Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

"Tapi, setelah ini kamu harus bersiap-siap untuk malam pertama kita. Bercinta setelah menikah resmi, sensasinya pasti berbeda," bisik Arthur.


Tangan nakalnya mengelus-elus paha Shanum, berusaha membangun gairah wanita itu hanya dengan sentuhan. Namun, yang dirasakan Shanum tidaklah seperti yang Arthur harapkan. Wanita itu merasa geli, geli karena titik sensitifnya disentuh oleh Arthur.


"Mas, tamu undangan melihat kita," bisik Shanum, dia tidak nyaman menjadi pusat perhatian seperti itu. Terlebih tangan Arthur yang tidak mau diam barang sedikit pun, terus-menerus membuat Shanum merasa geli.


"Kenapa? Kita sudah sah menjadi suami istri, Shanum. Orang juga tahu, malam ini kita akan menghabiskan malam per--" Belum sempat Arthur melanjutkan ucapannya, Shanum langsung membekap mulut suaminya itu. Terlalu malu untuk didengarkan.


"Selamat untuk kalian berdua." Ucapan selamat itu terucap dari bibir Rara yang memasang wajah ceria penuh senyuman. Tentu, itu hanya kebohongan belaka. Yang benar, hatinya sedang merasa iri dengki karena kehidupan Shanum terlampau sempurna.


'Kenapa dia bisa memiliki kehidupan sesempurna ini, sih? Kehidupannya sudah ku rusak, tetapi masih saja dia mampu menggapai sosial yang tinggi. Suaminya kaya, tampan, mapan, dan baik padanya. Putranya sangat tampan dan pintar. Mertuanya baik sekali, mau menerima Shanum apa adanya. Semua itu berbanding terbalik denganku,' batin Rara merajut kekesalan yang tidak pernah bisa dia perlihatkan pada Shanum langsung.


Shanum terkejut dengan kedatangan Rara dan Rio. Shanum tidak pernah memberi undangan pernikahannya pada kedua orang itu. Dua orang yang paling tidak ingin Shanum lihat.


Tetapi, rasa terkejut itu segera terusir tatkala Shanum mengerti satu hal, kini dia tahu dari mana Rara dan Rio mendapatkan undangan pernikahannya sehingga bisa masuk ke sini.


Setelah membicarakan mahar hari itu, Kenya memberikan beberapa buah undangan pada Mia untuk diberikan pada sanak saudara Shanum, supaya sanak saudara Shanum juga datang untuk memeriahkan hari pernikahan Shanum dan Arthur. Tentunya agar Shanum tidak merasa kesepian, dan merasa bahagia karena kedatangan sanak saudaranya.


Ya, Shanum memang melihat beberapa saat sanak saudaranya yang datang dengan perasaan takjub. Yang tidak Shanum sangka, alih-alih datang, Mia malah memberikan undangan miliknya sebagai keluarga dekat pengantin pada Rara dan Rio. Kekecewaan di hati Shanum semakin membuncah. Tiada kata yang bisa dia ucapkan untuk menggambarkan kacaunya perasaan Shanum saat ini.


"Terima kasih," sahut Shanum, berusaha melepaskan tangan Rara yang masih menggenggam tangannya.


Tapi, Rara tidak mau melepaskan tangan Shanum begitu saja. "Semoga, kamu berbahagia," ucap Rara lagi, tersenyum sinis sambil melirik ke arah Rio. Wanita itu berpikir Shanum masih menyukai Rio.


"Tanpa dido'akan oleh orang sepertimu pun, aku pasti akan sangat berbahagia, Rara. Tapi, terima kasih untuk doa darimu." Shanum menyunggingkan senyum manis. Kemudian, dia melirik ke arah kanannya.


"Jangan lama-lama berdiri di sini. Lihatlah, banyak orang lain yang mau mengucapkan selamat pada kami dengan tulus," ujar Shanum sambil tersenyum simpul.


Rara mendengkus, dia menarik Rio yang berdiri setengah meter darinya. Rio memang sengaja memberi jarak, tidak mau membuat Shanum kecewa karena kedekatannya dengan Rara. Padahal, Shanum tidak peduli sama sekali.


Rara yang kesal langsung menarik tangan Rio, menyeret suaminya itu untuk turun dari pelaminan. Hal itu membuat Rio kesal, pria itu menghempaskan tangan Rara sampai wanita itu mundur ke belakang. Rio tidak pernah peduli jikalau aksinya itu menjadi perhatian banyak orang.


"Apa-apaan kamu? Kamu tidak malu menyakitiku di depan banyak orang?" tegur Rara, dia melihat Shanum. Memastikan, apakah Shanum melihat adegan kekerasan barusan atau tidak.

__ADS_1


'Untung saja Shanum tidak melihatnya. Kalau wanita itu melihat adegan barusan, bisa-bisa rusak image pernikahan indah yang selama ini aku bangun,' batin Rara.


"Kamu yang apa-apaan. Kamu tahu aku belum memberikan ucapan selamat pada Shanum!" Rio menekankan setiap kata-katanya. Tangannya mengepal erat dengan urat-urat di wajahnya yang sudah menonjol.


Mungkin, sekarang Rara harus bersyukur karena mereka sedang berada di depan umum. Pastinya Rio tidak akan memukul Rara, apalagi di depan Shanum. Jika mereka sedang berada di rumah, maka Rara harus siap menerima tinjuan dari suaminya yang setiap harinya marah-marah dan mengungkapkan kebencian padannya.


"Kamu pikir aku bodoh? Sebenarnya kamu bukan tulus mau mengucapkan selamat, tetapi maumu adalah kesempatan untuk menggenggam tangan Shanum, 'kan?" tuding Rara, tudingan yang sesuai kenyataan.


"Jangan asal menuduhku, bajingan!" Rio menggemeratakkan giginya.


"Shanum tidak mungkin menyukaimu lagi, Rio. Kasta suaminya lebih tinggi. Terlebih, sudah ada Arsenio di antara mereka. Sedangkan kamu, apa yang kau punya? Kefakiran dan bekas pengkhianatan?" Rara tersenyum sinis. Rara tidak mau diam, baginya inilah saatnya untuk membuka mata Rio lebar-lebar. Bagaimana pun, Rara harus bisa menyadarkan suaminya.


"Sekali lagi kau berani membandingkan aku dengan Pak Arthur, akan kubuat kau menyesali tindakanmu itu Rara!" Rio mengancam. Dia hendak naik ke pelaminan lagi, ingin memberikan ucapan selamat pada Shanum karena tadi keburu ditarik oleh istrinya yang tidak ingin Rio bersentuhan dengan Shanum.


"Maaf, Pak, Anda tidak boleh naik lagi," cegah seorang bodyguard berbadan kekar melintangkan tangannya, menghalangi langkah Rio.


"Tadi saya belum sempat memberikan ucapan selamat pada pengantinnya, Pak," ucap Rio, berharap bodyguard itu memberikan kesempatan untuknya.


"Maaf. Sesuai aturan, siapa yang sudah turun, tidak boleh naik lagi. Masih banyak tamu undangan yang belum memberikan ucapan selamat pada Tuan Arthur dan Nyonya Shanum. Mereka hanya mengizinkan sekali."


"Silakan lewat sini, Pak." Bodyguard itu mengarahkan Rio dan Rara untuk keluar dari area pelaminan.


"Ini semua gara-gara kamu. Lihat saja kamu, ya, sialan!" Rio mengecam Rara lagi.


***


Malam tiba, Shanum sedang mengagumi indahnya sang penguasa langit. Semilir angin yang bertiup memberikan kesejukan yang begitu enggan untuk dilupakan. Shanum mengangkat sebelah tangannya, merasakan hawa sejuk yang seakan memeluknya erat.


Handuk yang masih membungkus rambut panjangnya membuat dia merasa kepalanya agak berat.


"Udara tambah dingin. Lebih baik aku segera masuk ke dalam saja," ucap Shanum, bergumam dengan dirinya sendiri.


Saat Shanum menutup rapat pintu balkon, pintu kamarnya terbuka. Tanpa memeriksa terlebih dahulu, Shanum berpikir itu adalah Arthur, sang suami.

__ADS_1


"Mas …," sapa Shanum.


"Ini Mama, Sha," ucap Kenya, berdiri tidak jauh dari ranjang sambil memegang sebuah lingerie berwarna merah di tangannya.


"Mama? Maaf, Ma. Aku pikir yang masuk Mas Arthur," ucap Shanum, tercengir kuda.


"Tidak apa-apa. Ini untuk kamu, Sha." Kenya menaruh lingerie merah tersebut ke atas ranjang.


"Lingerie … merah?" Wajah Shanum tersipu. Pikirannya mulai bercabang, rasanya malu sekali karena lingerie merah itu pemberian mertuanya.


"Mama melihat Mas Arthur?" Shanum mengalihkan pembicaraan. Dan, dia juga penasaran di mana keberadaan Suaminya.


"Tidak, Sha. Mungkin sedang menyapa rekan-rekannya di bawah," jawab Kenya. Kenya menepuk pelan pundak Shanum. "Malam ini, habiskan waktu kalian. Jangan pikirkan Arsenio, dia baik-baik bersama Mama," ucap Kenya sambil tersenyum, menambah kadar malu dalam hati Shanum.


"Ba--baik, Ma." Shanum tertunduk.


"Baiklah. Mama kembali ke kamar dulu. Arsenio sendirian."


Shanum mengangguk. Setelah mertuanya keluar, Shanum juga ikut keluar. Dengan maksud mencari keberadaan suaminya yang belum juga masuk ke kamar.


"Aku sudah menjadi istrinya, harus berbakti padanya. Menyiapkan segala kebutuhannya," ucap Shanum pada dirinya sendiri.


Shanum melangkahkan kakinya melewati beberapa kamar, tujuannya ke lantai bawah. Namun, langkahnya terhenti tatkala Shanum mendengar suara seorang wanita yang memanggil nama Suaminya.


Shanum mendekat, menempelkan telinganya di daun pintu yang sedikit terbuka makanya suaranya terdengar sampai keluar.


"Arthur, aku masih sangat merindukanmu. Aku sangat sedih melihat kamu bersanding dengan wanita itu. Aku tahu, kewajibanmu menikah dengan Ibu dari putramu. Tetapi, aku juga bisa menjadi Ibu dari Putramu itu, Arthur. Kenapa kamu lebih memilih dia dibandingkan aku?" Wanita itu merengek, Shanum dapat melihat tangan nakalnya mengelus-elus dada bidang Arthur.


"Aku masih sangat mencintaimu, Arthur! Aku ti–" Wanita itu langsung menghentikan ucapannya. Arthur dan wanita itu sama-sama menoleh ke arah pintu yang terbanting kuat, keduanya menatap seorang wanita yang berdiri sambil melipat tangannya di dada.


"Aku pikir kamu sedang menyapa rekan-rekanmu, Mas. Ternyata, kamu di sini, menyapa kekasihmu."


*****

__ADS_1


Maaf banget kemarin enggak update. Kemarin udah ngetik dan hampir selesai. Pas mau lanjut sedikit lagi, ehh yang udah diketik sebelumnya malah ilang 🥲Mana udah tengah malem.. sakit banget hiks...hiks...hiks....


Maaf curhat 🥺


__ADS_2