Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Tidak Butuh


__ADS_3

"Untuk apa lagi? Kenapa sekarang Tuan Arthur berubah menjadi kekanakan begini? Kasihan Nona Shanum," gumam Leo.


Kendatipun apa yang Arthur minta tidak selaras dengan pikiran dan hati Leo, pria itu tetap tak bisa membantah apa pun. Dia tetap meninggalkan semua pekerjaannya demi meminta Bu Reka untuk memanggilkan Shanum.


"Shanum lagi? Saya berikan cleaning service yang lain saja, ya?" tawar Bu Reka, dia takut kejadian kemarin malam kembali terjadi. Adanya pemanggilan ini semakin menguatkan keyakinannya, bahwa bukan Shanum yang menggoda Bosnya.


"Anda kan tahu sendiri, perusahaan kita sedang panas karena pemberitaan di media sosial itu. Kalau Shanum datang ke ruang Pak Arthur, bukannya sama saja dengan membenarkan berita miring itu? Bisa-bisa para karyawan yang lain pasti akan semakin membenci Shanum," ujar Bu Reka, mengutarakan apa yang dia khawatirkan saat ini.


Leo menghela nafas panjang. "Saya juga memikirkan apa yang anda pikirkan, Bu. Tetapi, seharusnya Anda Sudah cukup tahu dengan watak Tuan Arthur, bukan? Dia menginginkan Shanum, ya harus Shanum." Leo menatap wajah sendu wanita tua di depannya. Terlihat jelas, banyak sekali yang wanita itu khawatirkan.


"Sepertinya, Anda sangat menyayangi Nona Shanum," ujar Leo bermaksud untuk bersenda.


Bu Reka menoleh dari lamunannya. Kemudian dia mengangguk dengan wajahnya yang sangat serius. "Benar, saya sangat menyayangi wanita itu. Kasihan dia harus menanggung semuanya seorang diri. Dan, sekarang malah harus semakin menelan pahit. Saya sudah melakukan kesalahan padanya, dan itu sudah cukup," jawab Bu Reka, dia Masih memikirkan nasib Shanum.


Mendengar penuturan wanita itu, Leo juga merasa bersalah pada Shanum. Tetapi, apa yang bisa dia perbuat? Dirasa, tidak ada sama sekali.


"Ibu ... tahu apa yang terjadi di antara mereka kemarin malam?" tanya Leo dengan suara lirih, menatap lekat wajah Bu Reka yang langsung mengangguk.


"Saya sudah cukup lama mengabdi di Arthur Group. Mana mungkin tidak mengetahui kelakuan Pak Arthur," jawabnya kemudian.


"Minta Shanum ke ruangan Tuan Arthur segera, Bu. Kita tidak bisa mencari masalah dengannya." Leo segera keluar dari sana. Semakin lama berada di dalam, maka tambah besar pula rasa bersalahnya terhadap Shanum.


Shanum yang sedang mengepel kamar mandi tiba-tiba diguyur seember air oleh para karyawan yang sudah termakan dengan gosip yang beredar. Shanum hanya bisa terdiam, memperhatikan tiga orang karyawan itu dengan tatapan tajamnya.


"Apa? Kau mau memukul kami?" tantang seorang wanita berambut panjang dengan lipstik merah merona. "Silakan! Mentang-mentang kau seorang ******, kau pikir kami takut denganmu?" imbuh wanita itu lagi bersedekap.


"Nona, aku tidak mau mencari masalah denganmu," ucap Shanum, lanjut mengepel dengan tubuhnya yang basah kuyup. Shanum tidak mempedulikan tatapan mereka yang semakin berniat menggertak Shanum.


"Kau pikir dirimu sehebat itu?" sergah wanita berambut pendek. Mungkin, benar kata orang tua, orang yang mengajak ribut, akan semakin emosi jika tidak dipedulikan. Dan, sekarang Shanum merasakannya sendiri.


Shanum tidak menyahut, dia membungkam mulutnya sendiri. Berusaha menahan diri supaya tidak menyahut walaupun hatinya sudah sakit mendengar cacian mereka. Shanum melanjutkan mengepel lantai yang semakin licin karena guyuran air tadi.


"Dasar wanita sialan!" pekik seorang wanita yang tidak Shanum ketahui siapa karena posisinya membelakangi.


"Aw!" Shanum memekik kesakitan. Saat dia berada dalam posisi agak membungkuk, punggungnya ditendang dengan hills yang lawannya gunakan. Shanum terduduk di lantai, dahinya membentur siku tembok. Shanum memejamkan matanya kala rasa sakit dan perih berlomba-lomba untuk dirasa.


"Makanya, jadi ****** jangan sok cantik!" seru mereka, kemudian ketiganya tertawa terbahak. Tidak peduli dengan Shanum yang meringis dan mengaduh kesakitan.


Punggung Shanum sakit karena tendangan dari wanita tadi, Pantttatnya sakit karena terduduk, dan dahinya perih karena terbentur. Tapi, lagi dan lagi Shanum tidak mau mencari gara-gara. Dia memilih diam, berjalan tertatih-tatih untuk mengambil gagang pelnya. Tanpa mengatakan apa pun, Shanum melanjutkan mengepelnya walaupun sesekali dia meringis karena luka di dahinya yang mengalirkan darah.


"Lihat! ****** itu begitu kuat. Sudah disakiti sampai sebegitu pun masih kuat. Pantas saja dia tidak takut untuk menggoda Pak Arthur, bahkan rela mengangkang dan memamerkan miliknya yang bau itu demi mendapatkan apa yang diinginkan!" cibir yang lainnya.


"Aku sangat geram melihat wanita ****** sialan ini!" salah seorang maju ke arah Shanum. Posisinya, Shanum masih membelakangi mereka.


Saat langkah wanita itu semakin dekat, Shanum segera berbalik. Menghunuskan gagang pelnya ke arah wanita yang berjalan ke arahnya. Ujung gagang pelnya tepat berada di perut wanita itu.


"Kau! Kau menyakitiku!" pekik wanita itu, dia tidak sadar sudah menendang Shanum sampai tersungkur tadi.


"Nona-Nona, kenapa kalian suka sekali mengusik orang lain? Aku sedang bekerja, kalian juga. Tapi, kenapa malah mencari perkara di sini?" ucap Shanum, tatapan tajamnya lekat memandangi ketiga wanita yang semakin berang melihat Shanum yang begitu berani melawan.

__ADS_1


"Tapi, pekerjaan kotormu membuat kami kesal. Kau pikir, dengan menggoda Pak Arthur, kau bisa naik jabatan menggantikan Bu Reka? Atau, kau malah bermimpi untuk menjadi Nyonya? Cih! Dasar wanita tidak tahu malu!" sergah mereka, sama-sama membenci Shanum.


Dua orang wanita yang tersisa maju menyerang Shanum. Mereka berpikir, karena mereka berdua, bisa mengalahkan Shanum dan membuat wanita itu jera. Nyatanya, mereka pun tak sanggup menangani Shanum yang hanya seorang diri.


Saat kedua lawannya mendekat hendak melukainya lagi, Shanum menolak perut wanita yang masih terpaku di tempatnya itu dengan ujung gagang pel. Wanita itu mundur san jatuh, memegangi perutnya yang kesakitan.


Shanum membuang pel yang dia pegang ke sembarang arah. Dia menarik tangan wanita berambut panjang yang hendak menamparnya, memelintir tangan wanita itu ke belakang, mengunci gerakannya. Sebelah tangan Shanum lagi memiting batang leher musuhnya.


Dengan cepat, Shanum menendang wanita yang masih menuju ke arahnya dengan kaki kanannya. Gerakannya begitu cepat dan gesit, membuat mereka bertiga tidak bisa menghentikan aksi yang sudah terlanjur mereka mulai.


"Sha, kau keterlaluan! Kau melukai kami!" pekik wanita yang masih Shanum pelintir tangannya.


"Lalu, kalian lupa apa yang sudah kalian lakukan padaku tadi?" Shanum semakin kuat memiting leher musuhnya.


"Atas dasar apa kalian boleh mengataiku? Boleh memukuliku? Kalian kebal tehadap hukum?"


"Maafkan kami, Sha! Maafkan kami. Jangan ... laporkan kami ke polisi!" mohon mereka bertiga sambil menangis memohon pada Shanum.


"Ckck!" Shanum menghempaskan wanita yang dipitingnya. Kepalanya juga sudah mulai pusing.


Sebelum pergi, Shanum membereskan peralatan bersih-bersihnya. Di depan pintu, Shanum berhenti dan menoleh ke belakang.


"Aku memang tidak suka mencari masalah seperti kalian. Juga tidak suka meladeni orang-orang semacam kalian. Tapi, bukan berarti aku bisa diinjak-injak!"


Begitu tiba di dalam ruangan peristirahatan khusus mereka, Shanum duduk di duduk di sebelah Rima. Rekan-rekannya yang melihat keadaan Shanum segera menghampiri wanita itu.


"Loh, Sha, kamu kenapa?" Mereka memandangi Shanum yang basah kuyup, rambut berantakan, wajah kusam dan masam, tangan kanannya memegangi punggung, dan tangan kiri memegangi Pantttatnya. Dahinya yang berdarah menjadi pusat perhatian.


"Tunggu sebentar, aku ambilkan kotak p3k dulu!" seseorang berlarian mengambil kotak p3k yang terletak di ujung ruangan itu.


Pelan-pelan mereka mengobati luka di dahi Shanum, memberikan seragam baru untuk Shanum yang sudah menggigil.


"Sebentar, aku buatkan teh hangat untukmu." Rima beranjak dan berlari menuju pantry.


"Terima kasih, kalian baik sekali," ucap Shanum, meminum teh hangat pemberian Rima.


"Sebetulnya kamu ini kenapa? Jujurlah, pasti ada yang menjahati kamu, kan?" desak rekan Shanum yang seolah sudah bisa membaca keadaan melalui garis wajah Shanum.


"Shanum, datang ke ruangan saya sebentar!" panggil Bu Reka, langsung kembali ke ruangannya.


Shanum berjalan mengekor di belakangnya. Masih tertatih-tatih sambil memegangi punggungnya.


"Ya, Bu, ada apa?" tanya Shanum, berdiri di depan meja Bu Reka.


"Sha, kamu kenapa?" tanya Bu Reka khawatir.


"Tidak sengaja kepleset saat mengepel, Bu. Lantainya licin," bohong Shanum.


"Sha, kamu diminta ke ruangan Pak Arthur," ucap Bu Reka.

__ADS_1


Shanum terdiam, tampak wanita itu menarik nafas panjang. Tatapannya mengisyaratkan penolakan. Tetapi, dia tetap tidak bisa melakukannya.


"Sekarang, Bu?" tanya Shanum.


Bu Reka mengangguk mengiyakan.


"Baik, Bu, saya ke sana dulu."


Perasaan Shanum resah, hati dan logikanya serempak menolak datang menemui Arthur. Namun, apakah dia bisa melakukan penolakan? Tentu saja tidak, kan? Siapa dia, apa derajatnya sampai boleh menolak permintaan sang CEO? Hanya cleaning servis biasa.


Kegelisahan itu semakin merambah kala dia berada tepat di depan pintu ruangan pria itu. Sudah cukup Shanum melewati jalanan penuh duri, tatapan orang-orang di sekitarnya yang terus memandangi Shanum bagaikan tumpukan duri yang menyakiti dan menusuk-nusuk kakinya sampai terluka. Tapi, mana mungkin Shanum memarahi duri-duri itu. Dia sendiri yang memaksa jalan di padang duri.


"Mau apa kau?" Sena mencegah, entah dari siapa dia mendapatkan laporan mengenai Shanum yang datang ke sana.


Shanum yang merasa sakit di seluruh badannya merasa kesel saat jalannya dihadang begitu. Harusnya dia bisa cepat sampai, sekarang malah ada penghalang yang membuatnya tak sampai-sampai.


"Mau ke ruangan Tuan Arthur," jawab Shanum, tidak ada keramahan yang melekat di wajahnya.


"Tidak boleh. Kenapa kau suka sekali menggoda pria? Kau tidak mau kalau nanti diusir oleh Pak Arthur?" sentak Sena, menatap Shanum dari atas sampai ke bawah dengan arogannya.


"Aku memang tidak mau datang ke sini. Tapi, mau bagaimana lagi. Tuan Arthur yang memintaku datang ke sini. Jadi, menyingkirlah Nona Sena yang cantik!" ketus Shanum, menubruk tubuh Sena supaya wanita itu menyingkir dari jalannya.


"Cih! Memang apa lebihnya dia, sih? Kenapa dia lebih disukai oleh Pak Arthur?" geram Sena, hanya bisa mengepalkan tangannya.


Sudah banyak cara yang Sena lakukan, tidak satu pun cara itu berhasil.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu mengagetkan Arthur yang sedang memainkan gadgetnya untuk memeriksa gm*il yang masuk.


"Masuk!" Arthur tak terlalu peduli. Dia tidak mengira jika yang datang adalah Shanum.


"Kata Bu Reka, anda memanggil saya. Ada apa, Tuan?" tanya Shanum, dia yang berjalan tertatih saja sudah cukup menyita perhatian Arthur. Terlebih ketika Arthur menatap wajah Shanum yang terdapat perban kecil di dahinya.


"Ya. Aku memanggilmu." Arthur memilih tidak peduli dengan keadaan wanita itu.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan? Apakah Anda mau dibuatkan kopi?" tanya Shanum.


"Tidak usah basa-basi. Aku yakin, kau pasti sudah melihat berita yang sedang beredar di media sosial, kan?" Arthur memandangi tubuh Shanum, dari atas sampai ke bawah. Pandangan jelalatan pria itu membuat Shanum merasa kurang nyaman.


"Sudah." Shanum menjawab singkat.


"Bagaimana caraku menanganinya? Itu sama saja dengan mencemarkan nama baik perusahaan!" ucap Arthur.


"Aku tidak tahu harus melakukan apa. Sebelum video itu beredar, aku sudah dirugikan, Anda lah yang paling tahu mengenai kejadian itu. Sesudah video itu viral, aku juga yang paling dirugikan di sini," ujar Shanum apa adanya.


Arthur tersenyum. "Aku bisa menghapusnya. Tapi, aku--"


"Maaf, Tuan, aku tidak lagi membutuhkan bantuanmu!" potong Shanum tanpa memberikan kesempatan Arthur untuk melanjutkan ucapannya lagi.

__ADS_1


*****


__ADS_2