Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Kita Harus Bicara!


__ADS_3

"Kenapa putranya Shanum sangat tampan? Tidak mirip Shanum, pasti mirip dengan Ayahnya. Tapi, bagaimana bisa? Bukankah kata Rio laki-laki yang akan membeli Shanum adalah pria tua, jelek, hitam, dan gendut? Kenapa putranya bisa setampan itu?" gumam Rara bertanya-tanya.


Baru saja Shanum mau memakai helmnya, suara seorang pria yang memanggil-manggil namanya langsung terdengar. Shanum berbalik, mencari sumber suara tersebut, terlihat seorang Dokter yang tengah berlari ke arahnya sambil tersenyum.


Dokter tampan itu menjadi pusat perhatian, banyak pasang mata yang menatapnya. Seakan sedang menanti, siapa yang menjadi tujuannya sampai dia berlari seperti itu.


"Shanum! Untung saja aku melihatmu," ucap Dokter Rexa, suaranya tersenggal-senggal karena ngos-ngosan.


"Dokter Rexa, ada apa?" tanya Shanum, menatap sang Dokter dengan kening yang berkerut dalam, penasaran.


"Siapa yang kamu jenguk? Apakah kerabat dekat?" tanya Dokter Rexa, tersenyum pada Arsenio yang sejak tadi menengadah karena menatapnya. Dokter Rexa memamerkan sederet giginya, sampai matanya menyipit, nyaris menghilang.


"Aku tidak menjenguk siapa pun, datang ke sini karena ada kepentingan pribadi," jawab Shanum, tersenyum simpul. "Dokter sendiri, bukannya di rumah sakit di kawasan pantai? Kenapa tiba-tiba bisa muncul di sini?" tanya Shanum lagi.


Dokter Rexa terkekeh. "Kamu lupa, aku pernah bilang, aku sudah dipindah tugaskan. Beruntung sekali, kebetulan bisa dekat dengan kamu." Dokter Rexa tersenyum, sesekali lirik Arsenio yang tampak memanyunkan wajahnya.


"Ah? Hahaha! Seharusnya kita tidak berbicara mengenai itu di sini, Dok. Ada Arsenio," ujar Shanum, dia tidak ingin Arsenio mendengar sesuatu yang seharusnya belum didengar oleh pria kecil itu. Jangan sampai pikiran Arsenio terkontaminasi.


"Maafkan aku, Shanum. Aku tidak bermaksud apa-apa. Cuma meluapkan kesenanganku saja karena berdekatan denganmu dan juga Arsenio," ucap Dokter Rexa masih tersenyum simpul pada Shanum.


Dokter Rexa berjongkok, menyamakan posisinya dengan Arsenio. "Kamu apa kabar?" tanya Dokter Rexa, mengusap-usap lembut pucuk kepala Arsenio.


"Om Dokter, Arsenio sangat baik. Tapi, jangan mengelus kepala Arsen, Arsenio bukan anak kecil, Om!" Arsenio menepis pelan tangan Rexa membuat pria itu kaget kemudian terkekeh.


"Maafkan Om, ya," ucapnya.


"Tidak apa-apa, Om. Arsenio orangnya pemaaf dan murah hati kok," tukas Arsenio ikut tersenyum.


"Dok, kami pergi dulu, ya. Kasihan Arsenio harus istirahat," pamit Shanum, dia juga sudah lelah.


"Hum... Kapan kamu bisa meluangkan waktu untuk melanjutkan yang sempat tertunda?" tanya Dokter Rexa, kali ini dia memasang wajahnya yang sangat serius. Menantikan jawaban Shanum yang sedang diliputi rasa bingung serta canggung.


"Yang ... sempat tertunda?"


"Makan malam kita. Bukankah kamu belum sempat bertemu dengan kedua orang tuaku? Malam itu, orang tuaku sedikit kecewa karena kamu pulang duluan sebelum mereka tiba," ucap Dokter Rexa. "Cuma sedikit kecewa, kok," imbuhnya sambil menggerakkan tangannya seolah memberikan isyarat sedikit.


"Benarkah?" Shanum merasa bersalah. Shanum benar-benar tidak tau, itu semua hanyalah rekayasa Dokter Rexa semata. Setelah Shanum pulang, tidak ada yang datang dan menunggunya. Semuanya hanya kebohongan belaka.

__ADS_1


"Sampai sekarang pun mereka masih sering menanyaimu. Makanya aku meminta waktumu untuk sekali lagi," ujar Dokter Rexa lagi. Diam-diam pria itu tersenyum dalam hati, terlebih sesudah melihat respon dan wajah Shanum yang menunjukkan rasa bersalahnya.


"Mom, ayo pulang! Arsenio lelah, Mommy. Lapar... setelah itu, Arsenio mau tidur," rengek Arsenio, menarik-narik pelan tangan Shanum, sengaja dia mengganggu perbincangan sang Mommy dengan Dokter Rexa.


Walaupun dia tidak terlalu mengerti apa yang dua orang dewasa itu bicarakan, tetapi firasatnya mengatakan jika dia harus memisahkan Mommy-nya dengan Dokter Rexa. Jika tidak, peluang untuk Daddy-nya akan semakin menipis.


'Jangan sampai Om Dokter ini menyerobot kesempatan Daddy. Apalagi, Daddy seperti malu-malu. Sedangkan Om Dokter terang-terangan. Mommy pasti lebih suka yang terang-terangan seperti Om Dokter,' batin Arsenio.


"Dok, maaf, aku harus membawa Arsenio pulang sekarang." Shanum tersenyum, dia merasa senang dengan rengkekan Arsenio. Karena rengekan putranya itu, dia bisa melepaskan diri.


"Baiklah." Rexa mundur beberapa langkah, memberikan tempat untuk Shanum. Shanum buru-buru mengenakan helmnya dan juga Arsenio, cepat-cepat pergi dari sana.


Dokter Rexa juga akan kembali masuk ke dalam rumah sakit, kembali bertugas. Di depan pintu, langkahnya dicegat oleh Rara yang ternyata sejak tadi memperhatikan interaksi antara Shanum dan Dokter Rexa.


"Dok, bisa bicara sebentar?" tanya Rara.


"Jika ada yang ingin disampaikan tentang pasien, bisa dibicarakan di ruangan saya, Bu," ujar Dokter Rexa, beberapa kali dia melihat Rara.


"Bukan, bukan tentang pasien," bantah Rara sambil tertawa.


"Anda ... siapanya Shanum? Suaminya, kah?" tanya Rara, memperhatikan Dokter tampan di depannya. Jujur saja, dia sedikit iri karena Shanum terus dikelilingi pria-pria tampan yah hebat, contohnya ya seperti Dokter Rexa.


Wajah Dokter Rexa semakin tidak bersahabat setelah mendengar pertanyaan Rara. Dia menjauhkan dirinya dua langkah ke belakang, kemudian tersenyum.


"Maaf, Nona, itu urusan pribadi saya. Untuk hal personal, saya tidak bisa menjawab. Namun, jika ada keluhan tentang pasien, Anda bisa mencari saya di ruangan saya. Saya permisi."


"Tunggu!" Rara menarik tangan Dokter Rexa. Ramai yang berlalu lalang di sekitar sana, sehingga mereka semua jadi memperhatikan Rara dan Dokter Rexa.


Wajah Dokter Rexa merah padam, dia begitu malu bercampur kesal bukan kepalang. Dia juga tidak ingin disalahpahami.


"Maaf, maaf, maaf." Rara berulang kali meminta maaf sambil mengatupkan kedua tangannya. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis, merasa berhasil membuat dirinya menjadi pusat perhatian bersama Dokter tampan itu.


"Saya tidak bermaksud apa-apa, Dok. Saya cuma ingin tahu kehidupan Shanum saat ini. Saya sahabat Shanum," ucap Rara memperkenalkan diri.


"Sahabat Shanum? Memangnya ada seorang sahabat yang tidak mengetahui kehidupan pribadi sahabatnya?" pertanyaan yang begitu dingin itu menusuk relung Rara. Wanita itu terdiam, menggigit bibir bawahnya karena malu.


"Sebenarnya ada masalah kecil yang membuat hubungan kami renggang. Entahlah, sampai sekatang pun Shanum masih belum mau memaafkanku. Makanya aku bertanya padamu. Rara terdiam sejenak. "Kalau kamu benar Suaminya, aku mau menyampaikan permintaan maafku," imbuhnya. Rara memang terlalu pintar berkelit untuk bisa mendapatkan informasi Shanum.

__ADS_1


"Ya, aku suaminya."


Pengakuan Dokter Rexa mengagetkan Rara. Dia tidak mengatakan apa-apa selain termangu. Memperhatikan Rexa dari atas sampai ke bawah. Perasaannya mulai gugup, bagaimana bisa Shanum mendapatkan pria super tampan dan berprofesi sebagai Dokter? Sementara, dirinya, untuk mendapatkan hati Rio pun sampai sekarang susah.


***


Malam tiba, Shanum dan Arsenio sepakat, malam ini mereka akan mengisi perut dengan nasi goreng kesukaan Arsenio. Setiap kali Shanum gajian, Arsenio pasti akan langsung meminta sang Mommy membelikannya nasi goreng dan cake cokelat.


"Mommy, cepatlah!" Arsenio yang sudah duduk di atas sepeda motor kesal karena terlalu lama menunggu.


"Iya, Sayang." Shanum balas berteriak, berlari tergopoh-gopoh sambil menenteng sepatu andalannya.


"Mommy, Daddy memberikan uang dalam kartu kredit itu, kan? Kenapa Mommy masih menggunakan sepatu andalan Mommy itu. Buanglah, beli yang baru Mom!" cetus Arsenio, memutar kedua bola matanya.


"Itu uang Daddy-mu yang dia berikan untukmu, Arsenio. Bukan untuk Mommy. Mommy tidak memiliki hak untuk memakainya," jawab Shanum keberatan, dia menghidupkan sepeda motornya dan mulai melaju.


"Memangnya tidak boleh seorang istri memakai uang suaminya?" celetukan Arsenio mengagetkan Shanum. Mereka berhenti, telah di depan pedagang nasi goreng di kali lima.


"Jangan asal bicara, Arsenio," tukas Shanum.


"Maaf, Mommy."


Shanum menghela nafas panjang, dia sudah merasakan bagaimana repotnya memiliki anak sebijak Arsenio yang menjadi bom waktu untuk dirinya sendiri. Namun, kebijakan putranya itu juga menjadi kebahagiaan tersendiri yang tidak tergambarkan.


Mereka berdua sedang menunggu nasi goreng pesanan. Karena sangat ramai, jadi harus menunggu sedikit lebih lama.


Sambil menunggu, Shanum terus mengajak putranya berbicara ini dan itu, menanyakan teman-teman Arsenio di Day Care.


Namun, perbincangan keduanya mendadak terhenti tatkala Arsenio tiba-tiba memanggil seseorang dengan sebutan, "Oma!"


Wanita berkharisma yang Arsenio panggil duduk di depan mereka, tersenyum pada Arsenio.


"Nyonya Kenya? A--apakah ada sesuatu?" tanya Shanum, dia tergeragap dengan kehadiran Kenya di depannya.


Kenya mengangguk. "Ada. Kita harus bicara," jawab Kenya sambil mengangguk kepalanya.


*****

__ADS_1


__ADS_2