
"Ka--kamu?" Arthur menatap Arsenio.
"Da--Daddy?" ucap Arsenio dengan terbata, baru kali ini dia melihat Daddy-nya secara langsung.
Tubuh tinggi dan gagah serta berwibawa, membuat Arsenio lekat menatap Daddy-nya. Kedua pria berwajah kembar itu sama-sama terpaku, mereka terdiam cukup lama sampai suara Kenya menyadarkan Arthur dan Arsenio.
"Arthur, apa sebelumnya kamu sudah pernah bertemu dengan Arsenio?" tanya Kenya, dia menatap wajah Arthur yang mulai memerah dengan mata yang berkaca-kaca, ingin menangis rasanya.
Nalurinya sebagai seorang Ayah mulai bermain, perasaan merindu yang sudah cukup lama Arthur tahan membuatnya ingin sekali memeluk Arsenio sekuat mungkin, dan tidak mau melepaskannya.
"kenapa kamu masih berdiri di sana Arthur? Kemarilah! Dia putramu yang selama ini susah payah kamu cari," ujar Kenya, menepuk kuat sofa di sebelahnya, meminta Arthur untuk duduk di sebelahnya.
Arthur berjalan perlahan-lahan, matanya masih tak lekang dari arsenio. Keduanya masih saling menatap. Sampai akhirnya, Arthur bersimpuh di depan Kenya, memegang tangan Arsenio sambil menciumi tangan mungil itu hingga berapa kali.
"Sayang!" Arthur tidak bisa menahan gejolak batinnya. Tapi, air matanya tak bisa menetes, entah mungkin karena gensinya yang terlalu tinggi hingga harga dirinya sadar dan enggan untuk menangis.
"Duduklah, Arthur!" Sekali lagi Kenya menyeru.
Arthur tergeragap, dia bangkit dan segera duduk di samping Kenya. Kini, Kenya diapit oleh Arthur dan Clarissa.
"Kak, apa dia benar-benar anakmu? walaupun wajahnya sangat mirip, tapi aku kurang mempercayai," tanya Clarissa, menampakkan keraguannya dengan berani.
"Cla, bisakah kamu diam?" Kenya sungguh tak percaya Clarissa berani mengusik momen haru Arthur. Senangnya Kenya karena Arthur tidak memperdulikan ocehan Adiknya itu. Dia meminta Kenya untuk memindahkan Arsenio ke pangkuannya.
__ADS_1
"Ma, di--dia putraku?" tanya Arthur dengan suara yang bergetar. Bukan tidak percaya, tetapi hanya ingin memastikan.
"Iya, Arthur, dia putramu!" jawab Kenya ikut menangis. Perasaannya terenyuh. "Apa kamu mengenal Mommy Arsenio? Kamu ingat siapa Mommy-nya?" cecar Kenya, dia berharap banyak Arthur mau bersatu dengan wanita itu lagi. Tetapi, jika wanita itu wanita baik-baik, bukan wanita murahan atau ******.
Jika Mommy-nya Arsenio seorang ******, meski dia Mommy kandungnya Arsen sekalipun, Kenya tetap tidak akan membiarkan dan memberi restu.
Arthur mendengar pertanyaan Kenya padanya. Namun, pertanyaan itu membuat Arthur bingung bagaimana harus menjawabnya. Jadi, dia berpura-pura tidak mendengar karena terlalu larut dalam keharuan saat bertemu dengan Arsenio. Mungkin saja, alasan itu dapat dimaklumi. Dan, pasti juga itu hanya untuk sementara. Sebab, Kenya pasti akan menanyai pertanyaan yang sama lagi.
'Nanti Mama pasti akan menanyakan perihal ini lagi. Bagaimana mungkin aku tidak mengenalnya, Ma. Mommy-nya Arsenio adalah Istri siriku. Wanita yang sangat-sangat membenciku. Entahlah, aku juga tidak mengerti kenapa dia bisa membenci orang setampan aku. Yang penting sekarang aku bisa mengalihkan sementara, sambil memikirkan jawaban jika pertanyaan itu kembali diajukan,' batin Arthur sambil memangku dan menatap wajah Arsenio.
Arsenio memegang wajah Daddy-nya, wajah tampan yang dipenuhi dengan kumis dan janggut. Rahangnya yang tegas, matanya yah tajam, semua ketampanan itu membuat Arsenio tersenyum simpul.
Setelah memegangi wajah Daddy-nya, arsenio menangkup wajahnya sendiri.
Arsenio menganggukkan kepalanya. "Iya, Dad, Arsen sangat merindukan Daddy," jawabnya sambil tersenyum manis. "Tapi, setelah Arsen pandang-pandang, Arsen semakin percaya kalau kamu adalah Daddy-ku," ujar pria kecil itu sambil terkikik.
"Karena kemiripan?" tanya Arthur, yang langsung mendapat panggukan dari Arsenio
"Jadi, apakah Mommy tahu kamu datang menemui Daddy dan Om?" tanya Arthur.
Arsenio kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak, Dad, semala pun Arsen tidak bertemu dengan Mommy. Semalam, Mommy pergi berkencan," jawabnya sambil memanyunkan bibirnya, melirik ke arah Kenya dan Clarissa yang langsung terbelalak.
"Apa katamu? Mommy kamu berkencan sampai tidak pulang?" tanya Kenya, dia langsung berpikir yang bukan-bukan mengenai Mommy-nya Arsenio. Wajahnya langsung merah padam, tampak sekali jika dia sedang kesal.
__ADS_1
"Nah! Lihatkan! Sepertinya wanita itu bukanlah wanita baik-baik!" sungut Clarissa menambahkan minyak dalam api yang sudah membara di dalam hati Kenya. "Wanita baik mana yang mau meninggalkan putranya hanya demi berkencan?" ketus Clarissa lagi.
Mendapat tanggapan seperti itu, Arthur langsung menghela nafas panjang. Dia tahu, Arsenio tidak tahu jika semalam Shanum bersamanya. Tapi, yang tidak Arthur pahami, kenapa Arsenio bisa mengatakan hal itu di depan Kenya dan juga Clarissa. Tidakkan pria kecil itu tahu jika ucapannya barusan bisa menghambat restu Kenya supaya Arthur bisa menikahi Shanum. Ya, walaupun sekarang Arthur belum memiliki pemikiran untuk mengutuhkan keluarga mereka menjadi keluarga yang sempurna.
Arsenio sengaja mengatakan itu supaya Arthur merasa cemburu. Supaya pria itu bisa menemui Mommy-nya untuk membicarakan masalah ini. Sama saja dengan Arsenio sedang mencoba membuka peluang agar keduanya bertemu dan bicara. Tidak menampik, Arsenio menginginkan keluarga yang utuh seperti teman-temannya yang lain. Makanya mati-matian Arsenio berpikir dan mencari kebenaran mengenai Daddy-nya yang masih hidup.
"Aku yakin Arsenio hanya asal-asalan bicara, Ma," ucap Arthur membuat pembelaan. Jangan sampai Kenya dan Clarissa membenci Shanum.
"Mama tidak percaya Arsenio bisa asal-asalan bicara. Mama percaya, dia memang mengalami itu makanya bisa mengatakan itu pada kita semua!" sentak Kenya, dia sangat kesal karena merasa Shanum adalah Ibu yang gagal. Lebih mementingkan laki-laki dari pada anaknya sendiri.
"Clarissa juga setuju, Ma. Lebih baik, pulangkan saja bocah ini pada Ibunya. Di sini juga bisanya cuma menggangguku saja!" celetuk Clarissa.
"Tidak boleh!" sentak Kenya. "Biarkan dia tinggal di sini. Mama rasa, Mam lebih becus mengurus Arsenio dibandingkan wanita itu. Kasihan cucuku malah ditelantarkan begitu!" ucap Kenya, dia tidak segan dalam membuat keputusan yang menurutnya demi kebaikan Arsenio.
"Jangan, Ma, biarkan Arsen tinggal bersama Mommy-nya. Nanti, Arthur yang akan membicarakan semua ini langsung pada Mommy-nya Arsenio," sanggah Arthur, setelah berpikir cukup lama, Arthur paham kenapa Shanum memilih untuk menyembunyikan Arsenio.
'Otak wanita itu pasti sudah teracuni dengan . Dia pasti berpikir, jika aku mengetahui keberadaan Arsenio, maka aku akan mengambil anak ini darinya. Jika hal ini benar-benar terjadi, betapa kasihannya dia. Shanum pasti akan semakin membenciku," batin Arthur dalam hatinya.
"Arthur, kenapa kamu mati-matian membela wanita yang kamu sendiri pun belum pernah menemuinya. Kita tidak tahu dia orang yang seperti apa. Bisa saja, dia memang tidak mau bertanggung jawab terhadap Arsenio, kan?" Kenya pun mulai berspekulasi.
"Cukuplah, Ma! Jika dia tidak mau bertanggung jawab, tidak mungkin dia melahirkan Arsenio dan merawatnya sampai sebesar ini. Selama ini dia selalu bekerja keras banting tulang cuma demi bisa menghidupi Arsenio, cucu Mama!" ucap Arthur, tanpa sadar suaranya meninggi.
"Tahu darimana kamu? Kenapa bisa tahu sampai sedetail itu?" pertanyaan Kenya menyadarkan Arthur jika dia suda terlalu banyak bicara.
__ADS_1
*****