
'Apa mungkin yang Leo dan Dokter katakan itu benar? Tapi, siapa wanita itu? Kalau benar hamil, mengapa dia tidak datang padaku untuk menagih pertanggung jawaban? Siapa wanita hebat ini?' batin Arthur, batinnya mulai tak tenang.
"Selama ini Anda juga sering mengalami mual, uring-uringan, bahkan tak menyukai makanan yang biasanya Anda sukai, kan? Tuan, kurasa itu memang suatu pertanda, anak itu memiliki keterikatan batin denganmu," ucap Leo, mengagetkan Arthur yang masih saja termenung. Namun, apa pun yang Leo katakan Arthur memilih diam, menimbang-nimbang semua yang sudah terjadi dengannya.
"Bagimu, siapa wanita itu?" Arthur bertanya dengan suara yang sangat lirih.
"Saya tidak tahu, Tuan. Kan, Anda yang menjalani semuanya," jawab Leo.
"Huuffttt!" Terdengar helaan nafas keras. Rasa sakit semakin menderanya. Bahkan, kali ini sakitnya luar biasa sekali. Arthur perlahan mengerang, bulir-bulir keringat mulai menetes di dahinya. Tidak ada yang bisa Arthur lakukan selain menahannya sendiri.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" Leo semakin khawatir, kendatipun dia sudah mengetahui alasan mengapa Arthur seperti itu, tetap saja dia khawatir.
Arthur mengangkat sebelah tangannya, dia meminta Leo untuk diam, jangan banyak bicara dan bertanya.
Rasa sakit yang teramat itu tiba-tiba menghilang. Arthur heran, dia mencoba memejamkan matanya lagi, merasai apakah sakit itu masih ada tersisa walaupun hanya sedikit? Tapi, semuanya raib. Kemudian, Arthur pun menyadari sesuatu.
"Apakah anakku itu sudah lahir?" gumam Arthur dengan segaris senyuman di bibirnya.
"Leo, data siapa saja Ibu yang melahirkan tepat di jam ini. Jika wajah bayi itu ada sedikit saja mirip denganku, langsung test DNA. Lakukan itu di seluruh rumah sakit!" titah Arthur. Sampai sekarang pun dia tidak tahu, wanita mana yang sedang mengandung beninhnya sampai anak itu terlahir ke dunia.
Padahal, Arthur sadar dia tidak pernah melepaskan susu kental miliknya di dalam lubang kenikmatan si wanita, hanya pernah kelepasan pada gadis perawan yang menjadi hasrat pelampiasannya malam itu. Arthur kelepasan karena larut dalam permainan hangatnya, selama ini kekasih-kekasihnya tidak ada satu pun yang masih virgin, makanya dia masih bisa mengontrol karena tidak terlalu menikmati sensasi yang dinamakan kenikmatan.
'Sejak malam itu, aku juga sudah jarang bermain dengan para jalangku. Setiap kali memulai, aku selalu mengingat tangisan dan lubang sempit wanita itu. Jeritannya ketika virginnya terkoyak. Wanita itu sudah mencuri semua atensiku. Mengambil semua pengalamanku,' batin Arthur.
"Baik, Tuan. Sekarang kita kembali ke kantor atau pulang saja?" tanya Leo.
"Pulang saja. Aku merasa tenagaku sudah terkuras habis," jawab Arthur.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Sepanjang perjalanan, Arthur hanya diam sambil memejamkan matanya. Entah apa saja yang saat ini sedang bernala-nala dalam angannya, tapi saat ini pikirannya dipenuhi dengan pemikiran rumit yang sebenarnya dia pun enggan untuk memenungkannya.
Sesampainya di rumah pun, Arthur melengos masuk ke dalam tanpa mempedulikan Mamanya yang sedang membaca majalah di ruang tamu. Melihat anaknya yang masuk tanpa menyapanya, Kenya pun mengamuk.
"Arthur, kenapa kamu tidak menegur Mama? Kalau sikapmu selalu dingin seperti ini, kala kamu bisa mendapatkan istri?" sentak Kenya kesal.
"Tante, Tuan Arthur seperti itu mungkin karena kelelahan setelah habis mengalami kontraksi. Mohon jangan marah padanya," ucap Leo bermaksud untuk menengahi. Tanpa sadar dia sudah kelepasan bicara, bukan malah membuat suasana menjadi tenang dan tentram. Melainkan semakin runyam.
Mendengar apa yang Leo ucapkan, mata Kenya mendelik. Dia langsung menatap Arthur yang menghentikan langkahnya tepat setelah Leo mengungkapkan apa yang terjadi padanya barusan.
'Leo, mentang-mentang aku lupa memberitahumu untuk tidak sembarangan bicara, bukan berarti kamu bisa mengatakan aibku ini pada siapa pun, termasuk Mamaku!' batin Arthur, menggemeretakkan giginya saking kesalnya dia.
"Arthur, yang Leo katakan barusan itu benar?" Kenya menghampiri putranya yang masih termangu, membalikkan tubuh Arthur secara paksa supaya menatapnya.
"Arthur, jawab Mama!" desak Kenya. "Mama yakin kamu seorang laki-laki, kenapa kamu bisa mengalami kontraksi?" desak Kenya, tak henti-hentinya memborbardir Arthur dengan banyaknya pertanyaan.
"Ma, Leo hanya asal-asalan bicara saja. Jangan mempercayainya, Ma. Yang dia katakan itu tidaklah benar." Arthur membela diri.
"Tidak mungkin dia asal-asalan bicara. Mama tahu Leo itu orang yang seperti apa. Jangan-jangan, kamu sudah memiliki istri rahasia di luaran sana, ya?" selidik Kenya.
"Istri rahasia apa, Ma? Arthur tidak mengerti. Sudahlah, Arthur capek, mau istirahat!" Arthur hendak meninggalkan Kenya. Dengan sigap wanita itu langsung mencekal tangan putranya.
"Mau ke mana kamu? Jawab dulu pertanyaan Mama!" Kenya meremas lengan Arthur. Hatinya merasa bimbang, ada getaran kebahagiaan jika memang Arthur mengakui sudah memiliki istri. Namun, jika Arthur membantah semuanya, terpaksa Kenya harus kembali menelan kenyataan pahit dan harus menunggu lagi.
"Mama yakin istri kamu pasti sudah melahirkan, makanya kamu mengalami seperti apa yang pernah Papa alami dulu saat Mama melahirkan kamu, Arthur!" Kenya kembali memperingatkan putranya mengenai kejadian silam. "Mama yakin, kamu juga mengalami hal yang sama!" pekik Kenya sekali lagi. Belum mendapatkan jawaban dari putranya, Kenya sudah lebih dulu tersenyum dan berteriak kegirangan.
__ADS_1
"Mama tidak mau tahu, kamu harus bawa pulang cucu dan menantu Mama secepatnya!" desak Kenya, tatapannya begitu tajam dihunuskan pada putranya.
"Ma, aku saja tidak begitu yakin dengan hal itu. Bagaimana mungkin aku bisa membawakan wanita itu padamu." Arthur pusing dengan permintaan sang Mama.
"Mama tidak mau tahu, kamu harus segera mencarinya dan bawa dia ke sini!" tegas Kenya, langsung meninggalkan Arthur yang sedang kebingungan.
"Leo, ini semua gara-gara kamu!" geram Arthur.
***
Shanum sedang merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Rima juga sama, keduanya sedang tersenyum memperhatikan seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Bayi yang masih merah itu saat lahir tak menyusahkan Ibunya, begitulah menurut Shanum dan Rima. Mereka hanya tidak tahu saja, bayi laki-laki itu memang tak menyakitkan Ibunya, tapi dia melimpahkan semuanya pada sang Ayah yang keberadaanya di antah berantah.
Mungkin, bayi itu tak mau membuat Ibunya terlalu merasa kesakitan. Mungkin juga, bayi itu tau selama ini Ibunya menjaganya seorang diri, sedangkan Ayahnya sedang bersenang-senang di luaran sana.
"Aku masih heran, rasa sakitku seperti terbagi dua," ucap Shanum, mengelus-elus wajah mungil putranya.
"Tapi, dia tidak mirip denganmu, Sha. Dia sangat tampan, mungkin seperti Ayahnya, ya," ucap Rima, memperhatikan lekat wajah bayi mungil dalam dekapan Ibunya.
"Entahlah. Seperti apa pun rupanya, dia tetaplah anakku, Rim. Aku sangat menyayanginya melebihi diriku sendiri," ucap Shanum sambil tersenyum manis.
"Jadi, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk putra mungilmu ini?" tanya Rima.
"Sudah, aku akan menggunakan namaku untuknya," ucap Shanum.
"Sayang, sekarang namamu Arsenio Thafta Mahira."
*****
__ADS_1