
"Cuma kamu sendiri. Kamu sanggup, kan? Saya hanya membantu kamu, kamu banyak kebutuhan, kan? Kalau kamu takut hantu, nanti saya minta satpam untuk menemani kamu, Sha," bohong Bu Reka, dalam hatinya dia memohon maaf pada Shanum sebesar-besarnya.
"Jadi, bagaimana? Kamu mau lembur, kan?" tanya Bu Reka lagi, mulai kembali ragu sebab dapat melihat jelas kebimbangan di wajah Shanum.
Shanum berpikir keras, dia hanya takut tidak ada yang menjaga putranya saja. Dia tidak terlalu berani berharap pada Rima atau pun Ibu kostnya, mereka pasti memiliki kesibukan masing-masing. Shanum juga tidak enak hati jika terus-menerus menitipkan Arsen.
"Sha, bagaimana? Jangan buat saya kecewa. Saya hanya meminta kamu untuk lembur malam ini. Kalau kamu mau, saya tidak akan mencari orang lain," ucap Bu Reka, dalam hatinya dia terus-menerus memanjatkan doa agar Shanum mau. Pekerjaannya sedang dipertaruhkan.
Shanum yang sedang termangu langsung tersadar. Dia tersenyum kikuk.
"Bu, Saya bukannya tidak mau, atau mau mengecewakan Ibu. Tapi, Anda juga tahu sendiri aku memiliki anak balita. Tidak ada yang menemaninya, Bu. Sebenarnya, saya juga sangat membutuhkan uang ini," ucap Shanum seharus mungkin agar mereka yang berniat baik tidak tersinggung.
"Kamu menitipkan anakmu pada Rima. Sha, Ibu hanya mempercayai kamu saja. Tolonglah!" Bu Reka setengah memohon. Shanum merasa tidak tega, jadi dia pun mengangguk pasrah. Ya, uang sebagai balasannya.
"Baiklah, Bu. Saya akan lembur," ucap Shanum.
"Terima kasih." senyuman Yang terukir di wajah Bu Reka begitu cerah. Wanita itu memegang tangan Shanum, mengucapkan terima kasih berulang kali.
Jujur saja, sikap Bu Reka yang agak berbeda membuat Shanum merasa kebingungan. Dia berpikir, cuma karena mau membersihkan ruangannya saja, kenapa Bu Reka bisa senang itu. Lagipula, shanum juga melakukan pekerjaan itu tidak cuma-cuma, ada uang sebagai balasan keringat lelahnya.
"Hahaha. Iya, Bu." Shanum tersenyum sambil manggut-manggut.
"Saya permisi dulu, Bu." Shanum pamit keluar.
Setelah Shanum keluar dari ruangannya, Bu Reka menghela nafas panjang berulang kali. seolah-olah stop oksigen di dalam dadanya sudah habis, terhimpit sesak karena takut dengan penolakan Shanum.
"Untung saja dia mau. Kalau tidak, mungkin besok aku tidak akan bekerja lagi di Arthur Group," gumam Bu Reka.
Tidak berasa, mentari sudah kembali ke peraduannya. Sinar keemasannya mulai meredup, tergantikan dengan hitamnya langit malam yang bertabur bintang. Penerangan bulan menambah keindahan tersendiri. Angin sepoi-sepoi yang menerbangkan dedaunan sampai berserakan, membuat malam semakin sejuk.
Shanum berada di pantry, semua orang sudah pulang. Tinggal dia seorang dengan beberapa orang satpam yang sangat dikenalnya.
Shanum dikenal dengan sosok wanita yang ramah. Memang, keramahannya pun tidak sembarang dia tunjukkan pada pria, takut kerjain kelamnya terulang kembali karena kesalahpahaman.
Perut Shanum melilit karena lapar, sudah waktunya makan malam. Dia mengambil sepeda motornya yang sudah dipindah tempat oleh satpam. Kini, sepeda motornya berada di halaman depan kantor.
"Malam, Pak," sapa Shanum, menyebar senyuman seperti biasanya.
"Malam juga, Nona Shanum. Lembur lagi?" tanya seorang satpam. Shanum memang sudah sering lembur, ini bukan kali pertama untuk wanita itu. Jadi, para satpam juga tidak heran.
"Iya, Pak." Shanum menjawab sekedar. Setelah dia fokus pada sepeda motornya, baru dia lihat mobil yang lumayan dikenalnya karena sering dilihat di kantor.
__ADS_1
"Ada yang lembur juga. Siapa?" gumam Shanum.
"Pak, siapa yang lembur?" tanya Shanum menunjuk ke arah mobil hitam di sampingnya.
"Itu mobil milik Pak Arthur, Nona. Sejak tadi beliau belum turun. Mungkin lembur juga," jawab satpam tersebut.
Jawaban sang satpam membuat Shanum ketar-ketir. Hatinya langsung merasa gelisah. Entah kenapa, mendengar Arthur juga sedang lembur, ada rasa tidak nyaman yang menyusup dalam hatinya. Di luar memang ada satpam. Tapi, di dalam mereka cuma berdua.
'Sudahlah. Lagipula, Tuan Arthur juga tidak akan tahu aku lembur. Apa yang kau pikirkan Shanum! Kau pikir, dirimu secantik itu sampai-sampai Tuan Arthur akan mendatangimu dan menggrepe-grepemu? Sadarlah! Jangan terlalu banyak bermimpi,' batin. Shanum, merutuki dirinya sendiri.
Shanum pergi membeli sebungkus makanan untuk disantapnya malam ini. Tadi, saat dia meminta Rima untuk menjaga Arsenio, Shanum sudah memberikan uang untuk putranya itu.
Setelah mendapatkan nasinya, Shanum bergegas kembali ke kantor dan melahapnya di pantry.
Baru saja Arumi menyelesaikan makan malamnya, telepon di pantry berdering. Arumi yang sedang memegang gelas berisikan air putih langsung menengok ke arah suara. Dia berpikir, mungkin itu satpam yang meminta untuk dibuatkan kopi.
Namun, setelah Arumi mengangkat gagang teleponnya, dia tahu perkiraannya barusan salah. Itu bukanlah satpam, melainkan seseorang yang paling dia hindari.
"Buatkan aku kopi. Antarkan ke ruang CEO!" ucap Arthur dengan suara baritonnya. Seusai memberikan perintah itu, Arthur mematikan sambungan teleponnya.
Baru saja dia meletakan gagang telepon, Arthur sudah menunjukkan senyum sinisnya. Dia menantikan kedatangan Shanum padanya.
Shanum masih bergelut dengan hatinya, pikirannya tidak selaras dengan hatinya yang menolak untuk membuatkan kopi kalau bisa pun melarikan diri saja.
Semangat Shanum kembali membara, dia tersenyum dan mulai membuatkan kopinya hitam untuk Arthur. Menurut Shanum, yang paling dibutuhkan seseorang yang sedang begadang memang kopi hitam.
Selesai mengaduk kopinya, Shaum mengantarkan kopi itu ke ruangan paling atas.
Tok! Tok! Tok!
Arthur yang mulanya sedang termenung langsung menegakkan badannya kala mendengar suara ketukan pintu. Dia mengambil berkas di depannya, pura-pura sibuk berkerja. Arthur langsung meluruskan wajahnya, sesekali melirik ke pintu karena suara ketukan masih terdengar.
"Masuk!" seru Arthur, begitu pintu bergerak terbuka, dia langsung menseriuskan pandangannya.
"Tuan, ini kopi Anda," ucap Shanum, menaruh kopi itu di atas meja.
"Hum!" Tubuh Arthur sudah sangat gatal. Dia ingin langsung mengikat Shanum dalam pelukannya. Tetapi, melihat Shanum yang masih berdiri di depannya, Arthur mengurungkan niatnya.
"Tu--tuan, maaf mengganggu. Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Shanum, suaranya begitu lirih.
"Bicara apa? Katakan saja! Tidak lihat, aku sedang sibuk?" sentak Arthur, sesekali melihat wajah Shanum yang menatapnya serius. "Langsung katakan saja, ada apa?" sambungnya lagi.
__ADS_1
"Hum... Urusan kita sudah selesai, bukan?" tanya Shanum, memilih ujung bajunya, wajahnya tertunduk.
"Urusan?" Arthur mengerutkan dahinya. "Urusan apa yang kau maksud?" tanyanya pura-pura tidak mengerti. Padahal, dia tahu jelas ke mana arah pembicaraan Shanum saat ini.
Entah kenapa, di depan Shanum dia begitu suka dengan kepura-puraan. Apalagi, saat melihat wajah Shanum, hatinya mendadak gelisah.
"Saat itu aku memiliki hutang denganmu. Malam itu kita sudah melakukan hubungan itu, untuk menebus semua hutangku seusai perjanjian, kan. Dan, setelah malam itu, berarti urusan hutang piutang di antara kita sudah selesai," ujar Shanum, sengaja berucap sepelan mungkin supaya Arthur menyimak dan mengerti apa yang dia ucapkan.
Padahal, sebenarnya Arthur bukan tidak mengerti, tapi lebih ke pura-pura tak mengerti.
"Lalu, apa yang kau inginkan?" Arthur menatap wajah Shanum. Kedua mata mereka beradu pandang, lagi-lagi Shanum merasa gemetar dengan tatapan pria itu. Tetapi, Shanum tetap membalas tatapan Arthur sama tajamnya dengan tatapan pria itu, memperlihatkan kekuatannya.
"Perjanjian di awal, pernikahan itu hanya untuk satu malam, demi menghindari zina yang akan tercipta saat penebusan hutang. Sekarang semuanya sudah usai, saya harap Anda bisa menepati janji Anda, Tuan Arthur," ucap Shanum, tatapannya semakin dalam dan berterus terang.
Keberanian Shanum membaut Arthur merasa tertantang, dia tersenyum sinis.
"Jika aku tidak mau menceraikanmu, bagaimana?" Nada bicara Arthur terdengar mengejek, senyuman sinis yang membingkai wajah tampan pria itu sudah cukup menjengkelkan dan semakin memuakkan di wajah Shanum.
"Kenapa?" suara Shanum tertahan. "Kenapa Anda sangat suka mempermainkanku? Apakah segila itu, sampai mencari kesenangan dengan mempermainkan orang kecil seperti aku ini?" Shanum mengepalkan tangannya. Tujuannya untuk meminta cerai haruslah terlaksana. Malam itu, hubungan keduanya harus benar-benar kandas.
Arthur berdiri, Shanum mulai meningkatkan kewaspadaannya. Langkah demi langkah Shanum ambil, dia berjalan mundur secara perlahan-lahan. Melihat Arthur yang berjalan semakin mendekat, menciutkan keberaniannya yang tadi meledak-ledak.
"Kata siapa aku senang mempermainkan orang kecil sepertimu?" Arthur semakin mendekat pada Shanum yang mulai bergetar dan ada niat untuk lari.
"Memang seperti itu kenyataannya," ucap Shanum.
"Tidak. Kau salah. Aku tidak suka mempermainkan orang kecil. Aku hanya suka mempermainkanmu!" ucap Arthur.
"Tidak masalah jika anda tidak mau menceraikan aku, Tuan. Tapi, bagiku hubungan dan permasalahan di antara kita sudah selesai. Aku tidak lagi menganggapmu sebagai suamiku," ucap Shanum. Dia berjalan cepat ke arah pintu. Tujuan hatinya saat ini adalah melarikan diri.
Namun, baru saja berbalik, tangannya dicekal oleh Arthur. "Mau ke mana?"
"A--aku harus kembali. Putraku sudah menunggu," bohong Shanum.
Arthur tersenyum smirk. Dia menggendong tubuh Shanum dan membawa wanita itu ke dalam kamar pribadinya yang berada dalam ruangannya juga. Arthur melempar tubuh Shanum ke atas ranjang.
"Apa-apaan ini, Tuan! Kumohon, jangan lakukan apa pun lagi padaku. Lepaskan aku!" Shanum mengiba.
Arthur tidak peduli, dia mengendurkan dasinya, berjalan ke arah Shanum.
"Layani aku, Istriku!"
__ADS_1
*****