Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Mommy!


__ADS_3

"Menikah? Bukankah kita sudah menikah walau hanya secara siri? Dan, Anda belum menalakku sampai saat ini! Jadi, tolong jangan main-main dan talak aku sekarang juga!" tegas Shanum.


"Menikahlah denganku, Shanum. Kita harus menikah secara sah, dimata hukum dan agama!"


Shanum yah mendengar permintaan berulang merasa aneh dengan hal itu. Dia maju beberapa langkah ke arah Arthur, dengan berani dia memegang tangan Arthur yang mengetes suhu di dahi Arthur dengan telapak tangannya. Kemudian, Shanum mundur lagi.


"Tidak panas," gumam Shanum. "Lalu, kenapa Anda bertingkah seperti ini?" tanyanya dengan raut wajahnya yang menjengkelkan bagi Arthur.


Arthur menghembuskan nafas panjangnya. Ya, dia benar-benar kesal dengan sikap Shanum yang seperti tadi itu. Entah bagaimana, tapi dia benar-benar kesal sekali. Berulang kali Arthur meraup wajahnya sendiri, menyugar rambutnya sambil menghembuskan nafasnya supaya rongga dadanya yang kian sesak bisa merasa plong seketika.


"Tuan, jika tidak ada yang lain, aku permisi." Shanum yang kebingungan memilih undur diri dan melanjutkan pekerjaannya dibandingkan harus menyaksikan Arthur yang mirip seperti orang gundah gulana.


Karena tidak ada sahutan apa pun dari Arthur, Shanum langsung beranjak, keluar dari sana. Belum sampai kakinya melangkah, tangannya sudah dicekal oleh Arthur. Secepat kilat Arthur memutar tubuh Shanum menghadap padanya lagi, tanpa mau berlama-lama, bibir kenyal Arthur sudah mendarat di bibir ranum Shanum.


Shanum terjingkat kaget, reflek mundur. Tetapi, Arthur tidak melepaskan pagutannya. Dia memeluk tubuh Shanum semakin erat supaya wanita itu tidak jatuh ke belakang. Bibir Arthur ******* habis bibir Shanum, sampai terdengar cecapan. Sementara, Shanum berdiri terpaku, menerima semua perlakuan Arthur tanpa menolak atau membantah, seperti pasrah atau memang menikmati.


Arthur melepaskan pagutannya, dengan nafas yang masih tersenggal-senggal, netra keduanya saling bertemu. Keduanya menyudahi, namun dengan jarak yang sangat dekat.


"Apa kau tidak pernah memikirkan perasaan Arsenio?" Satu kalimat itu terucap dari bibir Arthur, menatap lekat manik hitam Shanum yang semakin mengeratkan dahinya.


"Apa maksudmu, Tuan? Aku tidak memikirkan perasaan Putraku?" Shanun tersenyum miring, dia menolak pelan dada bidang Arthur, sampai menjauh darinya.


"Orang asing yang baru beberapa kali bertemu dengan putraku, dengan lancarnya bisa berbicara seperti itu padaku, Mommy-nya yang sudah membesarkannya sampai sebesar itu. Mengorbankan apa pun demi dirinya. Dan, kau, malah berkata sesuatu yang memancing huru-hara?" Emosi Shanum benar-benar terpancing. Tidak bisa dia diam dan menelan semua kata-kata Arthur, itu sama saja seperti tuduhan.


"Aku mengajakmu menikah, itu semua untuk Arsenio, Shanum. Bukan demi kamu, atau pun demi diriku sendiri," tandas Arthur, memaksakan apa yang dia rasa benar. Bibirnya berkata semua ini untuk Arsenio, entah kenapa hatinya menolak fakta yang barusan terucap itu.


Arthur tidak terlalu mengerti dengan kemauannya sendiri. Namun, dia tidak terlalu memikirkan hal itu. Menganggap, itu hanya pikirannya saja yang tidak sinkron dengan hatinya.


"Demi Arsenio? Jangan mengada-ada, Tuan. Arsenio sudah cukup bahagia bersamaku. Tidak perlu mengatakan sesuatu hal yang membuat orang lain mengira Arsenio menderita," pungkas Shanum semakin tidak terima.


"Ya, dia bahagia karena memiliki Mommy yang sangat menyayanginya. Tetapi, apakah kau pernah berpikir bagaimana perasaannya saat dia melihat teman-temannya begitu dekat dengan Daddy mereka? Apa kau pernah bertanya bagaimana perasaannya?" pertanyaan Arthur membuat Shanum terdiam, benar-benar bungkam.


"Dia merasa iri dan cemburu, Sha. Sesekali, coba lihatlah saat dia bersamaku, dia sangat manja sekali."


"Untuk apa Anda mengatakan semua hal ini?"

__ADS_1


"Untuk membuatmu sadar, bahwasanya Arsenio juga membutuhkanku, sebagai Daddy-nya."


"Apa Anda sudah membuktikan kalau Arsenio memang benar-benar anak kandungmu? Kau tidak bisa mengclaim putra orang lain sebagai anakmu hanya karena kemiripan yang begitu identik, Tuan," ujar Shanum, sampai sekarangpun dia masih mencoba berkelit. Jika bisa, dia ingin memutar waktu. Tidak ingin bertemu dengan Arthur yang merupakan seorang pemaksa.


Kini, giliran Arthur yang terdiam. Shanum memang benar, dia tidak bisa asal-asalan mengclaim hanya karena kemiripan yang identik. Apalagi, sampai sekarang pun dia belum melakukan test hubungan darah, atau test DNA yang bisa menunjukkan hasil pastinya. Selama ini, Arthur hanya percaya dengan batinnya sendiri.


Lagipula, mana mungkin ada dua orang yang begitu mirip bahkan serupa jika bukan Ayah dan Anak. Dan, jika menghubung-hubungkan waktu, memang Shanum lah wanita malam itu.


"Aku hanya percaya pada ikatan batin," ucap Arthur, menatap wajah Shanum.


"Lakukan test, Tuan. Dan kau akan tahu hasilnya. Aku cuma tidak mau disalahkan, padahal jelas itu bukan salahku," tukas Shanun.


"Jangan berkelit, Shanum. Sekarang, apa jawabanmu? Pikirkanlah Arsenio, jangan pikirkan dirimu sendiri. Jangan pikirkan keegoisanmu yang pasti akan membuat Arsenio selalu merasa iri hati pada teman-temannya." Arthur kembali ke topik utama.


Shanum kembali terdiam dengan segala pemikiran yang berkelumit dalam kepalanya. Banyak sekali pertentangan yang menggerayangi batin dan pikirannya saat ini. Hingga sulit baginya untuk mengiyakan. Mungkin, benar yang dikatakan Arthur, dia memang seorang Mommy yang egois, kadang Shanum juga memikirkan hal itu.


Kebingungan yang membuatnya terdiam cukup lama, membuat Arthur tidak sabaran.


"Mau sampai kapan kau diam saja?" Pertanyaan Arthur menyadarkannya.


Arthur tersenyum simpul.


'Apa kau pikir aku sudah mencintaimu? Tidak. Untuk sekarang tidak ada perasaan cinta dalam hatiku, Shanum. Aku melakukan ini semua juga demi putraku, Arsenio.'


Namun, semua itu Arthur katakan dalam hatinya. Jika terang-terangan dia berucap begitu, Arthur sangat yakin, Shanum akan semakin berat untuk mempertimbangkan ajakan pernikahan ini.


"Semua bisa ada seiring berjalannya waktu, Sha. Pikirkan Arsenio...." sekali lagi Arthur menegaskan, semua yang akan mereka lakukan adalah demi Arsenio, bukan demi mereka berdua.


"Bagaimana? Apa kau bersedia?"


"Maaf, Tuan, aku harus memikirkannya dulu. Aku ... tidak bisa memberikan jawabannya sekarang," ucap Shanum, tertunduk sambil *******-***** jari-jemarinya.


"Sampai kapan aku harus memberimu waktu?" tanya Arthur. "Bagaimana kalau saat makan malam?"


"Makan malam?" Shanum terperangah.

__ADS_1


"Apa Arsenio belum mengatakan apa pun padamu mengenai makan malam?" tanya Arthur, dia sudah kelepasan bicara, rasanya malu sekali. Seakan, semua ide itu darinya.


Shanum menggeleng. "Arsenio belum mengatakan apa pun."


"Nanti tanyakan saja pada Arsenio," ujar Arthur.


"Arthur, di mana cucu Mama?" Kenya masuk tanpa mengetuk pintu.


"Ma? Kenapa tiba-tiba masuk? Bukankah barusan Arthur sudah mengunci pintunya?"


Kenya tidak langsung menjawab. Dia menatap Shanum yang berada di dalam ruangan Arthur, berduaan saja dengan pria itu. Dan, pintunya pun tadi memang terkunci. Membuat Kenya langsung memiliki pikiran negatif.


"Kenapa dia bisa di sini?" tanya Kenya, memijat Shanum dengan tatapan tidak suka.


"Apa kamu lupa, saya pernah bilang kalau Arthur sudah punya Anak dan istri? Apa kamu sengaja mau menggoda suami orang?" Kenya salah paham. Sampai saat ini pun, Kenya masih belum tahu kalau Shanum adalah Mommy dari Arsenio, cucunya.


"Ti--tidak, Nyonya besar, saya ke sini karena mau mengantarkan Arsenio," jawab Shanum, enggan menatap Kenya secara langsung. Jadinya, dia hanya menunduk.


"Ma, jangan salah paham dulu. Dia benar-benar mengantarkan Arsenio," ucap Arthur.


"Arsenio? Panggil cucuku itu dengan sebutan Tuan muda!" ketus Kenya.


"Ma, jangan seperti itu pada Shanum," sanggah Arthur.


"Kamu membela wanita ini? Kau lupa dengan Mommy-nya Arsenio, Arthur?" sentak Kenya.


Mendengar penuturan Kenya barusan, Shanum baru mengerti. Istri yang selama ini Kenya sebut-sebut adalah Mommy Arsenio, berarti dia? Hampir saja dia menahan tawa.


"Ma, wanita yang berdiri di depan Mama sekarang namanya Shanum. Dia adalah Mommy-nya Arsenio, cucu Mama!" pengakuan Arthur membuat Kenya tercengang sekaligus bungkam. Dia langsung menatap Shanum dari atas sampai ke bawah.


"Apa yang Mommy lihat? Kurang mirip? Tentu saja, Ma. Arsenio lebih identik denganku, makanya kita bisa mengenali anak itu dengan mudah."


Belum surut lagi keterkejutan Kenya, dia kembali dikejutkan dengan suara teriakan Arsenio yang berlari sambil berteriak kencang.


"Mommy!" teriak Arsenio, menerobos masuk ke dalam dan langsung memeluk Mommy-nya.

__ADS_1


*****


__ADS_2