
Setelah bertemu dengan Choi, Chen pun langsung menaiki taxi menuju rumah Utama. Senyum terus terbit di wajah tampan nya sedari tadi, ia begitu tidak sabar untuk bertemu sang pujaan hati.
Tadi Choi memberikan nya sebuah amplop kepada Chen, amplop yang berisi foto - foto Nayla yang berada di rumah Utama tengah bermain dengan kelinci nya. Dan satu foto Nayla berada di sebuah Rumah Sakit.
Taxi yang di kendarai Chen sudah sampai di rumah Utama. Orang tua Chen sedang tidak ada di Indonesia, maka dari itu rumah hanya berisi pelayan dan penjaga saja. Dan juga Nayla kalau ada.
Chen langsung masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Nayla.
"Nayla," panggil Chen dengan suara meninggi.
"Sayang, kamu dimana?" teriak nya lagi namun tidak ada tanggapan.
"Nayla, ku mohon keluar lah." Ucap Chen lalu dirinya menaiki tangga menuju kamar nya.
__ADS_1
Yah, kamar nya bersih, rapi dan wangi. Masih tercium aroma tubuh Nayla di sana. berarti memang benar bahwa Nayla tinggal di kamar nya.
Chen merasa lega dan bersyukur karena ternyata Nayla selama ini berada di rumah Utama. namun dimana ia saat ini? mengapa Chen tidak juga menemukan nya?
Chen terus berkeliling mencari keberadaan Nayla namun nihil tidak ketemu sama sekali, akhirnya Chen memutuskan untuk bertanya kepada salah satu pelayan nya.
"Dimana istri saya?" Tanya Chen dingin saat bertemu dengan salah satu pelayan.
"Nona Nayla sudah tidak tinggal disini Tuan," jawab nya sambil menunduk hormat.
"Nona baru saja pindah beberapa hari yang lalu." jawab nya membuat Chen langsung lemas seketika. Berarti dirinya telat. Mengapa Choi baru memberitahu nya Sekarang? mengapa dirinya juga baru terpikir bahwa Nayla selama ini di rumah. Lalu dimana sekarang Nayla? batin Chen.
Chen memutuskan untuk tidur di rumah utama dan tidak kembali ke apartemen, Chen menghirup dalam- dalam aroma kasur dan sprei yang masih harum khas parfum istrinya.
__ADS_1
'*Bagaimana bisa aku tidak mengecek rumah utama selama ini?'
'Mom, Dad selamat karena kalian sukses membuat ku seperti orang gila!'
'Oh Tuhan, jagalah istri ku dimana pun dia berada, dan ku mohon kembalikan dia di pelukan ku lagi. Persatu kan kami kembali Tuhan*."
Chen memeluk bantal dan guling nya sambil terus meracau seorang diri. Dirinya memang benar-benar kesepian dan sangat membutuhkan kehangatan sang istri.
Chen pun kembali menarik napas panjang saat mengingat beberapa memori tentang kebersamaan nya dengan Nayla.
'Apakah kau juga merindukan ku?' Chen bangkit dari tempat tidur dan menuju meja rias yang tak jauh dari sana. Chen menemukan kemeja nya yang setengah lecek masih tersampir cantik di kursi meja rias Nayla.
'Apakah kau yang memakai bajuku?' gumam Chen lagi dengan tersenyum getir. lagi dan lagi air matanya menetes. Dadanya begitu sesak, sungguh ia sangat merindukan Nayla.
__ADS_1
'Kamu dimana sayang? Ku mohon berhenti bermain kucing-kucingan, aku sangat merindukan mu." Tubuh Chen luruh ke lantai dan dia menyandarkan kepalanya di kursi meja rias sambil memeluk kemeja nya sendiri yang ia yakini bekas pakai Nayla karena baju itu masih harum khas Nayla.
'Kemana lagi aku harus mencari mu,' Chen terisak seorang diri hingga tanpa ia sadari ada sepasang mata yang tengah melihat keterpurukan nya.