Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Permintaan Arthur


__ADS_3

"Tuan, Kenapa Anda memanggil saya ke sini?" tanya Sena.


"Tolong sampaikan pada kepala cleaning servis, minta Shanum untuk lembur malam ini. Ingat, cuma Shanum seorang saja!" ucap Arthur tanpa mengalihkan perhatiannya dari komputer.


Sena yang tidak suka dengan Shanum, langsung menunjukkan wajah ketusnya. Namun, wajah ketusnya itu tidak berani dia tunjukkan jika Arthur melihatnya. Banyak pertanyaan yang menggantung, tapi tak berani dia tanyakan.


'Kenapa harus lembur? Aku sekretarisnya. Harusnya aku lah yang lembur, bukan wanita ****** itu. Kenapa harus dia? Ada apa di antara mereka berdua? Aku penasaran, mau bertanya tapi takut. Kalau tidak bertanya rasa penasaranku tidak akan hilang,' batin Sena, masih memandangi Arthur yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Kenapa diam? Kau tidak mendengar ucapanku?" sentak Arthur, mengagetkan Sena dalam lamunannya.


"Ah? Bu--bukan, Tuan. Saya mendengarnya kok. Hanya saja, kenapa harus Shanum seorang yang diharuskan untuk lembur? Sa--saya kan sekretaris Anda. Jadi, jikalau ada sesuatu pekerjaan, ki--kita lah yang harusnya lembur, kan?" ujar Sena, tersenyum kikuk karena Arthur masih saja menundukkan kepalanya.


"Yang aku butuhkan Shanum," jawab Arthur santai.


"Ya. Kenapa harus Shanum, Tuan? Saya kan juga bisa menggantikan dia!" seru Sena, rasanya dia begitu kesal dengan sikap Arthur yang terkesan acuh padanya.


"Sena, apakah kamu bosan bekerja di Arthur Group sebagai sekretaris?" Arthur menghentikan pekerjaannya. Tapi, masih belum mendongak untuk menatap Sena yang berusaha bertingkah manja saat pria di depannya menatapnya.


"Ti--tidak, Tuan. Mana mungkin saya bosan. Ha-ha-ha." Sena terkekeh pelan. Dia mulai tau ke mana para pembicaraan Bosnya.


Arthur kesal bukan mau dengan wanita di depannya itu. Dia menghubungi Leo, semakin membuat Sena tidak mengerti dengan kemauan Bosnya itu.


Tidak berselang lama, Leo masuk ke dalam ruangan Arthur.


"Ya, Tuan?"


"Leo, berikan peringatan untuk sekretaris pilihanmu ini. Dan, minta Shanum untuk lembur malam ini!" titah Leo, menatap wajah Leo. Tapi, tidak sedikit pun bola mata Arthur melirik Sena yang berada tepat di sebelahnya.


"Baik, Tuan." Leo membungkuk, dia menyeret Sena keluar dari ruangan Arthur menuju ke ruangan Sena.


Di dalam, setelah melepaskan pegangannya, Leo memijat pelipisnya yang begitu pusing memikirkan tingkah Sena yang semakin menjadi-jadi. Dia tidak pernah berhenti untuk memperingatkan, tapi Sena selalu saja membangkang.


"Jujur, aku malu dengan kelakuanmu, Kak!" ucap Leo, menatap intens wajah Sena yang mencibirnya. Leo sudah terbiasa, hingga dia memilih untuk tidak peduli pada cibiran Sena yang membangkitkan emosinya.


"Kau selalu saja berulah. Sebenarnya, kamu tidak cukup cakap untuk berada diposisi ini. Sikap pembangkanmu ini, cukup kamu perlihatkan di rumah saja. Jangan di sini!" ketus Leo, dia tahu ucapannya tidak akan di dengar dan sia-sia.


"Kalau kau mau menceramahiku, pergi saja. Aku tidak butuh. Adik macam apa kamu, tidak bisa membantu Kakaknya!" cibir Sena sewot, dia menyimpan amarah karena Leo tidak pernah mau mencomblongkannya dengan Arthur. Padahal, sudah jelas-jelas jika wanita itu sangat menyukai Arthur.


"Kak, aku bukannya tidak mau. Tapi, kamu--"


"Kamu ini kenapa, sih?" sela Sena. "Aku ini Kakakmu. Kamu selalu mengataiku tidak pantas untuk Arthur. Dari sisi mana tidak pantasnya?" Sena sedikit berputar supaya Leo dapat menilai dirinya lebih baik.


"Aku sangat cantik dan seksi. Katakan, dari sisi mana aku tidak pantas untuk Arthur!" tanyanya sekali lagi mengulang.

__ADS_1


"Huuffttt!" Sekali lagi, Leo menghela nafas panjang dengan perangai Sena.


'Jika saja dia tahu bagaimana kelakuan Tuan Arthur di luar sana, mungkin dia tidak akan mau berharap separah ini lagi. Aku hanya tidak mau dia sakit hati di kemudian hari karena kelakuan Tuan Arthur!' batin Leo.


"Leo, ini kesempatan untukku. Dia sedang menginginkan anak. Jika aku bisa melahirkan anak untuknya. Artinya, aku bisa na--"


"Cukup!" bentak Leo. "Jangan berharap terlalu tinggi. Aku muak dengan segala obsesimu itu, Kak!" bentaknya lagi.


"Jadi, selama ini kamu mengira Tuan Arthur sedang menginginkan seorang anak?" Leo tersenyum miring. Dugaan Sena benar-benar salah sekali.


"Kak, aku yang membantumu masuk ke dalam perusahaan ini dan sampai ke posisi ini. Bukan hal yang sulit bagiku itu membuatmu dipecat, kau paham apa maksudku, kan?" Tidak ada niatan Leo untuk mengancam. Dia hanya menginginkan Kakaknya itu berubah menjadi lebih baik dan profesional.


"Leo, kau mengancamku?" Sena mendelik tak percaya Adiknya sudah seberani itu.


"Jika kau bertanya seperti itu, maka jawabannya adalah ya." Leo tidak segan menjawab.


"Kau!" Sena mengepalkan tangannya kesal.


"Kau itu bawahannya, Kak. Tapi, kau selalu saja membantah apa yang Tuan Arthur katakan. Terlebih, aku sangat malu disetiap saat kau selalu saja berusaha untuk menggodanya!" ucap Leo.


"Jangan campuri urusanku!" sergah Sena.


"Kenapa kau selalu saja mempertanyakan kinerja Tuan Arthur? Apa yang dia suruh, selalu saja kau bantah. Kenapa? Dia lebih tahu mengenai apa yang dia butuhkan, Kak. Jadi, bisakah kau menurutinya saja? Ini peringatan untukmu!" kecam Leo.


"Bagaimana aku tidak kesal, dia meminta wanita ****** itu untuk lembur. Berduaan saja dengannya. Selama ini, dia tidak pernah melihatku!" sentak Sena, tatapan tajamnya terhunus ke arah Leo.


Setelah keluar dari ruangan Sena, Leo menuju ke ruangan kepala bagian cleaning servis untuk menyampaikan permintaan Arthur. Melihat Leo yang datang, Bu Reka berdiri dan menjura. Hatinya bertanya-tanya, kenapa Leo sendiri yang datang ke sana. Karena, siapa pun pasti tau, Leo merupakan urusan pribadi Arthur, CEO mereka.


"Tu--tuan Leo? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Reka.


Leo tersenyum, sedikit membungkukkan badannya karena Bu Reka lebih tua darinya.


"Saya ingin menyampaikan permintaan Tuan Arthur, Bu," ucap Leo, seperti dugaan awal Bu Reka.


"Permintaan? Permintaan apa, ya, Tuan Leo?" tanya Bu Reka, mulai antisipasi. Takut sekaligus bingung. Dia tidak merasa membuat kesalahan apa pun.


Melihat ketegangan Bu Reka, Leo tersenyum samar. "Bukan apa-apa, Bu. Tuan Arthur hanya meminta Shanum dari bagian cleaning servis untuk lembur," ucap Leo menyampaikan amanat.


"Shanum?" Alis Bu Reka bertautan. Ya, dia cukup bingung dengan permintaan Bos-nya itu.


"Ada acara apa, Tuan? Apakah saya harus menambahkan beberapa orang lagi untuk membantu Shanum?" tawar Bu Reka, tersenyum manis.


Leo menggelengkan kepalanya. "Tidak ada acara apa-apa. Tidak perlu menambahkan orang lain. Tuan Arthur hanya meminta Shanum saja," jawabnya menolak.

__ADS_1


Meski dalam kebingungan, Bu Reka tidak kuasa menolak permintaan atasan mereka. Jadi, dia segera menyanggupinya walaupun masih belum merangkai sebuah alasan yang bisa membuat Shanum bersedia untuk lembur.


"Hem, Tuan, apakah ada tips untuk yang lembur?" tanya Bu Reka, mungkin dia bisa menggunakan alasan uang ini sebagai alasan, begitu pikirnya.


Leo tersenyum lagi. Kali ini dia mengangguk.


"Tentu saja ada, Bu. Untuk malam ini, yang lembur akan mendapatkan uang tips besar. Tapi, ya cuma Shanum yang Tuan Arthur butuhkan," jawab Leo. "Satu lagi, jangan katakan kalau ini perintah dari Tuan Arthur. Jangan tanya kenapa, aku hanya menerima perintah saja," ucap Leo sebelum pergi.


"Baik, Tuan."


Setelah Leo pergi, Bu Reka memanggil Shanum yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya. Tergopoh-gopoh Shanum berjalan cepat menuju ruangan Bu Reka.


"Permisi," ucap Shanum di depan pintu.


"Masuk, duduk, Sha!" titah Bu Reka.


"Ya, Bu, ada apa?" tanya Shanum, menghapus keringat yang masih bercucuran di dahinya.


"Sha, nanti malam kamu lembur, ya?" minta Bu Reka, menatap Shanum yang langsung mengerutkan dahinya. Bu Reka sudah cukup mengerti dengan raut wajah Shanum yang keheranan.


"Lembur? Kenapa, Bu? Saya tidak melakukan kesalahan apa pun, bukan? Sa--saya juga tidak telat lagi, Bu," ucap Shanum, terbata-bata sebab dia mencoba mengingat-ingat kesalahan yang diperbuat dalam beberapa hari ini. Namun, nihil.


Bu Reka terkekeh pelan. Sebetulnya, jantungnya berdentam kuat. Dia takut juga jika alasan yang diberikan tak cukup membuat Shanum percaya dan yakin. Atau, mungkin saja Shanum tidak membutuhkan uang besar yang dijanjikan. Mengingat, dia memiliki seorang putra yang harus selalu ditemani.


Bu Reka bingung jika nanti Shanum tidak mau lembur. Bagaimana dia bisa menghadapi Tuan Arthur yang mungkin akan murka. Terlebih, ini adalah permintaan pribadi Bos-nya itu.


"Memangnya kalau mau lembur harus buat kesalahan dulu?" celetuk Bu Reka.


"Biasanya kan begitu, Bu," sahut Shanum, tersenyum kecil.


"Kali ini berbeda." Bu Reka masih menatap wajah Shanum. "Kamu lihat ruangan saya ini?" Sontak, Shanum langsung mengitari ruangan itu.


"Ruangan ini sudah sangat kotor, Sha. Hari Senin ada pemeriksaan. Saya mau minta tolong sama kamu untuk membersihkan ruangan ini," pinta Bu Reka. Sebelum Shanum sempat buka mulut untuk menjawab, Bu Reka kembali melanjutkan, "tenang saja, bayaran kali ini mahal," sambungnya lagi.


Shanum terdiam, ini memang kesempatannya untuk menabung lagi. Uang di rekeningnya sudah habis terkuras untuk test DNA dan membelikan gadget untuk Arsenio. Tapi, jika pun dia setuju, bagaimana dengan Arsenio? Apakah harus dititipkan lagi? Apakah Rima mau menjaga putranya itu?


"Siapa saja yang ikut lembur, Bu?" tanya Shanum.


Mendengar pertanyaan Shanum Bu Reka mulai tenang. Dia yakin Shanum pasti menyetujui.


"Cuma kamu sendiri. Kamu sanggup, kan? Saya hanya membantu kamu, kamu banyak kebutuhan, kan? Kalau kamu takut hantu, nanti saya minta satpam untuk menemani kamu, Sha," bohong Bu Reka, dalam hatinya dia memohon maaf pada Shanum sebesar-besarnya.


"Jadi, bagaimana? Kamu mau lembur, kan?" tanya Bu Reka lagi, mulai kembali ragu sebab dapat melihat jelas kebimbangan di wajah Shanum.

__ADS_1


*****


Halo, yang suka sama novel ini jangan lupa untuk berikan vote, hadiah, dan like, serta komentar, ya🥰 Sarangbeyo😘


__ADS_2