
Shanum merasa tubuhnya sudah sehat, dan setelah tiga hari berada di rumah sakit, akhirnya Dokter memperbolehkan Shanum untuk pulang. Karena memang tidak ada keluhan apa pun dari wanita itu. Semuanya tampak sehat, termasuk Arsenio.
Tiba di kos, semua orang berkumpul di kamar Shanum untuk melihat Arsen. Banyak sekali dari mereka yang memuji ketampanan Arsen.
"Dia tampan sekali, loh! Menurutku, dia sangat mirip dengan CEO Arthur Group, mirip sekali!" seru seorang wanita, dia menatap lekat wajah Arsen yang sedang tertidur.
"CEO Arthur Group? Wah! Masa, sih?" Yang lainnya langsung tertarik untuk bergosip.
"Benar. Aku beberapa kali pernah melihat Pak Arthur, wajahnya sangat mirip dengan Arsen," kekeuh wanita itu, dia sangat yakin dengan penglihatannya.
Mendengar hal itu, Shanum dan Rima saling berpandangan. Hati mereka menebak hal yang sama. Namun, tidak berani menunjukkan gelagat apa pun karena di sana masih ramai.
"Sudahlah, untuk apa bergosip. Mana mungkin anaknya Shanum mirip dengan seorang CEO terkaya itu. Awas, hati-hati bicaranya. Nanti, Ayah kandung Arsen marah, loh!" ucap Rima menengahi, dia memperingatkan semua orang yang ada di sana.
"Sha, aku tidak pernah melihat suamimu. Dia ke mana? Apa tahu kalau anaknya sudah lahir?" ucap teman kos Shanum. Mendapati jawaban itu, Shanum gelagapan. Seperti biasa, dia hanya bisa tersenyum untuk menepis kecanggungan yang ada.
"Suamiku sedang berada di pulau terpencil, bekerja di sana. Dia sudah dikontrak selama tiga tahun. Tahu sendiri, pulau terpencil susah sekali untuk mendapatkan sinyal." Lagi dan lagi Shanum harus kembali mengatakan kebohongan. Dia sendiri tidak tahu, mau sampai kapan kebohongan itu dijadikan sebagai tameng supaya anaknya tidak dianggap hina.
"Suamimu pasti sangat senang sekali melihat ketampanan anaknya!"
"Ya, begitulah!" Shanum tersenyum lagi.
Setelah yang lainnya keluar dari kamar Shanum, Rima langsung mencari tahu siapa dan seperti apa seorang CEO perusahaan Arthur Group.
Memang tidak ada foto jelas Arthur yang beredar di internet. Namun, dari foto-foto yang beredar pun, Rima bisa menyamakan seberapa persen kemiripan. Apakah benar-benar sangat mirip dengan Arsen? Meski bekerja di perusahaan yang sama, Rima tidak pernah melihat wajah Arthur secara langsung. Sebab, dia bekerja di bagian cleaning servis.
"Sha! Benar kata mereka, wajah anakmu sangat mirip dengan CEO Arthur Group!" seru Rima, memberikan ponselnya yang masih menampilkan wajah Arthur pada Shanum.
Shanum juga penasaran. Tanpa harus membandingkan lebih detail, mereka sudah bisa menilai kemiripannya. Memang sangat mirip. Namun, Shanum memilih untuk mengabaikan.
__ADS_1
"Tidak mirip sama sekali," ucap Shanum, mengembalikan lagi ponsel Rima pada sang empunya.
"Kamu buta, ya? Semirip ini, tapi katamu tidak ada mirip-miripnya?" Rima menunjuk-nunjuk foto Arthur dari layar ponselnya.
"Lagipula, tidak mungkin yang meniduriku malam itu adalah CEO Arthur Group, kan? Tidak mungkin, Rim. Jangan terlalu banyak berpikir. Sudahlah, aku bisa kok merawat Arsen seorang diri," ucap Shanum, dia tidak mau terlalu berharap pada siapa pun. Pernah dikecewakan oleh keluarganya sendiri, membuat Shanum membatasi harapannya sendiri. Dia sadar, hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
'Lima milyar? Jika mengingat uang seharga lima milyar dan melihat kemiripan Arsen dan pria itu, aku bisa sangat yakin kalau dia memanglah ayah kandung dari anakku. Tetapi, jika pun memang benar, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mendatanginya dan meminta pertanggungjawaban? Sudah terlambat, bukan?'
Shanum menenggelamkan semua perasaan sedihnya, mengalihkan semua kekhawatirannya dengan melihat wajah putranya yang begitu menenangkan. Rima juga memutuskan, selama sebulan ini dia akan menemani Shanum tidur, tidak akan membiarkan Shanum merasa kelelahan seorang diri.
Saat keduanya sedang berbincang, Ibu kos datang sambil membawa sebuah kotak besar.
Dia duduk tepat di sebelah Shanum di atas ranjang.
"Selamat, ya, Shanum. Akhirnya, putramu bisa lahir dengan sehat dan selamat," ucap Ibu kos. "Tadi, Ibu juga mau ikut mengantarkan kamu ke rumah sakit, menemani kamu melahirkan. Tapi, Rima tidak mengizinkan. Katanya, Ibu sudah sepuh, tidak boleh ke mana-mana lagi," terangnya, kemudian tertawa.
"Yang Rima katakan itu benar, Bu. Ibu memang harus banyak-banyak istirahat," Shanum menimpali.
"Iya, Bu. Tapi, mungkin semua itu tidak bisa Shanum lakukan. Mana mungkin Shanum meninggalkan Arsen sendirian," jawabnya.
"Tidak apa-apa, kan ada Ibu. Biarkan Ibu yang menjaga anak kamu, ya. Selama ini Ibu merasa kesepian," pinta Ibu kost, tatapannya begitu dalam. Seakan menyiratkan harapan besar agar Shanum segera mengiyakan permintaannya.
"Tapi, Bu, Shanum tidak bisa--"
"Kamu jangan melihat Ibu sudah tua. Tenaga Ibu masih kuat, loh." Ibu kost itu tersenyum lagi, senyuman tulus yang bisa menenangkan Shanum. Shanum menolak bukan karena tidak mempercayai wanita paruh baya itu, dia sudah menganggap Ibu kostnya seperti Ibu kandungannya sendiri. Namun, ada rasa tidak enak hati yang terus bergelayut dalam dirinya.
"Jangan pikirkan apa pun, Sha. Ibu tahu, kamu merasa tidak enak hati, kan? Pikirkan saja anakmu. Dia membutuhkan semua susu, popok, pakaian baru, pendidikan yang memadai. Jika kamu terus terperangkap dalam rasa tidak enak hati, bagaimana dengan nasib putramu ini?" ucap Ibu kost itu, membuka pandangan Shanum.
"Sha, yang Ibu katakan benar. Anak kamu membutuhkan semuanya. Percayakan saja semuanya pada Ibu kost kita ini." Rima pun ikut berbicara.
__ADS_1
"Baiklah, Bu. Rencananya, nanti aku akan bekerja di tempat yang sama dengan Rima. Saat itu tiba, aku titipkan Arsen padamu, ya." Akhirnya Shanum menyerah. Dia sangat sadar, tidak ada gunanya keras kepala. Lagipula, semua yang Rima dan Ibu kostnya katakan memang benar adanya.
"Cucuku," ucap Ibu kost lirih, membuat Shanum tersenyum karena merasa sangat senang.
***
Bertepatan dengan hari yang sama, Rara yang sedang hamil juga sudah mengalami kontraksi. Tentu saja dia sangat senang, karena kehamilannya sudah melewati perkiraan lahir yang semestinya.
Rara sedang menahan sakit, Rio dan kedua orang tuanya pun ikut mendampingi. Walaupun ada rasa tidak suka yang masih melekat sampai sekarang, mereka tidak bisa memilih untuk egois, yang dikandung dan akan segera dilahirkan oleh Rara adalah cucu kandung mereka. Bagaimana bisa mereka tak acuh.
Rara berkutat di ruang operasi selama hampir satu jam. Rio tidak mau masuk untuk menemani. Katanya, dia terlalu takut jadi enggan masuk meski Rara sudah merengek berulang kali sambil menahan rasa sakit.
Terpaksa, Peni yang masuk untuk menemani sang menantu.
Oek ... Oek ... Oek.
Suara tangisan bayi menggema di dalam ruangan, mendengar suara tangisan anaknya, Rio langsung menerobos masuk ke dalam untuk melihat buah hatinya.
"Di mana anakku?" tanya Rio, dia langsung menghampiri seorang perawat yang masih membersihkan anaknya.
"Apa jenis kelamin anak saya, Dok? Laki-laki, kan?" tanya Rio antusias.
"Selamat, Pak, anak bapak perempuan," ucap perawat itu.
Rio menghela nafasnya. Dia sudah melihat wajah anaknya tadi. Terlebih setelah mengetahui jenis kelamin anaknya, keantusiasannya tiba-tiba menghilang.
Sesudah Rara dipindahkan ke ruang rawat inap, Rio segera menghampiri istrinya yang memasang wajah ketakutan.
"Rara, aku sudah melihat anak kita. Kenapa wajahnya sangat tidak mirip denganku, atau pun denganmu. Sebenarnya, dia mirip siapa? Jangan-jangan dia mirip dengan selingkuhanmu? Jawab aku, anak siapa ini?!" bentak Rio tanpa mempedulikan tatapan beberapa orang perawat yang masih berada di sana.
__ADS_1
*****