
"Arsenio, apa kamu mau bertemu dengan Daddy!" tanya Kenya, melihat Arsenio yang hanya terdiam, Kenya pun tidak tahu bagaimana suasana hati cucunya itu. Entah mengapa Arsen hanya diam saja dengan wajah yang murung.
"Sudahlah, Ma, untuk apa mempertanyakan anak ini dengan Kak Arthur? Biarkan saja, lagipula sepertinya dia juga tidak bersedia," sela Clarissa, menatap Miss Alea yang terlihat tak suka padanya. Namun, Clarissa tidak peduli, malah dialah yang lebih tidak suka akan kehadiran mereka berdua.
"Cla, kamu ini kenapa, sih? Bisa tidak beri kesempatan untuk Arsenio menjawab? Itu semua keputusannya, bukan kamu!" sentak Kenya, wajahnya memerah. Dadanya naik turun, seperti sedang menelan kemarahan, tapi api kemarahan itu malah bersarang di dadanya.
"Mama membentakku cuma karena dia? Anak ini juga belum tentu cucu kandung, Mama!" Clarisa meninggikan suaranya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Tante, jangan bersikap lebay. Apa yang Oma katakan benar, kenapa Tante begitu?" sungut Arsenio.
Sontak, Clarissa memandang Arsenio, mulut pedas anak itu membuat kemarahannya semakin membuncah. Air mata yang sudah menganak, mendadak hilang seakan tertelan kembali oleh pelupuknya.
"Mulutmu terlalu pedas!" desis Clarissa, mencebikkan bibirnya kesal.
"Arsen, kamu tidak mau bertemu Daddy?" Kenya kembali bertanya, keraguan dari wajah dan sorot matanya masih cukup kentara terlihat.
"Arsen takut, Oma," ucap Arsen.
"Takut? Kenapa? Apa kamu berpikir kalau Daddy Arthur jahat?" tanya Kenya. Namun, gelengan kepala Arsenio membuat Miss Alea maupun Kenya tercenung.
"Lalu, kenapa?" tanya Kenya, bertanya dengan hati-hati supaya Arsenio tidak ketakutan.
"Kata Mommy, Arsen tidak boleh bertemu dengan Daddy, Oma. Jadi, ...." Belum sempat Arsenio melanjutkan ucapannya, sudah terdengar tawa menggema dari Clarissa.
"Hahahah! Kupikir, kau ini anak yang cukup pintar. Ternyata kau memang anak kecil yang bodoh!" cibir Clarissa terang-terangan Tampa menjaga tutur katanya barang sedikit pun.
Kenya yang tidak menyukai apa yang Clarissa ucapkan langsung menyenggol lengan Clarissa. Clarissa yang merasa tidak bersalah malah bertanya dengan mengangkat sebuah alisnya.
"Kenapa, Mam? Aku benar, bukan? Katanya, Mommy-nya tidak mengizinkan dia untuk bertemu dengan Daddy-nya. Tapi, dia malah datang ke sini? Tujuannya apa?" tanya Clarissa.
"Maaf, Nona Clarissa, tolong jaga tutur kata Anda. Rendah hatilah sedikit terhadap anak kecil. Mungkin, dia memang ingin bertemu dengan Daddy-nya, tetapi rasa takut tidak yang menahannya untuk itu. Maklumilah!" tegur Miss Alea, dia tidak bisa lagi diam ketika Clarissa sudah berulang-ulang kali mengatai Arsenio seperti itu.
Clarissa tidak menyahut apa-apa. Dia hanya memicingkan mata, pertanda tidak suka. Kemudian, dia kembali menatap Arsenio yang masih duduk dipangkuan Kenya.
"Sebentar, ya, Oma hubungi Daddy kamu dulu. Kalian harus bertemu, Nak! Sudah sangat lama Daddy-mu mencarimu dengan melakukan segala cara, Sayang. Dia pasti sangat senang jika bisa bertemu denganmu," ucap Kenya, membujuk Arsenio yang masih belum memberikan tanggapan apa pun.
__ADS_1
"Arsen, tidak perlu takut, Sayang. Yang Oma kamu katakan itu benar. Temuilah Daddy-mu, dia juga pasti sangat ingin bertemu denganmu." Miss Alea ikut berbicara, berharap ketakutan Arsenio akan memudar dan anak itu mau bertemu dengan Daddy-nya.
"A--apa Daddy-ku orang yang galak, Oma?" Mata berbinar-binar Arsen membuat Kenya merasa sangat gemas.
Kenya menggelengkan kepalanya. "Sedikit. Tapi, tidak akan galak jika sama kamu, Sayang. Bagaimana mungkin dia galak pada anak yang selalu dia rindukan," ucapan Kenya membuat hati Arsenio luluh. Perlahan, ketakutannya pun benar-benar menghilang.
Setelahnya, barulah Arsenio mengangguk mengiyakan untuk bertemu dengan sang Daddy yang katanya sangat merindukan dirinya. Mendengar Arsenio membuat keputusan itu, Miss Alea tersenyum senang. Setidaknya, kedatangan mereka ke sana tidaklah sia-sia.
"Baiklah...." Lagi dan lagi Kenya mengusap lembut pucuk kepala Arsenio.
Sementara itu, Arthur yang berada di kantornya sedang sibuk memikirkan tentang sikap Shanum semalam. Sikap Shanum yang membuatnya tidak tenang. Terkadang wanita itu bersikap keras kepala, kadang juga bersikap seperti wanita cengeng yang begitu lemah. Namun, sikap yang lebih mendominasi dari wanita itu adalah sikap kerasnya karena tidak mau direndahkan.
"Bagaimana caranya aku menaklukkan wanita ini? Dokter sialan itu terus saja mendekati Shanum. Apa wanita itu tidak membuat garis yang jelas? Apa dia tidak mengatakan kalau dia sudah menikah? Ahh! Sialan! Aku malah selalu terbayang-bayang wajahnya yang kerap kali membuatku kesal itu!" ucap Arthur merasa gundah.
Setelah pertempuran panas mereka di atas ranjang semalam, pagi-pagi sekali Arthur sudah pergi. Meminta Leo untuk mengantarkan Shanum pulang ke rumah.
Arthur tahu, hari ini pun Shanum masuk kerja seperti biasanya walau semalam dia ditempur habis-habisan.
Tidak berselang lama, Leo masuk ke dalam ruangan Arthur diikuti oleh Sena yang masuk dengan sebuah map di tangannya.
Sena melirik sekilas, dia ingin merayu Arthur, tapi tidak jadi melakukan niatnya karena ada Leo di sana.
"Ada apa lagi?" tanya Arthur karena setelah semua berkas sudah ditandatanganinya, Sena masih saja berdiri di sana. Sepertinya wanita itu tidak berniat keluar, melainkan ingin mendengar percakapan Leo dan juga Arthur.
"Ti--tidak apa-apa, Pak. Saya permisi," pamit Sena.
Tidak ada yang menyahutnya. Setelah Sena keluar, Arthur langsung memberondong Leo dengan pertanyaan.
"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan anak itu?" tanya Arthur.
"Aku hanya bisa menemukan namanya saja, Tuan. Namanya Arsenio, tapi aku tidak menemukannya. Padahal, kata teman-temannya tadi pagi melihat di datang ke Day Care dengan di atar seorang wanita yang aku duga kalau wanita itu adalah Rima," ucap Leo
Bersamaan dengan itu, suara dering ponsel Arthur yang berada di atas meja mengalihkan perhatian pria itu. Tertulis nama Mamanya, tanpa mau membuat sang Mama menunggu, Arthur segera menjawab panggilan itu.
"Pulanglah sekarang!" ucap Kenya tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Pulang? Tumben sekali? Aku tidak bisa pulang sekarang, Ma. Sedang banyak pekerjaan," tolak Arthur.
"Pulang sekarang atau kamu akan menyesal seumur hidupmu!" Ancaman Kenya membuat Arthur semakin heran. Kenapa tiba-tiba Mamanya menjadi seseorang yang pemaksa seperti itu.
"Mama mengancamku? Ma, aku tidak bi--"
belum sempat Arthur menyelesaikan ucapannya, sambungan telepon mereka terputus. Arthur sangat kesal, menarik nafas panjang berulang-ulang.
"Leo, kita pulang sekarang!" ucapnya, berjalan keluar tanpa menatap Leo.
"Baik, Tuan."
Bukan hanya merasa heran dengan Mamanya yang tiba-tiba menjadi pemaksa, Arthur juga heran dengan dirinya sendiri.
Cuma mau pulang ke rumahnya saja, entah kenapa jantungnya berdetak kencang seolah-olah ada yang sedang menantinya di rumah. Arthur berusaha mengalihkan dirinya, Tetapi semakin dekat dia dengan rumahnya, perasaannya semakin tidak menentu.
'Kenapa aku bisa seaneh ini? Apa ketularan dari Mama tadi?' batin Arthur.
Setelah menempuh perjalanan empat puluh lima menit, akhirnya mereka tiba di depan rumah. Melihat pintu rumah yang terbuka lebar, Arthur mengernyitkan dahinya.
Dia turun dari mobil, membenarkan jasnya. Pandangannya sudah terpaku pada pintu rumahnya. Tidak ada siapa pun yang menyambutnya, padahal dia ingat hari ini jadwal Clarissa pulang ke rumah.
'Kenapa anak itu tidak menyambutku? Biasanya, saat mendengar suara mobil milikku, dia pasti akan langsung berlari memelukku,' batin Arthur, sekali lagi dia merasa aneh dengan keadaan yang senyap dan sepi tetapi pintu depan rumahnya terbuka.
Arthur berjalan dengan langkah besarnya, Leo mengikuti Tuannya dari belakang. Baru saja dia memasuki rumah, dia sudah melihat ada beberapa orang yang duduk di sofa ruang tamu.
Pandangannya langsung terkunci pada anak kecil yang duduk di pangkuan Kenya, Mamanya. Anak kecil yang selama ini selalu berusaha untuk dicari keberadaannya. Bahkan, barusan pun dia masih mencarinya tapi lihat tidak menemukan bocah ini.
Sekarang, Arthur mengerti kenapa Leo tidak menemukan anak itu, ternyata yang dicari malah berada di sini.
"Ka--kamu?" Arthur menatap Arsenio.
"Da--Daddy?" ucap Arsenio dengan terbata, baru kali ini dia melihat Daddy-nya secara langsung.
******
__ADS_1