
"Nah! Kalau begitu, Arsen sudah bisa menceritakan apa yang Arsen pikirkan? Kenapa hari ini Arsen hanya diam saja tanpa mau melakukan apa pun, Sayang? Biasanya anak Mommy ini tidak sependiam ini, bukan?"
Arsen menatap Shanum.
"Miss Alea sudah memberitahu Mommy mengenai hal ini," ucap Shanum.
"Mommy, apa Arsenio ini benar-benar anak haram seperti yang dikatakan ... Ne--nek?" tanya Arsenio.
Tatapannya yang begitu polos menyayat hati Shanum, rasanya tercabik-cabik sampai dia ingin menangis sekeras mungkin. Namun, Shanum harus tetap menjaga kewarasannya agar Arsen tak semakin larut dalam kesedihan. Melihat mulut kecil putranya menanyakan hal yang paling menyakitkan, Shanum sebenarnya tak siap untuk menjawabnya.
"Mommy, kenapa diam? Mommy bingung untuk menjelaskannya padaku, kah? Berarti, benar yang Nenek katakan tentangku itu?" celetuk Arsenio lagi, dia memandangi wajah Shanum yang menyembunyikan keredupan di baliknya.
"Arsen, darimana kamu tau mengenai anak haram ini?" tanya Shanum, memandangi lekat wajah putranya yang tak menunjukkan senyuman dari tadi.
"Arsen sering mendengarnya, Mom. Teman-teman Arsen kadang juga mengatai Arsen tidak punya Daddy. Apakah Arsen dianggap sebagai anak haram karena tidak memiliki Daddy seperti teman-teman Arsen yang lainnya?" tanya Arsen, matanya yang berkedip-kedip serta terselip air mata di sana membuat Shanum semakin tersentuh.
Sekarang Shanum tahu, Arsen tidak benar-benar paham mengenai apa yang disebut dengan anak haram. Dan, Shanum pun tidak berniat untuk menjelaskannya. Belum saatnya menjelaskan sesuatu yang begitu menyakitkan pada anak seusia Arsenio.
"Sayang, kamu pasti mendengar apa yang Nenek katakan, makanya sampai menganggap dirimu sebagai anak haram, bukan?" tanya Shanum, dan langsung mendapat anggukan dari Arsenio.
"Sayang, Arsen punya Daddy kok. Tapi, Daddy-nya Arsen tidak bersama dengan kita. Daddy Arsen sudah tenang bersama Tuhan. Tapi, Daddy selalu ada di samping Arsen, hanya saja kita tidak bisa melihat seperti melihat orang biasa," terang Shanum, lagi dan lagi dia harus mengarang sebuah alasan yang cukup meyakinkan untuk menjawab semua pertanyaan putranya.
Shanum juga harusenjelaskan dengan ekstra hati-hati. Sedikit saja Shanum salah berkata, Arsen langsung tahu Mommy-nya sedang berbohong. Sekali lagi Shanum menilik raut wajah Arsen yang tampak percaya dengan penjelasannya, Shanum bisa menarik nafas lega.
"Tetapi, kenapa nenek mengatai Arsen sebagai anak haram, Mom? Seharusnya Nenek tahu kalau Daddy Arsen sudah berpulang, kan?" Arsenio menunduk. Dia kembali menyendokkan ice cream ke dala mulutnya, mungkin karena suasana hatinya kembali kacau.
"Itu pasti karena Nenek marah sama Mommy. Makanya dia ikutan ngatain kamu, Arsen. Jangan ditanggapi, ya. Nenek kamu memang cukup frontal dalam berbicara, Sayang!" Shanum tersenyum lembut.
"Maafkan Arsen, Mom. Arsenio sudah membuat Mommy khawatir karena diamnya Arsen tadi. Terima kasih ice cream cokelatnya, perasaan Arsen benar-benar kembali pulih," ucapnya, tersenyum menggemaskan.
'Mommy yang seharusnya meminta maaf sama kamu, Na! Maafkan kebohongan Mommy. Ini semua demi kebaikanmu. Mommy belum cukup mendapatkan keberanian untuk menjelaskan apa yang seharusnya kamu ketahu**i,' batin Shanum cukup merasa bersalah.
"Mommy, ayo kita pulang sekarang!" ajak Arsen, tidak lupa dia meminta sang Mommy untuk membungkuskan dua porsi ice cream cokelat lainnya untuk dibawa pulang.
"Kenapa banyak sekali?" tanya Shanum, mengusap puncak kepala putranya.
__ADS_1
"Arsen mau menyimpannya, Mom. Jika suatu saat suasana hati Arsen tidak baik, Arsen punya ini untuk mengembalikan suasana hati Arsen seperti sedia kala," jawabnya sambil menunjukkan kantor plastik berisi ice creamnya.
"Mommy, bergegaslah! Nanti ice cream cokelat Arsen meleleh!" rengek Arsen kesal kala melihat Mommy-nya malah termenung.
"Ya, Sayang!" Shanum buru-buru mengenakan helmnya lagi.
***
Empat hari sudah berlalu, hari-hari yang Shanum lewati rasanya sangat singkat berlalu. Baru beberapa kali tarikan nafas, hari sudah kembali berganti. Belum cukup istirahat untuk merekatkan badan dari rasa lelah, pagi kembali menyapa dan waktu untuk bekerja kembali datang.
Shanum sudah tiba di kantornya, dia sedang membersihkan toilet. Tapi, sejak pagi pandangannya kosong, kerjanya jadi lelet, seakan jiwanya sudah lepas dari raga.
Rima yang memperhatikan hanya bisa mengamati dari kejauhan. Rima tahu mengapa hari ini Shanum banyak termenung.
"Ke mana aku harus mencari uang sembilan puluh juta lagi? Jumlah itu terlalu banyak untukku, aku sudah pinjam ke sana ke sini, tapi tidak ada orang yang bersedia memberikannya. Bagaimana ini, apakah aku harus menyerahkan diriku pada polisi? Atau, menyerahkan diriku pada Tuan Arthur?" gumam Shanum, hatinya begitu letih memikirkan uang sebanyak itu selama beberapa hari ini.
"Sha, jangan termenung. Nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," ucap Ami memperingatkan Shanum.
"Makasih, Mi." Shanum tersenyum, senyuman yang memang dipaksakan.
"Sha, kamu dicari tuh! Katanya di suruh datang ke ruangan Pak Arthur!" ucap Bu Reka, mengagetkan Shanum yang masih melamun.
Shanum membersihkan dirinya, setelah itu barulah dia datang ke ruangan Pak Arthur.
"Nona Sena, apa Tuan Arthurnya ada?" tanya Shanum pada Sena yang sedang sibuk dengan komputernya.
Sena menghentikan pekerjaannya sesaat, dia memiliki Shanum yang berdiri di depannya menunggu jawaban.
"Tidak ada," jawabnya ketus, kembali bekerja.
"Kalau tidak ada, Kenapa tadi kata Bu Reka Tuan Arthur mencariku, ya?" tanya Shanum lagi.
"Tuan Arthur memanggilmu? Masuk sana, mungkin dia mau memintamu untuk membersihkan toilet ruangannya," hina Sena, tersenyum sinis.
Shanum menganga, Shanum sangat-sangat tidak mengerti, kenapa Sena bisa berperilaku kasar padanya. Tapi, Shanum tidak ambil pusing, apa yang akan dihadapi sesaat lagi lebih membuatnya pusing.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok?
"Masuk!" pinta Arthur, melirik sekilas ke ara Shanum yang sudah menundukkan kepalanya.
"Anda mencari saya, Tuan?" tanya Shanum.
"Jadi, kau berharap siapa yang akan datang mencarimu? Polisi?" Arthur memasang wajah seriusnya.
"Maaf, Tuan, saya hanya--"
"Bagaimana? Apa kau sudah bisa membayar hutangmu sekarang?" sela Arthur, tidak mau mendengar basa-basi dari Shanum lagi.
Shanum membisu, mulutnya seakan terkunci dengan jantung yang berdentam tak karuan. Nafasnya terasa sesak, kebingungan kembali melandanya.
Melihat Shanum yang meremas jari jemarinya sendiri, Arthur sudah mendapat jawaban meski Shanum tidak mengatakan apa-apa.
Dia cukup paham, Shanum belum mendapatkan uang sesuai perjanjian.
"Sudah empat hari, aku berbaik hati memberikan bonus satu hari padamu. Jadi, mana uangnya?" tanya Arthur, menagih. Dia mengalihkan pandangannya dari komputer, kini dia menatap Shanum.
"Tu--tuan, aku belum mendapatkan uangnya. A--aku sudah berusaha meminjam ke sana-sini, tapi tidak ada orang yang mau meminjamkan uang bernilai besar itu padaku," terang Shanum, berharap Arthur dapat mengerti kesusahannya dan memberikan keringanan sedikit.
"Aku tidak mau tahu!" potongnya lagi. "Yang aku mau, kau memberikan uangnya sekarang, aku tidak peduli dengan cara apa kau mendapatkannya, dari mana kau mendapatkannya, atau apakah ada orang yang mengasihanimu sampai meminjamkan uangnya padamu atau tidak," lanjut Arthur lagi.
"Kau berkata seperti itu untuk apa? Berharap aku mengerti dan memberi waktu lagi?" Arthur terkekeh. "Aku sudah memberikan sekali, jangan berharap kebaikanku lagi!" ucap Arthur, dia benar-benar tidak tertarik dengan kesusahan Shanum.
"Tuan, aku sudah berusaha. Tapi, aku memang tidak bisa mendapatkannya," ucap Shanum, masih menunduk.
"Sudah kukatakan, aku tidak mau tahu. Jika kau tidak bisa membayarnya, maka polisi yang akan menjemputmu!" kecam Arthur.
"A--apa yang harus aku lakukan?"
"Pilihannya hanya ada dua, bayar atau mendekam di penjara!"
"Aku tidak mungkin mendekam di penjara. Bagaimana dengan anakku? Tapi, aku juga tidak memiliki uang untuk membayarnya." Shanum dilema.
__ADS_1
Arthur tersenyum. "Kalau begitu, penawaranku saat itu masih berlaku. Tidurlah denganku, maka semuanya akan lunas!" ucap Arthur.
*****