
Shanum mematung, pertanyaan yang terucap dari bibir Arsenio benar-benar sangat menggelitik hati Shanum. ingin sekali Shanum tertawa terbahak-bahak sampai terpingkal-pingkal. Tapi, dia tidak bisa menertawakan putranya itu. Apalagi setelah melihat wajah Arsenio yang memasang wajah sedih dan takutnya, Shanum semakin berusaha meredam tawanya.
Shanum mengetahui mengapa Arsenio menanyai hal seperti ini padanya. Ternyata, kejadian di malam itu masih membekas di hati dan pikiran arsenio. Mungkin saja, itulah yang menjadi alasan terkuat arsenio tidak mau bermain dengan Cleo lagi. Dia takut terjatuh dan tidak sengaja mencium Cleo lagi. Takut menghamili gadis kecil itu.
Arsenio bertanya karena memang tidak mengetahui. Jadi, Tidak sepantasnya syahdu menertawakan pertanyaan polos putra yang kecilnya itu. Jika Shanum tertawa dan mengejek, Arsenio pasti akan merajuk. Untuk ke depannya, Arsenio tidak akan mau menceritakan atau mengadu lagi mengenai apa yang terjadi pada dirinya.
"Sayang, jika cuma ciuman tidak akan bisa menyebabkan kehamilan kok. Cleo mengatakan hal itu karena dia juga sama seperti kamu, tidak tahu apa-apa. Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti kamu," ucap Shanum, menarik Arsenio ke dalam dekapannya. Barulah Shanum bisa tersenyum karena dijamin senyumannya tidak akan terlihat oleh Arsenio.
"Benarkah, Mom? Arsen tidak mau menikah dengan gadis bodoh itu!" Arsen kembali mengerucutkan bibirnya. Wajah sedihnya terlihat jelas, namun keresahan yang Arsen rasakan saat ini malah membuat Shanum ingin tertawa, bukan kasihan.
"Tentu saja, Sayang. Hanya sekedar ciuman yang tidak disengaja, kenapa membuat kamu merasa bersalah? Apa karena kamu mengira Cleo akan hamil gara-gara ciuman tidak disengajamu itu?" tanya Shanum, mengusap-usap rambut Arsenio yang sangat lebat dan hitam. Jadinya mereka berbincang, dan tanpa sengaja mengabaikan Cleo. Tetapi, selama Shanum dan Arsen berbincang, tidak ada lagi suara gadis kecil itu di luar pintu.
Arsenio mengangguk. "Arsen takut merepotkan Mommy, membuat Mommy sedih karena Arsen harus menikah," ucapnya, dia melepaskan diri dari dekapan sang Mommy. Lalu, menatap wajah Shanum dengan seriusnya. "Mommy tidak berbohong, kan? Bukan hanya menghiburku, kan?" tudingnya mendesak jawaban.
Shanum tersenyum hangat. "Tidak apa-apa. Mommy tidak berbohong. Yang berbahaya itu, kalau kamu sengaja mencium seorang gadis," ucap Shanum menambahi.
"Jadi, ciuman yang disengaja barulah bisa menyebabkan kehamilan, ya, Mommy?" tanya Arsenio lagi, dia tampak berpikir keras dengan pertanyaannya sendiri.
'Kenapa pertanyaan yang diajukan bisa selucu ini? Saat-saat seperti inilah yang membuatku melupakan semua permasalahanku. Tuhan, terima kasih untuk malaikat kecil yang sudah kamu hadirkan dalam hidupku. Ribuan pelangi, ribuan cinta, tidak cukup menggantikan kehadirannya,' batin Shanum.
"Mommy kenapa malah tersenyum? Jawab pertanyaan Arsenio, Mom!" Arsenio mendesak. Sifat tak sabarannya menurun dari sang Daddy.
"Ciuman tidak akan menyebabkan kehamilan. Berbahaya yang Mommy maksudkan adalah, jika dia mengadu pada Daddy-nya, maka kamu akan dihukum. Mencium atau memegang gadis lain itu tindakan asusila yang tidak boleh dilakukan. Apa kamu paham, Sayang?" tanya Shanum seusai menjabarkan penjelasannya.
Mendengar penjabaran Mommy-nya, Arsenio pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. penjelasan dari sang Mommy benar-benar membuatnya merasa tenang, dan selalu mudah untuk dipahami.
melihat wajah arsenio yang sudah lebih ceria dari biasanya, Shanum mencuil hidung putranya itu sambil tertawa.
"Jangan-jangan, kamu tidak mau main sama Cleo karena takut dia hamil anak kamu, ya? Kamu takut disalah-salahkan?" tanya Shanum.
Arsenio langsung menggelengkan kepalanya sampai berulang kali. "Tidak, Mom," jawabnya cepat sembari menyilangkan tangannya di depan dada.
"Hahaha! Ayo mengaku saja!" desak Shanum sambil menggeluti perut Arsenio.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu menghentikan candaan Ibu dan anak itu. mereka serempak menoleh ke arah pintu yang masih diketuk beberapa kali. Tidak berselang lama, terdengar suara Rima yang memanggil-manggil nama Shanum.
"Tante Rima? Mommy buka pintu dulu, ya, Sayang!" Shanum bergegas membukakan pintunya. Menyusul Arsenio di belakang, berdiri di belakang Shanum.
Baru mereka membuka pintu, pandangan Shanum langsung tertuju pada seorang pria yang berdiri tepat di samping Rima. Pria itu tersenyum melihat Shanum dan Arsenio di depan pintu. Kemudian, pria itu melambaikan tangannya sembari tersenyum.
"Hai jagoan kecil!" serunya sambil tersenyum lebar.
"Dokter Rexa?" Mata Arsenio berbinar-binar, dia tersenyum balik melihat dokter Rexa.
"Maaf mengganggu waktunya. Malam-malam malah berkunjung ke sini," ucap Dokter Rexa setelah melihat wajah Shanum yang tampak tidak bersahabat. Dia merasa tidak enakan, senyuman manisnya tadi pun berubah menjadi canggung. Rasanya dia ingin segera pergi dari sana, mengatur waktu lagi untuk kembali berkunjung. Tetapi, meskipun reaksi Shanum begitu tidak bersahabat, dan dapat terlihat jelas oleh dokter Rexa, pria itu tidak menyesal karena sudah menyambangi rumah Shanum dan Arsenio.
"Dok, kenapa anda bisa bersama Rima?" tanya Shanum, meski sudah memaksakan senyum, tetap saja Shanum tidak bisa menyembunyikan rasa tak sukanya yang tergambar dengan jelas di wajahnya.
"Saya tadi sedang mencari alamat kamu. Kebetulan, ketemu sama Nona ini di depan situ. Setelah bertanya-tanya, ternyata dia sahabat baik kamu. Untung saja saya bertanya pada orang yang tepat," jelas Dokter Rexa sambil terkekeh, tidak membiarkan Shanum salah paham padanya.
__ADS_1
"Sha, aku sudah mengantarkan orangnya ke sini, aku pamit balik dulu, ya." Rima tersenyum pada Arsenio yang menunjuk isyarat gelengan kepala samar.
"Rim, bisakah kamu tetap di sini saja? Aku ... seorang wanita single, kedatangan seorang pria malam-malam, tentu tidak enak dipandang mata oleh orang lain. Bahkan, jika hanya berduaan saja, orang lain pasti akan berpikir yang bukan bukan. Tolong menetaplah di sini sebentar," pinta Shanum, mencegah Rima yang sudah bejalan tiga langkah menuju ke kamar kosnya.
"Maafkan saya," ucap Dokter Rexa. Semakin merasa tidak enak setelah mendengar ucapan Shanum.
"Tidak apa-apa, Dok. Mungkin saja ada sesuatu yang penting, yang mengharuskan Dokter datang kemari?" ujar Shanum memaklumi. Namun, kata-katanya terus menjuruskan ketidaksukaannya terhadap datangnya Dokter itu.
"Silakan duduk," ucap Shanum, mempersilahkan sang dokter duduk di bangku panjang di depan kamar kosnya. Untuk Rima, shanum mengeluarkan sebuah bangku lain yang tadinya berada di dalam kamar kosnya.
"Sebenarnya tidak ada yang terlalu penting, aku cuma rindu dengan Arsenio," ucap Dokter Rexa, tatapannya malah tertuju pada Shanum.
Melihat tindakan dan tatapan mendamba Dokter Rexa, Rima mulai tahu ada sebuah rasa yang tersimpan di dalam lubuk hati Dokter tampan itu. Keketusan Arumi lah yang membuat Dokter Rexa takut untuk mengutarakan perasaannya.
"Ohh begitu...." Shanum manggut-manggut saja.
"Ada beberapa buah tangan yang aku bawakan untuk Arsenio. Semuanya masih berada di mobil. Nanti kita ambil, ya!" ucap Dokter Rexa, kali ini barulah dia menatap Arsenio.
"Benarkah?" Arsenio sangat senang mendengarnya. Dia bertepuk tangan kecil sambil terus tersenyum senang.
"Benar. Om Dokter membawakan banyak makanan dan mainan untuk kamu." Dokter Rexa mengiyakan dengan anggukannya.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Rexa, sebenarnya ada banyak hal yang tersimpan di dalam hati dokter tampan itu. Ada banyak hal penting yang ingin dia bicarakan. Namun, merasa tidak leluasa karena ada Rima dan juga Arsenio di sana.
"Aku baik." Shanum masih menjawab apa adanya. Tidak ada niatan untuk ya menanyakan balik kabar Dokter Rexa. Karena Shanum merasa itu tidak penting, mereka juga hanya sekedar kenalan biasa.
"Hum...." Dokter Rexa terdiam, dia bingung harus menanyakan apalagi sebagai pembuka pembicaraan. Sebab, Shanum pun tak memiliki inisiatif untuk berbicara mengenai hal yang lain.
"Tunggu sebentar, ya, Sayang. kita sedang kedatangan tamu. Sebentar lagi, ya!" ucap Shanum terang-terangan. Jangankan Dokter Rexa, Rima pun merasa ucapan syahdu itu sedang mengusir dokter Rexa secara tidak langsung.
"Tidak apa-apa, kalau Arsen sedang mengantuk, langsung tidur saja. Tidak baik juga anak kecil tidur larut-malam," ujar sang Dokter berusaha pengertian. Lagipula, dia juga tahu jam berkunjungnya salah.
"Kalau begitu, aku pamit dulu, ya." Sebelum pulang, Dokter Rexa mengantarkan beberapa paper bag yang berisi makanan dan juga mainan untuk Arsenio. Sengaja dia membeli mainan versi terbaru yang keren. Dia sedang berjuang untuk mengambil hati Shanum dan Arsenio.
"Wah! Arsen sangat suka. Terima kasih untuk mainan dan makanannya, Dokter! Lain kali, mampir ke sini lagi, ya!" ucap Arsenio, tersenyum puas sambil menenteng paper bag pemberian Dokter Rexa.
"Hahaha. Pasti."
Setelah mobil Dokter Rexa pergi, Rima mendekati Shanum yang masih berdiri di ambang pintu. Dia mengajak Shanum bicara karena sikap Shanum tadi sedikit keterlaluan.
"Sha, kamu kenapa ketus sekali begitu? Niat Dokter Rexa datang ke sini kan baik, mau menjenguk Arsenio. Ya, walaupun jam datangnya salah," ucap Rima.
"Entahlah, Rim, aku tidak suka ada pria yang mendekatiku. Rasanya, semuanya palsu." Shanum tersenyum getir. Luka masa lalunya membuatnya selalu menjaga jarak dengan lawan jenisnya.
Arsenio yang sudah sangat mengantuk memilih masuk duluan dan langsung tidur. Jadi, Rima pun leluasa berbicara dengan sahabatnya itu.
"Tapi, kamu tidak boleh terus-menerus seperti ini, Sha. Arsenio juga membutuhkan sosok seorang Ayah!" ucap Rima, entah sudah berapa kali kalimat ini diucapkan olehnya. Tetapi, sikap Shanum selalu saja sama.
"Aku belum memikirkan ini, Rim." Shanum menghela nafas panjang nan berat.
"Kamu harus memikirkannya, Sha. Arsenio membutuhkan sosok seorang Ayah, dia sangat-sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Walaupun katamu, kamu sanggup memenuhi semua kebutuhan arsenio, kamu tetap tidak bisa menggantikan sosok seorang ayah yang paling dia rindukan. Dia butuh figur ayah, Sha! Jangan egois, jangan merenggut haknya cuma karena luka masa lalumu sendiri!" ucap Rima. Semoga Shanum akan membuka hatinya dan membuka matanya.
__ADS_1
"Kendatipun kamu tidak mungkin bersama Ayah kandungnya, kamu bisa memberikan Ayah sambung untuknya. Yang penting, bisa menyayangi Arsenio sepenuh hatinya," ucap Rima lagi.
Shanum terpaku, bibirnya terasa kelu. Dia menatap lurus ke depan dengan tetapan nanar.
"Maafkan aku." Hanya itu yang mampu Shanum ucapkan.
"Baiklah. Maaf kalau aku terlalu ikut campur dalam urusan pribadimu. Aku cuma mau yang terbaik untuk Arsenio dan kamu juga, Sha."
"Tidak apa-apa, aku mengerti, Rim. Maksud kamu memang baik kok," ucap Shanum paham.
Shanum naik ke atas ranjang, memeluk putranya dari belakang. Mengecup kepala Arsenio berulang kali. Rasa berjalan kerap menghantui Shanum, tapi keegoisannya mengalahkan segalanya.
"Maafkan Mommy, Sayang." Shanum ikut tertidur sambil memeluk putranya.
***
Pagi-pagi sekali Shanum sudah bangun seperti biasanya. Setiap pagi, Shanum pasti akan sangat sibuk sekali. Berkutat dengan dapur, menyiapkan pekerja rumah dan membantu Arsenio memakai pakaiannya. Shanum mengerjakan semuanya dengan keikhlasan hati.
Setelah mereka mau berangkat, Shanum membuang nafas kasar karena ban motornya kempes. Tidak ada jalan lain. Dia sangat terburu-buru.
"Rim, bisakah kamu mengantarkan Arsenio?" tanya Shanum. "Maaf aku merepotkanmu lagi."
"Tidak apa-apa, Sha. Tapi, bagaimana denganmu?"
"Nanti aku akan memesan taksi online saja," jawabnya cepat.
"Baiklah. Aku duluan, ya."
"Terima kasih," ucap Shanum sambil melambaikan tangannya pada Arsen dan melemparkan senyuman manis.
Shanum berdiri di depan pagar kamar kosnya, menunggu taksi ataupun ojek yang lewat. Biasanya pagi-pagi seperti ini banyak sekali ojek yang lewat di depan kos-kosannya. Namun, sudah lebih dari 15 menit shanum menunggu, tidak kelihatan adanya tanda-tanda ojek online akan datang.
Tin!
Sebuah mobil silver mewah berhenti tepat di depan Shanum. Saat kaca mobil itu diturunkan, barulah Shanum tau siapa pemilik mobil tersebut.
"Ayo! Kebetulan kita searah!" pekik Dokter Rexa.
"Saya menunggu ojek saja, Dok" tolak Shanum sambil tersenyum.
"Sudah hampir telat, kan? Ayo naik!"
Shanum melihat kiri dan kanan, memang tidak ada penampaka ojek di sana. Tidak ada pilihan lain, Shanum masuk ke dalam mobil Dokter Rexa.
Setengah perjalanan, Dokter itu buka suara.
"Nona, apakah nanti malam kamu punya waktu?" tanyanya.
"Waktu? Untuk apa" Shanum bertanya balik.
"Nanti malam, aku berniat untuk mengajakmu makan malam bersama. Bagaimana? Apakah kamu bisa? Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Dokter Rexa.
__ADS_1
*****