Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Orang yang sama??


__ADS_3

Shanum tertegun, "Ternyata kamu bukan pemilik mobil itu, ya? Tapi, aku merasa tidak asing dengan wajah dan namamu, Tuan. Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Shanum, matanya menyipit. Menelisik wajah Leo.


Leo tersenyum sinis menatap Shanum. "Nona, jangan sembarangan bicara. Jangan sok mengenalku agar kamu tidak perlu membayar kerusakan mobil ini. Lihat, kerusakannya sangat parah dan ini murni karena kesalahanmu." Leo menunjuk bagian mobil Arthur yang penyok gara-gara kecerobohan Shanum.


"A--aku kan tidak sengaja. Lagipula, aku bukan sok mengenalmu supaya mendapatkan keri--"


"Kartu tanda pengenalmu aku tahan. Aku memberikanmu waktu selama 24 jam. Jika kau tidak bisa melunasinya, makan polisi yang akan menjemputmu!" ancam Leo.


Leo melenggang pergi, meninggalkan Shanum yang masih terpaku di tempatnya. Bertepatan dengan itu, lampu berubah menjadi hijau. Orang-orang yang merasa dihalangi oleh sepeda motor Shanum pun menekan klakson panjang, tidak sabaran karena Shanum malah termenung memikirkan nasib.


Shanum melajukan kembali sepeda motornya sambil termenung. Waktu yang Leo berikan hanyalah 24 jam. Darimana Shanum bisa mendapatkan uang sebanyak seratus juta itu?


"Gajiku kecil, aku hanya menabung seadanya saja. Mungkin, uang direkeningku pun berkisar lima juta saja. Lalu, sisanya harus aku cari ke mana?" Shanum resah, karena termenung, hampir saja dia menabrak pejalan kaki yang asal-asalan menyebrang.


"Maafkan saya, Nona," ucap seorang gadis belia, kemudian langsung pergi.


Shanum tidak berniat untuk menegur, beban berat yang sedang dipikulnya tak membuat dia mau banyak bicara seperti biasanya.


"Kau apakan gadis itu?" tanya Arthur, tatapannya masih lurus ke depan.


"Saya hanya memintanya untuk ganti rugi saja, Tuan," jawab Leo, melirik raut wajah Arthur dari kaca spion tengah. "Ini kartu tanda pengenal wanita itu, Tuan." Leo memberikan kartu tanda pengenal Shanum pada Arthur.


Arthur melirik sedikit, sebenarnya dia tidak tertarik jika menyangkut masalah ganti rugi seperti itu. Namun, dia merasa tertarik dengan Shanum, sekilas dia bisa melihat wanita itu lumayan cantik. Suara Shanum yang begitu lembut juga mendayu-dayu di telinga Arthur sampai saat ini.


"Berapa kau meminta ganti rugi?" tanya Arthur, dia melihat identitas Shanum.


'Ternyata usianya sudah 25 tahun, batin Arthur.


"Awalnya saya meminta sembilan puluh lima juta. Tetapi, wanita itu malah berkata, 'kenapa tidak sekalian digenapkan saja?' ya sudah, saya genapkan menjadi seratus juta, Tuan," terang Leo, kini dia kembali fokus menyetir.


"Sudah sepuluh tahun kau bekerja denganku, aku baru tahu kau sebodoh itu!" cibir Arthur, memasukkan kartu tanda pengenal milik Shanum ke dalam saku jasnya.


"Bodoh? Memangnya apa yang salah, Tuan?"


"Dia berkata seperti itu karena menyindirmu. Sembilan puluh lima juta saja terlalu berat untuknya, kau malah menambahkannya lagi. Berapa lama tempo yang kau berikan?" tanya Arthur.


"24 jam, Tuan. Apakah terlalu lama? Apa aku harus memberikan keringanan untuknya?" tanya Leo, setelah mendengar ucapan Arthur barusan dia cukup merasa bersalah.


"Tidak perlu. Itu sudah cukup bagus." Arthur tersenyum senang.


Dalam waktu yang bersamaan, Shanum sudah tiba di kantor. Dia melepas jaket yang melindunginya dari angin pagi yang cukup dingin. Shanum melepaskan helmnya, terlihatlah wajah kusam dan masamnya.


"Sha, kamu dari mana saja? Bu Reka sudah mencarimu dari tadi. Aku yang dimarahi, Sha!" tanya Rima, nafasnya tersengal-sengal. Dahinya mengerut melihat Shanum tidak sesemangat biasanya.


"Loh, Sha, kamu kenapa?" Rima masih memperhatikan keadaan Shanum yang berantakan.

__ADS_1


"Nanti saja aku ceritakan, ya. Sekarang aku mau menemui Bu Reka dulu," ucap Shanum, berjalan dengan langkah lunglai, meninggalkan Rima sendirian yang masih mematung.


"Ini benar-benar berbeda dengan Shanum yang biasanya. Masalah apa yang sedang menimpanya sampai dia menjadi sosok sependiam ini?" gumam Rima, mengekor Shanum dari arah belakang.


Di pantry dapur, Shanum tengah dimarahi habis-habisan oleh Bu Reka, kepala cleaning servis mereka. Rima merasa kasihan pada Shanum, dia mengerti alasan apa yang membuat Shanum selalu saja telat datang ke kantor. Rima semakin merasa kasihan karena Shanum hanya menerima semua amukan Bu Reka, tidak seperti biasanya, dia pasti mencoba untuk membela diri.


"Bu, Shanum telat karena mengantar anaknya dulu," ucap Rima, berharap Bu Reka akan mengerti dengan alasan yang selalu saja sama itu.


"Apa Rima? Kalau kamu mau ikut-ikutan, sekalian saja kamu keluar dari sini!" kecam Bu Reka sebal.


Shanum melihat ke arah Rima, dia menaruh hati telunjuk di bibirnya sebagai pertanda tidak mengizinkan Rima untuk membelanya.


"Balik bekerja sana! Sebagai hukuman, besok kamu harus datang lebih pagi. Gantikan tugas teman kamu yang tadi membantu kamu membersihkan ruangan depan!" ucap Bu Reka.


"Baik, Bu."


Bu Reka hendak berbalik, kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda karena memarahi shanum dulu tadi.


"Bu," panggil aku Shanum pelan dengan suara yang begitu lirih menyapa telinga.


"Ada apa lagi? Kamu mau mengundurkan diri karena saya meraih seperti itu tadi?" tanya Bu Reka.


Shanum menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian, dia mendongak menatap wajah Bu Reka. "Bo--bolehkah aku meminjam sejumlah uang?" tanya Shanum. Rima yang ikut mendengar pun langsung terheran-heran.


"Uang? Berapa yang mau kamu pinjam? Nanti saya sampaikan pada bagian keuangan," ucap Bu Reka.


"Seratus juta? Shanum, kamu benar-benar mau meminjam uang sebanyak itu?" tanya Bu Reka kembali memastikan, dia takut telinganya salah mendengar.


"Benar, Bu. A--aku memiliki keperluan mendesak. Selain meminjam di perusahaan, aku tidak tahu harus ke mana lagi," ucapnya, helaan nafas panjangnya mengganggarkan keresahan hatinya.


"Sha, kalau uang sebesar itu, saya tidak berani meminjamkannya. Meminjam uang sebesar itu, harus memotong gaji kamu selama setahun lebih, kan? Apa kamu sanggup untuk hal itu?" tanya Bu Reka lagi.


Shanum buru-buru mengangguk. "Aku bersedia untuk pemotongan gaji seberapa lama pun itu, Bu. Yang penting, aku harus mendapatkan uangnya," ucap Shanum lagi.


"Coba kamu temui CEO kita saja, Pak Arthur. Minta tolong secara langsung pada beliau. Mungkin, beliau berbaik hati mau meminjamkannya," saran Bu Reka.


"A--apa? Menemui CEO secara langsung? Bukannya akan susah untuk menemui CEO di sini, Bu?" tanya Shanum, ada kekhawatiran lain yang menyelimuti hatinya. Namun, Shanum juga harus menempuh jalan itu, jika hanya jalan itulah satu-satunya cara terakhir.


"Kalau kamu mau, nanti saya sampaikan pada sekretarisnya Pak Arthur. Saat Pak Arthur sedang di kantor, saya akan langsung memberitahukan kamu," tawar Bu Reka.


Shanum tahu, Bu Reka hanya bisa membantu sebisanya saja. Lagipula, memang tidak ada jalan lain yang bisa dia tempuh. Jika Shanum menyeragamkan diri pada polisi, bagaimana dengan Arsen? Siapa yang aka merawat putra kecilnya itu? Arsen pasti akan ketakutan dan membenci Ibunya nanti.


"Baik, Bu. Terima kasih untuk bantuannya," ucap Shanum, menyunggingkan senyum manisnya. Dia belum tenang, pikirannya masih mengawang. Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan lain yang disimpulkan sendiri oleh Shanum.


"Saya akan menanyakannya sekarang, biasanya jam segini pak Arthur ada di kantor," ucap Bu Reka.

__ADS_1


"Sekali lagi terima kasih, Bu."


Bu Reka pergi menemui Sena, Sekretaris Arthur untuk menanyai keberadaan Bos mereka itu. Setelah Bu Reka tak lagi terlihat, Rima bergegas menemui Shanum yang masih berdiri di tempatnya.


"Sha, ada apa? Untuk apa uang sebanyak itu? Apa terjadi sesuatu pada Arsen?" tanya Rima khawatir.


Shanum menggeleng. "Arsen baik-baik saja, Rima." Shanum menceritakan semua kejadian tadi pagi pada sahabatnya, Rima.


Mendengar cerita sahabatnya, Rima juga kaget. "Sha, maafkan aku karena tidak bisa membantumu. Semoga Pak Arthur bersedia meminjam uangnya, ya. Kasihan Arsen kalau kamu sampai dipenjara," ucap Rima.


Shanum mengangguk, itulah yang sejak tadi menjadi buah beracun di pikirannya. Shanum sudah memikirkan kemungkinan terburuk jika Pak Arthur tak meminjamkan uang. Entahlah, mungkin Arsen harus kehilangan sosok Mommy-nya untuk sementara waktu di usianya yang masih kecil.


"Sha, sekarang Pak Arthur ada di ruangannya. Temui saja sekarang, takutnya sebentar lagi dia pergi," desak Bu Reka.


"Baik, Bu. Aku akan menemui Pak Arthur sekarang juga." Shena bergegas berjalan ke ruangan CEO yang berada di ruangan paling atas di gedung itu. Sudah tiga tahun Shanum bekerja di sana, berulang kali dia melewati ruangan-ruangan itu. Tapi, tentu belum pernah memasuki ruangan atasan secara khusus. Para seniornya lah yang bertugas membersihkan ruangan CEO dan eksekutif lainnya.


Dari kejauhan, Sena melihat Shanum datang sambil celingak-celinguk. Dahinya mengerut.


"Sejak kapan ada cleaning servis secantik ini di kantor? Apakah dia baru? Sialan! Jika aku tahu dia secantik itu, kukatakan saja Pak Arthur tidak ada," gumam Sena, memasang wajah dingin dan muram saat disapa oleh Shanum.


"Ingat, ya, jangan ganjen! Kamu masuk harus menjaga tatakrama, jangan melihat wajah Pak Arthur, dia tidak suka ditatap oleh orang asing!" ketus Sena, menatap sinis Shanum.


"Baik, Nona." Shanum hanya mengiyakan dengan anggukan. Lagipula, itu hanya sebuah peringatan biasa.


Tok! Tok! Tok!


Setelah ketukan yang ketiga, barulah ada sahutan dari dalam. Suara dingin yang serak dan dominan, langsung membuat Shanum was-was. Ada rasa tak nyaman yang tiba-tiba menyusup. Kakinya meragu untuk melangkah masuk ke dalam. Tapi, jika dia tidak jadi masuk, entah ke mana lagi dia harus pergi meminta bantuan.


Shanum mencengkram ujung bajunya, sejak awal masuk ke dalam sampai saat ini berdiri tepat di depan Arthur, kepala Shanum selalu tertunduk, seperti yang Sena katakan tadi.


"Siapa kau? Aku tidak memanggil office girl ke sini," ucap Arthur.


"Maaf, Pak, Anda memang tidak memanggil saya, tapi saya yang berniat datang ke sini," ucap Shanum gemetar.


"Perlihatkan wajahmu! Apa kau tidak tahu tatakrama saat berbicara dengan atasan!" bentak Arthur. "Atau keluar!" lanjutnya.


"Maafkan saya, Pak." Shanum mengangkat kepalanya. "Sa--saya datang ke sini untuk meminjam uang sebesar seratus juta." Selesai mengatakan itu, jantung Shanum berdetak kencang tak karuan. Rasa takutnya kembali menyelimuti.


Arthur merasa tidak asing dengan wajah Shanum. Dia mengingat sesuatu, mengambil kartu tanda pengenal wanita yang menabraknya tadi pagi.


"Kau meminjam uang untuk mengganti biaya perbaikan mobil?" tanya Arthur, melipat tangannya di atas meja.


Shanum terkejut. "Benar, Pak," jawab Shanum jujur. Walaupun agak heran kenapa Arthur bisa menebak dengan tepat.


"Jadi, kau yang menabrak mobilku? Dan, sekarang kamu mau meminjam uangku juga untuk biaya perbaikan mobilku? Lalu, apa yang kau lakukan sebagai bentuk tanggung jawabmu?" Arthur masih memasang wajah dinginnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2