Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Ketahuan??


__ADS_3

"Maaf, Tuan, aku tidak lagi membutuhkan bantuanmu!" potong Shanum tanpa memberikan kesempatan Arthur untuk melanjutkan ucapannya lagi.


Arthur tercengang. Semakin hari, Shanum semakin berani melawannya. Gigi pria itu bergemelatuk, tangannya terkepal erat. dia benar-benar murka. Sudah bersedia menurunkan harga dirinya untuk menawarkan bantuan pada Shanum, tapi respon wanita itu sungguh di luar dugaan.


Arthur bangkit dari duduknya, menghampiri Shanum. Arthur menolak tubuh Shanum sampai jatuh ke sofa yang berada tak jauh dari tempat wanita itu berdiri. Shanum membuka kancing jasnya, kemudian membuka dua kancing kemeja paling atasnya. Seperti orang yang merasa kegerahan.


"Aku menawarkan bantuan untukmu. Kau harus tahu posisimu!" ucap Arthur, menekankan setiap kata-katanya.


"Lalu kenapa? Apa orang berderajat rendah seperti aku tidak boleh menolak bantuan dari orang besar sepertimu?" tanya Shanum, Arthur menatap Shanum dengan tajam, mengintimidasi wanita itu. Tetapi, Shanum juga tidak gentar. Dia menatap balik Arthur dengan tatapan yang lebih tajam.


Emosi Arthur dibangkitkan oleh kekerasan Shanum. Selama ini, tidak ada wanita yang sekeras Shanum. Semua wanita tunduk di depannya, kenapa yang satu ini sangat keras kepala dan sulit ditaklukan?


Arthur mencengkram dagu Shanum. Walaupun tidak ada keluhan dan ringisan yang keluar dari mulut wanita itu, tetapi rasa sakitnya tergambar lewat air mata yang menetes di pipi Shanum. Bukan tanpa alasan, cengkraman Arthur sangat kuat. Rasanya sampai mau meremukkan tulang rahang Shanum. Ditambah, saat dia terbentur tadi, bibirnya tergigit sampai terluka. Rasa perihnya beradu padu di dalam mulut Shanum.


'Ckck! Akhirnya wanita ini mau menangis juga? Ke mana kekerasan kepalanya barusan?' batin Arthur, dia semakin mengucapkan tubuh jantung sampai terhimpit ke tembok.


Setelahnya, Arthur melumaatt bibir wanita itu. Baru saja bibir mereka saling bertabrakan, Arthur menarik kembali bibirnya. Ciuman mereka tak lagi manis terasa, darah segar yang sudah tumpah ruah dalam mulut Shanum membuat rasanya menjadi berbeda.


"Darah?" Sedikit darah masih tersisa di ujung bibir pria itu. Diseka dan dipastikan, ternyata memang benar-benar darah.


"Hey wanita! Kau kenapa?" tanya Arthur. "Kenapa mulutmu bisa berdarah? Aku tidak menggigitmu tadi," ucap Arthur. Namun, tampaknya shanum tidak sudi untuk menjawab. Dia membuang muka ke arah lain, enggan melihat wajah Arthur.


"Aku tidak apa-apa." Shanum berusaha bangkit. Setelah masuk ke dalam sini, tubuhnya semakin sakit saja. Setiap kali bertemu dengan Arthur, dia pasti menerima kekerasan fisik.


Arthur memandangi Shanum yang berjalan jauh darinya. Baru dua langkah wanita itu berjalan, tangannya digenggam lagi oleh Arthur. Shanum menghela nafas kesal, dia tidak melirik sekali pun.


"Ada apa lagi? Jika tidak ada urusan lagi, aku mau kembali berkerja," ucap Shanum ketus, memancarkan aura dingin yang terasa sampai menusuk tulang dan hati Arthur.


"Ada denganmu? Darimu kenapa? Kenapa kau berjalan tertatih sambil memegangi punggungmu seperti itu?" tanya Arthur setelah menilik kondisi jantung lebih intens.


Saat Shanum berjalan menjauh darinya, Arthur sengaja membiarkan untuk bisa melihat keanehan yang terjadi pada tubuh wanita itu.


Shanum tidak peduli, berusaha melepaskan genggaman Arthur yang begitu kuat.


"Bisakah sekali saja kau menurut padaku?" bentak Arthur, menarik tubuh Shanum ke dekapannya. Netra tajam mereka kembali bersitatap, ada gumpalan perasaan risau yang tak bisa Arthur ungkapkan.


"Menurut padamu, Tuan? Maaf, aku bukan binatang peliharaanmu. Sudah tahu aku pembangkang, kenapa kau masih saja mengejarku?" ketus Shanum.


"Kau berharap dikejar? Ckck! Aku tidak pernah mengejar siapa pun. Para wanita yang berlomba-lomba naik ke atas ranjangku, termasuk dirimu, bukan?" Shanum berusaha memberontak, tapi Arthur memeluk wanita itu semakin erat.


Tidak ada degupan jantung istimewa khas seseorang yang sedang jatuh cinta. Hanya ada deruan nafas yang saling melempar kehangatan. Deruan nafas yang melaju cepat karena Shanum sedang kesal, sampai dadanya naik turun.


"Dadamu sedang menggodaku. Naik turun, aku bisa membayangkannya!" bisik Arthur menggoda, pria mesum itu tidak pernah puas menggoda Shanum.

__ADS_1


"Lalu, kenapa sampai sekarang kau masih tidak mau menceraikan aku? Berulang kali sudah aku katakan, pernikahan itu hanya untuk menghindari perzinaan yang terjadi. Cukup untuk satu malam saja. Tapi, sampai sekarang kau masih menyatakan kepemilikanmu atas diriku!" ucap Shanum, matanya yang sudah berkaca-kaca langsung menitikkan air mata. Kekeluan di hatinya terasa begitu perih.


"Karena sekarang kau mainanku. Aku belum puas memainkan mainan baruku, bagaimana mungkin ku lepaskan?" Arthur tersenyum sinis, senyuman yang sangat memuakkan untuk dilihat Shanum. Senyuman yang begitu dibenci Shanum.


'Jangankan melihat senyumannya. Melihat wajahnya saja aku begitu kesal dan benci!' batin Shanum, mengepalkan tangannya, menggemeratakkan giginya sampai urat-urat wajahnya menonjol. Darah di pelipisnya juga kembali menetes lebih deras.


"Kau sedang kesal karena aku mengatakanmu mainan? Lalu, kau berharap apa? Aku menganggapmu sebagai istri?" Arthur berjalan semakin mendekat pada Shanum, memojokkan tubuh wanita itu ke tembok.


"Aw! S--sakit." Arthur kaget ketika Shanum memekik kesakitan.


Leo mengunci pintu ruangannya supaya Shanum tidak bisa keluar. Kemudian, dia berjalan ke mejanya, menghubungi seseorang menggunakan telepon.


"Ya, bawakan kotak P3K. Sekarang!" titah Arthur pada bawahannya. Shanum yang melihat kesempatan di depan mata, berusaha untuk membuka pintu walaupun dia tahu sudah terkunci. Shanum tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


"Tuan, tolong buka pintunya! aku harus kembali bekerja!" mohon Shanum.


Arthur tak mempedulikan permintaan Shanum, dia menyandarkan tubuhnya di tepian meja. Memperhatikan Shanum yang masih memberontak minta dibukakan pintu.


Tok! Tok! Tok!


saat ketukan pintu di luar terdengar, barulah Arthur membukakan pintunya. Seusai mendapatkan kotak P3K, Arthur menutup kembali pintu ruangannya, tanpa menguncinya. Arthur menarik tangan Shanum dan memaksa wanita itu untuk duduk di sofa.


Dengan telaten Arthur mengobati dahi Shanum yang terluka. Padahal jelas sekali jika dahinya sudah diperban.


"Jangan bergerak. Cara mereka mengobati lukamu tidak benar," ucap Arthur ketus.


"Sudahlah. Tidak perlu pura-pura peduli. Aku harus kembali bekerja sekarang!" Shanum menolak keras.


"Duduk! Katakan di bagian mana saja lukamu. Aku akan mengobatinya!" Arthur kembali menarik tangan Shanum sampai wanita itu terduduk di sofa.


"Tidak." Shanum menolak keras.


"Katakan di mana, atau aku yang akan memeriksa sendiri. Jika aku sudah bertindak, kau tahu, aku pasti akan melakukan lebih dari sekedar memeriksa!" wajah datar Arthur membuat Shanum ketakutan. Dia tidak mau lagi ditiduri oleh pria di depannya ini.


"Ba--baiklah."


Shanum mengatakan di mana saja lukanya.


Arthur memberikan sebutir pil untuk Shanum.


"Minumlah ini. Ini pil khusus untuk mengobati luka bagian dalam mulut," ucap Arthur menaruh pil di telapak tangan Shanum.


Shanum hanya memelototi pil yang diberikan Arthur. Dia ragu, takut itu bukan obat seperti yang pria itu katakan. Melainkan obat lain yang malah memiliki kegunaan yang akan merugikan dirinya.

__ADS_1


"Kenapa tidak kau minum? Kau takut aku meracuni?" tanya Arthur, terkekeh pelan. "Aku bukan seorang pembunuh," imbuhnya, bersiap mengoleskan obat di luka Shanum.


"Bisa saja ini obat yang lain, kan?" Shanum berucap dengan bibir bergetar.


"Jika kau tidak mau sembuh, buang saja!" ucap Arthur singkat.


Shanum terdiam, niatnya mulai terkumpul. Kepercayaannya mulai meningkat jika pil yang sedang dipegangnya bukan sesuatu yang berbahaya.


Selesai mengobati dahi Shanum, Arthur meminta Shanum untuk membelakanginya.


"Cepat! Angkat bajumu!" pintanya.


"A--apa? Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Shanum gugup. Dia menatap netra Arthur lekat-lekat.


"Mengobati."


"Tidak usah. Aku bisa melakukannya sendiri," tolak Shanum lagi.


"Hey wanita! Bisakah kau tidak menolak niat baik orang lain? Jangan terlalu berpikir negatif terhadap orang lain! Kenapa? Kau malu? Ingatlah! Aku ini suamimu. Tidak perlu malu. Bagian mana yang belum pernah aku lihat?" cecar Arthur panjang lebar. Bersama Shanum, dia senang berbicara panjang lebar sampai terkesan cerewet di mata wanita itu.


"Tuan, bisakah Anda diam?" sela Shanum. Dia benar-benar tidak senang mendengar penuturan Arthur barusan.


"Cepat buka atau aku akan merobek seragammu seperti malam itu!" Sekali lagi Arthur mengancam.


"Aku bisa melakukannya!" Pertengkaran alot kembali terjadi.


Arthur mengancam lagi, dia memegang ujung pakaian Shanum, seperti seseorang yang siap untuk merobek. Mata Shanum terbelalak melihat apa yang Arthur lakukan. Wanita itu tidak percaya Arthur akan melakukan ancamannya.


"Ba--baiklah." cegah Shanum, menghentikan tangan Arthur yang hampir bergerak lincah untuk memisahkan untaian benang-benang yang bersatu menjadi sehelai pakaian.


Dengan ragu-ragu Shanum berbalik. Arthur mengangkat pakaian Shanum, memperlihatkan punggung putih wanita itu. Arthur menelan kasar salivanya. Keinginannya untuk mengukung wanita itu di bawahnya mulai menggebu. Pelan sekali gerakan Arthur mengelus punggung Shanum, sampai wanita itu meremang menahan geli.


"Jangan macam-macam!" kecam Shanum.


Mendapat kecaman dari Shanum, Arthur tersenyum simpul. Ada sebuah rencana yang sudah terpatri dalam pikirannya. Namun, baru bisa direalisasikan setelah dia mengobati semua luka di tubuh wanita itu.


"Hum!" Arthur mulai mengoleskan lagi obat di luka memar Shanum. Memar kebiruan itu cukup besar, pantas saja Shanum terus memegangi punggungnya, pikir Arthur.


Saat Arthur sedang mengoleskan obat di punggung Shanum, mereka saling diam. Mereka berdua serempak menoleh ke arah pintu saat mendengar suara langkah kaki seseorang disertai dengan suara yang memanggil-manggil nama Arthur. Suara itu sangat Arthur kenali. Muka Arthur dan Shanum berubah pias saat seseorang itu melihat mereka dalam posisi yang tak nyaman untuk dipandang.


Shanum membelakangi Arthur dengan punggungnya y terbuka karena bajunya terangkat supaya pria itu lebih gampang mengoleskan obat.


"Ka--kalian sedang apa?" tanya orang itu menatap tajam Shanum dan Arthur.

__ADS_1


*****


__ADS_2