
"Ayo, kita mulai bermain!" Shanum mengelus-elus senjata laras panjang Arthur yang sudah menegak. "Ajari aku bermain dengan baik, ya, Suamiku!" ucap Shanum dengan penuh penekanan dan kelembutan.
Arthur mengerutkan keningnya. Sikap penurut Shanum saat ini sangat mencurigakan dirinya. Berbeda dari biasanya, yang selalu memberontak, marah-marah, serta menggerutu tidak jelas. Meskipun Shanum seperti seseorang yang sudah menyerahkan dirinya dan siap untuk dieksekusi, tetap saja Arthur tidak bisa mempercayai begitu saja. Arthur berpikir, pasti ada tipu daya yang sedang dimainkan oleh wanita yang sedang memeluknya itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Arthur, matanya mengikuti gerak tangan Shanum yang sedang memegang dada pria itu, mengelus-elus pucuk bukit pria itu dengan gerakan lembut.
"Apa yang aku lakukan? Bukankah sudah jelas, aku sedang mencoba untuk menggodamu, Suamiku. Tidak terlihat jelas, kah? Atau, godaanku kurang hot dibandingkan dengan wanita-wanita yang biasa menemanimu tidur?" tanya Shanum, wajah polosnya membuat Arthur tidak menyangka jika kata-kata wanita di depannya begitu menusuk hati.
"Kau menutupi niatmu dengan wajah polosmu?" Arthur bertanya dengan senyum miring.
"Wajah polos? Maaf, Tuan, memangnya kapan aku pernah menyeringai licik sepertimu? Wajahku memang selalu polos begini, kan?" Shanum tersenyum manis, masih berusaha menggoda Arthur. Tetapi, niatnya menggoda bukan supaya Arthur menyukainya dan mereka kembali melakukan itu. Melainkan, Shanum berharap supaya Arthur tidak jadi menyentuhnya karena jengah dan muak.
"Ckckck! Kau terlalu percaya diri. Kau sudah menggodaku, jangan salahkan aku jika tidak bersikap lembut, Shanum!" ucap Arthur kembali menyeringai.
"Tu--tuan, kau ... tidak merasa muak padaku?" tanya Shanum, sedikit menjauh dari jangkauan Arthur. Sepertinya, dia tidak ahli dalam berpura-pura menjadi seekor kucing manis yang penurut. Nyatanya, dia masih suka menjadi kucing yang siap mencakar jika diganggu.
"Kau sedang berpura-pura? Biar aku merasa muak denganmu?" Arthur tidak percaya Shanum bisa memikirkan ide seperti itu.
"Bu--bukan begitu. A--aku hanya--" Belum sempat Shanum menjelaksan, dia malah terjatuh karena tidak sengaja menginjak gaunnya sendiri saat berjalan mundur menjauh dari Arthur.
'Sial! Kenapa gaun ini panjang sekali? Benar-benar sangat merepotkan aku!' batin Shanum kesal. Menarik-narik gaunnya.
Arthur berlutut, menyamakan posisi mereka. Dia menaikkan wajah Shanum dengan menaikkan dagu wanita itu.
"Kau memiliki uang untuk membeli gaun ini. Tetapi, untuk membayar hutangmu padaku, kau malah menggunakan pernikahan. Jangan-jangan, kau memang sengaja melakukannya, ya?" tanya Arthur, memindai tubuh Shanum yang terlihat sangat seksi dan bagus dalam balutan gaun mahal nan mewah itu.
"Ti--tidak. Jangan salah paham. Aku tidak membelinya. I--ini pemberian Dokter Rexa," bantah Shanum. Dia tidak mau disalahpahami oleh Arthur. Mengira jika dia sengaja untuk menjerat Bosnya itu. "Lagipula, berulang kali aku sudah meminta cerai darimu. Kenapa Anda tidak kunjung menceraikan aku?" sungut Shanum, balik menantang karena memang begitulah kenyataan yang ada.
"Sekarang, aku semakin tidak mau melepaskanmu. Karena kau Mommy kandung dari putraku!" Arthur merobek paksa gaun Shanum. "Aku tidak suka kau mengenakan pemberian pria lain. Mulai sekarang, jangan pernah pakai apa pun pemberian dari pria lain!" ucap Arthur tegas. Dia memindai wajah Shanum yang mulai berkeringat dingin.
Shanum beringsut mundur, bermaksud untuk menghindar. Saat ujung kakinya sejajar dengan paha Arthur, dengan hills-nya dia menendang senjata laras panjang milik pria itu.
"Aw!" Arthur memekik sambil memegangi miliknya yang kena tendangan Shanum.
__ADS_1
"Kau ...!" Shanum berusaha melepaskan diri dengan kabur. Tapi, sialnya pintu kamar itu dikunci.
***
Pagi-pagi sekali, Arsenio sudah terbangun dalam dekapan Rima. Semalaman pria kecil itu sering kali terjaga. Begitulah Arsen, tidak akan nyenyak jika tidak tidur bersama Mommy-nya. Arsen mengucek-ngucek matanya, dia melihat jam di gadgetnya, sudah pukul setengah enam pagi.
Dia menoleh ke arah Rima yang masih tertidur.
"Mommy tidak menjemputku pulang. Atau, memang Mommy belum pulang?" gumam Arsenio. Karena suaranya yang berbicara sendiri, Rima ikut terbangun.
"Arsen, kamu sudah bangun?" tanya Rima, duduk di samping Arsen sambil menguap lebar.
"Tante, kenapa Mommy belum pulang? Kenapa sekarang Mommy sering kali pergi dan tidak pulang?" tanyanya pada Rima yang masih mengantuk.
"Semalam Mommy kamu pergi berkencan, Sayang," jawab Rima asal.
"Mommy pergi berkencan?" tanya Arsenio sedikit meninggikan suaranya karena kaget.
Barulah Rima tersadar. "Ma--maksud Tante, Mommy lembur," kilahnya sambil tersenyum gugup.
"Ta--tapi, bukan itu yang Tante maksud, Arsen. Mommy kamu benar-benar sedang lembur semalam!" Rima kekeuh pada alasannya barusan. Salahnya yang asal bicara karena ngantuk. Tau diri, susah jika sempat salah bicara dengan anak sepintar Arsenio.
"Sudahlah, Tante, Arsen tidak mau berdebat dengan Tante." Arsenio mengerucutkan bibirnya. "Tante tidak bekerja?" tanya Arsenio.
"Tentu saja bekerja, Sayang." Rima mengecup singkat pucuk kepala Arsenio sambil tersenyum. "Yuk, kita siap-siap!" ajak Rima dengan senyuman manis yang masih mengembang di wajahnya.
"Tidak mau. Kalau Mommy lembur, Mommy pasti akan pulang walau tengah malam, Tant. Arsen mau sama Mommy saja!" Arsenio bergegas turun dari ranjang dan menuju pintu. Tetapi, wajahnya langsung kecewa karena dia bisa melihat lampu di depan kamar kostnya masih menyala.
"Kenapa, Sayang?" tanya Rima, mensejajarkan posisinya dengan Arsen. Mengelus pipi Arsenio karena wajahnya ditekuk.
"Mommy belum pulang," jawabnya, menatap kamar kostnya.
"Tante ketahuan bohong. Semalam Mommy pasti kencan, bukan lembur," ujarnya sambil terkekeh.
__ADS_1
"Ayo, kita bersiap. Tante antar kamu, ya!" Rima mengalihkan, dia memang tidak memiliki alasan apa pun lagi untuk menyela. Daripada salah bicara lagi, lebih baik dia mengalihkan pembicaraan saja.
"Baiklah, Tante." Arsenio pasrah. Namun, ada yang mengganggunya sejak tadi.
'Mommy pergi kencan dengan siapa, ya? Apakah dengan Pak Dokter itu? Jika benar, aku harus segera menghentikan ini semua. Daddy-ku tetaplah harus Daddy Arthur. Tidak boleh orang lain. Setelah aku membuktikan Daddy-ku itu jahat, baru aku akan mencarikan Daddy baru untuk Mommy!' batin Arsenio, mulai memikirkan beribu cara untuk menemui Daddy atau Omanya.
"Sepertinya ini saatnya aku mengeluarkan kemampuanku setelah beberapa hari mencari tahu mengenai kebiasaan dan keluarga Daddy-ku,' gumam Arsenio.
"Apa?" tanya Rima, dia mendengar Arsen berbicara. Tetapi, tidak tahu apa yang Arsenio katakan.
"Tidak, Tante, aku hanya mengkhawatirkan Mommy," bohong Arsenio sambil cengar-cengir.
Rima hanya manggut-manggut sambil tersenyum. Dia mempercayai apa yang Arsenio katakan.
Setelah selesai bersiap, Rima mengantarkan Arsenio ke Day Care seperti biasanya. Rima agak cemas, memikirkan Shanum yang belum menampakkan diri sejak semalam.
Saat mengantarkan Arsenio, tidak ada Miss Alea yang menunggui anak itu seperti biasanya. Rima juga sudah telat, sesudah mengantar Arsenio, dia langsung bergegas ke kantor.
Arsenio menunggui Rima menghilang dari pandangannya. Kemudian, dia masuk dan menemui Miss Alea yang memang sudah berada di dalam.
"Miss, apa Miss sedang sibuk?" tanya Arsenio pada Miss Alea.
Miss Alea menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kenapa, Arsenio?"
"Bo--bolehkah Arsen meminta bantuan?" tanyanya, meremas jari-jemarinya. Dia menunduk sambil menunggu jawaban dari Miss Alea.
"Tentu saja, mau minta bantuan apa?" tanya Miss Alea.
"Miss, Arsen mau menemui Daddy. Apakah Miss Alea boleh mengantarkan Arsen? Jika Arsen meminta pada Mommy, Mommy tidak mengizinkan," ucapnya dengan nada berharap.
"Daddy? Kamu tau di mana Daddy-mu?" tanya Miss Alea.
Arsenio mengangguk. "Tahu, Miss. Miss mau kan mengantarkan Arsenio?" tanya Arsen lagi dengan mata berbinar-binar.
__ADS_1
*****