Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Menunggu Sebuah Permohonan


__ADS_3

"Cari orang yang sudah menyebarkan video itu. Aku mau berterima kasih padanya," ucap Arthur lagi.


Leo terkejut bukan main, Arthur sudah berubah terlalu banyak. Sampai-sampai dia mengabaikan nama baik perusahaan hanya demi ditemui seorang gadis. Malahan berharap gadis itu memohon padanya. Benar-benar aneh, bukan? Belum tentu juga Shanum bersedia untuk memohon seperti yang Arthur pikirkan.


Memang benar, nama baik perusahaan Arthur Group tidak mungkin bisa tercemarkan begitu saja hanya karena sebuah kabar miring. Namun, jika video itu semakin tersebar, bukankah sama saja dengan membenarkan isi dari video tersebut?


'Apakah Tuan Arthur tidak memikirkan konsekuensi terpuruknya jika video itu sampai tersebar?' batin Leo. Tapi, dia tidak bisa membantah perintah dari atasannya.


"Baik, Tuan." Leo membungkuk, dia bergegas keluar karena tidak ada tanggapan apa pun dari Arthur lagi.


Setelah mendapat perintah arti untuk mencari tersangka yang merekam dan menyebarkan video itu, Leo segera melaksanakan tugasnya.


Seusai mengecek CCTV dan meminta timnya untuk mencari tahu dengan jelas, akhirnya mereka menemukan pelakunya.


"Tuan Leo, kenapa?" tanya seorang pria, menepuk pelan pundak Leo. Pria itu tak mengerti mengapa raut wajah Leo malah terlihat marah dan cemas. Bukankah harusnya dia senang karena pekerjaannya sudah selesai?


"Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih karena sudah membantuku. Kembalilah bekerja!" ucap Leo, membalas senyuman pria itu.


"Baik."


Saat Leo masih terpaku di tempatnya, tidak sengaja dia berpapasan dengan Shanum. Wajah wanita itu juga tidak menunjukkan keceriaan, menjurus ke muram. Tidak ada sedikit pun senyuman yang tersungging di wajah cantik wanita itu. Wanita yang sudah membuat Arthur kesal sampai mau menghalalkan segala cara demi bisa membuat Shanum kembali dan mohon padanya.


"Kasihan dia. Kenapa Tuan Arthur menargetkan wanita selama ini untuk dijadikan mainannya?" gumam Leo, memperhatikan Shanum yang berjalan menjauh darinya dengan wajah yang ditekuk.


"Lihatlah! Itu dia! Dasar wanita sok polos. Penggoda tidak tahu diri!" Di belakangnya, banyak karyawan wanita yang mengumpat Shanum. Leo taksir, Shanum mendengar dengan jelas umpatan dan cacian para karyawan yang jelas-jelas ditujukan untuknya.


Tetapi, yang tidak Leo mengerti, mengapa Shanum tidak berusaha untuk membela dirinya? Bukankah itu perlu dilakukan jika dia merasa dirinya tidaklah bersalah?


"Keterlaluan sekali. Kak, gara-gara kamu, wanita selemah Shanum harus menerima konsekuensi dari perbuatanmu. Padahal, bukan dia lah yang sengaja mendekati Tuan Arthur," gumam Leo, dengan tangan yang terkepal dia membubarkan semua para karyawan yang masih berkumpul menghujat Shanum.


Setelahnya, Leo datang ke ruangan Sena untuk meminta pertanggungjawaban wanita itu atas perilakunya yang benar-benar sangat jahat bagi Leo. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dengan lancang Leo langsung masuk dan berdiri di depan meja kerja Sena.


Awalnya Sena terkejut karena ada orang yang menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya. Melihat siapa yang datang, Sena menyunggingkan senyum sinis.


"Leo, kau memang tidak pernah memiliki sopan santun. Ini di perusahaan, seharusnya kau memiliki tata krama dengan mengetuk pintu sebelum masuk ke ruang kerjaku!" sinis Sena, berkata tanpa menatap lawan bicaranya.


"Kak, bisakah kau bersikap sedikit lebih dewasa?" Leo tak mempedulikan apa yang saya katakan tentang dirinya.


"Cih! Anak kecil sepertimu belum pantas untuk membicarakan tentang kedewasaan!" balas Sena, dia tak pernah baik jika berbicara dengan Leo.


"Video yang kamu sebarkan sangat merugikan untuk korbannya," ucap Leo, langsung mengatakan inti dari permasalahan.


Sena tercekat, dia tahu kerja Leo memang sangat cepat dalam menangani setiap masalah. Tetapi, Sena merasa tak siap ditemukan secepat ini sebagai tersangka.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu!" elak Sena, dia bukan tipe seseorang yang mau mengakui kesalahan.


Mendengar penuturan kakaknya, Leo merasa tergelitik kemudian dia tertawa sumbang.


"Kau tahu jelas ini bagian dari urusanku, Kak. Video itu mencakup perusahaan dan CEO kita. Bagaimana mungkin ini bukan urusanku?" Leo masih menertawai Sena.


"Lalu, apa yang kau mau?" Sena tidak memperlihatkan ketakutannya sama sekali. Walaupun, saat ini hatinya sedang ketar-ketir ketakutan.


"Tuan Arthur berkata, jika aku menemukan tersangkanya, dia memintaku untuk membawa orang itu ke ruangannya." ucapan Leo barusan semakin membuat Sena tenggelam dalam rasa takutnya.


"Tu--tuan Arthur mau bertemu denganku?" Sena menunjuk dirinya sendiri. Biasanya, jika Arthur memanggil Sena ke ruangannya, wanita itu pasti akan sangat kegirangan. Berbeda dengan kali ini, Sena memperlihatkan wajah piasnya pada Leo.


"Leo, bisakah kamu menolongku? Jangan beritahukan Tuan Arthur bahwasanya akulah yang sudah menyebarkan video itu. Aku berjanji akan segera menghapus video itu dari media sosial." Sena memohon pada Leo, wajahnya yang dibuat sekasihan mungkin, tentu tidak akan bisa menipu Leo.


"Maaf, aku tidak bisa. Memangnya, kepada siapa kesalahan ini mau kamu limpahkan? Kamu tidak akan mungkin bisa membersihkan video itu. Cukup banyak yang tertarik dan meng-share video itu," ucap Leo, Sekarang saatnya Leo lah yang bersikap acuh.


"Leo, aku mohon...."Sena terus memohon, dia menggelengkan kepalanya berulang kali dengan wajah yang berurai air mata.


Leo tidak peduli. Dia tahu, itu hanya kepura-puraan Sena saja. Wanita itu memang ratu drama. Makanya Leo malas mempedulikannya.


"Sena, kau harus bisa mempertanggungjawabkan perbuatanmu," ucap Leo. "Gara-gara video yang kau sebar itu, Shanum terkena imbasnya. Seluruh karyawan perusahaan menghinanya!"


"Memangnya kenapa? Dia memang harus menerima konsekuensi karena kejalangannya itu. Perbuatannya itu juga merugikan perusahaan, bukan?!" Sena tetap tidak menyesali.


"Leo, tidak. Kumohon jangan begini!" Sena masih tetap memohon, dia Tidak segan menangis agar dikasihani. Tetapi, pilihannya salah. Leo tidak lagi peduli pada air mata buayanya.


Leo membuka pintu menghempaskan tubuh Sena dengan kasar ke depan Arthur yang sedang bekerja. Melihat kejadian di depannya, Arthur bergeming. Masih memfokuskan dirinya pada layar komputer di depannya.


"Akui semuanya!" tegas Leo.


"A--apa yang harus aku akui? Kesalahan apa yang aku perbuat, Leo?" Sena berpura-pura tidak tahu, dia menatap Leo dengan tatapan intens. Bahkan, untuk melengkapi kepura-puraan itu, Sena sampai mengerutkan keningnya dan mengendikkan bahunya.


"Akui perbuatanmu, Sena. Kau yang sudah menyebarkan video itu. Akui sekarang di depan Tuan Arthur!" desak Leo.


"Bukan aku pelakunya. Kenapa harus aku yah mengakui? Enak saja!" ketus Sena, dia hendak pergi, tapi tangannya ditarik lagi oleh Leo hingga dia kembali ke posisinya semula.


"Leo, jangan keterlaluan, ya! Kenapa aku harus mengakui sesuatu yang tidak aku perbuat?" sinis Sena.


"Sena, aku memiliki cukup bukti untuk memberitahukan Tuan Arthur kau lah pelakunya. Tetapi, Tuan Arthur mau kau mengakui sendiri dengan mulutmu!" Leo kekeuh.


'Sialan! Dia memang tidak berniat untuk melepaskanku. Saudara macam apa ini, dia malah membuatku dimarahi bahkan mungkin akan dipecat oleh Tuan Arthur. Harusnya dia diam saja dan membantuku mencari seseorang untuk menutupi kesalahanku,' batin Sena, sejak tadi dia terus mengelak karena mengira Leo akan membantunya untuk sembunyi. Nyatanya, Leo malah semakin mendesak.


"Tu--tuan, apa yang Leo katakan benar. A--aku lah yang menyebarkan video itu." Akhirnya Sena mengaku. Arthur yang sibuk dengan pekerjaannya pun mendongakkan kepalanya menatap Sena dan Leo secara bergantian.

__ADS_1


"Darimana kau mendapatkan video itu? Siapa yang membantumu menyebarkannya?" tanya Arthur mulai mengintrogasi, menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya sambil memainkan ballpoint di tangannya.


"A--aku mengambil video dari cctv, Tuan. Ti--tidak ada yang membantuku, aku yang menyebarkannya sendirian. Aku mem--membuat aku palsu dengan nama anonim," jawab Sena dengan kepala tertunduk. Sebenarnya dia sangat tidak mau mengakui bahwa itu kesalahannya sendiri.


Dia ingin menyeret nama orang lain, tetapi Sena bingung ingin mengatakan nama siapa. Apalagi, jikalau Arthur sampai membawa-bawa nama itu juga. Sena tidak menyiapkan orang yang bersedia disalahkan. Maka, terpaksa dia mengakui semuanya seorang diri.


"Terima kasih!" ucapan Arthur membuat Sena langsung menatap pria itu.


"Apa katanya? Terima kasih? Bagaimana bisa dia berterima kasih setelah aku menyebarkan video itu dan merusak reputasinya?' batin Sena.


"Kembalilah bekerja!"


Sena mengangguk, meski masih dalam kebingungan, Sena menurut. Ada banyak sekali tanda tanya yang mengitari kepalanya. Ingin bertanya langsung pada Arthur, tapi dia tidak memiliki keberanian sebesar itu.


"Leo, kenapa Tuan Arthur Allah berterima kasih padaku? Seharusnya, bukan itu reaksinya, kan?" Sena memilih untuk bertanya pada Leo.


"Lalu, seharusnya bagaimana? Kau menunggu kemarahannya?" tanya Leo. "Sudahlah. Dia memintaku mencari siapa pelakunya, karena memang mau berterima kasih sudah menyebarkan video itu," terang Leo.


"A--apa?" Keterkejutan Sena semakin bertambah-tambah.


"Aku tidak punya cukup waktu untuk menjelaskannya padamu!" ketus Leo berlalu pergi.


***


Di dalam ruangannya, sejak tadi Arthur menunggu kedatangan Shanum. Bahkan, dia sampai memesan makan siang untuk dimakan di dalam ruangannya. Takut-takut, saat Arthur pergi ke luar untuk makan, Shanum datang untuk mencarinya. Sebegitu berharapnya Arthur akan dicari oleh Shanum.


Tapi, Arthur tidak mengungkapkan keresahan hatinya itu kepada siapa pun. Dia terlalu malu jika orang-orang sampai tahu dirinya berharap ditemui oleh seorang wanita.


Biasanya, Leo lah yang memanggil para wanita untuk menemani Arthur.


"Di mana dia? Kenapa tidak kunjung menemuiku dan memohon?" gumam Arthur, hari ini Arthur tidak fokus bekerja. Sebentar bentar dia menoleh ke arah pintu, menunggu kehadiran seseorang di sana.


Tak sanggup lagi menunggu, Arthur menghubungi Leo untuk meminta Shanum menemuinya sekarang juga.


"Ya, Tuan?' tanya Leo yang sedang mengurus pekerjaannya sendiri.


"Katakan kepada kepala cleaning service, suruh Shanum datang ke ruanganku sekarang juga!" titah Arthur.


"Nona Shanum?" Leo terkejut ketika Arthur menyebutkan nama wanita itu lagi. Di tengah panas-panasnya isu miring yang sedang menerpa, jika Shanum datang ke ruangan Arthur, bukankah itu sama saja dengan membakar diri?


"Ya." Arthur memutuskan sambungan telepon.


"Untuk apa lagi? Kenapa sekarang Tuan Arthur berubah menjadi kekanakan begini? Kasihan Nona Shanum," gumam Leo.

__ADS_1


*****


__ADS_2