
Keesokan hari saat Chen terbangun dari tidur nya, matanya langsung menatap langit-langit kamarnya. Biasanya saat ia membuka mata hal pertama yang ia lihat adalah wajah cantik sang istri. Tapi kini? tidak ada lagi ucapan 'Morning," atau 'Selamat pagi' apalagi senyuman manis sang Istri.
Sungguh Chen sangat merindukan Nayla saat ini, hingga tanpa sadar air matanya menetes begitu saja saat membayangkan betapa bodohnya dia.
"Kamu dimana sayang? Aku sangat merindukan mu," gumam Chen lirih sambil memejamkan matanya dan menghirup napas dalam dalam.
———
Sedangkan Nayla saat ini pun juga sudah duduk cantik di bangku taman belakang rumah utama. Nayla mengamati setiap pergerakan kelinci kelinci mungil yang sangat menggemaskan baginya namun tak mampu menghilangkan kegundahan hatinya.
"Aku sedang tidak ingin bermain dengan mu, pergilah main dengan teman mu," ucap Nayla pelan saat seekor kelinci menghampiri nya dan berdiam di kaki nya seolah ia ingin menghibur Nayla.
"Hey, mengapa kau masih disini? Lihat lah teman-teman kamu, ke sana lah." Ucap Nayla lagi sambil mendorong kecil tubuh kelinci itu, namun kelinci itu seperti enggan meninggalkan nya hingga membuat Nayla terpaksa mengambil kelinci itu dan memangku nya.
"Andai suamiku sama seperti mu, yang masih akan tetap stay here meskipun berulang kali aku mengusir nya," gumam Nayla lirih.
__ADS_1
"Kelinci, aku sangat merindukan nya namun aku juga sangat kecewa dengan nya. Bagaimana menurut mu?" Tanya Nayla namun kelinci itu hanya diam.
"Ah percuma aku curhat kepadamu karena kamu tidak akan bisa menjawab nya." ucap Nayla cemberut.
"Kalau dia bisa bicara bukankah malah akan menakuti mu?" ucap seseorang dari arah belakang membuat Nayla begitu terkejut dan langsung berdiri dari duduknya.
"Apa kabar Nayla?" Tanya nya dengan sebuah senyum manis di wajahnya.
"Shiming, mengapa kau bisa ada disini?" tanya Nayla masih terkejut.
"Bibi Yeon yang meminta ku mampir," ucap Shiming santai sambil mendudukkan dirinya di kursi samping Nayla.
"A—apa kau datang kemari dengan nya?" Tanya Nayla pelan.
"Tidak, bahkan aku kurang yakin dia sudah bangun dari tidur nya. Semalam kami menginap di apartemen kalian dan dia baru tertidur saat sudah habis adzan subuh." Shiming menceritakan tentang Chen.
__ADS_1
"Sepertinya kau sudah berhasil membuatnya berubah Nay," kata Shiming kini menatap Nayla dalam dalam.
"Dia tidak berubah! Dia bahkan sudah bertindak lebih jauh." Ucap Nayla begitu pelan.
"Percayalah Nay, dia sudah berubah dan aku yakin anak itu bukan anak Chen," ucap Shiming santai.
Nayla hanya terdiam mendengarkan cerita dari Shiming. Sebenarnya ia tidak tega melihat suami nya terus murung dan begadang hanya untuk memikirkan dirinya. Namun rasa kecewa dirinya akan fakta bahwa Chen tidur dengan wanita lain itu membuat dadanya begitu sesak.
"Untuk saat ini biarkan aku disini dulu menenangkan diri, dan aku berharap ia segera bisa memberikan ku bukti bahwa itu memang bukan anak nya." Ucap nayla datar.
"Itu akan terbukti saat anak itu lahir. Dan selama itu juga kamu mau berdiam diri disini?" Tanya Shiming membuat Nayla terdiam.
Dia tidak mungkin akan berada di dalam rumah terus menerus kan, lalu kemana dia akan pergi bila Chen terus mencari keberadaan nya.
"Lalu aku harus bagaimana lagi? Aku tidak mungkin pulang ke Bandung, dia pasti akan menemukan ku." Kata Nayla.
__ADS_1
"Ikut lah ke China Nay, di sana Chen tidak akan mudah menemukan mu." Ucap Shiming.
"Bibi Yeon dan paman akan segera kembali ke China dan mereka ingin kamu pikirkan lagi tawaran kami Nay. Nayla ada kami semua yang berada di pihak kamu. Percayalah Chen tidak akan pernah meninggalkan mu, dan aku rasa dia memang membutuhkan sedikit pelajaran karena sudah membuat mu menangis dan melukai hati kamu." Kata Shiming sambil menghapus air mata Nayla yang sudah berhasil lolos membasahi pipinya.