
"Hari ini kau tidak usah ke kampus." Ucap Chen saat tengah menikmati sarapan nya.
"Kalau aku tidak ke kampus aku kemana? Di rumah? Ngapain?" Tanya Nayla cemberut.
"Hari ini ada peresmian hotel, orang tua ku dan orang tua mu sudah berada di hotel." Ucap Chen dengan wajah datar nya.
Sejak kejadian beberapa hari yang lalu Chen mulai bersikap dingin dan irit berbicara dengan Nayla.
"Benarkah? Mama sama Papa ku di jakarta?" Tanya Nayla semangat.
"Sejak kapan Mama dan Papa disini? Mengapa mereka tidak menghubungi ku, apa aku ini bukan anaknya lagi." Ucap Nayla kesal lalu ia segera mengambil hape nya untuk menghubungi orang tua nya.
Chen hanya menatap Nayla yang sedang berjalan mondar mandir dengan tatapan yang sulit di artikan.
Nayla berkali kali menelfon orang tua nya namun sama sekali tidak mendapatkan tanggapan hingga membuatnya begitu kesal.
"Mama sama Papa kemana sih, kenapa tidak ada yang mengangkat telfon ku." Gerutu Nayla lagi lagi sambil memanyunkan bibirnya. Dan entah kenapa setiap melihat Nayla seperti itu membuat Chen harus menelan Saliva nya denga susah.
"Chen, jam berapa kita pergi?" tanya Nayla sambil menghampiri Chen.
"Jam 10." Jawab Chen singkat lalu ia memalingkan wajahnya.
"Oh kenapa lama sekali, aku sudah merindukan orang tuaku aku ingin cepat ke sana. Ayo pergi sekarang aja." Rengek Nayla lagi lagi membuat Chen menatap nya ambigu.
__ADS_1
"Acaranya jam 2 untuk apa kita pergi Sekaran." Jawab Chen sambil meneguk air minum.
"Huufftt." Nayla menghembuskan napasnya kasar lalu duduk.
.
"Ada apa Ma?" Tanya Zainal pada Ratna.
"Anak kamu dari tadi telfon terus, sepertinya dia sudah tau kita berada di sini." Ucap Ratna terkekeh.
"Benarkah? Kalau itu benar berarti kita gagal memberikan nya surprise." Ucap Zainal.
"Papa istirahat lah dulu, mama akan menemui Yeon untuk membicarakan sesuatu." Ucap Ratna pamit pada Zainal.
"Hahahaha benarkah?" Ucap Ratna tertawa. "Dimana kita akan mengobrol?" Tanya Ratna.
"Kita bicara di bawah saja sampai ngopi mungkin." kata Yeon lalu segera menggandeng tangan Ratna dan berjalan menuju lift berdua.
...🥳🥳🥳...
"Apa kau masih lama?" Tanya Chen sambil memakai kemeja, sedari tadi ia menunggu Nayla yang masih mandi.
"Sebentar lagi." Teriak Nayla dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Ceklek!
Nayla keluar hanya dengan menggunakan handuk yang di lilitkan di tubuhnya, dan handuk itu begitu kecil hingga hanya menutupi dada hingga bawah pantat Nayla saja sehingga membuat Chen langsung menatap nya dengan tatapan lapar.
Glek.
Chen menelan salivanya saat melihat penampilan Nayla. Sedangkan Nayla yang melihat Chen seperti itu dengan sengaja malah berjalan santai menuju walk in closed dan melewatinya begitu saja.
Chen sedang berapa di pintu terhubung Antara kamar dan lemari.
Nayla dengan sengaja memilih milih pakaian mana yang akan dia pakai. Awalnya Nayla lama di dalam kamar mandi karena merasa malu ia membawa handuk yang salah. Namun saat ia sudah kepepet akhirnya ia nekat keluar dengan handuk itu, dan setelah ia melihat ekspresi Chen malah sebuah ide muncul di kepalanya.
'Kita lihat apakah tubuh rata ini bisa membuat sel@ngk@ng@nya memberontak atau tidak.' Gumam Nayla dalam hati sambil melihat melihat koleksi baju nya.
Setelah menemukan baju yang ia mau, ia hendak memakai nya namun ia melihat Chen masih berdiri di tempat nya sambil menatap ke arahnya hingga membuat Nayla mengurungkan niat untuk memakai baju.
"Chen apa kau akan terus berdiri disitu dan melihat ku telanjang." Ucap Nayla kesal.
Chen yang mendengar ucapan Nayla dan melihat Nayla lagi lagi memanyunkan bibir nya membuatnya menelan Saliva nya lagi.
'Sial, kenapa aku jadi seperti ini.' Ucap Chen dalam hati saat merasakan sesuatu yang terasa Sesak di bawah sana. Sedangkan waktu di Club dirinya di goda dua wanita sekaligus ia tidak memberontak, lalu mengapa kini hanya melihat Nayla yang memakai handuk saja membuat adiknya memberontak.
Karena tidak ingin ketauan oleh Nayla, Akhirnya Chen memilih keluar dan kembali masuk ke dalam kamar mandi lagi hingga membuat Nayla terkekeh.
__ADS_1