Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Talak Aku, Tuan!


__ADS_3

"Siapa pria itu?" mendengar pertanyaan yang aneh, Shanum hanya bisa mengerutkan dahinya.


"Pria? Yang mana?" tanyanya heran.


"Pria yang mengejarmu. Kau menyukainya makanya berusaha untuk menutupinya? Ingatlah! Kau masih istriku. Aku tidak akan mengampunimu!" ucap Arthur, mata elangnya berkilat-kilat karena kemarahan.


Arthur mendekati Shanum. Namun, Shanum langsung menahan wajah pria itu dengan telapak tangannya. Membekap mulut Arthur, membuat mata pria itu melotot tanda tak suka dengan perbuatan Shanum.


"Tuan, kau harus menjelaskan padaku. Pria mana yang kau maksudkan? Kau pikir, aku ini wanita gampangan yang suka didekati oleh banyak pria?" Sebelum menerima penjelasan, Shanum tidak mau didekati oleh Arthur apalagi menerima hukuman yang menurutnya tidak masuk akal sama sekali.


Arthur menyingkirkan tangan Shanum dari wajahnya. "Cih, kau masih berani bertanya padaku? Ingat sendiri, siapa yang sedang kau dekati?" Arthur membalikkan pertanyaan itu pada Shanum lagi.


"Aku tidak merasa pernah mendekati siapa pun. Bahkan, kita sedekat ini juga karena untuk membayar hutangku. Lantas, siapa?" Shanum masih menerka-nerka.


"Dokter aneh itu berusaha untuk mendekatimu, kan?" Arthur tersenyum miring. Ketika Arthur menyebutkan Dokter itu, Shanum terkejut bukan main.


"Dokter Rexa?" tanya Shanum tak percaya.


"Hey wanita! Beraninya kau menyebut nama pria lain saat berada di bawahku!" sergah Arthur, dia benar-benar kesal dengan sikap Shanum yang keras kepala.


"Aku hanya menyebutkan biar Anda tahu." Shanum menjawab dengan nada ketus. "Tuan, bisakah Anda memanggil namaku saja? Namaku Shanum, bukan hey wanita! Untung saja saat akad kemarin kau tidak salah menyebutkan namaku," cibir Shanum.


"Hey! Kau ini salah, masih saja mengajakku berdebat!" Arthur berdiri, dia membenarkan Bathrobenya, duduk di tepi ranjang dengan wajah kusut. "Kau ... benar-benar wanita yang paling menjengkelkan!" Arthur merapatkan giginya. "Tapi, malah kau yang menjadi istriku!" ucapnya lagi, melirik sinis Shanum yang juga duduk memojokkan diri ke tepi ranjang di sisi yang lain.


Shanum tidak mendengarkan apa yang Arthur katakan. Dia lebih memikirkan bagaimana caranya dia bisa melakukan test DNA tanpa sepengetahuan pria itu. Wajah yang sangat mirip dengan putranya, membuat Shanum merasa ada sesuatu yang janggal. Bukan hanya sedikit mirip, tapi memang sangat-sangat mirip sekali.


"Kemarilah!" titah Arthur, dia bersandar di sandaran ranjang. Namun, melihat Shanum yang tidak bergerak sedikit pun, membuat pria itu semakin berang.


Arthur mendekat pada Shanum, menarik pundak wanita itu dan merebahkan ke belakang. Sontak, Shanum tertidur di atas pangkuan Arthur. Tatapan mereka sempat beradu pandang.


Shanum tidak melawan, memang itulah yang harus dia lakukan untuk penebusan hutang. Jika malam ini tertunda lagi, maka hutangnya tidak akan pernah lunas dan dia pasti tidak akan lepas dari serangkaian teror Arthur.


"Kau masih tidak mau untuk berinisiatif?" Arthur tidak suka permainan seperti ini. Merasa dia sedang memaksa wanita itu. Nyatanya, semua itu dilakukan atas dasar mau sama mau walaupun Shanum terpaksa.


"Maafkan aku, Tuan. A--aku tidak tahu harus me--memulainya dari mana," ucap Shanum terbata-bata.


"Jadi, putramu itu hasil dari mana? Kau tidak melakukannya bersama pria itu?" Arthur mendelik, dia tersenyum sinis terkesan merendahkan. Dia tidak mempercayai apa yang Shanum katakan mengenai tidak tahu memulai dari mana.


"Saat itu, aku hanya menangis dan memohon belas kasih. Apa sekarang aku juga harus begitu?" Shanum tahu, bukan itu yang harus dilakukan untuk memuaskan Arthur. Dia senang membuat Arthur emosi dan tidak bisa berkata apa-apa.

__ADS_1


"Kau benar-benar, ya!" Arthur memelototi Shanum, tapi wanita itu tak merasa takut sedikit pun, menambah kadar kekesalan di hati Arthur.


Saat sedang dalam kepasrahan, tiba-tiba Shanum terpikirkan sebuah ide yang cukup konyol baginya. Shanum tahu, jika sedang berhubungan begitu, pasti banyak wanita yang menjambak rambut pasangannya.


"Apa-apaan kau ini?" tanya Arthur, memegangi kepalanya yang perih. Dia mengerutkan dahinya. Rasanya, ada saja kelakuan Shanum yang berhasil membuatnya jengkel.


"Ahhh... maafkan aku. Bukankah hal yang wajar jika aku menarik rambutmu, Beib?" Shanum sengaja membuat suaranya terdengar lembut, mendayu-dayu.


Arthur tidak ambil pusing, melanjutkan permainannya yang sempat tertunda. Terlebih ketika keinginannya sudah memuncak. Untuk kesekian kalinya, Arthur kembali melancarkan serangannya yang sudah beberapa hari ini dia tunggu-tunggu karena sempat tertunda.


Shanum tersenyum, dia mendapatkan beberapa lembar rambut Arthur untuk dilakukan tes DNA dengan Arsenio. Meski harus membuat suara yang menggelikan, tapi Shanum puas karena mendapatkan apa yang dia mau tanpa ada kecurigaan sama sekali dari sang empunya. Jika begitu, bukankah pepatah lama pun bisa langsung dapat dibenarkan? Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Hutang Shanum lunas, dia juga mendapatkan rambut untuk test DNA.


'Untung saja aku pintar. Ya, walaupun harus membuat suara yang aneh itu, tetap saja semua terbayarkan,' batin Shanum, menggenggam erat rambut Arthur di tangannya, takut rambut-rambut itu tercecer dan usaha yang sudah Shanum lakukan pun akan berakhir sia-sia. Terlebih, kesempatan untuk dia mengambil sampel rambut dengan aman pun tidak akan datang dua kali.


Arthur melanjutkan permainannya, berulang kali dia melumaatt bibir ranum wanita itu. Tidak ada kebosanan, yang ada Arthur semakin candu dengan rasa manis dari bibir ranum Shanum.


Arthur menyudahi foreplay, langsung menuju permainan inti.


"Tu--tuan, pelan--pelan, rasanya sakit sekali-- hum...." Shanum tidak sempat melanjutkan ucapannya. Arthur lebih dulu membekap mulut wanita itu.


Saat Arthur sudah melancarkan serangannya, mata wanita itu membeliak. Rasanya dia sangat tidak sanggup menahan rasa perih yang menjalar. Rasa perihnya tak tertahan, seakan Arthur sedang mencabik serta mengiris-ngirisnya. Sangat sakit, sampai tanpa sadar Shanum mencakar punggung Arthur dengan kuku panjangnya.


'Ssshhh! Sakit sekali. Apa wanita ini hewan buas? Seharusnya dia memotong kukunya. Sekarang, aku malah double kill, dicakar dan digigit.' batin Arthur, merasa kurang terima.


"S--sakit," keluh Shanum dengan air mata yang memburai saat paguutan Arthur terlepas.


Setelah menjeda beberapa detik, dia melanjutkan permainannya lagi. Saat itulah, cakaran Shanum perlahan berkurang. Shanum mulai merasakan sesuatu yang berbeda.


"Tuan, tolong lepaskan di luar saja," mohon Shanum, dia tidak ingin anaknya bernasib sama semua. Cukup Arsenio yang harus lahir dan besar tanpa sosok seorang Daddy yang jelas. Dari kecil selalu mendapatkan hinaan dan rundungan dari orang-orang sekitarnya. Shanum tidak mau, semua anaknya akan bernasib sesedih Arsenio. Untung saja, Arsenio lahir dengan kesabaran dan kebaikan hati yang besar. Pengertian putranya itu amat luas, membuat Shanum selalu tersenyum walau kesedihan selalu merajam hatinya.


Arthur tidak mempedulikan permohonan Shanum. Dia tetap mengeluarkan benihnya ke dalam. Membuat Shanum menangis, takut kejadian lampau terulang lagi.


"Selama ini aku tidak pernah mengurangi rasaku dengan mengeluarkannya di luar. Malam ini, apa aku harus melakukannya untuk menurutimu? Memangnya kamu siapa?" Arthur memakai kembali Bathrobenya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Shanum menghapus sisa air matanya. Dia segera mengenakan pakaiannya lagi, meminta Leo untuk mengantarkannya. Malam sudah semakin larut, Shanum yakin tidak akan ada lagi taksi yang melintas.


Leo kasihan dengan wajah kusut wanita itu, dia mengantarkan Shanum.


"Bisakah kamu mampir di apotek sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku beli," minta Shanum pada Leo.

__ADS_1


Leo tidak banyak berpikir, mengira Shanum membeli obat untuk putranya yang sedang sakit. Jadi, dia menurut. Ketika melewati sebuah apotek yang masih buka, Leo menepikan mobilnya. Tidak diduga, Shanum membeli obat penunda kehamilan.


"Tuhan, semoga belum terlambat aku meminum ini. Semoga tidak ada yang hidup lagi di dalam rahimku. Anak yang terlahir dariku hanya akan mendapatkan kesengsaraan," gumamnya sambil mengusap-usap perutnya yang datar.


"Terima kasih," ucap Shanum pada Leo. Tidak mau menunggu lama. Shanum langsung meminum pil penunda kehamilan saat itu juga.


Seperti saat pertama kali menjemput Shanum tadi, Leo menurunkan wanita itu di tempat yang sama. Sedikit jauh dari area kos-kosan yang Shanum tempati.


Sebelum turun, Shanum sudah mengawasi area sekitar, memastikan supaya tidak ada yang melihatnya turun dari mobil mewah. Takut, hal itu akan memicu sebuah fitnah keji lagi.


Setelah turun, Shanum buru-buru berlari kecil menuju kos-kosannya. Di depan pintu, sudah ada Arsenio dan Rima yang sedang menunggu kepulangannya.


"Mommy! Dari mana saja?" Arsen memeluk Mommy-nya, pria kecil itu cemas karena sejak tadi Mommy-nya tidak kunjung pulang.


"Maafkan Mommy Sayang. Keperluan mendesak membuat Mommy harus segera pergi saat kamu tidur tadi. Mommy terpaksa menitipkan kamu sama Tante Rima, deh!" Shanum mensejajarkan posisinya dengan Arsen, membujuk putra kecilnya itu.


"Kenapa dalam beberapa hari ini Mommy memiliki keperluan mendadak, sih?" Arsen masih belum melepaskan dekapannya.


"Sekarang sudah selesai, Sayang. Mommy tidak akan punya keperluan mendesak lagi," ucap Shanum. "ayo kita masuk."


"Rim, terima kasih ya karena sudah mau direpotkan menemani Arsenio," ucap Shanum pada Rima.


"Wah, mana ada direpotkan. Justru, aku senang loh bisa menjaga bocah kecilmu itu," jawab Rima. "Ya sudah, karena kamu sudah pulang, aku masuk dulu, ya."


Shanum mengangguk sambil tersenyum. Membawa Arsen masuk ke dalam kamar kos. Setelah membaringkan tubuh putranya, Shanum menyempatkan mengirim pesan singkat untuk Arthur. Kemudian, memblokir nomor ponsel pria itu.


***


Arthur baru keluar dari kamar mandi, menyugar rambutnya yang masih basah. Diam mematung ketika menyadari Shanum sudah tidak ada lagi di atas ranjang.


Arthur tersenyum sinis, dia mengambil ponselnya untuk menghubungi wanita itu, menanyakan kenapa pulang secepat itu? Bukankah masih banyak yang harus dibicarakan?


Arthur membisu dan mematung, matanya menatap ejaan huruf-huruf di depannya dan membacanya dalam hati yang mulai memanas karena kesal.


"Tuan, hutangku padamu sudah lunas. Hubungan pribadi kita juga cukup sampai di sini. Cukup atasan dan bawahan saja, kembali seperti dulu, tidak saling mengenal. Jangan lupa talak aku, Tuan." Itulah pesan singkat yang Shanum kirimkan.


*****


Sudah tujuh kali revisi, maaf kalau tidak sesuai ekspektasi kalian semua 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2