Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Resah


__ADS_3

Leo meletakkan ponselnya di atas meja kerja Arthur. "Lihatlah anak itu, wajahnya sangat mirip denganmu. Bukan hanya sekedar, tapi sangat-sangat mirip sekali, Tuan!" seru Leo, meminta Arthur untuk melihat foto Arsenio.


"Bukan hanya rupanya saja yang mirip, tapi juga sifat dan perilakunya, dingin dan ketus sepertimu!" seru Leo lagi, menggebu-gebu.


Dahi Arthur mengerut melihat foto pria kecil di ponsel Leo, bawahannya. Dia juga heran, kenapa wajah anak di foto itu bisa sangat mirip dengannya?


"Kamu menemukan dia di lobi?" tanya Arthur, matanya masih fokus menatap Arsenio dengan wajah datarnya. Jika dilihat dengan seksama, Arsenio seperti sedang menanti seseorang dari dalam kantor.


"Ya. Jika kau tidak percaya, kita bisa menemuinya di lobi perusahaan sekarang. Katanya, dia sedang menunggu Mommy-nya," ucap Leo, dia sangat bersemangat untuk menemui lagi anak laki-laki yang sangat mirip dengan wajah Bosnya itu.


"Ayo! Aku sangat penasaran dengan anak itu," ajak Arthur bergegas membereskan semua berkas-berkasnya. Tidak peduli semua pekerjaannya belum selesai. Yang terpenting, dia harus menemui anak kecil itu dulu.


Sementara, Shanum baru membuka lokernya. Ponselnya berdering, Shanum langsung mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dari Miss Alea. Harap-harap cemas, takut terjadi sesuatu pada Arsenio.


"Miss, ada apa? Maaf, aku baru selesai bekerja," ucap Shanum, menggigit ujung kukunya, resah.


"Maafkan saya Mom. Saya terpaksa mengantarkan arsenio ke kantor tempat Anda bekerja. Saya ada keperluan mendesak sehingga tidak bisa menemani Arsenio menunggu jemputan," ucap Miss Alea, mulai tenang karena Shanum sudah menjawab panggilannya. Dia juga sedang diburu waktu.


"Di ... kantor?" Shanum melotot. Dia resah, takut orang akan menyamakan kemiripan Arsenio dengan Bosnya, Arthur.


"Se--sekarang kalian ada di mana?" tanya Shanum, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


"Sekarang kami berada di lobi kantor, Mom!" jawab Miss Alea, matanya mengitari area sekitar.


Shanum terbelalak, kebalikannya semakin menjadi-jadi.


"Miss, maafkan aku. Bolehkah aku merepotkanmu sekali lagi?" pinta Shanum.

__ADS_1


"Boleh, Mom, ada apa?" tanya Miss Alea.


"tolong bawa air senior pergi dari sana sekarang juga. Di dekat sini ada simpang empat. Tunggu aku di sana saja, ya. aku akan menemui kalian di sana sekarang," pinta Shanum, nadanya terdengar memelas.


Meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Shanum meminta Miss Alea membawa Arsenio pergi, Miss Alea tetap menuruti permintaan Shanum. Dia bergegas membawa Arsen seperti yang Shanum minta.


"Arsen, ayo! Mommy tidak bisa menemui kamu di sini. kita akan bertemu Mommy di tempat yang lain, ya!" ajak Miss Alea.


karena sangat mempercayai Miss Alea, arsenio hanya mengangguk dan mengekori Miss Alea. Naik sepeda motor Miss Alea dan pergi dari sana. Setelah mereka keluar dari area kantor, barulah Leo dan Arthur tiba di lobi. Arthur dan Leo berusaha mencari keberadaan Arsenio dan Miss Alea. Namun, usaha mereka untuk mencari berakhir dengan nihil.


"Leo, di mana kamu melihat anak itu tadi?" tanya Arthur Ya sudah bercampur dengan kekesalan.


"Di sini, Tuan. Tadi dia duduk bersama seorang wanita yang mengaku sebagai pengasuh Day Care-nya. Kalau Anda tidak percaya, tanyakan saja pada yang lainnya. Atau, cek cctv!" seru Leo, dia sangat percaya dengan keyakinannya.


Arthur menuju ke ruang CCTV yang berada di lantai dua. Arthur meminta untuk melihat rekaman cctv Arsenio tadi. Jantungnya berdegup kencang ketika pertama kali melihat Arsenio. Wajahnya yang sangat serupa, serta gesturenya juga sangat mirip dengan dirinya. Arthur juga memiliki keyakinan yang sama dengan Leo. Mungkin, nalurinya mulai bermain.


"Setelah menghubungi sambil melihat ke dalam, barulah mereka pergi. Berarti seseorang yang sejak tadi mereka tunggu meminta mereka untuk segera pergi, Tuan," ujar Leo menyimpulkan berdasarkan apa yang dia lihat.


"Tadi, pengasuhnya juga bilang mereka sedang menunggu Mommy-nya anak itu, Tuan. Sialnya, dia lupa siapa namanya. Makanya aku tidak berhasil mengetahui namanya," ucap Leo lagi, merasa bersalah.


"Coba lihat, siapa saja yang keluar dari parkiran? Mungkin, orang yang keluar itulah, dia pergi untuk menemui putranya," titah Arthur.


Petugas keamanan cctv pun membuka rekaman cctv di parkiran. Banyak sekali yang keluar dari area parkiran karena memang jam pulang kantor. Termasuk Shanum, tapi Arthur tidak terlalu memperhatikan wanita itu.


Dalam hatinya, muncul sebuah tanda tanya besar. Perasaan Arthur tidak pernah melakukan hal gila dengan karyawan kantornya. Tapi, kenapa anak kecil berwajah mirip dengannya bisa muncul di perusahaan dan Mommy-nya bekerja di Arthur Group?


"Sial!" Arthur memiliki firasat berbeda, makanya dia sangat berharap bisa bertemu dengan pria kecil yang menyerupai wajahnya itu.

__ADS_1


"Leo, keluarkan aturan. Setiap hari Kamis, para pekerja yang memiliki anak harus membawa anak-anaknya ke kantor. Jika ada acara di perusahaan, mereka harus membawa anak-anak mereka. Peraturan ini berlaku untuk siapa pun, tanpa terkecuali!" ucap Arthur, menghela nafas panjang.


"Baik, Tuan." Mulai sore ini, perusahaan akan membangun sebuah ruangan khusus sebagai taman main kanak-kanak pegawai perusahaanya. Arthur juga akan mencari beberapa orang baby sitter untuk menjaga anak-anak itu. Tidak peduli harus mengeluarkan uang seberapa banyak, yang penting Arthur bisa segera menemukan anak itu.


***


Shanum tiba di simpang empat tempat dia berjanji dengan Miss Alea. Shanum langsung mengambil Arsenio yang sudah menggambarkan kelelahan di wajahnya.


Tidak lupa Shanum berterima kasih pada pengasuh putranya itu.


"Miss Alea, sekali lagi terima kasih banyak. Maaf, berkali-kali aku sudah merepotkanmu," ucap Shanum, merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, Mom." Alea tersenyum.


"Saat kalian menunggu di lobi kantor tadi, apa ada seseorang yang menghampiri kalian?" tanya Shanum, kemiripan antara Arsenio dengan Arthur memang tidak bisa dipungkiri. Sehingga, wajar jika Shanum khawatir, banyak orang-orang yang sadar akan kemiripan itu. Itulah alasan utama mengapa Shanum meminta Miss Alea untuk segera memboyong Arsenio ke lain tempat.


"Ada, Mom, seorang pria muda mengenakan setelan jas menghampiri kami," jawab Miss Alea cepat, tidak butuh waktu lama untuknya menjawab.


"A--apa dia menanyakan sesuatu?" tanya Shanum lagi, jantungnya semakin berdentam tak karuan.


Miss Alea menganggukkan kepalanya. "Dia tinggi, lumayan tampan, kulitnya putih, rambutnya berwarna chestnut. Gaya rambut fade undercut, terlihat sangat kece." Miss Alea menjabarkan ciri-ciri pria yang ditemuinya tadi sambil membayangkan postur Leo.


"Mom, aku harus pergi sekarang. Teman-temanku sudah menunggu," pamit Miss Alea.


"Ahh iya. Sekali lagi terima kasih, Miss," ucap Shanum sambil tersenyum ramah.


Sepeninggalnya Miss Alea, Shanum tercenung. Tidak perlu memikirkan lebih lama, Shanum sudah tahu siapa pria yang dimaksud oleh Miss Alea.

__ADS_1


"Leo! Kenapa harus dia yang melihat Arsenio? Bagaimana jika dia menemukan kemiripan dan mengadu pada Tuan Arthur?" gumam Shanum, mulai merasa resah.


*****


__ADS_2