
Mendengar bisikan Leo yang bagaikan roh halus, Arthur segera menolehkan kepalanya ke arah asistennya itu. Dia menaikkan sebelah alisnya dengan wajah yang memasang tanda tanya besar di wajahnya. Penasaran dan amarah, itulah perasaan yang berkecamuk dalam hati Arthur saat ini.
Leo menunjuk ke arah depan, sebuah meja VIP yang sulit didapatkan di sana. Butuh satu Minggu untuk mendapatkan tempat VIP di restauran berbintang itu. Shanum yang duduk menyamping tidak terlalu jelas dilihat oleh Arthur. Namun, terlihat jelas wanita itu sedang tersenyum manis kala berbincang dengan Rexa, tangan Rexa yang menumpu tangan Shanum menumbuhkan gejolak api kemarahan di dalam dada Arthur.
Beberapa menit Arthur memperhatikan Shanum yang masih saja senyam-senyum. Entah apa yang mereka tertawai, tapi obrolan kedua insan itu tampak mengasyikkan sekali.
Tangan Arthur terkepal, matanya memicing tajam, bibirnya merapat dengan hembusan nafas pelan tetapi panjang yang mendominasi.
Leo tahu tentang kekesalan Arthur, dia tidak mau ikut campur lantaran urusan Arthur dengan Shanum, bukanlah ranahnya untuk mencampuri.
"Leo, selesaikan rapat ini sesegera mungkin!" titah Arthur, langsung pergi begitu saja tanpa ada penghormatan apa pun pada client mereka yang tercengang melihat sikap pria itu.
"Tuan Leo, kenapa Tuan Arthur pergi begitu saja? Apakah dia tidak puas dengan penyampaian kami sehingga dia merasa jenuh? Jadi, kerjasama ini tidak jadi dilakukan?" tanya clientnya pada Leo, keringat sebesar biji jagung sudah mengaliri dahinya. Sungguh, dia sangat memiliki harapan besar kerja sama ini dapat dilangsungkan.
"Maaf, Tuan-tuan, sepertinya ada hal mendesak lain yang harus Tuan Arthur lakukan. Mengenai kerja sama ini, bisa kita bicarakan di lain waktu. Anda dapat membuat janji kembali dengan pihak kami. Sekali lagi mohon maaf," ucap Leo, mengatupkan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum manis. Kendatipun penyampaian mereka membosankan sikap Arthur juga tidak bisa dibenarkan.
"Aku mengerti, Tuan Arthur pasti sedang kesal. Kali ini dia sangat berbeda. Biasanya, dia tidak peduli dengan gadis-gadis lain," gumam Leo, berjalan cepat ke arah parkiran, di mana mobilnya berada.
Dugaan Leo benar, Arthur memang sedang dalam mobil. Dia sedang menghubungi seseorang, entah siapa Leo pun tidak tahu dan tidak berani bertanya.
Leo duduk di kursi kemudi, melihat gerak-gerik Bosnya dari kaca spion tengah mobil.
"Tuan, kita pulang sekarang? Masalah dengan client kita sudah saya selesaikan," tanya Leo, sekali lagi dia melirik ke arah Arthur.
"Tidak." Cuma satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Untung saja, Leo masih dapat mengerti apa yang dimau oleh Bosnya itu.
Arthur mengepalkan tangannya, bayangan saat Shanum tertawa bahagia bersama orang lain masih melekat dalam hatinya. Dia tidak bisa terima perlakuan wanita itu. Jelas-jelas dia masih menjadi istri dari seorang Arthur, kenapa memiliki keberanian besar untuk pergi makan malam dengan pria lain? Arthur tidak henti-hentinya merapalkan umpatan dari mulutnya, bisikan lirih yang terdengar Leo, tak cukup jelas tapi sudah cukup memberitahukan jika Bosnya itu sedang memendam kemarahan.
Sudah tiba puluh menit berlalu, tapi Shanum tidak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Leo menyandarkan punggungnya, memejamkan matanya, matanya terasa sangat berat, kantuk yang menyerangnya pun seolah tidak mau mengerti.
"Leo, jemput wanita itu! Bawa dia ke hadapanku!" titah Arthur, sudah tiba puluh menit menunggu, kesabaran Arthur yang cuma setipis tissue itu sudah habis terlumat api kemarahannya yang berkobar-kobar.
Arthur sengaja tidak mengunci pintu mobilnya agar Shanum bisa mudah masuk ke dalam mobil. Yang tidak dia duga, malah ada orang lain yang sengaja masuk ke dalam mobil Arthur karena mengenali mobil milik pria itu.
"Arthur! Ternyata memang kamu!" seru seorang wanita berpakaian minim, tersenyum senang begitu melihat wajah Arthur. Tanpa basa-basi wanita itu duduk di pangkuan Arthur, mengeluhkan tangannya di leher Arthur.
__ADS_1
"Arthur, kamu ke mana saja? Aku merindukanmu...." Suara lembut serta mendayu-dayu itu terdengar menggoda. Tidak segan wanita itu memainkan tangannya di dada bidang Arthur, bermaksud menggoda.
"Lepaskan, Key! Aku tidak Sudi disentuh ****** seperimu!" ketus Arthur, menolak Key sampai terjerambab ke bawah.
"Aw! Arthur! Kau benar-benar keterlaluan!" Key meringis, bokongnya terasa sangat sakit.
Arthur melipat kakinya, hanya melirik Key sekilas, kemudia menatap ke depan lagi, ke arah pintu masuk, menunggu datangnya Shanum.
"Arthur, aku merindukanmu. Sudah lama kami tidak mendatangiku! Aku membutuhkan sentuhanmu, Arthur! Ayolah! Bercinta di dalam mobil juga sangat nikmat. Kamu ... pasti belum pernah merasakan sensasi baru bercinta di dalam mobil, kan?" Key *******-***** senjata sakti milik Arthur, dia tidak peduli dengan tatapan tajam pria itu.
"Arthur, ayolah! Kau selalu suka dengan jilatanku, bukan? Kenapa kali ini malah sok-sokan tidak peduli?" Key semakin kencang meremas batang itu, berusaha untuk menegakkannya.
"Keluar!" Satu kata Arthur sudah cukup membuat Key ketakutan. Suara dingin pria itu membekukan keberanian Key. Tangannya yang tadi sibuk memijat batang Arthur, mendadak terhenti. Ditatapnya manik hitam Arthur yang dulu selalu memberikan kehangatan untuknya.
Sekarang, tidak ada lagi kehangatan seperti dulu lagi. Wajah datar Arthur terlalu sulit untuk ditebak.
"Arthur, kenapa kau ma--malah mengusirku? Aku hanya meminta apa yang seharusnya kau berikan pa--padaku!" Untuk mengatakan kalimat singkat itu saja, Key harus menelan salivanya.
"Arthur, kau pasti merindukan aroma dan sentuhanku, kan? Ayolah! Jangan jual mahal!"
Tatapan Arthur semakin tajam. Dia begitu jijik dengan sentuhan Key, wanita ****** yang terkenal dikalangan atas. Namun, setelah bersama Arthur, wanita itu tidak pernah menjajakan dirinya lagi. Selalu mengikuti ke mana pun Arthur pergi, mencari-cari kabar serta keberadaan Arthur karena dia ingin Arthur kembali menyentuhnya dan menjadikannya ****** pria itu untuk selamanya.
"Keluar!" Sorot mata Arthur semakin menajam. Dia menarik tissue dan mengelap tempat-tempat yang dipegang Key.
"Arthur, kau keterlaluan! Demi kamu, aku tidak lagi menjual diriku pada siapa pun. Aku hanya menunggu kamu. Tapi, kamu malah menolakku seperti sampah!" Key menangis, biasanya tangisan buayanya bisa melemahkan hati siapa pun, kecuali Arthur.
"Diamlah! ****** sepertimu sangat menjijikkan! Keluar sekarang atau aku akan melenyapkanmu!" kecam Arthur.
Key ketakutan, dia buru-buru mengeluarkan sebuah kartu nama miliknya dan memberikannya ke tangan Arthur langsung.
Bersamaan dengan itu, Leo menghampiri Shanum atas perintah Arthur. Wanita itu sedang tersenyum senang, menanti kedatangan orang tua Rexa yang tidak diketahui di mana keberadaannya. Karena, sejak tadi mereka menunggu, orang tua Rexa tidak juga datang. Katanya, Rexa sudah menghubungi orang tuanya berulang kali, tapi tidak ada jawaban apa pun dari mereka. Begitulah kata Rexa pada Shanum, dan wanita itu mempercayainya.
Sejak tadi, senyuman dan genggaman tangan yah dilihat Arthur mereka lakukan karena sedang latihan supaya tidak gugup di depan orang tua Rexa. Arthur yang melihat tanpa bisa mendengar apa saja yang Shanum dan Rexa katakan, menyalahpahami kedekatan dua orang itu.
"Selamat malam, Nina Shanum," ucap Leo, yang entah sejak kapan pria itu sudah berdiri di samping Shanum.
__ADS_1
"Le--leo?" Shanum kaget, dia langsung mengitari sekitarnya, mencari keberadaan Arthur. Tapi, seseorang yang dicari nyata bisa ditemukan di mana pun. Karena itulah Shanum menghela nafas lega.
Tapi, kelegaan Shanum tidak bertahan lama setelah dia menyadari, kehadiran Leo pasti pertanda bencana yang akan datang.
"Leo, ada apa?" Shanum bertanya, dia melirik raut wajah Rexa yang juga memperlihatkan keheranan, pria itu pasti bertanya-tanya kenapa Leo menghampiri Shanum.
"Nona, ayo ikut saya!" ajak Leo, senyuman manis memenuhi wajahnya.
"Maaf, Tuan Leo, Nona Shanum harus menemani saya. Tolong hargai saya di sini," sela Rexa, dia tidak terima jika Shanum dibawa oleh Leo begitu saja.
"Maaf, Tuan, tapi Nona shanum harus ikut dengan saya." Leo pun harus memenuhi permintaan Bosnya.
"Kenapa harus ikut denganmu?" Rexa geram, susah dia membujuk Shanum supaya bersedia Malkan malam, Leo malah mau merebut Shanum darinya. Bahkan, apa yang ingin Rexa sampaikan belum satu kata pun dia ucapkan. Apakah semua usahanya akan berakhir sia-sia begitu saja? Tentu tidak boleh, bukan?
"Nona Shanum, ayo ikut dengan saya. Tuan Ar--"
"Baiklah. Aku akan ikut denganmu," potong Shanum, dia tidak membiarkan Leo menyebut nama Arthur di depan Rexa. Hubungan tersembunyi ini tidak boleh ada yang mengetahuinya.
"Shanum, kenapa kamu mau ikut dengannya? Kamu tidak ingat dengan janjimu sendiri?" Rexa juga mempertanyakan keputusan shanum yang lebih memilih meninggalkannya.
"Maafkan aku, Rexa. Sampaikan maafku pada kedua orang tuamu. Aku memiliki keperluan lain yang harus segera dituntaskan. Kita buat janji lain kali, ya!" ucap Shanum, mengatupkan tangannya sebagai permohonan maafnya pada orang tua Rexa. Lagipula, sudah hampir satu jam dia menunggu, orang tua Rexa tidak kunjung datang seperti yang pria itu katakan sejak awal.
"Baiklah. Hubungi aku jika kamu punya waktu," ucap Rexa, memilih mengalah. Sejujurnya, dia juga sangat penasaran, kenapa Shanum bisa memiliki hubungan dengan asisten CEO tempatnya bekerja.
"Di mana dia?" tanya Shanum, berjalan di belakang Leo yang menuntun jalan.
"Tuan Arthur menunggu di mobil, Nona."
Shanum merasa hidupnya sangat sial. Sebelum dia bisa melepaskan dirinya dari Arthur, Shanum bisa dijamin hidupnya tidak akan tenang seperti dulu. Ke mana dia pergi, Arthur seolah selalu mengekorinya.
"Apakah kalian membuntutiku?" tanya Shanum kesal.
Leo tertawa mendengar pertanyaan Shanum. Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nona."
saat mereka sudah berada di dekat mobil Arthur, seorang gadis berpakaian minim baru saja keluar dari mobil itu sambil membenarkan pakaiannya yang ketat. Pikiran Shanum langsung negatif, dia tersenyum sinis. Dia sangat membenci pria semacam Arthur.
__ADS_1
"Kau lihat itu, kan, Tuan Leo?" Shanum menunjuk dengan lirikannya. "Malam ini, aku jadi wanita keberapa?" tanya Shanum sambil terkekeh pelan.
*****