Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Istri Satu Malamku!!


__ADS_3

"Selamat, kalian sudah menjadi suami istri yang sah di mata agama," ucap Pak penghulu, mengagetkan Shanum dari lamunannya memikirkan nasib.


"Terima kasih, Pak." Shanum tersenyum. Bukan senyuman bahagia yang dia berikan. Tapi, sudahlah... dalam hati dia terus-menerus berdoa agar malam ini cepat berlalu. Hari esok, cepat dan membantu Shanum memulihkan luka hati ini, dan melupakan semuanya. Anggap saja tidak ada yang terjadi.


Semua beranjak pergi, Arthur meminta Shanum untuk kembali ke kamar tadi duluan.


"Leo, pastikan mereka semua menutup mulut. Jangan sampai kabar ini bocor keluar, aku tidak ingin itu sampai terjadi!" ucap Arthur tegas, dia terus mewanti-wanti Leo untuk hal itu.


"Baik, Tuan."


Arthur kembali ke kamar, dia tidak mendapati Shanum di dalam kamar. Lampu yang masih padam pun dinyalakan oleh Arthur. Matanya menatap ke segala sudut, tidak menemukan Shanum.


Arthur berjalan dan menghentikan langkahnya di depan pintu kamar mandi, mendengar ada suara shower yang sedang dipakai.


Senyumannya pun merekah, ada sebuah niat yang langsung terangkai dalam hati Arthur. Tanpa mau menunggu lama dan membuang kesempatan yang langka, Arthur menerobos masuk ke dalam kamar mandi.


"Sial! Pintunya dikunci!" rutuknya, terpaksa Arthur mengambil kunci cadangan di dalam laci nakasnya.


Pelan sekali Arthur memutar kuncinya, agar suaranya tersamarkan dengan suara air yang mengalir dari shower. Cukup lama Arthur berdiri di belakang Shanum, dia tercengang. Memandangi lekuk tubuh istri satu malamnya yang begitu indah. Tidak seperti seorang Mommy yang sudah memiliki anak.


Tubuhnya, kulitnya, wajahnya, semua pesona dari Shanum, seorang Hot Mommy benar-benar menjerat Hasratnya. Arthur tidak akan tahu, sampai kapan dia akan terus terbelenggu dalam jeratan hasrat yang membuatnya ingin selalu mendekap tubuh ramping Shanum.


Shanum sedang menyabuni tubuhnya, dia sengaja berlama-lama mandi karena berniat menghindari Arthur. Tubuh dan mentalnya belum siap untuk memulai malam kedua setelah malam pertama yang terenggut secara paksa oleh seseorang yang tak dikenalnya.


"Aromanya wangi sekali," ucap Shanum, aroma sabunnya benar-benar membuatnya terbuai. Shanum menyabuni kakinya, dia sedikit membungkuk agar semuanya merata.


Melihat pemandangan di depannya, Arthur kembali menelan saliva.


"Pantas saja kau senang berlama-lama di kamar mandiku, sabunnya wangi?" goda Arthur, suara dominan pria itu mengagetkan Shanum sampai wanita itu terjingkat.


"Tu--tuan, bagaimana Anda bisa berada di sini?" tanya Shanum, wajahnya pucat pasi, dia yang awalnya mau membilas tubuhnya, malah berubah pikiran.


'Jika aku membilas tubuhku, pasti akan terlihat. Tapi, jika penuh busa sabun seperti ini, tidak akan terlihat semuanya. Handuk juga berada tepat di sebelahnya, dia tidak akan membiarkan aku mengambil handuknya,' batin Shanum, seakan dia sudah bisa menebak semuanya.


"Memangnya, kamu sedang mandi di mana? Sungai?" Arthur terkekeh kecil. "Ini rumahku. Walaupun kau sudah mengunci semua ruangan, aku tetap punya kunci cadangan untuk membukanya," lanjutnya, memandangi tubuh Shanum yang masih berbusa tebal.


"Tapi, kan kita bisa gantian," ucap Shanum lirih.


"Bergantian?" Arthur berjalan mendekat pada Shanum. Dia memegang lengan Shanum, menghidupkan shower dan membiarkan air mengalir itu membasahi semua busa sabun yang melekat di tubuh istri semalamnya itu. "Kau lupa apa yang aku katakan tadi? Kita akan mandi bersama!" Arthur melihat tubuh Shanum yang sudah polos, tidak ada apa pun yang menghalanginya. Sekali lagi, dia menelan kasar salivanya.


Shanum begitu malu, bagaikan sedang dilempari kotoran ke wajahnya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tangannya terasa kaku untuk menutupi area-area sensitifnya. Jadi, dia hanya bisa menundukkan kepala seraya memejamkan mata, meremas jari-jemarinya sendiri.


"Kau gugup untuk malam pertama kita?" tanya Arthur. "Bukakan kemejaku!" pintanya.


Shanum masih mematung. Hingga terpaksa Arthur menuntun tangan wanita itu dan membuka satu persatu kancing kemejanya.

__ADS_1


"Jika kau sok malu-malu seperti ini, aku tidak akan menganggap hutangmu lunas meski kita sudah melakukannya. Aku akan terus menagihnya padamu, di mana pun, kapan pun, sampai kau mempunyai inisiatif untuk melakukannya sendiri!" ucap Arthur, kesabarannya habis sudah.


"Tuan ...." sepertinya Shanum hendak melayangkan protes. Namun, mulutnya terkunci karena Arthur mengulum bibirnya.


"Berinisiatiflah! Aku benci wanita-wanita munafik yang berpura-pura. Padahal, kau sudah pernah melakukannya dengan pria lain, kan?" Arthur memainkan jarinya di area sensitif Shanum. Reflek wanita itu merapatkan kakinya.


Arthur kesal lagi, dia menghimpit tubuh Shanum sampai ke tembok.


"Kau masih tidak mau berinisiatif?" tanya Arthur, menaikkan dagu Shanum dengan jarinya.


"Tuan, hubungan kita saat ini memang suami istri. Namun, bukan berarti kau bisa memperlakukan aku sesukamu!" ucap Shanum dengan nada ketus.


"Memangnya kenapa? Bayar hutangmu dengan berinisiatif, atau siapkan dirimu, aku akan mencarimu setiap menit untuk aku tiduri?" balas Arthur tak kalah ketus. Netra mereka saling bersitatap dengan wajah yang sama-sama ketus dan dingin.


'Sialan wanita ini. Baru kali ini aku meniduri wanita yang kurang ajar. Dia yang berhutang, tapi seolah-olah aku yang harus menjilati kakinya! Tidak tahu diri sekali. Bersikap ketus denganku? Aku tidak akan mengampunimu!"


"Kenapa Anda terus-menerus menatapku? Apakah di wajahku ada sesuatu yang menarik?" pertanyaan yang dilontarkan Shanum menyadarkan Arthur.


"Wajahmu terlalu jelek. Aku berpikir,


apakah aku bisa mendesah sambil menatap wajah ini?" ledek Arthur, membelai pipi Shanum yang sangat lembut.


"Apakah kita harus berada dalam kamar mandi ini semalaman?" Shanum mulai merasa kedinginan. Dia mendekap tubuhnya sendiri, giginya mulai bergemelatuk, dia berusaha menolak tubuh Arthur menjauh darinya.


"Baiklah." Arthur membiarkan Shanum mengenakan Bathrobe dan masuk ke dalam kamar.


Setelah Shanum keluar, Arthur melakukan ritual mandinya. Baru pertama kali ini, dia tidak dilayani sepenuh hati oleh wanita yang akan menemaninya tidur.


"Istri? Istri macam apa itu? Walaupun hanya untuk satu malam saja. Bukankah dia harus melayaniku sepenuh hati?" gerutu Arthur sambil mandi.


Selesai mandi, Arthur masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat Shanum sudah meringkuk di atas ranjang, menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.


Arthur mencebikkan bibirnya, mengibaskan rambutnya yang basah. Berusaha untuk bersikap acuh pada Shanum yang dinilainya pura-pura.


Sekali lagi Arthur melirik Shanum, ada perasaan tak tenang jika harus membiarkan wanita itu menggigil seperti itu. Arthur menghela nafas panjang, tampaknya malam yang dinantikan akan gagal.


Pria itu menyalakan penghangat, agar Shanum merasa lebih baikan. Dia naik ke atas ranjang, masih dengan Bathrobe melekat yang melekat di tubuhnya, Arthur memeluk tubuh Shanum.


"Hey, wanita! Jika kau masih mendengarku, aku hanya mau mengatakan sesuatu hal, ya! Kau jangan salah paham, aku memelukmu dan menghangatkan ruangan bukan karena aku menyukaimu, Istri satu malamku!" ucap Arthur, memperhatikan wajah Shanum yang memerah.


"Aku melakukan ini semua bukan karena cinta, tapi karena kasihan melihatmu! Aku juga sadar, itu semua karena kesa--" Arthur terdiam, dia mencerna kembali apa yang akan dia katakan. Mendadak membisu, kemudian meralat ucapannya sendiri.


"Itu bukan salahku. Salahmu sendiri yang tidak berinisiatif dan banyak bicara!" ketus Arthur.


Nafas teratur Shanum menandakan wanita itu sudah tertidur pulas. Setela menatap wajah Shanum, Arthur pun perlahan memejamkan matanya.

__ADS_1


Malam panjang terlewati begitu saja. Shanum yang mulanya menggigil, berkat pelukan hangat Arthur berhasil mengeluarkan keringat sebanyak mungkin. Membuat tubuhnya terasa lebih segar dan fresh lagi.


Karena merasa gerah, Shanum terbangun. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Di peluk erat oleh Arthur, kaki pria itu menimpa tubuh Shanum.


Shanum merasa sesak, sekuat tenaga dia menolak tubuh Arthur supaya menjauh darinya.


"Menjauhlah, Tuan!" kesal Shanum.


Shanum membuka Bathrobenya sampai menampakkan belahan dadanya. Kemudian, mengibas-ngibaskan tangannya di depan dada berusaha mendinginkan tubuhnya sendiri.


"Hey, wanita! Kau sedang menggodaku, kan?" tuduh Arthur.


"Menggodamu? Untuk apa? Bukankah semalam kita--" Shanum berhenti bicara, dia mengulang lagi kejadian semalam. Semua reka adegan semalam kembali terulang dalam otaknya. Ya, mereka memang belum melakukannya. Yang artinya, hutang Shanum pada Arthur benar-benar belum lunas.


"Kita apa? Kau bermimpi sudah melakukannya denganku? Ckck! Kau hanya meringkuk di bawah selimut sambil menggigil!" ketus Arthur kesal, dia membuang selimut ke sembarang arah dan masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak lama, Arthur kembali keluar dengan handuk pendek yang melilit di pinggangnya.


"Siapkan pakaian kerja suamimu ini, Istri satu malamku!" ucap Arthur dengan wajah dingin. Entah kenapa, dia senang sekali memanggil Shanum dengan panggilan aneh itu. Panggilan itu seakan cocok melekat dengan Shanum, wanita yang meminta pernikahan satu malam itu terjadi.


"Baik, Tuan." Shanum menurut, dia sudah tidak mau ada pertengkaran sengit lagi. Cukup sudah melawan pria menyebalkan yang sok berkuasa itu.


Ya, memang berkuasa sih.


Shanum masuk ke dalam walk in closet dan mulai memilih setelan jas formal, dasi, jam, dan sepatu yang akan Arthur pakai hari itu. Entah Arthur akan suka atau tidak dengan pilihannya, Shanum pun enggan untuk peduli.


"Pakaikan pakaianku!" titah Arthur, pria itu berjalan ke arah Shanum.


Shanum menurut lagi, bukan karena bodoh. Tetapi, supaya dia cepat keluar dari sana tanpa senam mulut dengan berdebat panjang lebar. Capek.


Sewaktu dia memakaikan celana Arthur, dia buang muka. Sungguh, pemandangan yang sangat tidak ingin dilihatnya tapi sayang jika dilewatkan.


"Selesai!" seru Shanum.


"Tetaplah di sini!" titah Arthur.


"Kenapa aku harus di sini? Tuan, aku juga memiliki kehidupan pribadi. Aku memiliki seorang anak. Jika aku tidak kembali, bagaimana dengan putraku? Aku juga harus bekerja, bukan?" cecar Shanum, terang-terangan dia menolak apa yang Arthur minta.


"Kau lupa, hutangmu belum lunas!" Arthur mencengkram dagu Shanum. Dia kesal dengan sikap keras kepala Shanum yang terus saja membangkang apa yang Arthur ucapkan.


"A--aku mengerti. Tetapi, bagaimana dengan putraku? Jika aku harus meninggalkannya seperti ini, aku lebih memilih mendekam di penjara daripada menyerahkan harga diriku!" ucap Shanum tanpa gentar walau tenaganya tak cukup untuk melawan kehendak Arthur.


"Baiklah. Kau boleh pulang. Dua hari ini aku ada perjalanan bisnis. Setelah aku pulang, aku ingin melihatmu di sini. Layani dan puaskan aku! Ingat, kau masih istriku dan hutangmu belum lunas!" Arthur kembali menekankan.


*****

__ADS_1


__ADS_2