Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Dia yang Menjualmu


__ADS_3

Shanum dan Rima membulatkan mata mereka ketika Arsenio yang sedang tertidur berada dalam gendongan Arthur. Rima menyenggol lengan Shanum sambil terbata-bata dia berkata, "Sha, bukannya itu Arsenio? Kenapa bisa sama Pak Arthur?"


"Ya. Itu memang Arsenio! Putraku!" ucap Shanum.


Shanum terpaku dengan mulut menganga. Sungguh dia sangat tidak menyangka Arsenio akan bersama dengan Arthur. Padahal, sebisa mungkin dia sudah menyembunyikan putranya itu. Tetapi, kenapa sekarang Arsenio bisa bersama dengan Arthur? Jika sudah begini, Shanum tidak akan bisa mengelak lagi. Dia tidak akan bisa berkelit lagi.


"Sha, kenapa Arsenio bisa bersama dengan Pak Arthur? Sebelumnya kamu tahu hal ini?" tanya Rima, dia menyenggol lengan Shanum yang masih membisu.


Shanum menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, Rim. A--aku juga heran kenapa Arsenio bisa bersama dengan Arthur," jawabnya dengan tangan yang mengepal. Mata Shanum begitu tajam menatap Arthur yang dianggapnya sangat lancang sudah membawa Arsenio tanpa izin darinya.


Dengan langkah besarnya, Shanum mengambil alih Arsenio dari gendongan Arthur. "Berikan putraku padaku!" ucapnya dengan tegas. Tidak ada senyuman yang terlukis dari bibirnya, bahkan dia melirik tajam Arthur dengan ujung matanya.


Shanum berjalan ke arah Rima, memberikan Arsenio yang masih terlelap pada sahabatnya itu. Dia mengelus pelan pipi Arsenio, air matanya menetes.


"Rima, tolong jaga Arsenio sebentar, ya. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan pria itu dulu," ucap Shanum, meminta tolong pada Rima.


"Iya, Sha." Rima tidak mau mengatakan apa-apa. Dia tahu pikiran sahabatnya sedang kacau, hatinya sedang panas, berada dalam kemarahan. Rima bergegas masuk ke dalam kamar kost Shanum, menidurkan Arsenio di atas ranjang.


"Arsen, berdoalah Daddy dan Mommy-mu tida akan bertengkar. Semoga mereka berdua baik-baik saja," ucap Rima, ingin mengintip tapi niatnya itu segera dia urungkan.


Shanum kembali menemui Arthur. Dia menarik kasar tangan Arthur ke arah pohon rimbun yang berada di dekat pintu pagar kos-kosan. Di bawah pohon rimbun, dengan semilir angin yang meniupkan anak-anak rambut Shanum, dan cahaya mentari yang tidak terlalu terik lagi.


Seraut wajah kesal Shanum terpatri jelas. Terlihat jelas garis tegas wajahnya yang menggambarkan ketidaksukaan atas pertemuan antara Arthur dengan Arsenio.


Tangannya terkepal erat, melihat gelagat Shanum, Arthur hanya bisa terkekeh sambil memandangi wajah wanita itu.


"Kenapa?" tanya Arthur. "Kenapa kau menyeretku ke sini?" sambung Arthur.

__ADS_1


"Tentu saja karena ada yang ingin aku bicarakan!" sentak Shanum, tidak sedikit pun Shanum merubah raut wajahnya.


"Cepatlah! Jika kau hanya mau memandangi ketampananku, maka aku akan pergi sekarang. Banyak pekerjaan lain yang harus aku selesaikan," tutur Arthur, membuat Shanum semakin geram.


"Kenapa kau bisa bersama putraku?" tanya Shanum, matanya menyipit. Dia seolah sedang menyelidiki raut wajah Arthur, menyelidiki kebohongan di wajah pria itu.


"Putra kita berdua!" jawab Arthur sambil tersenyum. "Namanya indah. Dia sangat bijak dan pintar. Aku harus berterima kasih padamu, Shanum," ucap Arthur, memang terdengar mengejek. Tapi, tidak ada sedikit pun maksud Arthur untuk mengejek.


"Tutup mulutmu, Tuan!" sentak Shanum, dia menatap Arthur semakin tajam. "Dia Putraku! Bukan putramu!" ucap Shanum, kemarahannya tidak terkendali lagi.


"Sebenci apa pun kau terhadapku, kau tidak bisa memutuskan hubunganku dengan Arsenio, Shanum. Sampai kapan pun, sekuat apa kau berdalih, kau tidak akan bisa menghilangkan darahku yang mengalir dalam tubuhnya. Kau tidak akan bisa membuang kenyataan kalau aku adalah Daddy kandungnya!" ucap Arthur.


"Tutup mulutmu!" bentak Shanum dengan mata yang memerah. Air matanya mengalir deras, tangannya terkepal erat, suaranya menggelegar. Bahkan, kali ini Shanum tidak lagi peduli jika banyak orang yang memperhatikan mereka karena teriakannya barusan.


"Jangan pernah mengatakan Arsenio adalah anakmu! Daddy Arsenio sudah lama mati!" ucap Shanum, dadanya naik turun. Kemarahan yang sudah dia simpan selama bertahun-tahun untuk seorang pria yang telah merenggut kesuciannya malam itu, mulai tertumpahkan pada orang yang tepat.


"Kau tidak bisa menyangkali kenyataan Shanum!" Arthur tidak kalah ngotot. Dia tidak akan pernah mau dipisahkan dengan Arsenio lagi. Sudah bertahun-tahun dia mencari ke sudut mana pun, Arthur tidak akan melepaskan Arsenio atau pun Shanum lagi. Arthur juga tidak mau memisahkan Arsenio dengan Mommy-nya yang sudah merawatnya sebaik itu hingga dia besar.


"Maafkan aku. Tetapi, malam itu kita sudah menikah. Dan, kita juga melakukannya atas dasar mau sama mau, karena kau harus membayar hutangmu, bukan?" Arthur tidak mau disalahkan. Makanya dia berkata seperti itu, mengungkit kejadian malam itu lagi untuk mengingatkan Shanum bahwa dirinya tidak sepenuhnya salah.


"Apa maksudmu? Aku tidak sedang membicarakan malam penebusan hutangku, Arthur!" tutur kata Shanum sudah melenceng jauh dari kesopanan. Tetapi, Arthur tidak mempermasalahkannya sama sekali. Dia tahu, wanita di depannya sedang dirundung api kemarahan yang berkobar-kobar.


"Lalu, malam mana yang kau bicarakan. Empat tahun la--" Belum juga Arthur menyelesaikan ucapannya, Shanum sudah lebih dulu menyela.


"Ya. Malam empat tahun yang lalu. Di mana dengan tidak tahu malunya kau merenggut kesucianku! Seperti iblis yang kehausan, tidak sekali pun kau mau mendengar permohonanku! Kau terus merujamku! Mulai malam itu, aku sudah kotor Arthur! Aku sudah kotor!" Shanum kembali menangis, dia sesegukan sembari menatap Arthur yang hanya terdiam. Tidak ingin menyela, membiarkan Shanum menumpahkan kemarahannya yang mungkin saja sudah cukup lama dia pendam.


"Sejak malam itu, hidupku menderita! Banyak masalah yang mendatangiku bertubi-tubi. Karena kau, si bajingan sialan yang telah merenggut kesucianku, bahkan membuatku hamil, pernikahanku gagal!" pekik Shanum, tubuhnya bergetar hebat, dia benar-benar menumpahkan kesakitannya lewat tangisan.

__ADS_1


"Banyak yang merundungku, menghinaku, bahkan tanpa ragu mengataiku seorang pelacur! Padahal, aku ... aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak pernah merasa menjual tubuhku. Aku selalu menjaga diriku sendiri. Tetapi, sialnya kau datang dan merusak pernikahanku! Kau datang dan merusak kebahagiaanku!" pekik Shanum lagi, tangannya kembali terkepal sampai kuku-kukunya memutih.


"Setelah aku hamil, penderitaanku belum usai, Arthur! Banyak yang mengatai Arsenio sebagai anak haram! Anak setan! Di mana kau saat itu? Sedang menggagahi wanita lain?" Shanum tertawa sinis.


"Aku hidup dalam kesengsaraan dan deraian air mata karena setiap hari melihat putraku merasa iri pada anak-anak lain yang memiliki Daddy-nya! Sedangkan dia, dihina sebagai anak haram. Untung saja, aku bisa membawanya ke lingkungan ini. Di sini, dia mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang-orang yang memang menyayanginya dengan tulus!" ucap Shanum penuh penekanan.


"Sekarang, kami sudah bahagia, Arthur. Kenapa kau datang lagi? Kenapa kau datang lagi? Untuk menghancurkan semuanya? Kumohon, jangan ganggu kami, Arthur!"


"Kau ingat apa yang aku katakan malam itu?" Arthur menyela.


Shanum menatap semakin lekat pada pria di depannya. Pria yang menurut Shanum sudah menghancurkan segala kebahagiaan yang sudah dirakitnya sejak lama.


"Yang ... mana?" tanya Shanum ragu.


"Aku sudah membayarmu, dua milyar!"


Shanum memejamkan matanya, mendengar kalimat itu, seakan kembali menghancurkan hatinya lagi.


"Apa kau mau tahu siapa yang menjualnya padaku?" tanya Arthur. "Jika kau mau tahu, akan kukatakan. Jika kau tidak mau mendengarnya, maka lupakanlah! Tetapi, jangan pernah posisikan aku sebagai momok yang membuat kebahagiaanmu hancur. Karena, itu bukan sepenuhnya kesalahanku!" ucap Arthur membela diri.


"Kau membela diri?" Shanum tersenyum sinis.


"Tidak. Aku tidak suka disudutkan. Sementara, bukan aku pelakunya!" Arthur berucap dengan sangat tenang.


"Siapa pelakunya?" tanya Shanum, selama lebih dari empat tahun ini dia juga selalu memikirkan hal ini. Ingin mengetahui mengenai fakta ini. Tetapi, tidak tahu harus mencari tahu ke mana. Bertanya pada siapa.


"Yang menjualmu padaku adalah Rio, calon suamimu sendiri! Dia menjualmu padaku seharga dua milyar demi membantu perusahaannya yang hampir bangkrut!" ucap Arthur.

__ADS_1


*****


Kalau suka novel ini jangan lupa kasih vote, ulasan bintang lima, hadiah, dan juga like. Terima kasih🙏🥰


__ADS_2