsen." Kenya ikut menimpali sambil tersenyum.


"Oma, Arsenio ini tampan dan gagah seperti Daddy. Bukan imut seperti anak kecil," bantah Arsenio sambil melipat tangannya di dada. Tatapannya berpindah pada Shanum yang masih menyunggingkan senyum karena tingkah putranya. "Apa Mommy sudah melihat Daddy? Calon suami Mommy itu sangat tampan, loh!" Arsenio memuji ketampanan Daddy-nya.


"Kamu ini pintar sekali membual." Clarissa datang sambil melipat tangannya di dada, menatap sinis Shanum dan Arsenio. Jelas sekali tatapannya menyiratkan ketidak sukaan.


"Kami sedang bersuka ria. Tolong pergilah pembawa masalah." Tangan Arsenio bergerak seperti sedang mengusir sesuatu. Dia menatap Clarissa sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ma, lihatlah. Dia sangat nakal, Ma!" Clarisa mengadu, berharap kali ini Kenya akan membelanya dan membatalkan pernikahan Shanum dan Arthur. Walaupun harapannya setipis tissue, bukan berarti tidak mungkin harapan itu akan menjadi kenyataan.


"Clarissa, Arsenio keponakan kamu. Kamu jangan sering-sering memarahi Arsenio, dia masih kecil," tegur Kenya, sedikit kesal melihat Clarissa yang terus-menerus mencari masalah dengan Arsenio.


"Tante, Oma tidak bersalah. Sikap Tante lah yang harus diperbaiki. Kedepannya kita akan sering bertemu, Arsen pasti akan sering-sering membuat Tante kesal." Arsenio menjulurkan lidahnya, mengejek Clarissa yang tidak kunjung mendapatkan pembelaan dari Kenya.


"Kau!" Clarissa mengepalkan tangannya.


"Sudah, sudah. Ini hari bahagia. Nikmatilah. Jangan memperhitungkan kesalahan anak kecil, Cla," sanggah Kenya melerai perdebatan alot Clarissa dan Arsenio.


"Nyonya, sudah waktunya untuk akad." Seorang maid memberitahukan Kenya, meminta Shanum untuk keluar.


"Sayang, ayo. Waktunya sudah tiba." Kenya tersenyum manis pada Shanum.

__ADS_1


Shanum memegangi jantungnya yang berdetak kencang, meski menjalani pernikahan ini bukan dengan cinta. Tetapi, momen sakral ini tetap mendebarkan.


"I–iya, Ma." Shanum mengangguk dan mengulas senyum tipis.


Kenya memegangi tangan Shanum. Sedangkan Arsenio berjalan di depannya bak pengawal kecil yang siap mendampingi sang Mommy untuk bertemu dengan Daddy di hari sakral ini. Sedangkan Clarissa berjalan di belakang dengan tangan yang dilipat di dada, memasang wajah datar, dan sesekali mengomel tidak jelas.


Menghadapi para tamu undangan yang menatapnya tanpa jeda, Shanum harus memasang senyum teramah dan tercantik di wajahnya. Senyuman yang memikat semua orang dengan senyum menawannya.


Masih banyak yang bertanya-tanya dan tidak percaya jika Shanum akan menjadi istri dari seorang Arthur Harisson. Dalam sekejap, statusnya yang seorang cleaning service berubah menjadi Nyonya pemilik Arthur Group.


"Beruntung sekali wanita itu." Kata itu terucap dari bibir semua orang.


Shanum didudukkan di samping Kenya dan Arsenio. Meski berwajah masam, Clarissa tetap duduk di sebelah Kenya dan ikut menyaksikan momen sakral Arthur dan Shanum.


Pria tampan itu sudah memegang tangan penghulu. Tangannya bergetar dan terasa dingin, membuat penghulu tersenyum tapi tidak mengatakan apa-apa.


"Baik, ikuti saya."


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Arthur Harisson bin Harisson dengan Shanum Mahira binti Wirastama dengan mas kawinnya berupa satu set perhiasan berlian dan uang lima milyar, tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Shaul Mahira binti Wirastama dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Sah!"


"Sah!"


"Sah!"

__ADS_1


"Selamat, kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri."


*****


__ADS_2