
Arsenio melepaskan pelukan Miss Alea. Ketika mobil itu sudah dekat, dan berhenti di depan pagar tinggi rumah Kenya, Arsenio segera berlari ke arah mobil itu dan berteriak kencang.
"Oma! Oma!" pekik Arsenio supaya Kenya yang berada di dalam mobil melihatnya. Arsenio juga memukul-mukul kaca samping mobil dengan kekuatan penuh, makin lama makin melemah.
Miss Alea yang sempat terpaku sesaat di tempatnya, langsung berlari kecil menghampiri Arsenio yang tidak henti-hentinya terus menggedor kaca mobil. Miss Alea menarik Arsenio untuk mundur beberapa langkah supaya tidak lagi memukul-mukul kaca mobil. Miss Alea belum tahu bagaimana watak Kenya, Oma Arsenio yang pria kecil itu katakan. Ya, jika Kenya menerima Arsenio, bagaimana jika wanita itu tidak terima dan malah membuat perkara tanpa mau tahu siapa Arsenio itu? Bagaimana? Itulah yang Miss Alea pikirkan.
Di dekatnya Arsenio sambil dipegangi tangannya. Miss Alea begitu syok dengan tingkah Arsenio yang tidak diduganya. Selama ini Miss Alea mengenal Arsenio sebagai anak yang bijak. Tapi, kali ini Arsenio sungguh berhasil mengagetkannya.
"Arsenio, jangan seperti itu! Bagaimana kalau kaca mobil itu pecah?" tegur Miss Alea, dia menatap wajah Arsenio yang sudah berkeringat sampai memerah. Miss Alea menduga mungkin karena Arsenio terlalu lama berada di tempat terik.
Arsenio menggelengkan kepalanya. "Tidak akan pecah, Miss! Lihatlah! Itu mobil keluaran terbaru, Arsen tidak tahu apa namanya. Mana mungkin digedor-gedor oleh anak kecil bertenaga pelan sepertiku bisa pecah," bantah Arsenio sembari menunjuk ke arah mobil.
Miss Alea memang memperhatikan mobil itu. Namun, bukan keadaan mobil atau pun kemewahan mobil itu yang dia lihat. Melainkan, Miss Alea kembali resah kala mobil itu tidak kunjung jalan memasuki area rumah.
Yang membuat Miss Alea gusar, karena wanita itu tidak dapat melihat sedikit pun ke dalam mobil, bahkan walau hanya bayangan saja.
Dugaan Miss Alea benar, Ibu dan anak di dalam mobil tengah menengok ke belakang. Memperhatikan Miss Alea dan Arsenio yang masih membelakangi mobil karena di sekap Miss Alea.
"Siapa, sih, itu? Kenapa mereka masih berdiri di sana?" gumam Kenya bertanya-tanya dengan raut wajah bingung luar biasa.
"Entahlah, Mam, mungkin saja orang mau minta sumbangan, atau orang yang kebetulan lewat saja," sahut Clarissa, mendengkus panjang karena tubuhnya yang begitu lelah. Dia menyandarkan tubuhnya, memilih tidak lagi peduli pada apa yang Kenya penasarankan.
"Minta sumbangan?" Kenya kembali bergumam, mungkin benar apa yang dikatakan putrinya, Clarissa. Bukankah sekarang memang banyak orang yang meminta sumbangan sambil membawa anak kecil sebagai media pengasihan? Kenya manggut-manggut membenarkan.
__ADS_1
Namun, sekali lagi dia menelisik pakaian rapi Arsenio dan juga wanita yang sedang mendekap pria kecil itu. Rasanya tidak mungkin jika mereka datang khusus untuk meminta sumbangan.
"Memang ada orang yang meminta sumbangan dengan pakaian serapi itu. Wanita itu juga bermake-up," desis Kenya, wanita itu sampai mengerutkan dahinya. "Lagipula, tidak mungkin juga peminta sumbangan bisa melewati satpam kompleks kita, kan, Cla?" ujarnya lagi sambil menimbang.
"Kamu dengar tidak apa yang anak itu katakan saat menggedor pintu mobil kita barusan?" tanya Kenya, kini beralih tatap pada Clarissa yang sudah memejamkan matanya. Dia sangat lelah, ingin segera meluruskan tubuhnya di atas ranjang.
Clarissa menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin Cla dengar, Ma. Mobil ini tidak bisa menembus kebisingan di jalanan," ujar Clarissa, lagi dan lagi dia menarik nafas panjang karena rasa penasaran Kenya masih belum memudar.
"Mama turun saja kalau penasaran. Tanyakan, ada kepentingan apa," saran Clarissa. "Cla mau masuk, Ma. Ngantuk, capek, badan juga pegal-pegal, Ma!" rengeknya manja sambil menggoyang-goyangkan dua tangannya.
"Mama tidak mau turun. Palingan wanita itu sebagian dari wanita lain yang datang mencari Mama untuk meminta pertanggungjawaban Arthur, Kakak kamu. Mama sudah sering pusing dengan tingkah Kakak kamu. Para wanita itu bela-belain mengadopsi anak supaya bisa diakui sebagai anak Arthur," ucap Kenya, kembali mengulang ingatan beberapa bulan yang lalu. Bahkan, kejadian seperti itu pun bukan hanya satu dua kali saja terjadi. Tetapi, sering.
"Sudah Mama jadikan pembelajaran, kan? Dilihat dari wajahnya saja tidak ada mirip-miripnya dengan Kak Arthur. Mama malah pakai test DNA segala," tukas Clarissa, dia geleng-geleng kepala atas sikap Mamanya. Terkadang pintar, terkadang anehnya kelewatan.
"Nanti kita cari sama-sama, Ma," ucap Clarissa menenangkan.
'Mama kenapa bisa percaya dengan mitos itu, sih? Memangnya, kalau Kak Arthur ikut sakit perut, sudah pasti ada wanita yang sedang melahirkan anak Kak Arthur? Aku tidak percaya sama sekali,' batin Clarissa. Kelamaan berada di luar negeri membuatnya kerap tidak mempercayai apa yang sulit untuk dia yakini. Namun, demi menenangkan sang Mama, tidak apa-apa baginya untuk pura-pura percaya.
"Sudahlah, malah mengobrol di sini. Pak, ayo jalan lagi!" pinta Clarissa.
Namun, saat mobil mereka kembali berjalan, Kenya kembali melaju, Kenya kembali menoleh ke belakang. Ada segenap rasa penasaran dan ketidakrelaan yang berkecamuk dalam relungnya. Rasanya ingin sekali dia turun dan memastikan sendiri, siapa mereka itu. Biasanya, dia tidak pernah peduli pada hal tidak penting seperti itu. Tetapi, kali ini sungguh-sungguh berbeda. Semakin mobil yang dia tumpangi melaju, perasaannya seakan tertarik untuk tidak pergi.
Bersamaan dengan itu, Arsenio menoleh ke arahnya. Spontan Kenya membulatkan matanya. Berteriak keras meminta sang sopir untuk menghentikan mobilnya sesegera mungkin.
__ADS_1
"Stop, Pak! Stop! Berhenti di sini!" pekik Kenya, tidak sabaran.
Clarissa yang sedang menyandarkan punggung sambil memejamkan mata pun langsung duduk tegak dan memperhatikan Mamanya yang sudah berlari keluar, menemui Arsenio dan Miss Alea yang masih di tempat mereka berdiri dari tadi.
Clarissa ikut keluar, takut terjadi sesuatu pada Mamanya karena mereka kan tidak mengenali kedua orang asing itu. Bergegas Clarissa membuka seatbeltnya dan berlari keluar menyusul Mamanya.
"Ma!" teriak Clarissa memanggil-manggil.
Clarissa berhenti dua langkah tepat di belakang Kenya. Dia menatap punggung Kenya yang bergetar, terpaku di tempatnya dengan tatapan terjurus pada seorang bocah kecil yang wajahnya sangat mirip dengan Arthur Harisson. Setelah menatap sang Mama, pandangan Clarissa pun ikut berpindah pada bocah kecil yang sangat menggemaskan.
"Si--siapa ka--kamu? Ke--kenapa wajahmu sangat mirip dengan Kakakku?" tanya Clarissa bergetar.
Namun, Clarissa kembali menatap Mamanya saat Isak tangis kembali terdengar dari wanita itu.
"Ma, kenapa menangis?" tanya Clarissa, memeluk Mamanya sambil mengusap-usap lembut punggung Kenya.
"Cucuku!" ucap Kenya dengan lirih, tapi masih sangat jelas terdengar.
"Cucu?" Clarisa mengulangi. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya saat ini.
"Oma, Tante, Aku Arsenio Thafta Mahira, putranya Daddy Arthur," ucap Arsenio memperkenalkan diri. Tidak ada rasa was-was, takut, atau pun gentar dari raut wajah pria kecil itu. Justru, api keberaniannya berkobar-kobar dari sorot mata polosnya.
*****
__ADS_1
Ada yang nungguin Double Updatenya ga nih, wkwkðŸ¤