
"Nayla," suara seseorang yang memanggilnya, membuat Nayla langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Ada apa?" tanya Nayla menatap datar kepada orang yang memanggilnya.
"Bisa kita berbicara sebentar?" Tanya nya.
Nayla memandang tak percaya kearah wanita di depan nya ini, lama ia menelisik kira-kira apa maksud dia mengajaknya berbicara, namun Nayla tak bisa menebak apa maksud nya.
"Lima menit!" ucap Nayla datar, lalu ia kembali duduk di bangku yang ia duduki tadi. Sekitar 30 menit mereka berbincang, ralat bukan berbincang tapi Nayla hanya mendengarkan semua ucapan wanita ini. Hingga akhirnya sebuah suara kembali Nayla dengar.
"Nayla!" Panggilnya sedikit berteriak dari kejauhan membuat Nayla sedikit terkejut.
Nayla hanya memandang datar kepada pria yang kini sudah berdiri di hadapan nya. terlihat napasnya masih tersenggal-senggal akibat berlari. Sedetik kemudian ia langsung menarik Nayla kedalam pelukan nya.
"lepas " ucap Nayla sambil memejamkan matanya menikmati aroma tubuh yang selama ini ia rindukan.
__ADS_1
"Tidak!" jawab nya cepat. "Aku tidak akan melepaskan mu lagi, sayang." Ucapnya tanpa sadar membuat air mata Nayla menetes namun dengan cepat ia menghapusnya.
"Lepas Chen," ucap Nayla lagi dengan lirih.
"Sayang, aku sangat merindukan mu," ucap Chen begitu tulus.
"Tapi aku tidak!" ucap Nayla ketus dan datar.
"Ehem, sebaiknya aku pergi dulu dari sini. Chen tugas ku sudah selesai, terimakasih dan Maaf untuk semua nya." Ucap Sisil tulus.
"Sayang—" Chen menggenggam erat tangan Nayla, lalu ia kecup perlahan. "Kembali lah, ku mohon." Kata Chen.
"Maaf Chen a—" Nayla seketika meringis saat merasakan perut nya tiba tiba terasa kram.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Chen panik melihat dahi Nayla berkerut seperti menahan sakit.
__ADS_1
"Ahh perut ku," ucap Nayla masih dengan meringis dan memegang perut bawah nya.
"Duduk," Chen menuntun Nayla agar duduk kembali dan ia membantu mengusap perut Nayla dengan lembut. Ajaib memang tiba-tiba kram perut itu berangsur membaik dan hilang dalam waktu cepat.
Nayla memandang tak percaya ke arah Chen, apakah ini artinya memang anak nya menginginkan Chen di samping nya?.
"Maaf Chen, tapi aku memang tidak bisa kembali sama kamu, untuk saat ini aku masih butuh waktu buat sendiri." Ucap Nayla lalu ia mulai beranjak dan hendak pergi meninggalkan Chen. Namun baru ia akan melangkahkan kaki nya, tiba -tiba perut nya terasa kembali sakit hingga membuat nya hampir terjatuh.
"Aaahhh!" Hampir saja Nayla terjatuh bila saja Chen tidak sigap menahan tubuh Nayla dari belakang. Untung Chen bergerak cepat sehingga Nayla tidak jadi terjatuh.
"Sssshhh sakit Chen." Lirih Nayla meringis menahan sakit nya kram perut. Lagi dan lagi Chen kembali mengusap perut Nayla dan rasa sakit itu berangsur hilang lagi.
Sedetik kemudian tangis Nayla malah pecah saya merasakan usapan tangan Chen.Apakah ini memang benar bahwa anak nya ingin mereka berdua kembali bersama. Chen langsung memeluk Nayla sambil tangan nya kembali mengusap perut Nayla. Meskipun dia sedikit bingung mengapa Nayla bisa sakit perut?
"Apakah kamu sedang datang bulan?" Tanya Chen pelan, membuat tangis Nayla seketika berhenti dan menatap Chen dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1