
"Ya. Aku akan menginap di sini. Lagipula, Arsenio takut dengan guntur, aku harus menemaninya," bohong Arthur.
"Tuan, sejak kapan kau lebih mengenal putraku dibandingkan aku? Aku sudah merawatnya sampai dia berusia empat tahun. Dan kau, bagaikan orang asing. Kenapa kau--"
"Shanum, dia juga putraku," sanggah Arthur, dia benar-benar tidak suka dengan ucapan Shanum yang mengatainya orang asing.
"Mommy, Arsenio memang takut guntur. Ayolah, Mom, izinkan saja Daddy menginap, kasihan Daddy, Mom! Bannya pecah, hujannya sangat deras." Arsenio membujuk Shanum, membatu Daddy-nya, entah apa motif pria kecil itu.
"Arsenio, apa kamu tidak tahu, dua orang dewasa yang belum menikah tidak boleh berada di dalam satu ruangan, apalagi untuk waktu yang lama?" tukas Shanum, dia tahu putranya sedang membela Arthur. Kasihan memang, tapi Shanum hanya mau meminimalisir pemikiran-pemikiran buruk orang-orang terhadap dirinya.
"Tapi, kita sudah me--"
"Diamlah, Tuan!" sentak Shanum dengan mata melotot. Reflek dia juga menginjak kaki Arthur dengan kuat sampai pria itu mengaduh.
"Jangan memanggilku dengan sebutan formal itu lagi. Sebentar lagi kita akan menikah." Arthur membenarkan jasnya, padahal semuanya masih rapi.
"Dasar payah!" decak Shanum kesal.
Mereka bertiga berdiri di teras kamar teman se-kost Shanum. Wanita itu terdiam, berdebat dengan pemikirannya sendiri. Berkali-kali dia melihat langit, tidak ada yang berubah meski Shanum sangat berharap hujan dan guntur di langit segera usai. Sayangnya, langit tidak kunjung cerah dengan hiasan bintang seperti biasanya. Harapan Shanum semakin menipis kala angin mulai menggoyangkan ranting-ranting pohon. Membuat suasana semakin mencekam.
"Arsenio, masuklah! Mommy dan Daddy ma menemui Nenek kost dulu, ya!" pinta Shanum, dia tidak mau Arsenio mendengar pembicaraan orang dewasa itu. Apalagi, pembicara mereka adalah sebuah pengakuan mengenai jika mereka sebenarnya sudah menikah siri.
"Baik, Mommy. Bukakan pintunya supaya Arsenio masuk," ujarnya seraya mengangguk, terpatri senyuman di wajah imutnya. Dia mengedipkan sebelah matanya pada Arthur, kemudian mengangkat sebelah jempolnya. Memang, Ayah dan anak itu sangat kompak.
Sesudah membukakan pintu dan memastikan putranya itu masuk, kedua orang dewasa yang sudah basah itu menuju sebuah rumah utama. Mereka mengetuk pintu, tidak lama muncul seorang Nenek dengan tongkat di tangannya.
"Shanum, ada apa, Nak?" Nenek kost tercekat ketika melihat Arthur yang berdiri di belakang Shanum. Spontan, sang Nenek langsung menarik tangan Shanum agar wanita itu lebih mendekat padanya.
"Kamu … ada perlu? Kenapa menemui cucuku malam-malam begini?" tanya Nenek kost. Wanita tua itu waspada, karena beberapa hari lalu dia menemui Shanun yang menangis karena Arthur. Jadi, dia berpikir kali ini Arthur kembali menyakiti Shanum.
"Nek, tenanglah! Jangan salah paham. Kami datang ke sini karena ada suatu hal yang ingin kami bicarakan denganmu," ujar Shanum, memecah kesalahpahaman.
"Benarkah? Kalau begitu, masuklah! Di luar dingin sekali, bulu tanganku sampai berdiri semua," selorohnya, menunjukkan lengan tangannya yang tanpa bulu.
"Tidak, Nek. Kami sudah basah. Tidak mau mengotori rumah Nenek," tolak Shanum hati-hati.
"Jadi, apa yang membawa kalian datang ke sini?" tanya Nenek lagi.
__ADS_1
"Nek, a–ku mau meminta izin untuk menginap," ucap Arthur, agak ragu sebenarnya. Takut wanita tua di depannya terkejut sampai jantungan.
"Apa? Lancang sekali kamu!" Nenek menyentak tongkat kayu di tangannya. Arthur agak tersentak, tapi dia mengerti mengapa respon sang Nenek seperti itu.
"Tidak boleh. Nikahi dulu cucuku, baru kau bisa bermalam sesukamu di sini!" imbuhnya, buang muka ke arah lain. Kemarahannya membuat wajahnya memerah.
"Tapi, kamu sudah menikah." Arthur mengaku tanpa mau berlama-lama. Tubuhnya sudah basah kuyup, dan dia juga ingin segera beristirahat.
"Kapan? Jangan membual!" Tentu Nenek tidak akan percaya begitu saja. "Aturan di sini sangat ketat, kau tidak akan mendapatkan izinku untuk hal-hal semacam itu!" ketusnya, memandang sinis Arthur yang dikira sebagai otak dari semua ini. Padahal memang benar.
Arthur mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan foto pernikahannya dengan Shanum saat itu pada sang Nenek, supaya wanita tua itu percaya pada pengakuannya yang tidak main-main. Shanum terperanjat, bingung kenapa foto pernikahan mereka disimpan oleh Arthur. Bukankah pernikahan siri itu hanyalah jalan sebagai penebusan hutang? Lantas, mengapa tampak sepenting itu bagi Arthur?
'Sudalah, mungkin hanya untuk dokumentasi jika diperlukan. Mana mungkin bisa penting? Shanum, jangan terlalu banyak berpikir!' Shanum menegaskan pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu berharap pada apa yang dilihatnya.
"Kami sudah menikah … siri, Nek!"
"Kalian sudah menikah secara siri?" Nenek sangat terkejut dengan kenyataan yang baru saja dia dengar.
"Benar, Nek." Arthur mengangguk mengiyakan.
Shanum mengangguk.
"Baik, Nek." Arthur menjawab dengan pasrah.
***
Keesokan harinya, Arthur benar-benar pergi sebelum matahari terbit. Dia menuruti apa yang Nenek katakan. Juga tidak mau menjelekkan nama Shanum di depan karyawannya yang lain.
Sesudah mengantarkan Arsenio ke Day Care, dengan perasaan ragu Shanum kembali ke rumahnya.
Shanum membeli beberapa buah tangan kesukaan Ibunya, Mia. Jika bukan karena mau meminta izin untuk menikah, rasanya dia akan berpikir ribuan kali jika harus datang ke sini lagi. Bukan karena membenci sang Ibu, tetapi karena tidak siap mendengar cacian dan hinaan Ibunya itu.
"Tuhan, lindungilah aku. Jangan sampai aku mendengar semua cacian Ibu," gumam Shanum, mengendarai sepeda motornya ke desa yang dulu dia tempati. Menjadi tempat tinggalnya semasa kanak-kanak dulu.
Baru saja Shanum memasuki gaba-gaba desanya, dia sudah disambut oleh lirikan para tetangga yang tidak mungkin melupakannya kejadian empat tahun lalu. Kejadian di mana saat Shanum dipermalukan dan diusir karena dia dituduh berzina.
Dan sekarang, Shanum pulang ke desa itu, menemui Ibunya karena mau meminta restu untuk menikah dengan orang yang telah menodainya di malam itu.
__ADS_1
Kebetulan, Mia sedang mengobrol dengan para tetangga di depan rumah. Ada Rara juga di sana. Melihat kepulangan Shanum, Rara menjadi gelisah. Takut Shanum meminta pada Mia untuk kembali tinggal di desa itu lagi.
"Bu, kenapa Shanum pulang? Tumben!" Rara melirik ke arah Shanum yang memasang wajah datar.
"Pagi, Bu," sapa Shanum. Mia menatap Shanum dari atas ke bawah. Dilihatnya tentengan buah tangan yang dibawa Shanum, kemudian dia mencebik.
"Ada apa? Kenapa kamu pulang? Di mana anak haram itu?" pertanyaan Mia langsung mengiris hati Shanum. Shanum memejamkan matanya, berusaha menahan gejolak emosi yang mulai menggebu karena lagi dan lagi, Mia mengatai Arsenio anak haram. Ibu mana yang tahan?
"Bu, ada yang ingin Shanum bicarakan," ucap Shanum, tersenyum manis pada Mia. "Boleh Shanum masuk, Bu?" Meski itu rumahnya, tetapi Shanum merasa asing berada di sana. Ibunya sendiri lah yang membuatnya merasa asing akan sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya.
"Minta izin dulu sama Ayah kamu!" ketus Mia. "Karena kamu, Ayah kamu sangat malu, tahu! Sampai sekatang, dia merasa menjadi Ayah yang gagal. Walaupun dia Ayah tirimu, tidak sepantasnya kamu bersikap seperti itu!" ketus Mia.
"Ayah?" Shanum tersenyum. Kali ini terang-terangan Shanum menunjukkan senyum mengejeknya. Sejak dulu, dia tidak pernah memanggil Ayah pada suami baru Ibunya itu. Tidak ada sosok Ayah pada diri Lukman. Lagipula, Ayahnya sudah meninggal dunia, tidak akan ada yang bisa menggantikan sosok itu di hatinya, di matanya, dan dipikirannya, selamanya.
"Kenapa? Apa sampai sekarang kamu masih belum bersedia memanggilnya Ayah?" sentak Mia. "Kamu sudah mempermalukannya seperti itu, masih saja keras kepala!" bentak Mia kesal.
"Bu, Ayahku sudah meninggal dunia. Lalu, Ayah yang mana lagi? Apa sekarang, aku masuk ke rumah peninggalan Ayahku pun, harus memiliki izin dari orang asing terlebih dahulu?" tukas Shanum, suaranya lirih. Tapi, begitu menusuk Mia.
"Kata siapa dia orang asing? Dia suamiku, Ayahmu!"
"Kalau kamu tidak mau, kita tidak perlu bicara. Pulanglah! Aku tidak menerimamu di sini!" ketus Mia.
"Shanum, tumben kamu datang. Aku sangat merindukanmu, Sha. Kamu sudah lelah tinggal sendiri di luaran sana, ya? Mau tinggal di sini lagi? Baguslah!" Rara memeluk lengan Shanum, berusaha mengakrabkan dirinya pada mantan sahabatnya itu.
Shanum menepis kasar tangan Rara. Tidak sudi wanita itu memegangnya lagi.
"Ibu yakin tidak mau bicara denganku? Ibu tidak takut menyesal? Aku mau menikah, Bu."
"Menikah sama siapa kamu, Shanum? Calon suami kamu nguli di daerah mana?" tanya Rara sengaja, mengejek.
*****
Maaf, dua hari enggak update, habis perjalanan jauh😁 sisanya lelah dan sok sibuk, hehe🥺 Jangan lupa vote, like, dan hadiah 😍
Sambil menunggu author update, yuk mampir ke novel ini. Dijamin bagus banget, loh 😍
__ADS_1