Jerat Hasrat Hot Mommy

Jerat Hasrat Hot Mommy
Ketidaksukaan


__ADS_3

"Oma, Tante, Aku Arsenio Thafta Mahira, putranya Daddy Arthur," ucap Arsenio memperkenalkan diri. Tidak ada rasa was-was, takut, atau pun gentar dari raut wajah pria kecil itu. Justru, api keberaniannya berkobar-kobar dari sorot mata polosnya.


Semua orang tercengang, termasuk Miss Alea yang sedang mendekapnya, takut Kenya dan Clarissa tidak menerima kedatangan Arsenio, dia bisa sigap melindungi Arsenio, begitu pikirnya.


Dia tahu Arsenio seorang yang pemberani, tapi kenapa bisa seberani dalam mengungkapkan jati dirinya dan belum tentu juga semua itu memang benar, karena hanya kemiripannya wajah juga tidak bisa membuktikan apa-apa. Mereka harus melakukan test DNA supaya lebih meyakinkan.


"Arsenio, jangan asal-asalan bicara, Nak! Bagaimana kalau Tante itu marah?" tegur Miss Alea, dia bisa melihat wajah datar Clarissa saat Arsenio memperkenalkan diri.


Arsenio melihat wajah Clarissa, tapi dia tidak menanggapi apa-apa. Yang terpenting, pengakuannya pada sang Nenek sudah dilakukannya dan berhasil membuat Kenya terkejut sampai menangis terisak.


Arsenio menarik-narik pelan baju Miss Alea, seakan memberi isyarat meminta wanita itu untuk merunduk sedikit, karena Arsenio mau membisikkan sesuatu.


"Ada apa, Sayang?" tanya Miss Alea, dia agak menunduk untuk mendengarkan apa yang mau Arsenio katakan.


"Miss, jika Oma sudah terkejut sampai menangis seperti itu, apakah itu tandanya dia menerima kedatanganku?" tanya Arsenio, sesekali melirik ke wajah Kenya yang terus memandangi dirinya tanpa berkedip. Sesekali Kenya tersenyum, membuat Arsenio agak takut dan mengira Kenya orang yang tidak waras.


Miss Alea turut memperhatikan gelagat Kenya dan Clarissa bergantian. Dia juga tidak tahu sikap seperti apa yang harus Kenya tunjukkan jika wanita itu menerima kehadiran Arsenio. Namun, kenapa semuanya hanya diam di bawah terik matahari yang menyengat, tanpa meminta mereka untuk pergi dan atau pun masuk dan berbincang, supaya semuanya jelas.


"Miss tidak mengerti, Arsen. Sikap mereka memang sedikit aneh," ucap Miss Alea, bisik-bisik. "Bagaimana kalau kita pergi saja? Nanti kita cari cara lain supaya kamu bisa bertemu dengan Daddy," saran Miss Alea, dia takut dipermalukan.


"Hum... baiklah...." Meskipun langkahnya terasa berat karena Arsenio tidak ingin beranjak, karena bukan reaksi seperti ini yang dia mau. Dia ingin, Kenya lah yang mempertemukan dirinya dan Daddy. Sebab, Arsen sangat tahu, jika dia mencoba mendekati Arthur secara langsung, pasti akan sulit.


Miss Alea dan Arsenio sudah berbalik, mereka baru berjalan tiga langkah, tangan Arsenio dicekal oleh Kenya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Kenya, langsung menghalangi jalan Arsenio sambil menghapus air matanya yang masih menitik di pipinya.


"Maaf, Bu, saya harus membawa Arsenio pergi sekarang," jawab Miss Alea, post satpam sudah berada di depan mata, jadi Miss Alea merasa di tidak perlu takut.


"Kenapa pergi sekarang?" tanyanya, menatap wajah Arsenio dan mengusap pipi pria kecil itu dengan lembut. "Aku ... baru saja bertemu dengan cucuku. Kenapa harus secepat itu perginya?" tanya Kenya, dia berdiri tegak, menatap Miss Alea yang tidak menunjukkan raut apa-apa.


'Karena Ibu tidak memperlihatkan keramahan pada kami. Kami cukup tahu diri makanya mau pergi dari sini,' batin Miss Alea.


"Maafkan aku," ucap Kenya, memandangi wajah Kenya. "Tadi aku termenung cukup lama karena masih tidak percaya dengan kedatangannya yang tiba-tiba untuk menemuiku. Tapi, di sini panas sekali. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam saja? Kalian mau, kan?" tutur Kenya penuh kehati-hatian, berharap Miss Alea yang Kenya anggap sebagai Mommy Arsenio bersedia masuk ke dalam dan berbincang bersamanya.


Jujur, banyak sekali yang ingin Kenya ungkapkan. Banyak juga pertanyaan yang harus dia tanyakan. Dan, Kenya juga ingin memeluk, mencium, dan mendekap anak dari putranya itu. Cucu yang sudah sangat lama dia cari, sudah sangat lama dia nantikan pertemuannya. Meski, Kenya tahu cucunya ini hadir tanpa ada ikatan pernikahan kedua orang tuanya terlebih dahulu. Namun, Kenya tetap akan menyayangi Arsenio.


Miss Alea menatap Arsenio, mereka sama-sama bersitatap. Setelah aksi saling tatap itu berlangsung beberapa detik, Arsenio mengangguk samar, itulah yang dia inginkan. Kemudian, barulah Miss Alea mengangguk mengiyakan, sama seperti yang Arsenio mau.


"Ma, kita berbicara di luar saja!" tentang Clarissa. "Di taman di bawah pohon sana!" Clarissa menunjuk bangku taman yang tidak terlalu jauh dari jangkauan mereka.


Kenya beralih menetap larisan dengan kening yang mengkerut dalam. Di menggeleng, tidak menyetujui saran Clarissa.


"Kita ngobrol di dalam saja," putus Kenya, tetap pada keputusan awalnya.

__ADS_1


"Ma ...!" panggil Clarissa, suaranya penuh penekanan.


"Sudahlah, Cla, kasihan mereka. Kamu ngantuk, kan? Mau tidur? Cepat masuk, mandi, makan, terus langsung tidur. Tidak apa-apa, kok. Mereka akan mengerti," ucap Kenya, menarik pelan tangan Arsen, masuk ke dalam rumahnya.


"Mari ...," ucap Kenya pada Miss Alea, dia canggung. Sampai saat itu pun, Kenya masih berpikir kalau Miss Alea merupakan Mommy Arsenio.


Mereka semua masuk ke dalam, Kenya menggendong Arsenio masuk ke dalam, melewati Clarissa yang berdiri mematung tapi bola matanya bergerak mengikuti Kenya dan Arsenio yang berjalan masuk. Segurat wajah kesal tergambar jelas di wajahnya, dan kekesalannya dapat dilihat langsung oleh Miss Alea yang turut memperhatikannya sejak tadi. Apalagi setelah Clarissa menentang Kenya untuk mengajak arsenio dan Miss Alea masuk ke dalam.


melewati Clarissa, Miss Alea menyunggingkan senyum manisnya, sembari menundukkan kepalanya. "Ayo, Mbak!" ajak Miss Alea, berusaha bersikap ramah pada Tantenya Arsenio itu.


"Cih!" Melihat Clarissa malah berdecih, Miss Alea tidak mau ambil pusing dengan sikap aneh wanita itu. Dia buru-buru masuk ke dalam menyusul Arsenio dan Kenya yang duduk di ruang tamu.


"Silakan duduk," ucap Kenya, sengaja mendudukan Arsenio di sofa lain yang berada dekat dengannya, supaya bisa lebih leluasa melihat wajah Arsenio. Miss Alea duduk di samping Arsenio, tidak lama Clarissa masuk dan duduk di sebelah Kenya.


"Ma, kenapa Mama bisa mempercayai wanita dan anak kecil ini? Bagaimana kalau mereka berbohong seperti wanita-wanita yang sebelumnya?" tanya Clarissa, tatapan tajamnya menjurus pada Miss Alea dan Arsenio secara bergantian. Kemudian, dia menatap Kenya dengan tatapan manja.


"Cla, bukannya kamu lelah? Katanya, mau tidur juga, kan? Tidur saja sana!" Kenya sedikit mengusir.


"Ma, Cla serius, Ma! Cuma mirip sedikit saja, Mama langsung percaya dan mengakuinya sebagai cucu Mama?" tanya Clarissa, padahal dia sendiri merasa kalau wajah arsenio sangatlah mirip dengan Arthur. Tetapi, tampaknya Clarissa enggan untuk mengakui itu.


"Cla, perhatikan wajah mereka berdua, bandingkan. Apanya yang sedikit mirip. Mama yah mengurusi Arthur sejak kecil, pastilah tahu kalau mereka ini sangatlah mirip!" tegas Kenya, dia tidak setuju dengan pengakuan Clarissa.


Arsenio menatap Clarissa dengan wajah polosnya. Ketika kedapatan anak kecil itu sedang menatapnya, Clarissa langsung memelototi Arsenio supaya anak itu takut. Namun, reaksi Arsenio malah diluar dugaan wanita itu. Anak itu tak menunjukkan ketakutan sama sekali, dengan santainya dia membalas Clarissa dengan tatapan tajamnya, kemudian mengakhiri tatapan mereka dengan membuang muka ke arah lain sambil melirik sinis.


"Siapa namamu?" tanya Kenya, dia mengusap lembut tangan Arsenio.


"Arsenio Thafta Mahira, Oma!" jawab Arsenio, tanpa ragu dia memanggil Kenya dengan sebutan Oma dan tersenyum manis pada wanita itu.


"Nama kamu bagus sekali, Sayang," puji Kenya. "Tetapi, Mahira itu, apakah nama Ibumu?" tanya Kenya pada Arsenio.


Arsenio hanya menganggukkan kepalanya.


"Kenapa tidak memakai nama Daddy saja?" tanya Kenya lagi.


Arsenio menggilingkan kepalanya sambil mengangkat bahu. "Arsen tidak tahu, Oma," jawabnya.


"Apakah ... dia Mommy kamu?" tanya Kenya, menatap Miss Alea. Masih ada kecanggungan yang dirasakan.


"Bukan." Arsenio menjawab dengan cepat.


"Bukan, Bu, saya pengasuh Arsenio di Day Care," ujar Miss Alea memperkenalkan dirinya.


"Ahhh... Maaf, saya kira kamu Ibunya Arsenio."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu."


"Di mana Ibu kamu, Arsen?" tanya Kenya lagi.


"Mommy sedang bekerja, Oma. Mommy setiap hari kelelahan mencari uang untuk memenuhi kebutuhanku," jawabnya, dia sengaja termenung seperti sedang memikirkan Shanum, mencari simpatik pada Kenya.


Benar saja, Kenya benar-benar terenyuh melihat Arsenio seperti itu. Kemudian, Kenya memindai tubuh Arsenio, melihat seluruh tubuh pria kecil itu. Jika dilihat dari fisiknya, anak itu tidak mirip seperti seorang anak yah kekurangan ekonomi.


"Kenapa, Oma? Pasti Oma sedang melihatku, kan? Arsen memang bertumbuh sehat, kuat, dan tampan. Mommy selalu memberikan yang terbaik untuk Arsen. Dan, ketampanan ini Daddy yang menurunkannya. Makanya, Arsen bisa sampai di sini, mencari keberadaan Daddy yang kata Mommy sudah lama tiada," ucapnya, tertunduk lesu sambil mengusap wajahnya sendiri.


Kenya tersentak, dia menatap Miss Alea, seolah sedang mencari pembenaran atas perkataan Arsenio barusan.


"Sudah lama tiada?" tanya Kenya tak percaya.


"Benar, Bu, bahkan padaku pun Mommy-nya Arsenio juga mengatakan kalau Daddy-nya Arsenio sudah lama tiada. Sejak Arsenio masih berada dalam kandungan," jawab Miss Alea turut membenarkan setahunya saja.


Kenya mengusap dadanya. Dia merasa bersedih untuk keadaan cucunya.


"Sini, Sayang! Duduk di pangkuan Oma!" Arsenio kesusahan turun dari sofa tinggi dan megah yang dia duduki. Akhirnya, Kenya yang membantu Arsenio untuk berpindah ke pangkuannya.


"Mam, jangan terlalu percaya pada mereka!" Clarissa kembali mengingatkan. Dia begitu muak melihat Kenya yang sudah memangku Arsenio bahkan mengusap pucuk kepala anak dengan penuh kasih sayang.


"Tante kenapa? Iri, ya, Oma mengusapku dan memelukku seperti ini?" celetukan Arsenio membeliakkan Clarissa. Dia tidak percaya, anak sekecil Arsenio sudah memiliki mulut setajam itu.


"Heh! Dia ini Mamaku! Minggir sana kamu!" Clarissa semakin menjadi, api kemarahannya semakin berkobar-kobar. Rasa tidak sukanya semakin mengubun.


"Tapi, dia juga Omaku!" ucap Arsenio membela diri, memeluk lengan Kenya.


"Mulut pendasmu itu pasti keturunan dari Mommy-mu!" sungut Clarissa.


"Bukan. Tante jangan sok tahu! Mulut pedasku ini keturunan dari Daddy!" jawab Arsenio tak mau kalah berdebat meski usianya masih kecil.


"Darimana kamu tahu? Apa sebelumnya kamu sudah pernah bertemu dengan Kak Arthur?" tanya Clarissa.


Setelah Arsenio menggelengkan kepalanya, Clarissa menghela nafas panjang.


"Tuh, kan, kamu tidak pernah bertemu dengan Kak Arthur, Dari mana kamu tahu mulutnya pedas?" cebik Clarissa.


"Karena Mommy orang yang sangat baik dan lembut. Aku memiliki sifat seperti ini, pasti Daddy yang memberikannya saat Arsen masih berada dalam kandungan," jawabnya cepat.


"Arsenio, apa kamu mau bertemu dengan Daddy!" tanya Kenya, melihat Arsenio yang hanya terdiam, Kenya pun tidak tahu bagaimana suasans hati cucunya itu. Entah mengapa Arsen hanya diam saja.


*******

__ADS_1


__ADS_2