
Sembilan bulan sudah berlalu. Sekarang, Shanum sedang menunggu kelahiran buah hatinya. Selama sembilan bulan ini pula, tidak sekali pun Mia dan kerabat-kerabatnya yang lain berusaha untuk mencari Shanum. Meskipun merasa sedih, Shanum hanya bisa mengubur perasaan sedih itu dalam-dalam.
Apalagi, para tetangga kosannya juga sangat baik, selalu membantu Shanum saat wanita itu membutuhkan sesuatu. Banyak juga dari mereka yang membantu Shanum secara materi, sangat menyayangi Shanum seperti keluarga.
"Rima, kamu tidak bekerja?" tanya Shanum, heran melihat Rima pagi-pagi sudah bertandang ke rumahnya.
Rima tersenyum, kemudian dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Tidak, aku mau menemanimu. Entah kenapa, aku tidak tenang meninggalkan kamu sendirian, sepertinya aku memiliki perasaan kamu akan melahirkan hari ini," ucap Rima.
"Melahirkan hari ini?" Shanum melihat perutnya yang sudah sangat besar. Sejurus kemudian, dia tersenyum sambil mengelus-elus perutnya. Bayinya sudah jarang bergerak, mungkin karena sudah terlalu besar jadi ruang geraknya sudah terbatas.
"Ya, semoga saja, ya." Shanum juga mengharapkan hal yang sama. Dia sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan calon buah hatinya.
"Rim, sebentar, ya. Aku mau ke toilet dulu. Biasa, kandung kemihku selalu penuh," ucap Shanum, masuk ke dalam toilet yang berada di dalam kamarnya.
Saat Shanum sudah selesai buang air kecil, Shanum melihat ada lendir bercampur darah yang melekat di ****** ********. Shanum tersenyum, jantungnya berdetak kencang. Berulang kali dia sudah diingatkan oleh Dokter, lendir bercampur darah itu merupakan tanda-tanda awal persalinan.
"Sayang, kita berjuang bersama, ya!" ucap Shanum, berbisik pelan.
Shanum bergegas keluar, dia mengatakan tanda-tanda itu pada Rima. Seperti dugaan Shanum, Rima sangat senang.
"Sha, apa kamu ... tidak berniat untuk mencari siapa Ayah kandung dari anakmu ini?" tanya Rima, memperhatikan wajah Shanum yang langsung menunjukkan raut sendu. Rima sudah membahas hal ini beberapa kali, namun jawaban dari wanita di depannya itu masih saja sama.
Lagi dan lagi, Shanum menghilangkan kepalanya sambil tertunduk.
"Tidak, Rim, aku tahu pria itu masih sangat muda. Setelah melahirkan nanti, aku akan mencari pekerjaan supaya bisa menghidupi putra kecilku ini," ucap Shanum, dia mengangkat kepalanya kemudian merekahkan senyumnya.
__ADS_1
"Di tempatku bekerja ada lowongan, Sha. Tapi, ya, begitu. Cuma cleaning servis biasa," ucap Rima, begitu bersemangat menawarkan sahabatnya bekerja.
"Tidak masalah kok. Aku rela kerja apa saja yang penting halal," jawab Shanum cepat.
"Aww!" pekik Shanum saat merasakan mules di perutnya. Shanum tahu, dia sudah mulai kontraksi.
"Sha, kenapa? Kamu sudah mulai kontraksi?" tanya Rima cemas.
"Hum... sepertinya iya, Rim." Shanum menggigit bibir bawahnya, menahan sakit yang luar biasa.
"Sha, kita ke rumah sakit sekarang, ya. Aku khawatir, takutnya jika menunggu lagi, nanti kamu semakin kesakitan," ajak Rima.
Shanum pun mengangguk. Sebelumnya, Rima lebih dulu mengabari Ibu kost mereka bahwasanya dia dan Shanum akan ke rumah sakit. Awalnya, Ibu kostnya juga merasa khawatir dan memaksa untuk ikut. Namun, sekeras mungkin Rima menolak, karena Ibu kost mereka sudah tua. Takutnya malah terjadi sesuatu, fokus Rima malah harus terbagi
"Kamu jaga Shanum baik-baik, ya, Rim. Ini ada sedikit uang. Mungkin nanti kalian membutuhkan sesuatu," ucap Ibu itu sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
Sementara itu, di dalam kantornya, Arthur merasa perutnya sangat sakit. Sakit sekali, pria itu tidak pernah merasakan sakit yang sama seperti itu sebelumnya. Arthur memanggil Leo, meminta asistennya itu untuk membawakan Arthur obat pereda sakit perut. Namun, sesudah meminum obat pereda sakit perut pun, sakit perut Arthur tak kunjung membaik.
"Leo, obat apa yang kau berikan padaku ini? Kenapa tidak memberikan efek apa pun?" tanya Arthur dengan nafas yang ngos-ngosan.
"I--tu obat yang biasa Anda minum jika sedang mengalami sakit perut, Tuan. Sa--saya juga tidak tahu kenapa kali ini obatnya tidak memberikan efek seperti biasanya," ucap Leo, merasa takut saat melihat wajah pucat pasi Arthur.
'Kenapa akhir-akhir ini Tuan Arthur sering kali bersikap aneh? Tiba-tiba dia mual, tidak menyukai makanan yang dia sukai, kadang muntah jika mencium aroma makanan yang jelas-jelas sangat wangi. Bahkan, sering uring-uringan dan morning sickness. Persis seperti wanita hamil,' batin Leo.
"Bawa aku ke Dokter. Sakitnya luar biasa, Leo!" Leo mengangguk, buru-buru dia memapah tubuh Arthur dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
"Bagaimana, Dok? Kenapa perut saya masih sakit? Sakitnya juga terasa aneh, masa lima menit sekali, dan sekarang ritmenya malah semakin sering," keluh Arthur, saat ini dia tidak merasakan sakit.
"Menurut hasil pemeriksaan, tidak ada yang salah dengan perut Anda, Tuan. Semuanya sangat sehat," ucap sang Dokter, dahinya ikut mengerut. Berulang kali dia sudah memeriksa, tetap saja tidak menemukan kesalahan apa pun.
"Biasanya, saat seorang istri mau melahirkan, kerap kali suami juga ikut merasakan kontraksi. Tuan, apakah istri Anda sedang hamil besar?" tanya Dokter tersebut.
"Hamil apanya? Saya tidak punya istri!" bantah Arthur, dia tidak bisa menerima diagnosa aneh itu sama sekali.
"Leo, urus semuanya. Kita pergi ke rumah sakit lain yang lebih besar!" Arthur langsung keluar, meninggalkan Leo yang masih termangu, memikirkan segala keganjilan yang dialami oleh Arthur.
Selesai melunasi pembayaran, Leo mengejar Arthur. Ada yang ingin Leo katakan, tapi ada perasaan takut yang menggelayuti hatinya. Leo melirik Arthur dari kaca spion tengah, pria itu masih memegangi perutnya.
"Tuan, sepertinya yang Dokter katakan itu benar," ucap Leo penuh kehati-hatian. Berulang kali dia melirik Arthur untuk memastikan raut wajah Tuannya itu.
"Apa maksudmu? kau tidak menginginkan nyawamu lagi?" sentak Arthur kesal, dia menatap tajam Leo yang berani mengarang cerita.
"Bukan begitu, Tuan. Tapi, mungkin saja ini karma karena Anda sering meniduri dan mencampakkan wanita sesuka hati," ucap Leo, tetap mengemukakan pendapatnya meskipun mungkin Arthur tak menerimanya dengan mudah.
"Karma apa?" Arthur mengerutkan dahinya.
"Mungkin, salah satu dari banyaknya wanita yang pernah Anda tiduri ada yang hamil, dan sekarang waktunya dia untuk melahirkan. Makanya anda mengalami sakit perut yang sakitnya sama seperti kontraksi," ujar Leo memperjelas maksudnya.
Arthur terdiam. Diam-diam, dalam hatinya Arthur turut membenarkan apa yang Leo katakan. Sebab, dia sangat ingat saat Papanya menceritakan pengalaman Mamanya melahirkan Arthur, kejadiannya sama. Papanya lah yang mengalami kontraksi.
'Apa mungkin yang Leo dan Dokter katakan itu benar? Tapi, siapa wanita itu? Kalau benar hamil, mengapa dia tidak datang padaku untuk menagih pertanggung jawaban? Siapa wanita hebat ini?' batin Arthur, batinnya mulai tak tenang.
__ADS_1
*****