Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Datang Melamar


__ADS_3

Hari berganti terlalu cepat. Tanpa sadar, semua aktivitas rampung dan dapat kembali mengistirahatkan tubuh yang lelah. Teriknya mentari perlahan memudar, tergantikan dengan senja, kemudian tergantikan lagi dengan cahaya temaram bulan yang indah.


Kini, sang Surya kembali menyinari bumi. Cahaya keemasan yang menyilaukan dengan semilir angin yang sayup-sayup bertiup. Membuat suasana pagi menjadi tidak menentu. Banyak yang bimbang, akankah panas ini akan tergantikan dengan mendung dan turun hujan?


Arthur berdiri di depan cermin, menatap wajahnya sendiri dengan perawakan yang bisa membuat para wanita memujanya. Arthur mengusap dagunya yang dipenuhi bulu-bulu halus. Ketampanannya semakin kentara karena janggut yang memenuhi rahangnya.


Dia tersenyum tipis di depan cermin, senyuman yang begitu mempesona. Urat-urat tangannya, memincut para wanita yang dengan suka rela akan naik ke atas ranjangnya. Tetapi, ada apa dengan Shanum? Mengapa wanita itu seolah tidak tertarik pada Arthur yang ketampanannya menyetarai dewa. Pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang dalam benaknya.


"Aku sangat tampan. Arsenio sangat mirip denganku," gumam Arthur. Ya. Kepercayaan dirinya sangatlah tinggi.


Arthur melangkahkan kakinya keluar kamar. Di meja makan, Clarissa dan Kenya sudah menunggu kedatangannya.


"Semuanya sudah Mama siapkan," ujar Kenya, menyuapkan secuil roti selai blueberry ke dalam mulutnya.


"Mama ikut?" tanya Arthur sambil memotong daging di atas piringnya. Kebiasaan mereka setiap sarapan pagi sangatlah berbeda. Kenya selalu memakan roti dengan selai favoritnya, blueberry. Sedangkan Arthur, tetap memilih nasi dengan segelas susu hangat.


"Tentu saja. Mama mau ikut. Tugas melamar, adalah tugas Mama," sahut Kenya cepat. Niatnya ikut bersama Arthur datang ke rumah orang tua Shanum sekalian silaturahmi. Ingin berkenalan dengan Ibunya Shanum dan membangun hubungan baik demi kelanggengan putra-putri mereka yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.


"Kak, Clarissa ikut!" rengek Clarissa.


Arthur diam tidak menggubris permintaan Clarissa. Diamnya pertanda ketidak setujuannya jika Clarissa ikut serta bersama mereka. Jujur, banyak hal yang sudah susah payah Arthur persiapkan. Arthur tidak mau, semua persiapannya sia-sia karena ucapan tidak jelas Clarissa yang tidak menyukai Shanum.


"Arthur, biarkan dia ikut," bujuk Kenya, dia hanya berusaha membantu Clarisa untuk mendapat izin. Untuk keputusan, tetaplah berada bergantung pada Arthur.


"Mama lupa apa saja yang dia katakan saat dinner?" Satu kalimat itu sudah membungkam Kenya untuk tidak lagi membujuk Arthur. Bagaimana pun, apa yang Arthur katakan memang didasarkan kebenaran. Kenya dengar sendiri ucapan-ucapan Clarissa yang tidak enak didengar.


"Ma ...." Clarissa menarik pelan lengan Kenya, meminta wanita itu untuk tidak menyerah membujuk Arthur.

__ADS_1


"Kakak kamu benar, Cla. Lebih baik kamu tinggal di rumah saja. Biar Mama dan Kak Arthur yang datang untuk meminang Shanum," putus Kenya, kali ini dia harus menolak permintaan putri manjanya itu.


"Apa bagusnya, sih, dia, Ma?" Clarisa berdecak, hendak membanting peralatan makannya. Namun, ketika ujung matanya melirik Arthur keberaniannya menciut.


Clarissa langsung masuk ke dalam kamarnya. Kakinya cepat menapaki tangga, karena kamarnya berada di lantai dua.


Arthur tidak mau banyak bicara, sikap tidak sopan Clarissa sudah sering dia lihat. Namun, begitu enggan untuk menegur. Sedikit saja Arthur meninggikan intonasi suaranya, Kenya akan langsung memarahinya.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Kenya.


"Hum!" Arthur menghapus sudut bibirnya. Beranjak dan masuk ke dalam mobil yang sudah dipersiapkan untuk mereka.


Total ada sepuluh mobil yang membawa bingkisan berisi makanan khas luar negeri, pakaian-pakaian mahal, dan set perhiasan yang ditujukan untuk Mia. Serta seserahan lengkap yang akan diberikan Shanum. Dalam saku jas Arthur, sebuah kotak berisikan cincin berlian berwarna Ruby sudah disiapkannya. Hari ini, dia harus mendapatkan restu Ibunya Shanum. Besok, mereka akan segera melangsungkan pernikahan.


Mobil berwarna hitam metalik berjejer di pinggir jalan menuju rumah Mia. Rumah sederhana itu sudah terlihat dari kejauhan. Warga yang melihat kedatangan mobil-mobil mewah langsung ribut, berbisik-bisik siapa gerangan orang-orang kaya tersebut, dan siapa yang mereka cari.


Seperti biasa pula, para tetangga sedang berkumpul di bawah pohon di halaman rumah Mia. Mereka yang sedang bergosip ria, seketika menyudahi perbincangan karena melihat mobil mewah milik Arthur.


"Benar, Ma." Arthur juga tidak tahu. Laporan Leo mengatakan kalau rumah Shanum memang di sana.


"Ya sudah, ayo kita turun sekarang!"


Arthur hanya mengangguk samar, dia memerintahkan Leo untuk membawa semua barang-barang yang telah mereka persiapkan. Banyak sekali orang berpakaian serba hitam datang sambil membawa barang-barang. Mengagetkan Mia dan para tetangga. Apalagi arah mereka tertuju ke rumah Mia.


"Apa benar ini rumah Bu Mia?" Leo bertanya untuk memastikan yang kesekian kalinya.


"Be--benar. A--ada apa ini?" Mia gelagapan, dia bingung.

__ADS_1


"Kami orang-orang Tuan Arthur yang datang untuk melamar Nona Shanum," ucap Leo, dia sengaja mengeraskan suaranya supaya para tetangga mendengar tujuan kedatangan mereka. Dia cukup geram mendengar cerita Arthur saat Shanum diusir oleh Ibunya sendiri.


Semua orang terperangah, tidak terkecuali Lukman yang baru keluar dari rumah dengan memegang gayung di tangannya.


"Melamar Shanum?" gumamnya, segores senyuman terpancar di wajahnya.


"Shanum sudah lama tidak tinggal di sini. Dia dius--" Seorang tetangga ingin memberitahukan kebenaran pada Leo, tetapi Mia langsung menyanggahnya.


"Tidak. Dia memang tidak tinggal di sini. Itu karena kemauannya sendiri," sela Mia, melotot tajam pada tetangganya itu.


"Ayo masuk!" Mia terus mengumbar senyum pada Arthur dan Kenya yang berada di tengah-tengah para pria berpakaian serba hitam.


"Me--mereka benar-benar mau melamar Shanum? Pria kaya itu mau melamar Shanum?" gumam Rara. "Tapi, wajahnya sangat mirip dengan putranya Shanum. Jangan-jangan, ...."


Rara berjalan pulang ke rumahnya bersama para tetangga yang lain. Langkahnya gontai, seperti tidak ada nyawa dalam tubuhnya. Dia sangat iri karena Shanum bisa menikah dengan pria kaya raya dan sangat tampan.


"Maaf, rumah kami sedikit berantakan," ucap Lukman. Pria berperawakan tinggi besar dan hitam itu duduk di samping Mia sambil tersenyum. Suaranya yang kasar mengagetkan Kenya.


"Ah? Hahaha tidak apa-apa," jawab Kenya, melihat sekeliling rumah sederhana itu. Tidak ada foto Shanum yang tergantung. Yang ada hanya foto Mia dan Lukman.


"Maaf kalau kedatangan kami mengganggu," ucap Kenya. "Kedatangan kami kemari bermaksud mau melamar Shanum menjadi menantu kami," ucap Kenya menyampaikan niatnya.


"Boleh saja. Tapi, mahar harus kami yang tentukan," sahut Lukman cepat.


Kenya dan Arthur saling berpandangan. Mereka sudah tahu bagaimana watak Lukman dan Mia, jadi tidak terlalu kaget dengan penuturan Lukman barusan.


"Tapi, sebelum kalian benar-benar melamar Shanum, apa kalian tahu kalau Shanum memiliki anak haram?" cetus Mia.

__ADS_1


"Anak haram?" Kenya mengulangi dengan dada yang bergemuruh.


*****


__ADS_2