
"Tahu darimana kamu? Kenapa bisa tahu sampai sedetail itu?" pertanyaan Kenya menyadarkan Arthur jika dia suda terlalu banyak bicara.
Arthur menghela nafas panjang. Dia bingung tapi tetap harus mengambil ketegasan. Bagaimana mungkin dia membiarkan ada orang yang mengatai Shanum ini dan itu, padahal wanita itu tidak seperti itu.
"Kenapa kamu diam?" Kenya kembali bertanya. "Jika memang dia bukan wanita seperti itu, pertemukan Mama dengannya. Mama mau menilai sendiri, dia itu wanita seperti apa. Pantaskah menjadi Mommy dari cucuku!" ucap Kenya, dia masih memicingkan matanya pada Arthur yang kembali diam.
"Jangan hanya diam, Arthur. Mama tau kamu sudah pernah bertemu dengannya. Makanya kamu bisa membelanya sampai seperti itu. Kalau kamu tidak mau mempertemukan Mama dengan wanita itu, Mama akan cari tahu sendiri!" Sebuah ancaman terlontar dari bibir Kenya. Keinginannya untuk bertemu dengan Mommy dari Arsenio sangatlah besar.
"Ma, wanita itu tidak pantas bersama dengan Kak Arthur. Anaknya sendiri saja sudah mengatakan hal itu," sela Clarissa, dia tetap akan berusaha untuk menjauhkan wanita-wanita dari Arthur.
"Maaf, Tante, saya menyela sedikit. Setahu saya, selama ini Mommy-nya Arsenio adalah orang yang sangat bertanggung jawab dan juga baik. Tidak mungkin dia menelantarkan Arsenio. Dia seorang Mommy yang sangat pantas, selalu mengajarkan hal-hal yang baik pada putranya itu," ucap Miss Alea, membela Shanum seperti apa yang dia ketahui saja.
"Diamlah! Kamu tidak berhak ikut campur. Apa yang kamu tahu?" sentak Clarissa, dia tidak suka ada yang membela Shanum sehingga mengubah pandangan Kenya yang rusak terhadap wanita itu.
"Saya hanya menyampaikan apa yang saya tahu. Setahu saya, orang yang tidak tahu apa-apalah yang tidak seharusnya berbicara. Dia tidak mengenal orang yang sedang dibicarakannya, tapi terus mengatakan keburukan tentangnya. Bukankah itu perilaku yang sangat tidak baik?" balas Miss Alea, dia melawan tanpa takut. Selagi benar, untuk apa takut. Itulah yang pernah Shanum sampaikan padanya dulu saat Miss Alea tertimpa masalah dengan orang tua anak asuhnya.
Clarissa semakin berang karena Miss Alea berani menyahuti ucapannya. Dia berdiri sambil berkacak pinggang, matanya melotot tajam ke arah Miss Alea yang hanya diam terpaku dengan tingkah bar-bar Clarissa. Sambil mengepalkan tangannya, Clarissa mulai berucap, "Kenapa banyak sekali bicaramu? Bisakah kau diam saja? Kau pikir, siapa dirimu? Hanya pengasuh anak sialan ini saja, kan? Kau sud--"
"Clarissa!" Arthur membentak Clarissa, dia sangat-sangat tidak suka dengan umpatan yang Clarissa layangkan pada putranya. "Perjelas ucapanmu barusan!" Arthur menggeram marah.
Clarissa terhenyak, tanpa sadar dia malah mengumpati Arsenio. Itu memang kata-kata hatinya yang terluapkan. Tetapi, Clarissa juga sadar, tidak semestinya dia mengungkapkan kata-kata kasar itu di depan Kenya dan juga Arthur. Sekarang, dia tidak berani menoleh pada Arthur yang wajahnya sudah merah padam.
"Kak, bukan itu maksudku," ucap Clarissa lirih, sedikit pun dia tidak berani menoleh.
"Sudah-sudah, jangan berdebat di depan tamu!" Kenya berusaha menengahi. Dia tahu, mulut Clarissa memang sudah keterlaluan, pantas jika Arthur marah.
"Miss, kami akan mengantar Arsenio pulang. Terima kasih sudah menemani Arsenio menemui kami di sini," ucap Kenya pada Miss Alea, mengulas senyuman manis pada wanita itu.
"Tapi, Arsenio benar-benar diantar pulang, kan, Bu?" tanya Miss Alea. "Bukannya saya takut atau bagaimana. Soalnya, Arsenio ini tanggung jawab saya, jika terlalu lama, Mommy-nya pasti akan mencari Arsenio," ujar Miss Alea, tanpa dia menjelaskan secara gamblang pun, Kenya dan Arthur sudah sangat mengerti.
"Pasti, Miss, tidak perlu khawatir," ucap Kenya.
__ADS_1
"Baiklah, saya permisi," ucap Miss Alea.
Saat wanita itu beranjak, Arsenio turun dari pangkuan Daddy-nya, dia bergegas menuju Miss Alea yang belum keluar dari pintu.
Arsenio mencium punggung tangan Miss Alea seraya berucap, "Terima kasih, Miss, sudah mengantar Arsenio menemui Daddy dan Oma," ucap Arsenio sambil tersenyum.
"Sama-sama, Sayang," jawab Miss Alea, mengusap lembut pucuk kepala Arsenio.
Dia bergegas keluar, meninggalkan Arsenio bersama dengan keluarga barunya.
Arsenio kembali duduk bersama Arthur, dipangkuan Daddy-nya.
"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Arthur, direngkuhnya pria kecil itu, ditatapnya wajah yang sangat mirip dengannya itu, sungguh hatinya terasa seperti tercambuk.
"Tidak ada, Dad. Arsen cuma mau di sini, sama Daddy, sebentar, ya?" ucap Arsenio, memeluk Arthur dengan erat.
"Ayo ke kamar Daddy. Nanti, sekalian pulang, kita beli mainan yang kamu mau, ya?" ucap Arthur, mengecup dahi Arsenio, putranya.
"Tidak perlu mengucapkan terima kasih, Sayang. Aku Daddy-mu, memang sudah seharusnya memberikan ini dan itu untukmu," ujar Arthur, baginya membelikan apa yang Arsenio mau memang sudah menjadi kewajibannya. Jadi, Arsenio tidak perlu mengucapkan terima kasih seperti itu.
Arthur meletakkan putranya di atas ranjang. "Tidak, Daddy, kata Mommy, Arsen harus mengucapkan terima kasih pada semua orang yang sudah memberikan Arsen sesuatu dan orang yang sudah membantu Arsenio," ucapnya, menampik ucapan Arthur barusan. Tidak setuju dengan pernyataan Daddy-nya.
"Mommy kah yang mengajarkan semua itu padamu?" tanya Arthur, duduk di tepi ranjang, di samping Arsenio.
Arsenio menganggukkan kepalanya. "Benar, Daddy. Dan, kalau mau meminta bantuan pada seseorang, Arsenio harus mengucapkan tolong terlebih dahulu. Kata Mommy, kata tolong membuat seseorang yang Arsen mintai bantuan merasa lebih dihargai," ujarnya lagi, sambil menunjukkan senyum manisnya. Saat tersenyum, mata Arsenio akan menyipit, malah wajahnya jadi mirip Shanum.
"Begitukah?" Arthur mengusap lembut rambut Arsenio yang begitu lembut.
Arsenio hanya mengangguk, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan kedua kakinya yang masih bergelantungan di tepian ranjang.
"Ahh... empuknya, Dad!" ucap Arsenio.
__ADS_1
Arthur tersenyum dengan perasaan yang tidak menentu. Dia menatap Arsenio, anak kecil dengan kisaran usia hampir empat tahun itu begitu pintar dan bijak saat berbicara. Arthur yakin, itu bukan hanya pengaruh lingkungan saja, tetapi ada pengaruh dari ajaran Shanum yang paling besar.
Makanya kita sering mendengar kalau Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Kenapa ibu sebagai madrasah pertama?
Karena peran ibu sangatlah penting untuk tumbuh kembang anak, dan ibu juga menjadi sosok yang akan menentukan sukses tidaknya seorang.
Dimana Ibulah sebagai sosok pertama yang akan menanamkan norma-norma kebaikan sekaligus menjadi teladan dalam bersikap. Ibu merupakan seorang figur yang akan menjadi contoh bagi anak-anaknya.
"Arsen, apakah selama ini kamu sangat merindukan Daddy?" tanya Arthur, masih memandangi wajah putranya dengan seksama.
Arsenio menggelengkan kepalanya. "Tidak, Daddy," jawabnya, membuat dahi Arthur mengerut. Dia bingung.
"Kamu ... tidak merindukan Daddy?" tanyanya sekali lagi, memastikan.
"Sebenarnya rindu, tapi tidak terlalu," jawabnya lagi. "Yang paling Arsen inginkan, ya seperti anak-anak lainnya. Bahagia dengan kedua orang tuanya. Sesederhana itu, Dad," ucapnya, memandangi langit-langit kamar Arthur yang bergaya modern dengan warna putih yang lebih dominan, membuat kamar itu terlihat nyaman bagi siapa saja termasuk Arsenio.
"Kenapa? Selama ini, kamu sudah tahu, kan, kalau Daddy adalah Ayah kandung kamu? Sejak kapan Mommy memberitahu kamu?" tanya Arthur begitu penasaran.
"Baru-baru ini saja, Dad. Itupun Mommy terpaksa menunjukkannya karena Arsen selalu mendesak. Tapi, ...." Arsen terdiam, dia kembali duduk tegak di samping Arsen.
Ditatapnya Arthur yang sudah menaikkan sebelah alisnya.
"Hum?" tanya Arthur dengan deheman.
"Tapi, kata Mommy, Arsen sudah tidak bisa seperti anak-anak lain, Arsen tidak lagi punya Daddy. Karena ... kata Mommy, Daddy Arsen sudah lama mati!" ucap Arsenio serius.
*****
Halo, siapa yang suka sama Novel ini?
Ayo, kasih ulasan bintang limanya, dong!😍🤭
__ADS_1