
'Apakah aku harus menikahi Shanum secara sah, supaya Arsenio bisa merasakan kasih sayangku dan Shanum secara utuh. Dan, dia juga memiliki orang tua yang utuh seperti teman-temannya yang lain?' batin Arthur.
Arsenio menepuk pelan paha Arthur, kemudian Arsenio tersenyum.
"Apa yang Daddy pikirkan sampai termenung seperti itu?" tanya Arsenio, membuat Arthur tergeragap.
"Tidak ada, Sayang. Kamu mau makan di mana? Katakan saja!" Arthur memangku putra kecilnya itu, mengusap-usap lembut kepala Arsenio dengan penuh kasih sayang.
"Terserah Daddy saja. Arsenio sudah kenyang, Dad. Jadi, tidak memiliki rekomendasi apa pun," jawab Arsenio seadanya. Dia mengelus perutnya lagi sambil tersenyum menampakkan sederet giginya.
"Baiklah, Daddy akan memilih tempat yang paling bagus. Anggap saja ini makan siang pertama kita."
Mendengar penuturan sang Daddy, Arsenio kembali terkekeh. "Makan siang pertama kita?" tanyanya mengulangi lagi.
"Hum! Kamu mau, kan, makan siang sama Daddy?"
Arsenio langsung mengangguk mengiyakan. "Mau, Dad. Tapi, jika kita dinner bertiga bersama Mommy, sepertinya akan lebih menyenangkan!" seru Arsenio, berusaha mendekatkan kedua orang tuanya dengan menarik ulur perasaan Arthur. Pria kecil itu tidak tahu apa yang sudah terjadi antara kedua orang tuanya.
"Itu ... tergantung dengan Mommy kamu," ucap Arthur lirih.
"Artinya Daddy mau?" tanya Arsenio sambil tersenyum.
"Hum! Tapi, ...."
"Kalau Daddy bersedia, tenang saja, urusan Mommy, biar Arsen yang selesaikan, Dad!" ucap Arsenio sambil tersenyum meyakinkan.
"Kamu bisa?" tanya Arthur, dia menilik wajah putranya.
"Tentu saja. Kapan Daddy bisa meluangkan waktu?" tanya Arsenio, harapannya sangat besar. Tetapi, pria kecil itu sangat sadar, memang harus ikut berjuang dalam mempersatukan Mommy dan Daddy-nya yang terlanjur saling menyimpan dendam.
"Malam besok, bagaimana? Apa kamu sudah bisa meyakinkan Mommy-mu?" tanya Arthur.
Arsenio mengangguk dengan yakinnya. Dia yakin pada dirinya sendiri, dia pasti bisa. Jika keyakinan itu tumbuh dalam hatinya, maka semua pun akan terasa mudah.
"Baiklah. Besok malam, Daddy akan meminta Uncle Leo untuk menjemput kamu dan Mommy-mu, ya?" ucap Arthur, dia sangat senang anaknya cukup pintar seperti itu. Dengan bangganya, dalam hati Arthur mengakui kepintaran Arsenio diturunkan darinya.
"Oke, Dad!"
"Tapi, Dad, apa ... Daddy sudah punya pacar?" tanya Arsenio, setelah menanyakan hal privasi itu, Arsenio langsung menundukkan kepalanya, dia takut dengan Arthur yang mungkin saja akan marah.
Arthur juga kaget denga pertanyaan yang tercetus dari bibir putranya. Pacar? Bahkan, Arthur tidak menduga putra kecilnya bisa memikirkan hal itu.
'Kenapa dia menanyai tentang pacar? Apakah dia sedang membuat rencana untuk mendekatkan aku dengan wanita itu?' batin Arthur mulai berpikir keras.
"Belum, kenapa?" Arthur bertanya balik. Setelah mendapat jawaban dari sang Daddy, barulah Arsenio mau mengangkat kepalanya, menatap sang Daddy lagi.
Wajahnya yang semula cemberut, kembali mengukirkan senyum senang. Tubuhnya yang tadi seakan lunglai saat menunggu jawaban dari sang Daddy, kembali tegak dan berhambur ke dalam pelukan Daddy-nya.
__ADS_1
"Terima kasih, Dad!" Arsenio mencium pipi Arthur.
"Terima kasih?" Arthur mengulangi apa yang putranya ucapkan.
Arsenio hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun.
Mereka sampai di sebuah restaurant berbintang, restaurant yang sangat mewah di mata Arsenio, tapi berbanding terbalik di mata Arthur. Tanpa keraguan Arthur menggendong Arsenio, masuk ke dalam. Setelah mereka duduk, seorang manager restaurant datang dan mengumumkan sebuah maklumat penting, dilarang mengambil foto atau pun video Arthur bersama Arsenio. Jikalau ada yang berani melanggar, maka akan dikenakan denda.
Mendengar ultimatum itu, tidak ada yang berani. Padahal, banyak yang sudah mula mengeluarkan ponselnya, ingin mengabadikan momen Arthur dan Arsenio. Tentu mereka sangat penasaran pada Arsenio yang wajahnya begitu mirip dengan Arthur.
Saat nama Arthur disebutkan, ada seorang wanita muda yang langsung mencari keberadaan pria itu. Melihat Arthur memang bersama seorang anak kecil yang wajahnya begitu mirip dengan Arthur, wanita itu menatap Arsenio penuh kebencian.
Dia meninggal temannya, berjalan cepat menuju Arthur dan duduk tepat di samping pria itu.
"Sayang, ternyata kamu di sini?" Key memegang tangan Arthur yang terletak di atas meja. "Aku sudah mencarimu ke mana-mana, ternyata kamu sedang bersama bocah ini!" sambung Key, suaranya begitu lembut, terdengar mendayu-dayu. Tetapi, tatapan matanya begitu tajam menatap Arsenio.
Arsenio masih diam, memperhatikan tangan Key yang semakin lama terlihat semakin liar, sampai Arsenio mengerutkan keningnya.
"Jaga tanganmu!" kecam Arthur, memukul tangan Key yang mulai merambat tanpa tau arah.
"Apa? Kenapa kamu seperti itu, Sayang?" Key mengamit lengan Arthur, memeluknya dan merebahkan kepalanya di bahu pria itu dengan manja. Seperti sengaja memperlihatkan kemesraannya pada Arsenio yang sejak tadi terlihat tidak peduli walau sesekali menatap Key dan Arthur tajam.
"Pergilah!" usir Arthur dengan suara lirih. Dia tahu Arsenio sudah merasa tidak nyaman. Tapi, kepura-puraan Arsenio membuat Arthur merasa lucu sampai menahan tawa.
"Sayang, kenapa kamu malah mengusirku? Apa salahku, kalau aku mau bersama denganmu dan ... anak ini?"
"Tante, kenapa kau begitu dekat dengan Daddy-ku?" suara nyaring Arsenio menarik perhatian Key dan Arthur.
"Daddy-mu? Dia sungguh Daddy-mu?" Key sungguh sulit untuk percaya. Wanita mana yang berhasil mengandung sampai melahirkan anak seorang Arthur Harisson? Selama ini, Key sudah berusaha cukup keras supaya bisa hamil anak Arthur, tapi pria itu selalu berhasil melepaskan susu kentalnya di luar, membuat Key sebal karena rencananya tidak kunjung berhasil.
"Arthur, dia benar-benar anakmu?" Key sudah menduga sejak awal. Namun, hati kecilnya tetap tidak bisa terima, harusnya dialah yang melahirkan keturunan pertama dari Arthur Harisson. Bukan orang lain.
"Benar, dia memang putraku. Pergilah! Dia tidak menyukai kehadiranmu!" usir Arthur.
"Kau ... rela mengusirku hanya karena anak kecil ini?" Key ternganga, sekali lagi dia masih sukar untuk mempercayai.
"Tante, tahu malu lah sedikit. Daddy-ku memintamu untuk pergi, maka pergilah!" Arsenio mulai menggunakan mulut tajamnya, tatapan tajamnya, dan senyuman sinis yang berhasil merujam siapa pun.
"Arthur, lihatlah! Mulut putramu sungguh tajam sekali, dia menyakitiku, Arthur!" rengek Key yang masih tidak mau beranjak.
"Pergilah, Key!" Arthur tetap mengusir Key, tanpa menoleh pada wanita itu barang sedikit pun.
"Arthur, kamu tega?"
"Tante, semua orang melihatmu." Perkataan Arsenio membuat Key langsung melihat ke sekeliling. Banyak yang sudah membicarakannya sambil berbisik-bisik.
"Sial!" Key langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
Setelah Key pergi, Arsenio diam. Tidak berbicara apa pun, hanya menjawab apa yang Arthur tanyakan, tidak seceria awal.
"Kamu kenapa, Arsen?" tanya Arthur.
"Kata Daddy, Daddy tidak punya pacar, kan? Lalu, siapa Tante itu? Bukan pacar Daddy? Kenapa memanggil Daddy dengan sebutan Sayang?" cecar Arsenio, membuat Arthur termangu dengan ocehan putranya itu.
"Maafkan, Daddy, Sayang. Daddy tidak berniat membohongi kamu." Arthur mendekatkan dirinya pada Arsenio, melihat gelagat sang Daddy yang ingin membisikkan sesuatu padanya, Arsenio pun ikut menegakkan tubuhnya.
"Apa kamu tahu istilah mantan pacar yang sulit melupakan?" tanya Arthur. Arsenio terdiam sejenak, kemudian dia mengangguk.
"Nah! Tante tadi melupakan salah satu mantan pacar Daddy yang tidak sanggup melupakan pesona Daddy. Bukan pacar Daddy, Sayang," jelas Arthur pada sang putra.
"Benarkah?" Arsenio nenutup mulutnya dengan tangan. Berusaha menahan kekehan.
"Mana mungkin Daddy berbohong." Arthur manggut-manggut sambil menjauhkan dirinya. "Makan lagi."
Arsenio mengangguk, mengabiskan makanannya yang masih tersisa.
Selesai makan bersama, Arthur membawa Arsenio ke perusahaannya, di jalan saja, Arsenio sudah sibuk menanyai tentang Mommy-nya. Dia ingat, Shanum juga berada di perusahaan itu.
"Dad, Arsen mau menemui Mommy." Dari tadi, kalimat itu yang terus terulang dari bibir Arsenio.
"Baiklah, tetapi, Uncle Leo yang mengantar, ya, Sayang. Daddy harus kembali ke ruangan. Kalau sudah puas bermain dengan Mommy, datanglah ke ruangan Daddy, jangan menganggu pekerjaan Mommy," ucap Arthur, mengusap lembut kepala putranya, mengecup singkat pipi sang putra.
"Baiklah." Mereka turun bersamaan.
Arsenio langsung menggenggam tangan Leo. Leo berbelok ke arah kiri, jalan terdekat untuk sampai di kantin perusahaan.
Setibanya di sana, kantin masih sangat ramai, masih ada sisa waktu lima belas menit.
Dari kejauhan Arsenio sudah melihat Shanum yang sedang berbincang sambil tertawa dengan rekan-rekan kerjanya sesama cleaning servis.
"Tuan muda, itu Mommy!" Leo menunjuk ke arah Shanum. "Mari!"
Arsenio berlari kecil, saat sudah sangat deka dengan Shanum, dia berteriak memanggil Shanum.
"Mommy!" teriaknya, membuat semua orang menatapnya.
Yang sudah menatap Arsenio, langsung tertegun, tercekat, dan terkejut. Tentu saja karena wajah pria kecil itu yang sangat mirip dengan Arthur.
"Ba--bagaimana bisa wajahnya sangat mirip dengan Pak Arthur? Apa jangan-jangan anak itu, putranya Pak Arthur?"
"Tapi, berlari ke dalam pelukan Shanum sambil memanggil Mommy? Jangan-jangan, Shanum adalah Istri rahasia Pak CEO?" mereka semua bertanya-tanya.
*****
Kalau suka sama novel ini jangan lupa tinggalkan komentar like, vote, dan hadiah sebanyak-banyaknya, ya! Berikan juga ulasan bintang lima! 😍😍😍
__ADS_1