
Belum surut lagi keterkejutan Kenya, dia kembali dikejutkan dengan suara teriakan Arsenio yang berlari sambil berteriak kencang.
"Mommy!" teriak Arsenio, menerobos masuk ke dalam dan langsung memeluk Mommy-nya.
"Mommy?" gumam Kenya dengan matanya yang membulat.
"Arsenio, dia benar-benar ... Mommy kamu?" tanya Kenya, menunjuk ke arah Shanum dengan tangan yang gemetar.
Arsenio mengangguk mengiyakan. "Benar, Oma. Oma belum berkenalan dengan Mommy, kan?" cetus Arsenio, tetapi Kenya seolah tuli. Dia sibuk memindai Shanum satu atas ke bawah. Memperhatikan gaya Shanum yang hanya seorang cleaning service.
"Maaf, Nyonya, saya harus segera kembali bekerja. Saya titip Arsenio sebentar, setelah pulang kerja nanti akan saya ambil," pamit Shanum, setelah Arthur menganggukkan kepalanya, barulah Shanum keluar dari sana, meninggalkan Kenya yang masih mematung, menatapnya tanpa berkedip sedikit pun.
"Arthur, dia benar-benar Mommy Arsenio?" tanya Kenya lagi, seakan tidak bisa mempercayai semuanya dengan mudah.
"Benar, Oma! Itu Mommy Arsen. Kenapa? Apa Oma tidak menyukai Mommy Arsen?" celetuk Arsen, dengan berani menjawab pertanyaan Kenya yang langsung disambut gelak tawa oleh Kenya dan Arthur. Tawa mereka karena ingin menutupi kegugupan yang sedang mendera.
"Sini, sama Oma!" panggil Kenya.
"Oma belum menjawab pertanyaan Arsenio." Arsenio masih menagih jawaban. Memang sangat sulit mengacaukan fokus seorang anak yang pintar. Dia tidak akan melupakan apa yang membuatnya penasaran dengan begitu mudah. Harus menjawab apa yang ditanyakan dengan sangat hati-hati, karena ingatan seorang anak kecil itu kuat. Dan, orang tua dan orang-orang sekitarlah yang paling bertanggung jawab dalam pembentukan karakter seorang anak.
"Bukan begitu, Sayang. Oma hanya kaget saja, tidak menduga Mommy kamu secantik itu," ucap Kenya, memeluk serta menciumi pucuk kepala Arsenio dengan gemas. Setelah bertemu dengan sang cucu, semua masalah seketika menghilang dari hatinya.
"Begitukah? Daddy memang pintar, Oma," celetuk Arsenio, Arthur yang sedang fokus dengan berkas-berkasnya pun langsung mengalihkan perhatiannya pada Arsenio.
"Pintar apa?" tanya Kenya.
"Pintar mencari seseorang yang pantas menjadi Mommy untuk Arsenio. Lihatlah! Arsenio setampan ini karena ketampanan Daddy dan kecantikan Mommy," jawabnya memperjelas maksudnya pada Oma dan Daddy-nya.
Arthur dan Kenya terpaku dengan celotehan Arsenio. Ucapan Arsenio seperti anak-anak yang sudah dewasa. Namun, bagi Kenya, itu adalah sebuah hal yang wajar. Anak-anak memang harus pintar disetiap harinya, dan dulu Arthur juga seperti itu.
"Oma setuju dengan kamu, Arsen!" Kenya dan Arsenio kompak tertawa.
Arthur yang melihat kedekatan Kenya dengan Arsenio, tersenyum tipis. Bahagianya luar biasa, semua di luar dugaannya. Tidak pernah terpikirkan dia akan mendapatkan seorang putra sejenius dan sebijak Arsenio. Saat sibuk mencari keberadaan Arsenio, Arthur hanya berharap dapat segera menemukan Arsenio, tidak ada harapan tambahan. Ternyata, Tuhan malah memberikan banyak bonus dalam sekaligus.
Arthur sangat mengidamkan seorang putra, dan dia mendapatkannya. Arsenio juga sangat bijak, cerdik, pintar, prilakunya tidak bisa diduga-duga. Bahkan, dia mendapatkan bonus wanita secantik Shanum. Hanya tinggal selangkah maka mereka akan menjadi keluarga kecil seperti harapan Arthur selama ini.
"Semoga saja Shanum mau menerimaku. Tapi, sepertinya sikap Mama tadi membuatnya takut. Huuffttt!" Arthur menghela nafas panjang.
"Kenapa Daddy? Apakah pekerjaan Daddy sangat sulit?" tanya Arsenio yang berada dalam pangkuan Kenya. Helaan nafas yang begitu kencang, terdengar oleh Kenya dan juga Arsenio.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang." Arthur tersenyum manis pada putra kecilnya.
***
Tepat jam tiga siang, Shanum menjemput Arsenio di dalam ruangan Arthur. Shanum tidak masuk, hanya menyembulkan kepalanya di pintu sambil memanggil nama Arsenio agar putranya itu cepat keluar.
"Sayang, ayo! Kita sudah harus pulang," ajak Shanum.
"Daddy, Arsenio pulang dulu, ya."
"Baik, Sayang." Arthur mengecup pucuk kepala Arsenio. Dia mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dalam sakunya, memberikan kartu berwarna hitam itu pada Arsenio. "Berikan ini pada Mommy untuk disimpan. Jika kamu menginginkan sesuatu, kamu bisa membelinya dengan itu," ucap Arthur, dia mulai bertanggung jawab atas Arsenio.
"Terima kasih, Daddy!" Arsenio memeluk Arthur. Kemudian, barulah dia berlari kecil menemui Shanum.
"Dadah, Daddy!" Arsenio menyempatkan diri untuk melambaikan tangannya pada Arthur.
Di parkiran, Arsenio memberikan kartu kredit limited edition pemberian Arthur pada Mommy-nya. Shanum terkaget-kaget melihatnya.
"Daddy yang memberikan padamu?" tanya Shanum.
"Iya, Mom, kata Daddy Arsen bisa membeli apa pun dengan itu," jawab Arsenio membenarkan.
"Baiklah, akan Mommy simpan, ya." Shanum tidak berniat mengembalikan apa yang Arthur berikan untuk Arsenio. Mungkin, itu sebagai tanggung jawab seorang Daddy pada putranya. Lagipula, tidak ada yang salah dengan hal itu.
"Rumah sakit? Kerabat Mommy ada yang sakit? Atau, Mommy mau menemui Pak Dokter itu?" cecar Arsenio, ketika menyebutkan yang terakhir, wajah Arsenio berubah masam. Terkesan tidak suka sama sekali.
"Tidak, Sayang. Mommy memiliki keperluan lain," jawab Shanum. Setelah mendengar jawaban sang Mommy, barulah Arsenio mengangguk.
"Baiklah, Mommy."
Shanum memasangkan helm khusus untuk Arsenio. Setelah semuanya dirasa aman, barulah mereka mulai jalan. Shanum tidak sadar, sejak tadi interaksi dirinya dan Arsenio dipantau oleh seseorang yang melihatnya dari dalam mobil. Orang itu melihat interaksi Shanum dengan wajah dingin dan tidak memberikan reaksi apa pun.
"Jalan, Pak! Ikuti wanita itu!" titah seseorang yang sejak tadi memperhatikan Shanum dan Arsenio.
Sepeda motor Shanum melaju ke arah rumah sakit tempat dia melakukan test DNA. Sudah lama sekali, baru ini dia menyempatkan waktu untuk mengambil hasil test itu.
Shanum mengajak Arsenio ikut serta, takut meninggalkan pria kecil itu seorang diri.
"Maaf, Sus, saya telat mengambilnya," ucap Shanum, tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Tidak masalah. Saya akan membacakan hasilnya," ucap suster tersebut sambil tersenyum ramah.
"Ti--tidak perlu. Saya akan melihatnya sendiri di rumah," sanggah Shanum. Dia tidak ingin Arsenio mendengar dan mengadu pada Arthur. Jika hal itu sampai terjadi, maka habislah dia.
"Baiklah. Ini, Nona."
Shanum tersenyum, langsung pergi karena sudah menyelesaikan pembayaran di awal.
Saat berada di parkiran, dari kejauhan Shanum melihat seseorang yang begitu dikenalinya. Seseorang yang pernah menjadi sahabatnya, namun malah terkhianati karena kesalahan yang entah apa.
"Sha--shanum?" sapa Rara, melihat penampilan Shanum dari atas ke bawah. Setelahnya, tatapan Rara tertuju pada Arsenio yang menggandeng tangan Shanum.
'Apakah anak kecil yang berdiri di samping Shanum itu adalah anaknya? Tampan sekali, berbeda dengan putriku,' batin Rara, tanpa sadar Rara langsung melepaskan genggaman tangannya dan tersenyum pada Shanum. Rara yang melepaskan genggaman tangan putrinya, membuat Nabil ketakutan.
Shanum tidak menanggapi lebih, hanya tersenyum kecil sambil berlalu.
"Sha! Tunggu!" Rara kembali memanggil. "Kamu benar-benar Shanum, kan?" Rara kembali bertanya. Perubahan Shanum membuatnya pangling. Pantas saja Rio tergila-gila pada mantan kekasihnya ini, begitu pikir Rara. Dan, dia merasa sangat tersakiti dengan itu.
Bagaimana mungkin dia tidak sakit hati ketika suaminya kembali mengingat mantan kekasihnya. Bukan hanya itu, Rio malah terang-terangan mengatakan ingin kembali menikahi Shanum. Sungguh kelakuan gila Rio tidak bisa dia hentikan, kecuali Shanum lah yang harus diperingatkan di sini.
"Ya, aku Shanum." Shanum menjawab ala kadarnya. Dia yakin, Rara juga ikut andil dalam rencana empat tahun silam, di mana dengan teganya mereka menjualnya pada seorang CEO hanya demi sejumlah uang.
"Sha, kamu semakin cantik. Apa ... dia putramu?" tanya Rara, mendekat pada Arsenio.
Arsenio menjaga jarak, dia bisa melihat wajah Mommy-nya yang terlihat tidak nyaman. Jadi, dia pun mundur beberapa langkah.
"Iya. Dan, itu...." Shanum menengok pada seorang anak perempuan berkulit hitam dengan rambut gimbal dan matanya yang biru sedang menangis sesenggukan, melihat ke arah Rara.
"Mama, Mama!"
"Apa itu putrimu? Rara, dia sedang memanggilmu sejak tadi."
Mendengar ucapan Shanum, Rara berlari kecil dan menarik kasar tangan Nabil.
"Nabil, jangan menangis!" sentaknya dengan suara lirih. "Kau tahu, aku malu memiliki putri seperti kamu!" bisik Rara kesal.
"Mama...!" Nabil semakin kencang menangis.
Shanum tidak lagi peduli, dia membawa Arsenio pergi dari sana.
__ADS_1
"Kenapa putranya Shanum sangat tampan? Tidak mirip Shanum, pasti mirip dengan Ayahnya. Tapi, bagaimana bisa? Bukankah kata Rio laki-laki yang akan membeli Shanum adalah pria tua, jelek, hitam, dan gendut? Kenapa putranya bisa setampan itu?" gumam Rara bertanya-tanya.
*****