
"Duh segar nya." Ujar Nayla sambil mengeringkan rambut nya saat keluar dari kamar mandi.
"Memang yah berendam itu bisa membuat pikiran jadi refresh lagi."
"Hm hm hm hm hm hm." Nayla berdendang sambil mengeringkan rambut nya di depan kaca. Namun tiba tiba matanya membulat dengan sempurna kala melihat sosok yang tengah memperhatikan nya sambil menatap nya dengan tajam hingga membuat Nayla terkejut.
"Kampret!" Pekik Nayla lalu ia segera berbalik menatap balik mata hanzel yang sedari tadi tengah memperhatikan nya.
"Puas berendam nya? Puas ngerjain kita nya hem?" Tanya Chen tajam sambil berjalan mendekat ke arah Nayla.
"Ka-- kamu tau darimana aku disini? Da dan dan bagaimana kamu bisa masuk kamar ini?" Tanya Nayla beruntun namun sedikit takut.
"Darimana aku tau? Dan bagaimana aku bisa masuk?" Tanya Chen sambil terus mendekat ke arah nayla hingga membuat Nayla semakin terpojok.
"Apa kau meragukan ku kelinci kecil hem?" Tanya chen kini sudah berada tepat di depan Nayla.
__ADS_1
Jangan tanyakan keadaan jantung Nayla, karena sudah pasti tidak baik baik saja. Jantung Nayla terus meronta seperti minta keluar dari tempat nya.
"Hampir dua jam aku mencari mu seperti orang gila di pantai karena khawatir. Tapi kamu malah enak enakan disini berendam air hangat sambil mengumpat suami kamu? Hebat sekali kelinci kecilku ini." Ucap Chen.
"Si siapa yang menyuruhmu mencari ku? Suka suka aku dong mau kemana juga. Apa urusan nya sama ka-" ucap Nayla terhenti langsung.
"Apa urusan aku? Coba tanya sekali lagi apa urusan aku?" Ucap Chen dingin.
"Kamu istriku, dan aku suami kamu jadi masih mau bertanya apa urusan aku hem?"
"Kenapa setiap kali aku membuat salah kamu selalu mengungkit atau membahas tentang suami istri. Tapi di saat kamu bermesraan dengan perempuan lain, bercumbu bahkan bercinta sama sekali tidak pernah terlintas di otak kamu bahwa kita suami istri." Pekik Nayla emosi.
"Kenapa seolah olah selalu dan selalu aku yang salah kenapa?" Teriak Nayla kini sudah meneteskan air matanya.
"Aku wanita Chen, aku punya hati dan perasaan. Meskipun aku tidak mencintai kamu tapi aku tetap istri kamu. Istri mana yang tidak sakit saat menemui bekas cup*ng di leher suaminya sendiri hampir setiap hari!" Ucap Nayla dingin.
__ADS_1
"Aku diam Chen, aku sudah diam. aku berusaha tidak ikut campur urusan kamu. Dunia mu biar la menjadi dunia mu dan dunia ku akan menjadi dunia ku. Kamu ingin mencari kepuasan? Sama aku pun juga ingin mencari kebebasan. Tapi saat kamu mulai membahas dan mengungkit pasal suami dan istri maka kita bahas dan perjelas sekarang juga!"
Chen hanya diam mendengarkan semua ucapan Nayla, entah mengapa setiap kali ia melihat air mata Nayla hatinya terasa berkedut nyeri dan rasanya ia ingin memeluk dan menghapus air mata itu.
"Kamu mau nya apa? Katakan sekarang. Mau kita pisah? Ayo silahkan, atau masih mau lanjut?" Tanya Nayla.
"Aku capek Chen aku gak sanggup bila harus menunggu beberapa bulan lagi. Lebih baik kita selesaikan sekarang. Kalau kamu masih mau bebas silahkan tapi aku mohon lepaskan aku sekarang juga." Ucap Nayla dengan tubuh bergetar.
"Tapi kalau kamu masih mau bertahan dan meneruskan pernikahan ini maka lepaskan kebiasaan kamu." Imbuh Nayla.
Tanpa berkata lagi, Nayla segera kembali masuk ke dalam kamar mandi dan menumpahkan segala rasa yang ia rasakan selama ini. Air mata yang sedari tadi sudah ia tahan meskipun bocor sedikit sedikit, kini ia langsung tumpahkan di kamar mandi.
Sedangkan Chen masih diam mematung di tempat nya dengan pikiran yang berkelana entah kemana.
Chen memegang dadanya yang terasa begitu sesak hanya mendengar ucapan Nayla dan melihat air mata Nayla. Sungguh Chen tidak mengerti mengapa ia ikut sakit dan sesak melihat Nayla seperti itu.
__ADS_1