
"Daddy? Kamu tau di mana Daddy-mu?" tanya Miss Alea.
Arsenio mengangguk. "Tahu, Miss. Miss mau kan mengantarkan Arsenio?" tanya Arsen lagi dengan mata berbinar-binar.
Miss Alea mensejajarkan posisinya dengan Arsenio. Dia menatap lekat netra hitam Arsenio, semakin ditatap, pria kecil itu semakin memberikan wajah yang teramat yakin pula.
Miss Alea merasa kasihan pada Arsenio, dia merasa pria kecil di hadapannya sedang memintal rasa kasihan dari dirinya. Pengakuan Shanum, Daddy dari Arsenio sudah tiada. Jadi, bagaimana bisa anak itu meminta Miss alea untuk mempertemukan dia dan Daddy-nya.
"Miss, kenapa terus menatap Arsenio seperti itu?" tanya Arsen, lama-lama dia merasa risih ditatap begitu oleh Miss Alea.
"Arsen, apakah ada yang mengejekmu tidak punya Daddy? Atau, Arsen sedang merindukan Daddy?" tanya Miss Alea, menggengam tangan Arsenio dengan erat.
Alis Arsenio saling bertautan, dia tidak paham dengan pertanyaan yang Miss Alea ajukan. Makanya dia terdiam, tidak menjawab apa pun. Menunggu Miss Alea untuk melanjutkan ucapannya supaya dia bisa paham.
Namun, diamnya Arsen, membuat Miss Alea jika dugaannya itu benar adanya. Arsenio terkejut sekaligus semakin bingung kala Miss Alea memeluknya dan mengusap-usap punggungnya.
Bukan hanya itu, Miss Alea juga menangis dalam pelukan Arsenio. Arsenio yang tidak paham tidak berniat melerai pelukan Miss Alea, dia menahan pelukan itu, terdiam dengan wajah datar.
"Jangan menangis lagi, Miss. Tidak apa-apa, kok," ucap Arsenio, bermaksud untuk menenangkan Miss Alea. Arsenio berpikir, mungkin saja Miss Alea memiliki masalah sendiri dan sedang membutuhkan sebuah pelukan hangat dari seseorang. Makanya, dia menahan pelukan dari wanita itu.
Miss Alea menarik diri dari pelukannya. Dia menghapus sesuatu dari wajah Arsenio dengan kedua tangannya. Padahal, Arsenio tidak menangis. Entah apa yang Miss Alea hapus di wajah pria kecil itu. Semua perlakuan Miss Alea membuat Arsenio semakin bingung.
"Bagaimana Miss tidak merasa sedih, Arsenio. Kamu sedih karena teman-teman kamu selalu meledek kamu, kan, Sayang? Kamu pasti sedih karena teman-teman kamu yang lain dijemput oleh Daddy-nya, sedangkan kamu tidak. Kamu ... merindukan Daddy, kan?" Miss Alea menarik nafas panjang.
"Makanya meminta Miss mengantarkan kamu untuk bertemu dengan Daddy, kan?" tanya Miss Alea sok tahu.
mendengar semua penuturan Miss Alea, Arsenio menghela nafas lebih panjang nan berat. Bahkan pria kecil itu memutar kedua bola matanya karena jengah dengan kesalahpahaman Miss Alea.
"Miss, Mommy sudah berbohong padamu," ucap Arsenio. "Daddy-ku belom meninggal dunia, Miss. Aku tahu siapa Daddy-ku, maknanya Arsen mau menemuinya," ucap Arsen, berharap Miss Alea mau mendengar ucapannya barusan.
"Apa katamu?" Miss Alea kaget. "Mommy kamu berbohong sama Miss?" tanya Miss Alea menanyakan kejelasan.
Arsen mengangguk. Dia melepas paksa pelukan Miss Alea darinya. Kemudian, Arsenio mengeluarkan gadgetnya dan memperlihatkan foto Arthur pada Miss Alea.
"Bagaimana, mirip, kan?" ucap Arsenio, menyamakan wajahnya dengan Arthur yang berada di foto.
__ADS_1
Miss Alea mengerutkan keningnya, dia tentu sangat tahu siapa pria yang Arsenio tunjukkan. Wajahnya memang sangat-sangatlah mirip dengan pria kecil itu. Namun, apakah benar jika Tuan Arthur Daddy dari Arsenio? Apa karena wajahnya mirip, Arsenio hanya mengarang, berharap punya Daddy karena merindukan Daddy-nya yang sudah tiada?
'Bagaimana mungkin seorang Arthur memiliki anak? Selama ini dia masih single, belum menikah. Lagipula, darimana Arsenio mendapatkan foto Tuan Arthur? Dari internet? Atau, dari siapa?' batin Miss Alea bertanya-tanya.
Karena rasa penasarannya sudah membuncah, Miss Alea memutuskan untuk bertanya pada pria kecil di depannya yang masih menatapnya dengan tatapan penuh harap.
"Arsenio, darimana kamu mendapatkan foto ini?" tanya Miss Alea, dia menangkup wajah Arsenio sampai pipi pria kecil itu menggumpal. "Dari internet, atau ada orang lain yang memberikannya?" lanjut Miss Alea, dia penasaran kenapa foto Arthur, dan bisa semirip itu.
Arsenio mengangguk, dia melepaskan tangan Miss Alea dari wajahnya.
"Mommy yang menunjukkan padaku, Miss. Katanya, ini foto Daddy," ujarnya jujur. "Setelah Arsen amati, wajah kami berdua memang sangat mirip. Tidak mungkin juga Mommy berbohong, bukan?" Rasanya Arsen begitu jengah menjelaskan berulang kali seperti itu. Namun, ketika meminta bantuan pada orang lain, mana mungkin dia marah-marah atau ketus.
"Hufftt!" Arsenio mengelus dada dengan helaan nafas panjang. Melihat tingkah Arsen, Miss Alea menahan senyum. Dia tahu, Arsen mulai kesal dan bosan menjelaskan padanya.
"Jadi, kamu mau bertemu dengan Daddy? Kamu ... yakin ini Daddy kamu, Nak?" Sekali lagi Miss Alea bertanya. Dia masih sedikit ragu, karena Mommy-nya berbicara lain lagi.
Arsenio terdiam lama. Kemudian, dia menggeleng beberapa kali. Setelahnya, Arsenio kembali menganggukkan kepalanya samar. Antara yakin dan tidak. Jawaban Arsenio yang fifty-fifty membuat Miss Alea semakin gamang.
"Jadinya kamu yakin tidak, Sayang?" tanya Miss Alea, dia menatap lekat netra hitam Arsenio. Baru kali ini dia menatap wajah Arsenio sambil membandingkan dengan wajah Arthur.
"Arsenio yakin, Miss. Tetapi, keyakinan itu juga memerlukan sebuah pembuktian, kan? Makanya, Arsen meminta bantuan pada Miss untuk menemani Arsenio menemui Oma," ucapnya sambil menunduk. "Tapi, kalau Miss tidak mau juga tidak masalah kok. Mungkin, Miss sedang sibuk," ucapnya lagi cepat.
"Arsen bisa pergi sendiri," sambungnya, sedikit mengancam.
"Baiklah. Miss minta izin sama yang lain dulu, ya, Sayang." Miss Alea mengusap pucuk kepala Arsenio. Sontak, pria kecil itu langsung menyunggingkan senyum senangnya. Dia mengangguk hingga beberapa kali.
"Terima kasih karena sudah mau menemaniku, Miss!" serunya senang.
Arsenio melihat jam di pergelangan tangannya, dia tersenyum karena melihat, masih ada satu jam lagi untuk bertemu dengan Kenya, Mama dari Arthur. Beberapa hari ini Arsenio juga sangat giat mencari informasi mengenai kegiatan apa saja yang Kenya lakukan disetiap harinya. Barulah dia bisa mencari kesempatan untuk bertemu dengan wanita itu, tanpa harus menyia-nyiakan waktunya.
"Maafkan Arsenio, Mommy. Arsen tahu Mommy tidak mengizinkan Arsen bertemu dengan Daddy dan keluarganya. Tetapi, Arsen membutuhkan mereka. Arsen sayang Mommy!" gumam Arsenio, agak merasa bersalah pada Mommy-nya.
Setelah mengurus semuanya, Miss Alea memesan taksi online. Dia membawa Arsenio ke sebuah perumahan kawasan elit yang ditinggali Kenya bersama seorang putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri.
Sepanjang jalan, bukan Arsenio yang deg-degan, tapi Miss Alea. Dia takut Kenya adalah seseorang yang galak dan akan menyakiti Arsenio dengan tindakan maupun perkataannya.
__ADS_1
"Miss, kita sudah hampir sampai, kan?" tanya Arsenio, membuyarkan lamunan Miss Alea.
Miss Alea tersenyum simpul, dia menggeleng pelan. "Sepertinya belum, Arsenio. Kamu sudah tidak sabar mau bertemu dengan Oma, ya?" tanya Miss Alea, mengusap lembut kepala Arsenio.
Arsenio manggut-manggut. "Benar, Miss. Arsen ingin sekali melihat Oma," jawabnya membenarkan pertanyaan Alea.
"Sabar, ya, sebentar lagi kamu pasi akan bertemu dengan Oma kamu," ujar Miss Alea.
Seusai pembicaraan singkat itu, Miss Alea membuang muka ke arah lain. Sudah terlanjur sejauh ini, dia baru agak meragu karena telah membantu Arsenio mencari keberadaan Oma dan Daddy-nya. Jika bisa dikatakan, bukankah ini bukan ranah wanita itu. Tapi, melihat permohonan Arsenio, Miss Alea merasa kasihan. Apalagi, saat Arsenio meluncurkan ancaman seperti itu tadi, dia takut Arsenio benar-benar pergi sendiri dan akan terjadi sesuatu yang membahayakan. Kendatipun belum tentu, bagaimana jika benar-benar terjadi? Perasaan bersalah pasti akan terus mencambuk relungnya nanti.
"Nona, kita sudah sampai," ucap Pak supir, mengalihkan tatapan Miss Alea. Dia melihat ke samping, memang rumah yang sangat megah dan mewah. Tidak heran, jika rumah itu dimiliki oleh pemilik Arthur Group.
Miss Alea membayar tagihan. Sejak mereka turun, mereka berdua sudah menjadi target tatapan dua orang satpam bertubuh kekar yang menjaga rumah mewah milik Kenya.
Miss Alea merasa risih, memang sudah seharusnya satpam itu merasa agak curiga atas kehadiran Miss Alea dan juga Arsenio.
Miss Alea mengedarkan pandangannya, memang rumah itulah yang paling megah.
"Arsen, itu rumahnya." Miss Alea menunjuk rumah Kenya. "Sekarang, kita mau ke mana? Masuk ke dalam dan bertemu dengan pemiliknya? Miss yakin, pasti akan sulit," ucap Miss Alea, memperhatikan rumah mewah itu yang tampak sepi.
"Tidak usah, Miss. Kita menunggu di sini saja."
"Menunggu di sini?" Miss Alea agak kaget, matahari mulai condong ke atas, cuaca sangat panas. Bagaimana mungkin mereka menunggu di sana.
"Panas, Arsenio. Kita tunggu di sana saja, ya?" Miss Alea menunjuk ke arah pohon rimbun yang berada di rumah tetangga Kenya.
"Tidak, Miss. Itu, mobil Oma sudah kelihatan!" Miss Alea mengerutkan keningnya. Kendati demikian, dia tetap mengikuti arah telunjuk Arsenio.
Memang benar, terlihat sebuah mobil hitam yang sedang melaju ke arah mereka. Yang Alea bingungkan, kenapa Arsenio tahu itu mobil milik Kenya. Sudah seberapa sering dia datang ke sini.
Arsenio melepaskan pelukan Miss Alea. Ketika mobil itu sudah dekat, dan berhenti di depan pagar tinggi rumah Kenya, Arsenio segera berlari ke arah mobil itu dan berteriak kencang.
"Oma! Oma!" pekiknya supaya Kenya yang berada di dalam mobil melihatnya.
*****
__ADS_1
Halo, kalau suka dengan Novel ini jangan lupa vote, Lika, komen, dan beri hadiah sebanyak-banyaknya, ya! Terima kasih untuk yang sudah membaca sampai bab ini🙏🥰