Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Terpikir Untuk Menikah


__ADS_3

"Mommy, di mana Daddy? Apa Mommy yang mengusir Daddy, makanya Daddy pergi?? Mommy tidak senang Daddy bersama Arsen?" cecar Arsenio, menatap lekat netra sang Mommy.


Shanum menggeleng, membantah semua praduga Arsenio terhadapnya. Memang dirinya yang mengusir Arsenio, tetapi dengan alasan apa juga dia bisa mempertahankan pria itu terus berada di sampingnya? Tidak akan mungkin, bukan?


"Sayang, Mommy tidak mengusirnya. Tapi, darimana kamu tahu kalau itu Daddy-mu? Apakah dia yang menemuimu di Day Care dan mengaku-ngaku?" tanya Shanum, tapi tak langsung mendapatkan jawaban dari Arsenio. Putranya itu terdiam, seperti sedang menimbang-nimbang jawaban.


"Arsen, kenapa kamu hanya diam? Kamu diancam olehnya? Katakan saja pada Mommy, Sayang. Mommy pasti akan melindungi kamu." Pikiran negatif Shanum yang membuat Arsenio tahu, Mommy dan Daddy-nya memang tidak akur.


'Sepertinya harapanku untuk memiliki orang tua yang utuh seperti anak-anak lain pada umumnya akan sirna. Mommy terlihat sangat memusuhi Daddy, aku juga tidak tahu kesalahan apa yang sudah Daddy perbuat hingga Mommy jadi seperti ini. Aku tidak bisa menyalahkan Mommy. Cuman bisa mencari puncak permasalahan dan berusaha melerainya,' batin Arsenio, menatap lekat wajah Shanum yang juga sedang menatapnya, menunggu jawaban.


Arsenio memegangi wajah Mommy-nya. "Tidak, Mom, Daddy tidak mengancam Arsen kok," jawab pria kecil itu. Dia langsung tahu apa saja yang harus dilakukannya demi mempererat perenggangan yang terjadi pada sang Mommy dan Daddy-nya.


"Darimana kamu tahu kalau itu Daddy-mu? Kalau dia mengaku-ngaku, jangan mudah untuk percaya, Sayang." Shanum berusaha mempengaruhi putrnya.


"Mommy ingat, Mommy sendiri lah yang menunjukkan foto Daddy pada Arsen, kan? Mengatakan Daddy Arthur adalah Daddy-ku," cetus Arsenio, tanpa membutuhkan waktu lama Arsenio langsung mengingat semua hal itu.


Benar, memang dia lah yang memperlihatkan, dia lah yang mengatakan hal itu. Tetapi, bukankah saat itu dirinya tidak menyebutkan nama Arthur? Apakah Arthur sendirilah yang memperkenalkan diri saat datang pada Arsenio? Banyak sekali pertanyaan yang bergelantungan di pikiran Shanum.


"Jadi, saat itu Arsen melihat nama dikolom pencarian Mommy. Karena itulah Arsenio mencari tahu semuanya, dan saat itu pula lah Arsen tahu Daddy masih hidup. Mommy berbohong!" saat mengucapkan itu semua, kilat kekecewaan terlukis di netra Arsenio, suaranya pun melemah, menyadarkan Shanum atas kekecewaan putranya.


"Bukan Daddy yang menghampiri Arsenio, Mom. Tapi, Arsenio sendirilah yang menghampiri Daddy. Maafkan Arsen, Mom!" Arsenio tertunduk, seakan-akan takut dengan reaksi Shanum yang mungkin saja akan memarahinya.


"Ka--kamu yang mencari Daddy? Ke mana? Ke kantornya? Sama siapa kamu datang ke sana Arsen?" tanya Shanum, suaranya kian tertahan, menyangga perasaan sesak karena sikap Arsenio yang memiliki keingintahuan besar untuk mengenal siapa Daddy-nya.


"Ke rumah Oma, Mom. Ya, Arsen datang sendirian, Mom." Arsenio berusaha untuk meremas jari-jemarinya sendiri. Supaya Mommy-nya tidak melihat gelagat kebohongan darinya.


'Maafkan Arsen yang sudah berbohong padamu, Mommy. Kalau Arsen mengatakan yang sebenarnya, Mommy pasti akan marah pada Miss Alea dan tidak mempercayai Miss Alea lagi,' batin Arsenio.


"Sayang, kenapa kamu pergi sendirian? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? Mommy pasti akan merasa bersalah, tidak mampu menjadi Mommy yang baik untuk kamu...."


"Maafkan Arsen karena sudah membuat Mommy khawatir," ucapnya begitu tulus.


"Katamu, tadi kamu mencari Daddy-mu ke rumah Oma?" Shanum mengulang pernyataan Arsenio. Dia semakin intens menatap Arsenio, menangkup wajah putranya itu, dan berusaha melihat mimik wajah yang diperlihatkan sang putra.


"Kamu baik-baik saja, kan, Sayang?" Shanum khawatir, takut jika reaksi orang tua Arthur akan membuat Arsenio terluka.


Arsenio manggut-manggut. "Arsen baik-baik saja, Mom. Jangan khawatir, Oma sangat baik dan sangat menyayangi Arsen," ujarnya, berusaha menghilangkan kekhawatiran Shanum. Membangun kepercayaan Shanum terhadap Arthur dan juga Kenya. Tapi, entah hal sebesar itu bisa dilakukan anak sekecil Arsenio atau tidak.


"Memang hal yang sulit menyatukan orang dewasa yang saling membenci. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba," gumam Arsenio.


"Apa katamu barusan, Sayang?" Shanum mendengar desisan dari mulut Arsenio, tapi dia tidak bisa mendengar dengan jelas.

__ADS_1


"Tidak ada, Mom." Arsenio menutupinya dari Shanum.


"Lain kali jangan berpergian sendirian lagi, ya, Sayang. Di luar sana memang dipenuhi oleh orang-orang baik. Tapi, di antaranya ada juga orang-orang jahat yang suka menculik anak. Lain kali, ajaklah Mommy bersama kamu," ucap Shanum memperingatkan.


"Kalau Arsen ajak Mommy, memangnya Mommy mau ikut menemui Daddy?" pertanyaan Arsenio membungkam mulut Shanum. Dia langsung tercekat, tidak bisa menemukan jawaban. Hanya bisa menyunggingkan senyuman dengan sedikit anggukan samar.


***


Tanpa terasa, hari berlalu begitu cepat. Setelah tadi pagi berkutat dengan pekerjaan yang melelahkan, sekarang sudah tiba jam makan siang.


Shanum yang hari ini tidak membawa bekal memilih makan bersama rekan-rekan kerjanya di kantin perusahaan. Sekarang Shanum sudah jauh lebih nyaman karena rekan-rekan kerjanya yang lain tidak lagi memusuhinya.


Berbeda dengan Arthur, setelah bertemu dengan Arsenio kemarin, pria itu menjadi lebih ceria. Wajah putra kecilnya itu selalu terbayang-bayang dalam angannya. Ingin sekali selalu memeluk putra kecilnya itu, tetapi mana mungkin.


"Leo, ayo jemput putraku! Kita makan bersama," ajak Arthur, menyambar jasnya dan langsung keluar dari ruangannya. Meninggalkan Leo yang masih terpaku di tempatnya dengan dua buah berkas di tangannya.


Perjalanan yang lumayan lenggang membuat mereka cepat tiba di Day Care. Seharusnya, di jam-jam segitu, jalanan akan macet. Berbeda sekali dengan hari ini. Mungkin Tuhan mau mempermudah pertemuan anak dan Ayah itu, begitu pikir Leo.


Mereka tiba di depan Day Care, ada beberapa orang tua yang datang menjemput anak mereka. Para anak itu memanggil Daddy dan Mommy-nya.


"Lihatlah! Jika pemandangan ini yang dilihat putraku setiap hari, bagaimana dia tidak merasa iri pada teman-temannya?" satu kalimat itu terucap dari bibir Arthur, baru turun dari mobil dan melihat ke sekelilingnya.


"Biar saya yang mencari Tuan muda di dalam, Tuan," ucap Leo, tapi Arthur langsung menyanggahnya.


"Tidak perlu, aku akan mencarinya sendiri," sanggah Arthur.


Saat Arthur mulai berjalan masuk ke dalam, barulah semua orang mulai menyorotinya. Banyak yang membungkuk hormat sambil tersenyum padanya, tapi Arthur acuh.


Banyak juga yang bertanya-tanya akan tujuan Arthur datang ke Day Care. Mereka semua tau, Arthur belum menikah. Lantas, siapa yang dia temui di sini.


"Pak Arthur!" Tidak sedikit yang memanggil-manggil namanya, berharap bisa berbincang sedikit dan melakukan kerjasama.


Namun, saat orang-orang itu ingin menghampiri Arthur, Leo langsung mengangkat tangannya. Menyanggah orang-orang itu untuk menemui Arthur. Leo tidak ingin membuat kebahagiaan Arthur luntur karena orang-orang yang tidak tahu tempat itu.


"Miss, di mana Arsenio?" tanya Leo pada Miss Alea yang kebetulan bertemu dengan mereka.


"Di sana, Tuan." Miss Alea menunjuk ke arah sebuah ruangan.


Tanpa mengucapkan apa pun, Arthur langsung berjalan ke arah ruangan itu. Di sana, ada beberapa anak seusia Arsenio.


"Arsenio ...." panggilan lembut Arthur membuat Arsenio langsung mendongak.

__ADS_1


"Daddy!" seru Arsenio sumringah.


Arthur langsung yang berdiri di depan pintu langsung merentangkan kedua tangannya, seolah-seolah siap menyambut Arsenio dalam pelukannya.


"Daddy!" Arsenio berteriak kencang, seakan ingin memberitahukan semua orang jika dirinya juga memiliki Daddy seperti yang lainnya. Dia juga memiliki seorang Daddy yang menyayanginya layaknya teman-temannya. Seruan senang itu membuat Arthur tersenyum sampai menampakkan sederet gigi-giginya.


"Daddy, kenapa datang ke sini?" tanya Arsenio setelah berada dalam pelukan Arthur.


"Segala, mau menjemput kamu."


"Benarkah?" Mata Arsenio berbinar-binar, dia tidak peduli pada pandangan teman-temannya yang menatap Arsenio dengan tatapan keheranan.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Arthur.


"Sudah, Dad, Mommy selalu membekali Arsen. Mommy tidak membiarkan Arsen jajan sembarangan, kecuali Mommy atau Miss Alea yang membelikan," jawab Arsen apa adanya.


Tanpa sadar, Arthur tersenyum manis karena merasa Shanum merawat putranya dengan baik. Jika Arthur yang berada diposisi Shanum pun, dia pasti akan memberlakukan hal yang sama pula. Tidak semua jajanan sembarangan di luar itu sehat, apalagi untuk anak kecil, harus ekstra hati-hati.


"Apa kamu mau makan siang bersama Daddy lagi?" tanya Arthur.


Arthur memukul pelan perutnya, Arthur melihat perut buncit putranya.


"Maaf, Dad, bukan bermaksud menolak. Tapi, Arsen sudah sangat kenyang. Arsen tidak mau memaksakan perut dengan mengisi banyak makanan, itu akan menyiksa," jawabnya sambil meringis.


"Bagaimana kalau sekedar ice cream? Tidak akan menyiksa perut kecilmu, kan?"


"Oke, Dad!" Arsenio cepat mengangguk.


"Baik. Mari kita pergi sekarang!" Arthur menggendong Arsenio. Meninggalkan Leo yang akan menemui Miss Alea dulu untuk mengatakan kalau Arsenio sudah dibawa oleh Daddy-nya.


Di dalam mobil, Arsenio terus tersenyum senang. Dia tidak lagi murung karena merasa iri pada teman-temannya yang lain. Sekarang, dia juga memiliki Daddy dan Mommy. Ya, walaupun keduanya belum bersama.


"Apa mereka yang membuatmu iri?" tanya Arthur, menunjuk ke arah luar.


"Sekarang sudah tidak Daddy. Sekarang Arsen sudah memiliki Daddy dan Mommy yang menyayangi Arsenio. Ya, walaupun kalian belum bersama," ucapnya dengan wajah sendu.


Arthur terdiam cukup lama.


'Apakah aku harus menikahi Shanum secara sah, supaya Arsenio bisa merasakan kasih sayangku dan Shanum secara utuh. Dan, dia juga memiliki orang tua yang utuh seperti teman-temannya yang lain?' batin Arthur.


*****

__ADS_1


__ADS_2