Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Usaha Mencari


__ADS_3

"Leo! Kenapa harus dia yang melihat Arsenio? Bagaimana jika dia menemukan kemiripan dan mengadu pada Tuan Arthur?" gumam Shanum, mulai merasa resah.


"Mom, kenapa termenung? Arsen ngantuk, Mom. Ayo kita pulang sekarang!" ajak Arsen, merengek pada Shanum. "Tapi, Mommy sudah membelikan gadget yang Arsen minta, kan?" tanya Arsenio, menagih janjinya yang diiyakan Shanum.


"Sudah. Tapi, nanti saja lihatnya, ya, Sayang. Berbahaya kalau kamu lihat di sini," ucap Shanum.


"Baik, Mom."


Setibanya di rumah, Arsen melihat gadget yang dibelikan Shanum untuknya. Dia sangat kegirangan, dalam sekejap rasa kantuknya pun langsung hilang. Arsenio mulai mengotak-atik gadget barunya itu. Senyuman manis pria kecil itu tak surut-surut dari wajahnya. Shanum senang melihat kebahagiaan putranya.


"Arsen, Mommy harap kamu bisa menepati janjimu pada Mommy, ya!" Shanum kembali mengingatkan janji yang arsenio ikrarkan sebelum membeli gadget.


"Tentu saja, Mom. Mana mungkin Arsen lupa," sahutnya sambil tersenyum, menoleh pada Shanum sebentar kemudian fokus lagi.


Shanum yang merasa lelah, merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pikirannya terasa ringan karena tidak ada beban apa pun yang harus dia pikirkan sampai terlambat tidur. Hutangnya dengan Arthur sudah lunas, dan test DNA pun tinggal menunggu hasil akhirnya. Sungguh, ketenangan yang sangat diidamkan Shanum selama ini.


Berbeda dengan Arthur yang sedang memikirkan sekelumit kemungkinan, anak siapa yang wajahnya sangat mirip dengannya itu. Berulang kali juga dia menyalahkan Leo, kenapa pria itu tidak menanyakan di Day Care mana anak kecil itu dititipkan.


'Jika saja aku tahu di mana dia di titipkan, aku pasti akan langsung datang ke sana. Sialan! Leo untuk hal sepenting ini kenapa kau bisa lupa?' Arthur resah, dia balik ke sana dan ke sini. Akhirnya, Arthur menemui Mamanya yang sedang berada di dalam kamar.


"Ma?" panggil Arthur dengan suara pelan. Dia duduk di sofa, memperhatikan Mamanya yang sedang duduk di depan meja rias.


"Kenapa?" tanya Kenya, memperhatikan gerak-gerik Arthur dari kaca di depannya.


"Apa Mama masih ingat wajah dan perangaimu saat kecil?" tanya Arthur, terus menatap Mamanya yang masih menghapus sisa-sisa makeup-nya.


"Masih. Kamu anak laki-laki Mama satu-satunya, Arthur. Mana mungkin Mama melupakan kelucuan kamu." Kenya tersenyum, seolah kembali mengingat kelakuan Arthur saat kecil dulu.


"Memangnya kenapa? Kamu tiba-tiba masuk ke kamar Mama saja, sudah cukup mengherankan. Sekarang, kamu malah menanyakan hal yang lebih aneh. Ada apa? Pasti ada sesuatu, kan?" tanya Kenya, dia berbalik menatap Arthur yang masih diam. Seperti sedang menimbang-nimbang, mau mengatakannya atau tidak. Dan, gesture Arthur bisa dibaca lagi oleh Kenya.


"Kamu ragu mau mengatakannya sama Mama? Tidak percaya kerahasiaan kamu bisa Mama jaga?" Kenya menatap wajah Arthur lagi. wajah datar putranya itu sangat sulit ditebak apa kemauannya. Jadi, daripada Kenya ikut-ikutan penasaran, lebih baik dia menyudahi rasa mau tahunya itu.


"Kalau kamu tidak mau memberitahu Mama, keluar saja!" usir Kenya, dia paling benci jika sudah terlibat dengan rasa penasaran.


Arthur tersenyum, dia juga paling tahu apa yang Mamanya sedang kesalkan. Arthur berjalan mendekat ke arah Kenya, mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto anak kecil di ponselnya.

__ADS_1


"Ma, coba Mama perhatikan foto anak kecil ini, apakah mirip denganku?" Arthur menyerahkan ponselnya pada Kenya.


Kenya langsung merebut ponsel Arthur, memperhatikan foto itu dengan seksama. Kenya menganga, tanpa membandingkan wajah Arthur dengan pria kecil di dalam foto pun, Kenya sudah sangat tahu, anak itu sangat mirip dengan Arthur.


"Ar-Arthur, dari mana kamu dapatkan foto ini? Siapa anak ini? Dia benar-benar anakmu? Wa--wajah kalian sangat-sangat mirip!" seru Kenya, matanya masih fokus memperhatikan foto itu.


"Aku juga tidak tahu siapa anak itu, Ma," jawab Arthur, mengendikkan bahunya. Dia memang belum tahu identitas anak di dalam foto itu.


"Jangan bohongi Mama, Arthur. Wajah kalian tidak ada perbedaannya sedikit pun. Ini anak kamu, kan? Ayo jujur!" desak Kenya, menodong jawaban dari putranya itu.


Arthur terkekeh pelan. Dia menggelengkan kepalanya. "Entahlah, Ma. untuk sekarang aku belum mengetahui identitas anak itu. Tapi, aku akan mencarinya, Ma." Arthur berucap dengan sungguh-sungguh. Baginya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Apalagi, wajahnya dengan anak bilang itu sangatlah mirip seperti anak kembar.


"Kamu harus segera menemukan anak ini. Mama yakin dia cucu Mama, Arthur. Mungkin, dia lahir saat kamu kontraksi tiga tahun yang lalu," ucap Kenya, membuat kesimpulan yang langsung diangguki Arthur.


"Benar, Ma. Sepertinya dia memang anakku. Tapi, aku tidak tahu siapa Mommy-nya," ucapnya pasrah.


Mendengar pengakuan putranya, Kenya naik pitam. Dia langsung mendelik, semakin mendekat pada putranya itu.


"Apa katamu barusan? Berarti, dugaan Mama selama ini benar, kan? Kamu selalu membuang benihmu di rahim para wanita?!" tuding Kenya sambil menunjuk Arthur.


"Bu--bukan begitu, Ma." Arthur merebut ponselnya dari tangan sang Mama. Dia langsung berjalan keluar dengan langkah yang tergesa-gesa.


***


Sudah dua hari berlalu. Hari ini, tepat hari Kamis. Pengumuman aturan baru untuk membawa anak tepat di hari Kamis pun sudah diumumkan dua hari yang lalu. Meski banyak yang kaget dengan aturan baru yang menurut mereka semua aneh dan terlalu berbeda, tapi banyak para pegawai yang sudah memiliki anak malah merasa senang dan merasa terbantu.


Berbeda dengan Shanum, dia seperti tahu mengapa peraturan baru aneh itu mendadak dibuat oleh sang CEO kantor mereka. Dia sangat yakin, Leo pasti sudah mengadukan tentang kemiripan wajah Arsenio dengan Arthur. Dan, peraturan baru itu untuk mencari keberadaan Arsenio.


'Untung saja aku tidak tertipu dan sudah lebih dulu tahu guna peraturan baru ini. Kalau tidak, bisa-bisa keberadaan Arsenio bisa terungkap,' batin Shanum.


"Sha, kenapa kamu tidak membawa Arsen ke sini?" tanya Rima, dia melihat Shanum yang berjalan sambil membenarkan seragamnya.


Shanum menggelengkan kepalanya. "Rim, kamu pasti sudah tahu alasannya, kan?" Shanum berbicara sambil berbisik-bisik. Dia menatap Rima yang malah mengerutkan dahinya. Seolah lupa dengan alasan yang paling kuat.


"Alasan? Apa? Aku tidak tahu, Sha," ucap Rima, menaikkan bahunya.

__ADS_1


"Karena wajah Arsen dan Tuan Arthur sangat mirip, Rim. Walaupun mungkin mereka bukan ayah dan anak kandung, tetap saja aku takut kemiripan itu malah disalah pahami oleh orang lain terutama, Tuan Arthur," jelas Shanum, itu memang alasannya. Tapi, Shanum tidak sepenuhnya jujur.


"Bukannya lebih bagus. Bagaimana kalau mereka memang Ayah dan anak kandung? Kita tidak tahu, kan, Sha? Bawa saja. Jangan pisahkan anak dengan ayah kandungnya," saran Rima. "Walaupun arsenio tidak pernah mengeluhkan apa-apa tentang sosok Ayah, bukan berarti dia tidak merindukannya. Aku yakin, selama ini dia pasti sangat iri dengan teman-temannya. Cuma tidak mengungkapkannya saja, takut kamu sedih," ucap Rima lagi. Dia berharap, Shanum bisa berubah pikiran.


Rima juga merasa, keputusan yang Shanum ambil terbilang egois. "Jangan merampas haknya, Sha. Meski kamu cukup kuat untuk bisa menjadi keduanya. Tetapi, Arsenio pasti tetap membutuhkan sosok Ayah yang sesungguhnya," imbuh Rima lagi.


"Lagipula, kan belum pasti Tuan Arthur itu ayah kandung dari Arsenio. Aku tidak berani berharap setinggi itu, Rim. Jika aku berharap sebesar itu, aku takut tenggelam jika semuanya tidak benar." Lagi dan lagi, shanum terus membuat alasan untuk mengelak.


"Pria malam itu ... kamu kenal?" Rima tahu mengenai kejadian naas Shanum malam itu. Karena Shanum sendirilah yang menceritakan padanya.


Shanum menggeleng. "Mana mungkin aku mengenalnya," jawab Shanum sambil tersenyum getir. Rasanya sakit jika terus mengingat hal itu.


"Bisa saja, kan? Uang lima milyar hanya untuk one night stand? Kurasa, Tuan Arthur yang bisa melakukannya," ucap Rima.


"Entahlah, Rim." Shanum tersenyum.


Sementara itu, Shanum meminta Rio untuk mendata setiap anak yang dibawa ke perusahaan. Herannya, tidak ada anak yang mirip dengan Arthur. Tepatnya, anak yang Leo temui dua hari lalu, tidak ada di sana.


"Tidak ada, Tuan. Sepertinya, Mommy-nya sengaja tidak membawanya ke sini, pasti sengaja disembunyikan," ucap Leo dari balik telepon yang tersambung dengan Arthur.


"Itu artinya, dugaan bahwasanya dia adalah anakku itu benar." Arthur langsung membuat kesimpulannya sendiri.


"Sepertinya memang begitu, Tuan. Dan, mungkin saja mungkin dari anak itu sudah tahu tujuan kita, makanya dia memilih untuk menyembunyikan anaknya," ucap Leo lagi.


Arthur menghela nafas. Tanpa mengatakan apa pun, Arthur memutuskan sambungan telepon.


Dia meminta Sena untuk masuk ke ruangannya. Sena sangat senang. seperti biasa, wanita itu pasti akan membenarkan pakaiannya terlebih dahulu sebelum masuk, mengoleskan lipstik, dan menyemprotkan parfum sebanyak mungkin di tubuhnya. Tujuannya hanya satu, supaya Arthur tertarik dengannya.


Apalagi, aturan baru Arthur pun sukses membuat salah paham. Sena mengira, Arthur menginginkan seorang anak. Makanya sampai mengumpulkan anak-anak dari pegawai perusahaan untuk memanjakan matanya. Nyatanya, itu cuma praduga Sena saja.


"Jika dia menginginkan seorang anak, lebih mudah bagiku untuk menggaet perhatiannya," gumam Sena sambil tersenyum sinis.


Sena masuk ke dalam ruangan kantor Arthur, suara dia berdehem masih tidak menyita perhatian Arthur, seperti biasanya Arthur memilih cuek.


"Tuan, Kenapa Anda memanggil saya ke sini?" tanya Sena.

__ADS_1


"Tolong sampaikan pada kepala cleaning servis, minta Shanum untuk lembur malam ini. Ingat, cuma Shanum seorang saja!" ucap Arthur tanpa mengalihkan perhatiannya dari komputer.


*****


__ADS_2